KPKM: Chapter 136 (Part 1): Pernikahan

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Nadita (LatifunKanurilkomari)

Editor: Kak June | Proofreader: Kak Glenn

.

.

Semua itu adalah mimpi yang sangat mengerikan sehingga semua bentuk perlawanan terlihat sia-sia. Shen Miao sudah tahu bahwa hasil dari semua itu sangat mengerikan tapi dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya dan hanya bisa menyaksikan semuanya terus berjalan tanpa ada jalan untuk kembali.

Dirinya adalah seorang pembunuh.

Suara gemuruh petir terdengar. Saat ini adalah permulaan musim dingin dan sungguh aneh bahwa masih ada petir di saat seperti ini. Shen Miao terus tertidur, napasnya tersengal-sengal.

Secara tidak sadar tangan Shen Miao mencengkeram sesuatu dan merasakan bahwa seseorang mengusap lembut dirinya. Tangan itu sangat lembut seakan menahan kekuatannya yang asli. Shen Miao menenggelamkan diri ke dalam pelukan tersebut dan menahan lehernya, merasakan sebuah kepala sehingga dirinya tidak mampu bernapas.

Orang ini juga memiliki kesabaran yang tinggi dan membiarkan Shen Miao bergelung kepada dirinya sebelum akhirnya berhenti sesaat, meraih bagian belakang kepala Shen Miao dan memposisikannya ke dalam pelukannya. Seluruh tubuh Shen Miao menggigil hebat dan dia menggigit bahu orang ini. Tubuh orang ini kaku untuk sesaat tetapi dia tidak bergerak dan hanya mengusap kepala Shen Miao.

Tidak ada yang tahu sudah berapa lama waktu berlalu akan tetapi perlahan petir semakin tidak terdengar dan hanya menyisakan bunyi rintik hujan yang terdengar dari luar. Hati Shen Miao perlahan menjadi tenang dan bibirnya tidak lagi menggigil akan tetapi hidungnya menyentuh sesuatu yang dingin, sebuah kancing emas.

Dirinya berada di posisi yang begitu intim bersama orang lain.

Shen Miao langsung melepaskan diri dari pelukan orang itu.

Setelah terbangun untuk beberapa saat, ruangan itu menjadi terang dan seseorang telah meletakkan lampu di depan tempat tidur sementara orang itu duduk di sisi tempat tidur. Alisnya berwarna gelap, begitu tampan, elegan dan beraura bangsawan. Selain Xie JingXing, siapa lagi? Di bawah sinar lampu, tatapannya tidak terlalu sinis akan tetapi menunjukkan rasa kepedulian dan keinginan untuk menghibur.

Shen Miao merasakan jantungnya melesak jatuh.

Dirinya terlalu tenggelam dalam mimpi buruknya sehingga tidak terbangun hingga saat ini. Mimpi barusan bukanlah sekedar mimpi tapi memang apa yang pernah terjadi. Shen Miao sangat ketakutan dengan kenyataan itu sehingga untuk beberapa saat dirinya terdiam, ketika Shen Miao merasakan sesuatu yang hangat, dirinya mencengkeram sesuatu yang hangat itu dan menolak untuk melepaskannya bagaikan seseorang yang tenggelam dan berpegangan pada benda yang mampu menyelamatkan hidupnya. Akan tetapi Shen Miao lupa bahwa di malam yang larut ini orang yang biasanya selalu datang pada waktu ini adalah orang yang sangat sulit untuk ditangani.

Rahasia yang selama ini selalu Shen Miao jaga akhirnya terbuka untuk sesaat dan dirinya menghadapi seorang pemburu yang mengerikan. Pikiran tajam Xie JingXing bagaikan nyala lilin yang hanya dengan sedikit kata justru dia mampu menebak segalanya.

“Kamu bermimpi apa?” Xie JingXing memotong sumbu lampu minyak. Meskipun semua itu adalah hal yang biasa, akan tetapi ketika Xie JingXing yang melakukannya, semua itu menjadi pemandangan yang begitu sempurna, membuat hati semua orang yang memandanginya menjadi hangat dan bahagia.

“Hanya mimpi buruk.” Shen Miao menatap ke bawah saat mengatakan itu. Akan tetapi suaranya tidak seperti biasanya.

Xie JingXing terdiam sesaat dan memutar kepalanya untuk menatap Shen Miao, “Tadi kamu juga terlihat ketakutan.”

Tiba-tiba rasa marah muncul dalam hati Shen Miao, “Saya bukan Yang Mulia Pangeran Rui. Sejak awal hidup di dunia sudah sangat sulit, jadi wajar jika saya merasa takut.”

