KPTB 4. Kreasi Steak Hamburger [2]

Featured Image

Dia menyebut dirinya sendiri sebagai Riru (Lill) *pandangan Riru-agak sulit ditulis*

(Riru POV)

Riru itu genius. Walau nama Riru masih belum terkenal. 5 tahun silam, Riru diundang untuk bergabung ke unit tentara oleh teman masa kecilku, Ganglabe. Riru anak yatim piatu, oleh sebab itu pergi dengan anak-anak yatim piatu lainnya yang tinggal di daerah kumuh.

Riru berbakat pada Kerajinan Sihir , Riru bahkan bangga pada dirinya sendiri. Sewaktu masih tinggal di area kumuh, Riru banyak membuat bermacam-macam alat untuk menolong kawan-kawannya, bahkan hingga sekarang di pasukan ini, Riru-lah seorang yang bekerja di belakang layar.
Tapi bagiku, Ruri-tidak punya telenta di bagian dimana Ruri inginkan, sihir. Sihir dan Kerajinan Sihir itu berbeda.

Sihir dan Kerajinan Sihir, keduanya menggunakan mana yang bisa mengapung di udara. Perbedaannya adalah, sihir dapat digunakan untuk langsung kepada sesama manusia atau digunakan terhadap benda.
Kerajinan sihir adalah merubah benda dengan merubah bentuknya, menggunakan huruf-huruf yang dikenal sebagai “mantra sihir” untuk menambah kekuatan sihir ke benda tersebut. Pada dasarnya, memanipulasi bentuk benda dan menambah kekuatan kepada benda tersebut. Namun begitu, hal tersebut tidak dapat disentuh langsung, karena tidak punya kekuatan tempur, tidak seperti penyihir dan tidak dapat bekerja selain sebagai pengrajin.
Kawan masa kecil Riru semuanya baik, tidak ada seorang pun dari mereka yang mengolok-olok kemampuan Pengrajin Sihirnya.
Namun demikian, selama strategi gabungan, pasukan lain akan membicarakan hal-hal buruk tentang mereka dan Riru beserta dengan para bawahannya hanya bisa menggertakkan gigi dalam diam.

Pada waktu itu, seorang yang asing datang dan menjadi anggota kami. Orang itu dipanggil Shuri. Terlihat aneh dan mempunyai aura yang cukup asing. Saat pertama, aku selalu waspada terhadap dirinya. Tapi masakanya terasa enak dan orangnya cukup baik. Kupikir dia bukan orang yang jahat.
Ketika kami memenangkan pertempuran, Riru dan Ganglabe, seorang komandan yang lain, mendengar permintaan Shuri. Shuri meminta, yang jauh dari kata uang, sebagai hadiah dia ingin bahan dan bumbu masak.
Sampai saat ini, dia hanya menerima uang, tapi Shuri merasa putus asa. Ganglabe yang terlihat mengerti, mencoba berdiskusi dengan penguasa yang menggerutu, berhasil dan membawa bahan-bahan seperti permintaannya.
Ketika semua orang bertanya, kenapa, “Sampai saat ini, kita hanya memaksa meminta uang. Namun, melihat Shuri membuat aku sadar. Hanya punya uang di saku tidak akan bisa mengenyangkan kita. Kamu tidak bisa memandang rendah seseorang yang bertugas di bagian makanan. Dalam hal ini, hanya punya uang tidak berarti kita punya makanan atau bumbu, hanya itu saja dapat menurunkan keperluan biaya. Kita akan mengatur dimana kita akan tinggal sampai seseorang menyewa kita kembali untuk berperang.
Ma, itu orangnya. Aku berpikir jika persediaan makanan dapat diawasi.”

Sepertinya mereka percaya pada Shuri.
Mendengarkan pengalaman makanan kami yang lalu, mereka semua berbicara tentang sup garam dan ikan hangus.
Shuri terkejut dan menjelaskan kepada mereka dengan cukup panik.
Pertama, hanya makan sup garam itu sama saja membahayakan kesehatan. Merusak tubuh dan sepertinya merusak kondisi kamu.
Lalu ikan hangus, itu yang terburuk katanya. Tidak perduli apapun, jika mereka makan ikan hangus itu, mereka akan meninggal karena sakit serius yang tidak dapat disembuhkan.

