KPTB 1. Sup Krim Sebagai Awalnya [1]

Featured Image

(Catatan penulis: Bab ini ditulis dalam format 4-koma dengan setengah bagian pertama santai dan setengah bagian kedua mulai serius)

POV = Point of View/Sudut pandang


  [SHURI POV]  

Aku suka memasak

Ketika aku kecil, aku selalu memperhatikan ibuku memasak dari balik punggungnya. Aku yang dibesarkan dengan makanan enak, tentunya tertarik dengan memasak.

Aku diijinkan untuk membantu sedikit-sedikit waktu aku di kelas tiga. Mulai memegang pisau di sekolah menengah dan akhirnya diijinkan untuk menggunakan kuali di sekolah menengah atas.

Menjalani hidup seperti itu, ketika aku di sekolah menengah atas, aku sudah cukup mahir membuat makan siangku sendiri. Membicarakan apa saja isi dari menu makan bersama dengan teman2 kelasku menjadi obrolan keseharian kami.

Namun begitu, setelah lulus dari sekolah menengah atas, bekerja dan hidup sendiri, ketertarikan ku dalam memasak menjadi lebih berkembang.

Tentu saja karena ada peningkatan waktu dan uang.

Aku membeli semua buku memasak masakan Jepang, Barat dan China yang bisa aku temukan, mempelajari sejarahnya dan menciptakan kembali teknik memasak dari jaman yang sudah lampau.

Tanpa banyak memikirkannya, direktur konstruksi bangunan berkata, “masakanmu enak, pekerjaanmu yang sekarang ini mungkin keliru untukmu.” Atau sesuatu seperti itu. Dan aku juga bingung kenapa aku bekerja sebagai tukang pipa. Aku memilih bekerja seperti ini supaya orang tuaku tidak khawatir .Aku tidak menyesal.

Setelah bekerja hampir dua tahun, makanan acara akhir tahun dibuat olehku. Sang direktur berkata “Jika dibandingkan dengan restoran masakan Jepang yang ada di ujung sana, masakanmu malah terasa lebih enak dan bahkan lebih murah.” atau sesuatu yang bunyinya seperti itu. Persiapan memasak terasa menyenangkan dan tidak terasa berat.

Jadi, ketika aku baru saja kembali usai berbelanja untuk ulang tahunku yang kedua puluh.

Entah kenapa , kedua tanganku terikat di belakang dan aku dikelilingi oleh beberapa orang laki-laki memegang tombak dan pedang.

“Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini”

Itu yang aku sendiri ingin tahu.

Ketika baru kembali dari berbelanja, aku terperangkap dalam cahaya misterius dan tiba disini. Ketika aku masih terperangkap di dalam sinar tersebut, sepertinya aku menjatuhkan semuanya, dompet, makanan yang baru aku beli, semuanya. Hanya kaos putih dan celana jeans yang aku kenakan saat ini.

HAHAHAHAHAHA

“Apa yang kamu tertawakan!”

Ah, ah, sepertinya aku sudah membuat dia marah.

Orang di depanku sedang menatapku dengan tajam, rasanya aku ingin lari saja dengan bertelanjang kaki. Naah, tapi tidak baik juga meninggalkan sepatu disini karena sepatu itu merupakan bagian dari diriku.  

“Mmm, panggil saja aku Shuri. Dimana ini ?”

“Aku yang berhak bertanya. Jangan bicara sembarangan.”

Apa?

Melihat ke sekelilingku, terlihat sekilas ada tenda yang sedikit ternoda, tampak seperti di film zaman perang. Sebuah panci sedang di jerang diatas kayu bakar, sungguh, jaman apa ini? Selain itu ada juga orang orang yang sedang mengasah pedang, tombak, busur dan anak panah. Diantara semua ini, aku tertahan disini seperti layaknya seorang penjahat.

” Kamu dipanggil Shuri, bukan? Dari mana asalmu? Dari desa mana kamu?”

“Pedesaan di Jepang.”

“Jyepang… tidak pernah dengar.”