Shen Miao menatap Xie JingXing. Mata pria itu begitu indah dan bentuknya bagaikan kelopak bunga persik* yang begitu indah. Pada hari biasa ada saatnya pria ini begitu genit dan ada saatnya dia serius, karena itulah Shen Miao tidak bisa mengatakan apakah pria ini benar-benar peduli atau semua itu hanya kepalsuan, tapi mata itu juga mampu membuat semua wanita tenggelam dalam pesonanya. Saat ini Xie JingXing sedang berhadapan dengan Shen Miao sehingga sepasang mata itu bagaikan danau di musim gugur dan sedalam giok berwarna gelap, membuat orang lain sulit menebak perasaannya. Xie JingXing berujar, “Tidak perlu takut, itu cuma mimpi.”

(Catatan Editor: bagian soal mata Xie Jing Xing yang seperti bunga persik (peach blossom eyes) ini sering disebut-sebut. Bagi yang kurang paham, berikut sketsa bentuk mata dan contoh aktor yang punya mata seperti itu:)

 Bagi yang kurang paham, berikut sketsa bentuk mata dan contoh aktor yang punya mata seperti itu:)

Mulut Shen Miao terasa asam dan perasaan sedih muncul dalam hatinya

Mulut Shen Miao terasa asam dan perasaan sedih muncul dalam hatinya. Setelah kelahirannya kembali, Shen Miao mampu mengontrol perasaannya dengan sangat baik kecuali untuk perasaan cinta dan benci yang memang belum bisa dirinya tutupi dengan baik. Setelah beberapa saat barulah Shen Miao akan bisa menyembunyikan kedua perasaan itu. Tapi untuk kali ini Shen Miao tidak bisa menangani mimpinya. Mungkin karena hujan yang terlalu dingin malam ini, atau mungkin karena tatapan Xie JingXing yang terlalu lembut sehingga membuat hati Shen Miao yang tadinya dingin menjadi rapuh. Dirinya benar-benar ingin pergi ke suatu tempat untuk menangis sepuasnya.

Shen Miao merasakan pemandangan di depannya mengabur, seperti ada sesuatu di wajahnya. Ketika Shen Miao menatap ke hadapannya, dirinya melihat Xie JingXing yang sedang menggenggam saputangan, menyeka air matanya.

Dirinya benar-benar menangis.

Xie JingXing memperhatikan jari tangan Shen Miao yang begitu ramping, gerakan tangan pemuda itu menjadi lembut. Tatapan mata pria itu menjadi serius ketika Shen Miao melakukan segala hal dengan begitu cermat. Bulu matanya yang lentik, sikapnya yang tidak biasa dan wajahnya yang usil sudah menghilang digantikan dengan rasa pertemanan yang lembut. Bagaikan seorang kakak tapi juga seorang teman.

Shen Miao merasa lesu. Ketika Xie JingXing selesai menyeka wajahnya, pria itu menatap Shen Miao dan mengangkat alisnya, “Sudah tidak menangis lagi?”

Shen Miao menghindari tatapan Xie JingXing, “Terima kasih banyak.” Ucapan terima kasih kali ini tidak lagi diucapkan dengan nada mencemooh seperti sebelumnya. Ini pertama kalinya Shen Miao menunjukkan rasa terima kasih yang begitu tulus.

Xie JingXing terkejut saat memandangi Shen Miao dan tiba-tiba saja bibirnya menyunggingkan senyum saat pria itu memegang kepalanya, “Kamu bermimpi apa sehingga terus mengigau dan memanggil Shen furen? Apa yang sudah kamu lakukan?”

Diam-diam Shen Miao terkejut dan menatap Shen Miao sambil berujar, “Memangnya apa yang saya katakan saat saya tertidur?”

Xie JingXing terdiam sesaat sebelum akhirnya berbicara, “Kamu mengatakan kepada Shen furen bahwa semuanya adalah salahmu dan kamu juga meminta maaf kepadanya.” Xie JingXing berpikir sejenak lalu bertanya, “Kesalahan besar macam apa yang sudah kamu lakukan di dalam mimpimu?”

Ketika Shen Miao mendengar ini, hatinya merasa agak tenang dan dengan agak malas menjawab, “Bukan apa-apa. Hanya mimpi.” Akan tetapi Shen Miao tidak tahu bahwa usahanya untuk terlihat tenang jelas terlihat oleh Xie JingXing, jari pria itu mengepal.

“Tapi,” Tiba-tiba Shen Miao terpikir sesuatu dan menatap Xie JingXing untuk bertanya, “Sudah begini larut, apa yang Anda lakukan di sini?” Bahkan Shen Miao sendiri tidak sadar bahwa saat ini dirinya telah terbiasa dengan Xie JingXing yang selalu menyusup masuk ke kamar tidurnya pada tengah malam. Pada saat ini tidak ada nada marah dalam pertanyaannya, seakan semua ini memang sudah biasa terjadi.