Semua terdiam. Jika Riru dan yang lainnya tidak beruntung, kami semua bisa meninggal. Setelah itu, semua yang berhubungan dengan makanan, diambil alih oleh Shuri. Kami bisa makan berbagai macam sup yang kaya rasa dan bermacam isi. Rasanya enak dan baik untuk tubuh. Pada awalnya, Riru merasa rasanya seperti terlalu banyak air tapi setelah terbiasa, Riru bisa merasakan rasa dari setiap bahan masakan. Manis, pahit, pedas dan asam. Riru bisa merasakan semua dan semuanya jadi terhibur. Berpikir ulang, Riru merasa sup garam waktu lalu itu terasa sangat kental. Indra perasa makan Riru dan yang lainnya jadi rusak.

Apa yang Shuri katakan, betul, Ganglabe juga setuju, “Makanan menjadi sumber tenaga bagi manusia. Uang tidak dapat membuat kamu menjadi bergerak, Aku akhirnya sadar hal itu…”

Riru juga percaya hal itu. Punya uang, kamu bisa membuat banyak hal, tapi tidak membuat kamu kenyang.  Seperti itulah Shiru, Riru perlahan mulai mengandalkannya. Hari itu, nasib Riru sudah diputuskan.

“Baik, nona Riru, ayo kita mulai bekerja sama.”
“Mmm”

Hari itu, Shuri datang ke tenda Riru. Terlihat gelisah, hal itu jadi pemandangan yang langka. Nah, aku dengar dari Ganglabe, Shuri ingin minta dibuatkan suatu barang. Panci? Atau mungkin pisau? “Permintaannya apa? Ayo cepat”

Aku tidak begitu mengerti, apapun yang diinginkan sepertinya ada hubungannya dengan dapur. Sebuah pisau yang dapat memotong dengan baik, atau sendok yang tidak berkarat. Mudah saja jika aku mau membuatnya.

“Pertama, seperti ini.”

Namun, permintaan Shuri ternyata lebih luar biasa dari yang Riru bayangkan. Meminjam kertas dan arang, dia menggambar kotak persegi panjang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Apakah benda ini punya hubungan dengan masak?

“Buatkan supaya api bisa disesuaikan disini, jadi api bisa sampai kena ke panci yang ada di atas benda logam ini.”

“?” Aku tidak mengerti, namun akhirnya aku sadar. Ku lihat, ini masalah dari batubara. Memang, jika ada alat yang mudah untuk menyalakan api, memasak pasti akan jauh lebih mudah.

“Lalu, aku ingin ada yang bisa untuk menyesuaikan besarnya api dari sini” “Jadi begitu.”

Menyesuaikan besar api? Apa hubungannya besar api dengan masak? Bukankah hal yang biasa dengan membiarkan api besar menyala untuk membuat sup dan memakannya ketika masih panas?

“Apa ini?” Menanyakan hal itu, Shuri menunjuk ke arah pengapian yang menyala dan bertanya.

Riru membuat itu dengan percaya diri dan benda tersebut akan terbakar begitu dimasukkan sedikit mana. Benda tersebut akan membuat cahaya dari api dengan mudah. Bahkan benda tersebut sangat membantu ketika perang. Kelemahannya adalah, hanya penyihir dan pengrajin sihir yang mampu menggunakannya.

“Bahan bakar. Kertas yang akan terbakar ketika kamu masukkan mana.”
“Tolong gunakan ini juga”
“?” Menggunakan?
Meminta itu, Shuri berkata sesuatu yang mengejutkan.
Pertama, membuatnya menggunakan kertas. Lalu dia ingin benda itu mengapung setelah menulis beberapa mantra ajaib di atas panci.

Mengapung? Teknik untuk membuat benda melayang sebetulnya ada tapi untuk hasil hampir seperti memindahkan batu besar. Hanya beberapa orang yang pernah melakukannya, karena mereka berpikir hal itu tidak membantu. Lalu setelah mengapung, menyalakan api di bawahnya? Aku terkejut. Membuat melayang kemudian memanaskannya. Menggabungkan 2 mantra ajaib dan menggambarkannya.