“Mm, sepertinya aku tersesat disini, dan aku tidak tahu ini di mana ?”

“Tutup mulutmu.”

Seperti tidak ada hak kemanusiaan saja. Aku menyerah saja. 

“Jadi uh, aku lapar…”

“Diamlah, kami juga!”

Oh? Sepertinya, orang yang mirip dengan pemimpin disini yang sedang berdiri di depanku, merasakan lapar yang sama. Melihat ke sekeliling, ada empat orang yang berdiri mengelilingiku sekarang, tapi mereka juga terlihat lapar.

Sepertinya aku datang di waktu makan. Aku hanya bisa menyalahkan waktuku yang tidak tepat.

“Kapten, apa yang harus kita lakukan?”

“Tidak ada apapun yang bisa di ambil.”

“Tapi berdiam diri saja seperti ini juga tidak menghasilkan sesuatu yang baik.”

“Bagaimanapun, tidak mungkin kita bebaskan dia. Cepat bunuh dia, dan bersiap untuk perang.”

Berbahaya sekali. Sepertinya saat ini adalah makan terakhir sebelum berperang. Dan sepertinya barang-barang ku akan di lucuti dan di ambil.

“Uhh, permisi”

“Apa?!”

“Aku agak lapar sekarang, tolong, bolehkah aku memasak sesuatu?”

“…Kamu, kamu koki?”

Sang raksasa yang sepertinya pemimpin; kita panggil saja dia tuan pemimpin, wajahnya bertanya tanya.

Dengan rambut pirang yang dipotong pendek, terlihat tampan dan bermata tajam. Ototnya terlihat sugoi . Membuat yang melihat, terutama laki-laki dengan badan standar sepertiku menjadi iri. Sang tuan pemimpin yang gagah tersebut, tubuhnya ditutupi dengan baju besi. Jenis baju besi yang hanya bisa kita lihat dalam film.

(Sugoi = luarrrr biasa!! 🙂 )

“Kalau memasak, aku bisa masakan yang mudah. Jika kamu mau membunuhku, setidaknya lakukanlah setelah aku makan sesuatu dulu.”

Tentu saja, mati bukan pilihan terbaik. Aku tidak berharap untuk mati. Aku tidak mau mati!

“Menarik.”

Tuan pemimpin tertawa dengan suara ‘hu’. Tawanya datar saja. Laki laki tampan tetap saja akan tetap tampan walaupun hanya bersuara ‘huh’.

“Kalau begitu, buatkan sesuatu yang lezat. Jika kamu mampu melakukannya, kamu akan kubiarkan tetap hidup.”

“Kapten?! Kamu serius?!”

“Ini waktu sebelum berperang. Melakukan sesuatu seperti ini, untuk meningkatkan moral pasukan, tidaklah buruk. Jika rasa masakannya tidak enak, kita bisa segera membunuhnya.”

Berbahaya. Seperti cerita yang suka ada di komik sejarah masak seseorang.  

Aku, yang sudah dilepaskan dari ikatan tali, meminjam panci, papan talenan dan sebuah pisau.

“Bahan masaknya ada di sana.”

Didepan tangannya yang menunjuk, ada susu, mentega, tepung gandum, wortel, daun bawang, ikan, garam dan kentang.

” Apakah ada yang lainya?”

“Tidak ada. Ini juga sudah luar biasa. Biasanya hanya ada sup kentang dan garam.”

Kejamnya… aku merasa putus asa hanya membayangkannya

“Kalau begitu, kita akan membuat Sup Krim Seafood. Jika ada udang, pasti akan lebih enak. Namun karena tidak ada , maka akan kuganti dengan ikan perch.

(translator note : sejenis ikan air tawar, bentuk badannya agak mirip ikan gurame. Jangan tanya rasanya, penerjemah juga belum pernah coba )

Jangan meremehkan ikan perch. Karena ikan tersebut mampu menghasilkan kaldu yang sangat enak dengan dan menarik rasa keluar..