Xie JingXing mengeluarkan sebuah surat dari lengan jubahnya, “Tadinya ingin memberikan hadiah untukmu.”

Shen Miao menatap sekilas kepada pria di hadapannya itu, mengambil surat kemudian membukanya. Shen Miao terkejut sesaat setelah membacanya.

Kata-kata dalam surat itu ditulis dengan huruf yang rapat dan penuh mengenai Chang ZaiQing saat dia berada di Provinsi Liu. Bahkan di dalam surat itu juga tertulis mengenai suami Chang ZaiQing yang masih hidup beserta putra mereka yang ditelantarkan oleh wanita itu. Surat ini berisi semua rahasia Chang ZaiQing. Shen Miao terkejut bukan karena isi surat itu melainkan karena Xie JingXing lah yang memberikan surat ini kepada dirinya.

“Kamu tidak terkejut.” Xie JingXing menatap Shen Miao dari samping gadis itu, “Kamu dari dulu sudah tahu mengenai hal ini?”

“Terima kasih banyak untuk perhatian Pangeran Rui.” Shen Miao menyimpan surat itu, “Pangeran Rui tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. Saya bisa mengurusnya sendiri.”

Xie JingXing menatap Shen Miao untuk sesaat kemudian menggeleng kecil dan tersenyum, “Pangeran ini yang ingin ikut sibuk.”

Shen Miao terdiam sesaat dan entah mengapa merasa bahwa kamarnya saat ini terasa begitu sesak. Gadis itu menundukkan wajahnya dan tatapannya secara tidak sengaja mengarah ke ujung jubah Xie JingXing. Kainnya sangat mewah dan sulaman emas yang ada di jubah itu terlihat begitu agung. Shen Miao bisa merasakan Xie JingXing menatap penuh selidik kepada dirinya. Gadis itu mengangkat wajahnya, berusaha keras untuk terlihat tenang dan menatap mata pria di hadapannya, “Jika tidak ada hal lain, Anda bisa pergi.”

Xie JingXing menatap Shen Miao dengan lekat.

Alis Shen Miao terangkat, pria ini sudah membangunkannya dari mimpi yang sangat buruk dan seharusnya dirinya merasa berterima kasih. Akan tetapi orang macam apakah Xie JingXing ini? Dia hanya melihat sedikit tapi mampu mengetahui begitu banyak. Semakin lama Xie JingXing berada di sini, Shen Miao khawatir pria ini akan mengetahui keseluruhan dirinya hingga tidak tersisa apapun. Shen Miao tidak ingin rahasianya diketahui orang lain, terutama oleh Xie JingXing yang identitasnya begitu rumit. Meskipun saat ini Xie JingXing tidak bersikap jahat kepada dirinya, tapi Shen Miao tidak ingin ambil resiko.

Xie JingXing bergumam, “Hujannya begitu deras, kamu tega membiarkanku pergi sekarang?”

Seakan diberi tanda, bunyi petir terdengar menemani bunyi rintik hujan di luar jendela. Sepertinya hujan akan turun semalaman. Shen Miao merasa kesal dengan kata-kata Xie JingXing dan sudah melupakan sakit di dadanya barusan, “Pangeran Rui ingin menginap di sini?”

Alis Xie JingXing terangkat, “Ide bagus.”

“Xie JingXing.” Shen Miao menggertak.

“Bibirmu sudah terbiasa mengucapkan nama kecilku.” Xie JingXing menyimpan kembali saputangan yang dia gunakan untuk menyeka air mata Shen Miao, ” Tidurlah. Aku akan pergi setelah hujan berhenti.”

Shen Miao merasa jengkel dan rasa sesak yang dirinya rasakan di ruangan ini sudah menghilang. Bagaimana bisa seorang gadis muda tidur ketika ada pria yang tidak dikenal berada di sisinya? Sebenarnya berapa banyak lagi hal kurang ajar yang akan dilakukan Xie JingXing hari ini?

“Pangeran Rui ada di sini. Saya tidak bisa tidur.” Shen Miao menatap datar. Setelah diganggu oleh Xie JingXing malam ini, perasaan serius yang muncul karena keberadaan Chang ZaiQing menjadi hilang. Shen Miao bahkan memilih memandangi wajah wanita itu daripada harus berurusan dengan Xie JingXing malam ini.

Xie JingXing mengulurkan lengannya, menyentuh pipi Shen Miao dan memaksa gadis itu menatap dirinya dan dengan santai berkata, “Pikir baik-baik. Pangeran ini memiliki darah kerajaan dan memiliki aura seekor naga. Jika Pangeran ini tinggal di kamarmu, tidak akan ada iblis maupun roh jahat yang berani mengganggumu sehingga kamu tidak perlu khwatir akan bermimpi buruk.”