Aku tidak pernah berpikir tentang hal ini. Setelah mengapung, lalu meletakkan beberapa efek padanya. Kulihat, jika hanya mengapung tidaklah berguna. Harus bisa bergerak. Jika tidak seperti itu, hanya mengambang tidak akan membantu sama sekali.
Lalu, menggunakan mantra lingkaran kecil untuk menyesuaikan tenaga api? Tidak satupun dari ini yang membutuhkan penyihir atau ahli sihir untuk memasukkan sihir secara langsung. Suatu fungsi yang akan bereaksi ketika kamu menyentuhnya, sesuai dengan fungsi mengambil mana, kemudian menambahkannya dan menyesuaikan fungsi, bahkan orang-orang yang tidak bisa menggunakan mana pun bisa menggunakan alat ajaib ini. Dan kemudian seperti yang dia inginkan, ketika beberapa saat tidak digunakan, akan menutup. Seharusnya kira-kira sekitar satu jam. Lebih jauh, supaya kertas tidak basah, gulung kertas dan kemudian melipatnya segera. Beberapa ide terus saja keluar.

Shuri luar biasa. Riru pikir hanya Riru seorang yang jenius tapi ternyata salah. Shuri itu jenius. Riru bahkan tidak bisa mencapai mata kakinya. Riru mencoba untuk menyelesaikan permintaannya segera.Ketika seorang pengrajin sihir menulis mantra sihir, menggunakan kuas yang bagus untuk memasukkan mana, memperlihatkan kekuatannya dengan melakukan ukiran karakter khusus. Namun, mempunyai 2 efek yang bekerja sama, menambahkan fungsi penyesuaian untuk di awalnya. Meskipun begitu, kedua tangan Riru tidak mau berhenti, percaya pada konsep dan pengetahuan. Itu betul, mantra sihir tidak harus menjadi satu karakter sendiri. Walaupun mantra sihir pada alat sihir yang normalnya biasa selesai dengan karakter tunggalnya.

Tapi kali ini berbeda. Benda ini mengandung unsur sirkuit dan fungsi yang rumit. Tidak hanya satu karakter, menghubungkan semua mantra sihir untuk ditulis, lebih jauh, sementara sambil menjaga agar tetap stabil, menambahkan fungsi untuk mengirimkan mana dan mekanisme untuk mengawasi jumlahnya. Pada akhirnya, Riru menulis mantra sihir dengan pada pada benda bulat. Bersamaan pula ada empat tempat untuk meletakkan panci.

“Ini luar biasa, Riru-san!”Shuri memuji dengan mengejutkan.
“Tentu saja”Riru juga puas setelah berhasil membuat kreasi yang hebat ini. Hmph.

“Ayo kita buat makanan baru yang sangat gurih rasanya”
“Oh!”

Makanan baru? Aku sangat menunggu hal itu.
Apa yang Shuri bawa ternyata, daging sapi, tepung, kecap ikan, daun bawang dan daikon
‘Uee’ aku berpikir.
Riru bukan penggemar daging merah. Ikan tidak masalah, tapi daging merah baunya sangat mengerikan. Apa yang harus aku katakan, baunya seperti timah atau…?

Namun Shuri mendadak mulai memotong daging sapi menjadi potongan kecil-kecil dengan pisau yang sejujurnya, sangat menakutkan.
Setelah beberapa saat, daging sapi itu tidak lagi terlihat bentuk aslinya dan malah jadi terlihat seperti hancur berantakan. Hampir tidak dapat dikenali lagi bahwa itu sebenarnya daging. Setelah mengumpulkan ke dalam satu tempat, dia mencampurkan daun bawang kedalam kecap ikan. Menambahkan daun-daun bawang ke kecap ikan?
Daikon juga sudah dipotong halus menjadi beberapa potongan. Semua terlihat berantakan. Aku jadi ingin berlari menjauh. Aku tidak mau makan masakan yang aneh.
Lalu setelah mencampur daikon seluruhnya, dia mulai mengambil daging. Mengaduk dengan sedikit tepung, dia mulai membentuk menjadi bentuk melingkar di tangannya.
Terlihat menarik ketika daging tersebut secara aneh mulai berubah bentuk dan menjadi bundar di tangannya. Lalu, daging itu dimasukkan kedalam panci, memberikan garam dan bumbu lalu memasaknya.