Tiga ikan dipotong dan dengan cepat langsung dibakar. Masakan tersebut selesai ketika sup di panci yang berisikan bahan-bahan seadanya dimasukkan bersamaan dan dibiarkan hingga mendidih. Jika tidak tersedia susu, maka tambahan mentega dan tepung ke dalam kaldu ikan bisa menggantikan, namun beberapa orang belum tentu terbiasa, jadi aku tidak lakukan.

“Silahkan”

Disajikan dalam satu wadah, aku serahkan sup tersebut kepada tuan pemimpin, tentunya setelah tulang ikan dan bagian dalam tubuh ikan aku keluarkan dari sup tersebut. Aku membuat sup ikan perch namun jika ada tulang di dalam sup tersebut akan terlihat sedikit mengganggu.

“Sup ini..putih”

“Itu sup krim”

“Jika tidak enak, aku akan membunuhmu.”

Heii, maaf ya. Bahan bahan yang aku masak memang terbatas, namun rasanya pasti enak.

Tuan pemimpin dengan hati-hati memasukkan satu suapan kecil kedalam mulutnya. Kemudian berhenti.

“Mmm?”

“Bagaimana rasanya, kapten?”

“… Enak..”

Sang pemimpin mulai melahap sup tersebut dengan rakus

“Oi..bawakan lagi kesini!”

“Ya..ya, makan saja, aku memasak cukup banyak, jangan khawatir dan teruslah makan.”

“Banyak? Bukankah bahan-bahan yang ada terbatas?”

“Bekerja dikelilingi dengan air, ikan dan susu. Bahkan meskipun kamu tidak punya banyak bahan makanan, kamu tetap bisa memasak dengan jumlah banyak. Ini sebelum bekerja bukan? Makanlah yang banyak, karena dengan makan makanan yang lezat, akan memberikan kalian tenaga yang kuat.”

Tuan pemimpin melihatku dengan wajah terkejut.

Ngomong-ngomong pada saat di memasak tadi, aku melakukan beberapa hal untuk memperbanyak porsi makanan sambil menjaga agar rasanya tetap enak.

“…Aku mengerti, sepertinya semua sudah terencana.”

Apa? Tapi, Aku kan hanya berpikir bahwa akan lebih baik jika kita makan banyak?

“Kamu, apakah kamu punya tempat tujuan?”

“Tidak ada. Aku bahkan tidak tahu cara untuk pulang.”

Tempat ini benar-benar asing. Aku bertanya-tanya bagaimana nanti aku bisa kembali ke Jepang.

Tuan pemimpin, setelah menghabiskan sup krim nya, berbicara sambil menatap mataku.

“Jika kamu tidak ada tujuan, mari bergabung dengan unit kami.”

“Eh?!”

“Sebagai tukang masak. Pekerjaanmu adalah memasak masakan lezat untuk kami. Sampai kamu bisa kembali ke tempat asalmu, kamu bisa memasak disini.”

“Apakah boleh?”

“Tentu saja boleh”

” Baiklah kalau begitu, terima kasih.”

Seperti itulah pada akhirnya aku bergabung dengan unit tentara bayaran sang pemimpin.

 

 [Pemimpin group tentara POV]

Pada zaman perang antar negara. Zaman munculnya banyak panglima perang yang kuat.

Penguasa daerah Sabraeu ini, mempunyai pengaruh baik besar maupun kecil. Membanggakan dirinya sebagai penguasa tertinggi, selalu membenamkan di dalam berperang.

Di medan perang dimana setiap saat terjadi benturan antara sihir dengan anak panah, lesatan tombak dan pedang. Berada di antara hidup dan mati, ambisi, harapan dan keinginan melebur . Saat ini merupakan saat- saat dimana menjadi tentara bayaran merupakan usaha yang menguntungkan.  

Aku, Ganglabe punya ambisi yang sama, bersama dengan ke empat teman masa kecil ku, kami membentuk satu unit tentara bayaran. Tujuan kami yaitu menjadi seorang penguasa suatu wilayah, menguasai negara di tangan kami. Supaya kami bisa membangun tempat dimana yatim piatu seperti kami bisa hidup damai dan tidak dalam ketakutan.

Hidup di negeri yang damai, dimana tidak ada kelaparan dan kemiskinan. Menjauhkan penduduk dari penguasa-penguasa kotor yang memanfaatkan mereka.

Namun setelah lima tahun berjalan dari awal terbentuk, kelompok kami masih kelompok kecil.

Teman masa kecil ku masing-masing mempunyai bakat pada ilmu pedang dan sihir. Aku pun yakin pada kemampuanku dalam ilmu pedang dan strategi. Namun tetap saja walau kami sudah banyak berperang, dan menghasilkan uang, tetap tidak bisa membuat kelompok ini lebih berkembang.

Orang-orang, kuda, senjata, semua memerlukan biaya. Hanya dengan akal cermat ku, sepertinya tidak ada cara menambah 50 orang yg kupunya saat ini.

Lalu suatu hari aku bertemu dengannya.

Memikirkannya kembali, itu mungkin suatu pertemuan takdir.

Hari itu, perang terjadi di Bukit Lynbell, dan kami semua disewa oleh seorang tuan di Utara. Lamanya perang yang terjadi, sebanding dengan jumlah uang yang kami terima. Tuan dari daratan Utara membawa banyak emas sedangkan jumlah emas yang dirampas dari lawannya juga tidak kalah banyaknya.

Namun pasukan sudah merasa kelelahan karena perang yang panjang.

Dua bulan berlalu.

Bekerja agar bisa mendapat uang, aku berharap perang akan segera usai, namun ternyata perang malah berjalan terlalu lama. Kami terperangkap di daerah rawa-rawa.

Salahku, karena tidak tahu kapan harus berhenti.

Duapuluh orang pasukan yang kupimpin semua merasa lelah, sisa pasukan yang lain kemungkinan juga merasakan hal yang sama. Aku harus melakukan sesuatu yang bisa menaikkan semangat para pasukan.

“Kapten!”

“Ada apa ribut-ribut?”

Menunda makanku, sambil melihat peta diatas meja, memikirkan taktik penyerangan, salah seorang teman masa kecilku masuk ke dalam tenda.

Teg, salah seorang pemimpin di unit memanah. Mungkin dia hanya beruntung, namun tembakannya tidak pernah meleset dan unitnya merupakan gabungan dari para elite.

“Kami datang kemari untuk memberitahu bahwa kami menangkap seseorang yang mencurigakan.”

“Mencurigakan? Mata-mata?”

“Uh…tidak, tidak terlihat seperti seorang mata-mata.”

“Huh?”

Seseorang yang mencurigakan yang bukan mata-mata?

Aku tidak mengerti, itu sebabnya aku keluar dan menemui orang tersebut.

..betul, mencurigakan.

Atasan dan celana panjang. Hanya itu yang dia kenakan. Namun aku tidak pernah melihat model atasan atau celana yang dikenakan, baik bahan ataupun jahitannya. Walau semuanya mempunyai kualitas baik.

Dan dia terlihat aneh.

Penampilannya biasa saja. Rambut pendek dengan bola mata berwarna hitam. Pria itu kurus juga tidak terlalu tinggi. Terlalu lemah untuk ukuran orang desa, terlalu lembut jika tentara, tidak terlihat berwibawa untuk ukuran anak seorang penguasa. Aku sudah bertemu banyak orang sehingga bisa mengandalkan keahlian dan kemampuanku dalam menilai seseorang, namun untuk yang satu ini aku tidak bisa melihat apapun.

“Siapa kamu? Kenapa kamu disini?” Pertanyaan kulontarkan hati-hati. Sangat menjengkelkan jika mendadak aku diserang secara dadakan.

“HAHAHAHAHA..” Tanpa sebab, dia mulai tertawa

“Apa yang kamu tertawakan!” Mendadak aku merasa putus asa sekaligus marah. Ada apa dengan orang ini.

“Mmm, kamu bisa memanggil aku Shuri. Tempat apa ini?”