Entah bagaimana, baunya tercium enak. Tidak ada bau busuk atau yang seperti biasanya. Terlihat warna yang bagus setelah daging dibalik dengan cepat. Saat itu aku baru menyadari, api yang digunakan dari lingkaran pembakaran ajaib itu sangat kecil. Aku mengerti, jika dibandingkan dengan menggunakan api besar supaya masakan bisa segera matang, dia memasak dengan hati-hati dan menggunakan api yang sedang besarnya. Itulah kenapa masakan ini jadi lezat. Dia menempatkan daging bundar berukuran sedang ke piring sebelum menambahkan potongan daikon, kecap ikan dan daun bawang. Selebihnya, sup itu jadi terlihat seperti saus.

“Terima kasih sudah menunggu”
“Un!”

Tapi, baunya tercium sangat enak.
Bau campuran dari rempah-rempah dan daging, sangat dekat dengan kekerasan. Riru tergoda untuk memakannya. Tidak ada rasa tidak menyenangkan seperti biasanya. Memotong pinggirannya menggunakan garpu, mencampurnya semua dengan saus dan daikon, aku memasukkan ke dalam mulutku.

Inilah kebenaran. Rasa dagingnya manis, tekstur kenyal lembut dan meleleh di dalam mulutku. Ketika sudah meleleh rasa manis minyak daging kembali mengisi mulutku. Rasa manisnya pas dengan rasa asin garam, bumbu-bumbu yang diberikan memberikan kelezatan yang positif. Rasa asli daging yang dominan, manis, pahit, aroma dan baunya. Semua menenangkan. Dan yang paling menakjubkan adalah sausnya.
Jika hanya daging itu sendiri, rasa minyaknya pasti akan mempunyai rasa yang berat, namun di dalam mulut Riru, rasanya menyegarkan. Di dalam sausnya, kecuali rasa ikan yang melekat, ada juga rasa yang asam menyegarkan, rasa dari daikon yang garing mengeluarkan jus dan rasa asin segar, membuat rasa berat dari minyak hilang dengan sempurna. Ini sangat menakjubkan lezatnya.

“Mmm! Mm, mm!” Terdengar suara yang menyiratkan kelezatan yang sangat. Melihat itu, Shuri tersenyum senang. Bagaimanapun, Riru makan makanan yang lezat dan Shuri ikut senang. Aku merasa senang.

Riru itu kurang berpengalaman. Tidak ada cara baginya untuk terkenal. Setelah memakan hidangan yang diberi nama Hamburg Steak, Riru mendengarkan Shuri, kenapa dia bisa tahu banyak hal.

“Itu betul. Mungkin karena kerja keras dari leluhurku. Tentu saja, aku juga berusaha. Dengan tangan ini, mencoba, jatuh bangun lalu kemudian berhasil. Kreatif atau apalah, aku betul-betul tidak mengerti sehingga aku menderita.”

Aku tertawa pahit.
Aku mengerti, Riru kurang kreatif.
Hanya “membuat” itu kurang bagus jika tidak ada “kreasi”
Setelah itu, Riru mengulang kalimat dan permintaan Shuri dan menghasilkan temuan baru.

“Dan, apa yang mau kamu tunjukkan kepadaku?”  Aku bertemu dengan Ganglabe, diam-diam.

Pertama, katapel genggam.  Katapel Pelontar adalah, sebuah rangka raksasa yang bisa melontarkan api dari jauh, senjata yang dipakai pada saat mengepung untuk menjatuhkan tembok istana sekaligus prajurit dalam waktu yang sama. Dan ini adalah bentuk yang kecilnya.

Cara melakukannya sangat mudah.
Letakkan batu diatas kertas. Lalu, sentuh urutan inisiasi. Setelah itu, batu akan terbang melayang setengah lingkaran seperti digambar. Tidak besar seperti pelontar biasa, Sebuah kertas yang ukurannya bisa dibawa tentara di punggung dan berlarian. Pelontar ini mempunyai kelemahan, entah untuk menyerang atau bergerak atau harus terus menyiapkan konstruksi. Tapi untuk menggunakan yang ini, kamu harus menggelar, mengatur, lalu sentuh. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan kenyamanannya.

Benda lainnya adalah batu perapian. Terlihat seperti batu biasa, tapi sekali kamu mengucapkan kata kunci, dan mengaktifkan dengan disentuh, batu akan langsung meledak dalam tiga detik. Jarak pembakaran objek dapat mencapai radius satu meter. Kelemahannya adalah, jika kamu tidak hati-hati, kamu bisa mencelakai dirimu sendiri atau tentaramu. , Latihan itu sangat diperlukan untuk menambahkan satu dan lain hal.