“Disini yang berhak bertanya adalah aku. Jangan bicara sembarangan.” Percuma jika dia mencoba memanfaatkan apapun. Aku tidak akan membiarkan.

Tapi, siapa orang ini. Kenapa dia ada disini. Disini tepat di tengah-tengah area pertempuran, kenapa laki-laki yang tidak terlihat bisa berperang, bisa tersesat disini

“Kamu Shuri, bukan? Darimana asalmu? Apa nama desa tempat kamu berasal?”

“Daerah pedesaan di Jepang”

“Jyepang….aku tidak pernah dengar.”

 Demi waktu dan tempat, bahkan dari para pejuang veteran yang sudah pernah berkelahi di berbagai medan pertempuran. Aku belum mendengar nama tempat itu. Bahkan setelah lima tahun aku membentuk unit tentara, aku tidak pernah mendengar wilayah tersebut.  

“Umm, aku tersesat sampai kesini dan aku tidak tahu tempat apa ini.”

“Tutup mulut.” Pikiranku terganggu karena orang ini. Aku tidak bisa mengerti yang terjadi, orang mengganggu ini seharusnya tidak disini.   

“Jadi , uh..aku agak lapar”

“Diamlah, kami juga.”

Tidak mungkin orang ini seorang bangsawan kan, aku memikirkan sejenak. Untuk meminta makanan pada situasi seperti ini, apa itu normal?

Dari pada itu, dari semua tentaraku tidak satu orang pun mampu membuat makanan enak. Kami bisa masak untuk diri sendiri tapi tidak punya koki yang bisa masak untuk orang lain. Itu sebabnya kami jadi terbiasa makan hanya dengan sup kentang dan garam. Jadi, kami lapar apapun yang kami lakukan, selalu lapar. Disaat kami tiba di daerah perkotaan, makan hingga puas menjadi tujuan kami.  

“Kapten, bagaimana ini?”

“Sepertinya tidak ada yang bisa kita ambil.”

“Tidak melakukan apapun juga tidak baik.”

“Kita tidak bisa membebaskannya begitu saja. Segera bunuh dia dan siap untuk berperang.” Teman masa kecilku juga memberi pendapat mereka masing-masing.

Mungkin kami tidak bisa mendapatkan keuntungan dari dia, jadi lebih baik cepat-cepat membunuhnya. Aku juga tidak mengharapkan bocornya informasi dari manapun. Pilihan yang ada hanya menyingkirkan sumber masalah.

“Uh.., permisi”

“Ada apa.”

“Aku lapar, bolehkah aku memasak sesuatu?”

“… Kamu, kamu koki?”

“Jika memasak, aku bisa masakan dasar. Kalau kamu mau membunuh aku, paling tidak setelah aku makan sesuatu.”

Mencoba menawar dalam situasi seperti ini, huh. Memang, situasi makan ini tidak menyenangkan, mungkin akan berubah jika kami punya koki.

(catatan editor: sepertinya pemimpin ambil kesimpulan semaunya ya?)

“Menarik.” Tersenyum, aku tertawa dan berkata

“Kapten?! Kamu serius?!”

“Sebelum berperang.Melakukan hal seperti ini untuk menaikkan semangat para tentara bukan sesuatu yang jelek. Kalau rasanya tidak enak, kita langsung bunuh saja dia.”

Jika dia bisa memasak yang enak, maka tenaga para tentara akan pulih. Jika tidak enak, tidak apa jika dia dibunuh sebagai balasan. Tidak perduli bagaimana, itulah cara untuk menaikkan semangat.

Melepaskannya dari ikatan, aku meminjamkan dia peralatan dapur

“Bahan makanannya ada disana.”

Bocah Shuri itu melihat teliti ke arah bahan makanan yang ditunjuk. Bahan makanan yang bisa dia gunakan semua ada disana. Aku tidak mengharapkan sesuatu yang enak dari bahan tersebut.

“Apa ada yang lain?”

“Tidak, ini sudah cukup baik. Biasanya hanya garam dan sup kentang.”

 Bukan omong kosong. Karena kami tidak memiliki seorang ahli yang bisa mengatur keperluan darurat, kami hanya bertahan dengan makanan sekitar yang bisa kami makan. Jika berada di tempat yang lebih baik, kami bisa menyimpan makanan lain seperti daging rusa.  

“Kalau gitu, kita buat Sup Krim Seafood. Akan sangat lebih baik jika ada udang. Tapi karena tidak ada, jadi diganti saja dengan ikan perch.”  

Udang? Perch? Makanan laut? Orang ini, apa yang dia buat dengan bahan bahan tersebut?

Ketika aku masih berpikir, dia sudah mulai memasak. Tangannya terlihat terbiasa dan terlatih menyiapkan ikan. Aku lihat sekarang dia sedang membuat sup garam dengan daging, kentang, daun bawang.

Biasanya kami memanggang ikan untuk dimakan. Biasanya sampai hangus. Rasanya tidak enak dan tak seorangpun yang mau menyentuhnya. Namun, Shuri setelah memisahkan kepala dengan badan dan bagian dalamnya dengan sangat baik, memanggang kepala dan badan tersebut sebelum merebusnya ke dalam air mendidih di panci. Lalu meletakkan kentang yang sudah dikupas ke dalamnya.

Kepala? Apa yang akan dia lakukan?

“Apa kamu bisa memakan… itu?” Salah seorang komandan berbisik pelan.

Ya, kami tidak terbiasa menyantap kepala ikan. Bersamaan, air mendidih dan samar-samar berwarna putih. Apa itu…  

“…Aku sepertinya jago.” Dia berbisik kembali. 

Rasanya aku ingin melarikan diri. Bagaimanapun, saat susu, mentega, tepung yang dimasak di panci lain dituang kedalam air tersebut, aku serasa ingin pingsan.

“Ueeee.” Teg juga terlihat seperti ingin muntah. Panci tersebut sekarang berwarna putih, betul betul terlihat putih.

…anak ini, kelihatannya lebih baik jika dia dilenyapkan saja sekarang.

“Ditutup dengan taburan daun bawang sebagai toping.”

Aku tidak tahu jika dia merasakan niat membunuhku atau tidak namun Shuri tetap menyajikan makanan itu didalam satu wadah, menaburkan potongan daun bawang diatasnya. “Silahkan.”

Haruskah aku..memakan ini. Dilihat dari sisi manapun, yang terlihat hanya warna putih, tidak ada kepala ikan disitu tapi kentang, daging ikan lengkap dengan kuah sup putih dan daun bawang sebagai hiasan.

Tapi … ini. “Ini….sup berwarna putih.”

“Ini Sup Krim.” Aku tidak mengerti apa maksud jawabannya.

“Jika tidak enak aku akan membunuhmu.” Memperingatinya, aku menyendok sup tersebut. Terlihat seperti itu tapi aku akan mengatakannya dengan jujur.  

Tercium harum. Bau makanan lezat menguar ke sekeliling, seketika membuatku ingin segera memakannya .

Luar biasa lezat.

Perpaduan antara ikan, susu dan mentega. Rasa ikan segar, susu yang kental dengan keju ringan menyebar perlahan. Ada rasa manis awal dan asin yang datang tiba-tiba, meningkatkan selera.

“Um?”

“Bagaimana Kapten?”

“…Enak.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Tidak buruk sama sekali. Makanan ini sesuatu yang tidak mungkin bisa kita makan di medan peperangan.

“Oi…bawakan aku satu lagi.”

“Ya..ya, aku membuat banyak, jangan khawatir, makan saja.”

Apa? Banyak? “Banyak? Dengan bahan makanan yang terbatas seperti itu?”

“Di sekeliling ada air, Ikan Perch dan susu, bahkan jika tidak ada banyak bahan makanan, kamu tetap dapat bisa menghasilkan jumlah yang banyak.”

Jadi seperti itu. Anak laki laki ini, memperlihatkan kemampuannya dalam memasak, mencari jalan untuk terus bertahan hidup.