Terakhir adalah permata perapian yang dibatasi waktu. Permata ini setelah disentuh dan mengucapkan kata kunci dan waktunya, akan menyemburkan api setelah waktunya tiba. Waktu paling cepat kamu bisa aktifkan dua jam. Kekurangannya adalah tidak terlalu bertenaga. Hanya batu yang dapat cukup membakar.

Tapi sementara Ganglabe terkejut, dia juga senang.  “Jika kita punya ini, artinya kita tidak memerlukan pelontar yang mahal lagi! Batu perapian juga bisa menjadi senjata yang hebat untuk para tentara, permata perapian batas waktu juga sempurna untuk operasi militer rahasia! Ini yang dinantikan dari kamu, Riru!”

Tapi, aku merasa sedikit bersalah. Ide ini seluruhnya dari Shuri. Tapi aku tidak akan kalah. Kreatifits. Riru akan terus berusaha dari sini dan seterusnya.

Jika kamu bertanya tentang Riru Branshu, hampir tidak ada yang tidak mengenal betapa hebat dia, menjadi salah satu pahlawan. Penemuannya banyak memutar balik keadaan medan perang, mempunyai kekuatan yang cukup pada waktunya untuk memutuskan bagaimana perang akan berakhir. Yang paling terkenal mungkin adalah pada saat perang gerilya di Yanangan. Pada saat itu, karena tiga senjata yang ditemukannya, kastil Yanangan yang tidak dapat ditembus, dapat jatuh hanya dalam waktu tiga hari. Pelontar dibuat dalam jumlah banyak dan batu batu berjatuhan laksana hujan. Batu perapian memperlihatkan kekuatannya dalam pertempuran jarak dekat. Permata api berbatas waktu ditanam untuk serangan malam. Untuk musuh, hal ini merupakan mimpi buruk. Bahkan setelah perang selesai pun, Riru tetap terus menciptakan, para ahli sejarah dan arkeologi mengatakan bahwa karena kehadirannya, perang dapat berakhir sepuluh tahun lebih awal.

Namun, setelah kerajaan-kerajaan bersatu, dia menolak posisi sebagai Pengrajin ihir negara. Para menteri yang tidak benar-benar mengenalnya merasa bingung namun mereka yang sudah mengenalnya, mengerti dan menunjukkan hal itu. Setelah dia menolak posisi ahli pengrajin sihir negara, dia mendirikan sekolah untuk kerajinan sihir. Sekolah tersebut saat itu mempunyai fasilitas dan lingkungan terbesar di seluruh benua dan pada akhirnya menjadi Akademi Pengrajin sihir Branshu. Dan sekarang status dari ahli sihir dan peningkatan kemampuan merekalah yang menjadi tujuan mereka. Membuat mereka mengerti bagaimana pentingnya ilmu pengrajin sihir dan para tuan yang saat itu dipermalukan karena tidak dapat berbuat apapun kecuali membuat kerajinan.
Namun terlepas dari khusus pembuatan senjata, akademi mendedikasikan sebagian besar pelajarannya untuk membuat kehidupan sehari-hari lebih nyaman, focus kepada produksi, penelitian dan pembelajaran dari alat-alat yang selalu digunakan untuk hidup sehari-hari.

Teori yang ditemukan “mantra sihir” yang hingga saat itu terbentuk dari karakter tunggal menampilkan efek yang rumit dari “program sihir” saat berfungsi bersama. Penyeruan diaktifkan melalui ucapan “kata kunci”. Aktivasi melalui sentuhan “ tombol sihir” menjadi metode untuk kedamaian. Ekspresi yang selalu menyampaikan semangat dalam bersekolah “kreatif” menjadi sesuatu yang selalu dikomunikasikan.

Saya menyimpang, tapi Riru Banshu tetap diingat sebagai pecinta Hamburg Steak yang tidak ada tandingannya. Makanan itu pasti yang menjadi titik kritisnya dan aku jadi ingin tahu apakah makanan tersebut yang mengajarkan dia untuk berkreasi.
Penampilannya yang bahagia pada saat memakan steak, membuat semua orang yang melihat merasa hangat dan ringan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KPTB 3. Kreasi Steak Hamburger [1]
Bonus resep 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.