Di medan perang, tidak penting berapa banyak makanan yang kamu punya. Tentunya tidak ada jalan untuk bertemu jalur persediaan, tapi jika punya makanan lezat, para tentara mampu berperang lebih lama. Cuaca dingin maupun panas, mereka akan tetap punya tenaga dan bertahan.

Makanan memegang peranan penting selama perang. Sama seperti perang gerilya (contoh; perang dalam benteng). Kemenangan dibedakan dengan persediaan di situasi darurat yang ada. Di masa perang, memakan makanan sesuka hati bisa mengembalikan tenaga dan meningkatkan semangat para tentara.

Mempunyai pengetahuan dan tekhnik dalam menggunakan bahan makanan terbatas dalam menciptakan makanan dengan jumlah banyak dengan rasa lezat. Mungkin itu sebabnya anak itu terlihat gelisah dan bicara seperti tadi karena dia sudah memperhatikan keadaan dapur disini dan melihat kesempatan untuk mempromosikan dirinya sendiri!

“…Aku mengerti, sepertinya semua sudah direncanakan.”

Koki sebaik ini, aku tidak akan melepaskannya. Bagaimanapun dia bisa memasak makanan lezat. Untuk memakan makanan enak, aku harus mempekerjakan orang ini.

“Kamu, apakah kamu punya tempat yang dituju?”

“Tidak ada. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara pulang ke rumah.”

Melihat ke arah Shuri yang sedang bermasalah, aku menyarankan.

“Jika kamu tidak punya tempat tujuan, bergabung saja dengan kelompok tentara kami.”

“Eh.”

“Sebagai koki. Pekerjaanmu adalah memasak makanan lezat . Sampai kamu bisa kembali ke tempat asalmu, masaklah disini.”

“Apakah ok?”

” Aku bilang, OK.”

“Kalau begitu, terima kasih.”

Seperti itu, Shuri bocah misterius ini bergabung dengan kelompok kami.

Mulai sekarang, aku, para komandan tentara, seluruh tentaraku, semua makan masakan Shuri hingga kenyang, bertarung dengan gagah berani di medan perang.

Kesulitan yang kami rasakan hingga saat itu, secara tidak terduga dikirim ke garis depan medan perang dengan keuntungan, selesai dalam satu minggu.

Inilah, yang kelak dikenang generasi muda sebagai ” Pahlawan-pahlawan Dari Pasukan Tentara Bayaran” dengan sejarah cerita tentara yang mengikuti.

Kerajaan pertama dengan Raja pertama, Ganglabe Denju Aprahda, meninggalkan sebuah catatan.

“Aku saat itu, berpikir selama kita kuat pasti akan berkembang tapi ternyata salah. Untuk kuat, kita harus tahu apa alasan atau latar belakangnya. Kenapa mereka kuat, bagaimana mereka bisa kuat. Banyak tentara bertujuan memelukperempuan cantik atau menghasilkan uang. Namun, tentara tidak terpengaruh hanya karena itu. Pada akhirnya, makanan lezatlah yang mendukung para tentara, warga negara dan membentuk negara.

Sukacita karena bisa hidup melewati hari itu dan bersyukur masih bisa menghadapi hari esok. Memulai hari dengan makanan lezat di pagi hari dan mengakhiri hari juga dengan makanan lezat pada malamnya. Bukankah itu kebahagiaan yang sesungguhnya. Itulah yang di ajarkan olehnya pada ku.”

Raja Ganglabe, yang kehadirannya selalu diiringi oleh juru masak disisinya. Bertemu di kala muda, bersama di medan perang, orang yang selalu memasak makanan lezat untuknya. Koki inilah yang mendukung pahlawan-pahlawan ini, datang entah darimana, merubah dunia masak dan pria yang membuka jalan untuk era kuliner baru.

Cerita tentang Azhuma Shuri

KPTB 2. Sup Krim Sebagai Awalnya [2]

Leave a Reply

Your email address will not be published.