Shen Miao tidak marah tapi justru tertawa saat dirinya melepaskan tangan Xie JingXing dari wajahnya, “Jadi saya harus berterima kasih kepada Pangeran Rui.”

“Begitulah.”

Shen Miao melotot ke arah Xie JingXing tapi perasannya menjadi tenang. Xie JingXing juga tidak menanyakan apapun kepada dirinya. Shen Miao tidak peduli jika Xie JingXing tidak bisa menebaknya atau jika pria ini sebenarnya sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu, karena memikirkan hal ini saja sudah cukup untuk membuat Shen Miao ingin kabur dari semua hal. Saat ini dirinya sudah tidak punya tenaga untuk berurusan dengan orang lain, karena itu Shen Miao merasa sangat berterima kasih bahwa Xie JingXing tidak menanyakan apapun.

Xie JingXing berjalan ke arah jendela dan membukanya, membiarkan beberapa rintik hujan masuk ke dalam. Pria itu kemudian berjalan ke meja yang tidak jauh dari tempat tidur dan membuka buku, seakan memang berniat duduk untuk membaca buku. Pria itu tidak menoleh tapi berujar, “Pangeran ini ada di sini, tidurlah dengan tenang.”

Shen Miao menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan sesuatu akan tetapi pada akhirnya tidak ada apapun yang keluar. Angin di luar sangat menyedihkan, hujan seakan meratap dan petir sangat menakutkan. Shen Miao membungkus dirinya dengan selimut menyisakan kepalanya, akan tetapi tatapannya secara tidak sengaja mengarah kepada pria yang duduk di depan meja.

Pemuda yang sedang duduk itu ramping dan tinggi dan dia sedang membalik halaman buku dengan wajah yang serius. Jika terlihat dari samping, pria itu terlihat begitu tampan dan dibawah cahaya dia terlihat begitu sederhana. Sikapnya yang meremehkan kehidupan telah menghilang dan saat ini Xie JingXing terlihat begitu tenang dan lembut, seakan dirinya adalah sosok yang mampu menaungi angin dan hujan sehingga tanpa bicara orang lain bisa mempercayai dirinya.

Xie JingXing adalah orang yang manipulatif, dingin, sulit ditarik perhatiannya serta sangat kejam. Dia berani menipu dunia dan seisinya dan mengambil keputusan yang kejam. Menipu keluarga kerajaan, mencuri kayu dan menggantinya dengan tiang, di permukaan pria ini memiliki penampilan yang sinis tapi dalam sekejap dia mampu mengumpulkan semua awan hujan. Dia bukan orang yang baik tapi juga tidak sekejam yang orang pikirkan.

Perasaan Shen Miao bagaikan angin dan hujan di luar sana, rasa sakit dan sedih yang tadinya memenuhi dirinya sudah hilang berkat sebuah cahaya sehingga perlahan Shen Miao menutup matanya.

Rintik hujan akhirnya berhenti setelah beberapa waktu lamanya sementara minyak di dalam lampu tinggal tersisa sedikit. Api yang tadinya berkobar kuat perlahan melemah dan akan padam.

Pemuda berjubah ungu yang duduk di depan meja akhirnya menutup bukunya, dia berdiri dan berjalan mendekati sisi tempat tidur.

Di tempat tidur seorang gadis muda tidur dengan tenang, bunyi napasnya sangat lembut. Ketika gadis ini menutup matanya, dia tidak seagung biasanya tapi sedikit lebih ramah, seakan gadis ini masih memiliki kenaifan seorang gadis kecil.

Gadis ini masih berumur enam belas tahun dan masih seorang gadis muda. Di keluarga biasa, seorang gadis muda berumur enam belas tahun kemungkinan masih memikirkan tuan muda dari keluarga mana yang lebih tampan atau kantung bunga dari toko mana yang lebih harum.

Tatapan Xie JingXing menjadi sedikit rumit.

Dari awal dirinya bertemu dengan Shen Miao, gadis ini baru saja mencapai usia pernikahan tapi dia sudah menunjukkan kekejaman yang berbeda yang tidak sesuai dengan usianya. Memang kejam tapi tidak mengherankan. Keluarga Shen sudah menghadapi berbagai situasi yang rumit tapi gadis ini tidak pernah panik dan justru melawan tentara dengan senjata dan menghadapi air dengan tanah. Seakan gadis ini sudah menduga semua hal itu.

(Catatan Editor: seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, ini berarti menghadapi sesuatu dengan apa yang menjadi kelemahannya)

Akan tetapi pada akhirnya gadis ini sesuai dengan namanya, Shen JiaoJiao. Seharusnya gadis ini tumbuh dengan dimanja tapi dia dipaksa untuk dewasa dengan cepat. Tidak menunjukkan kelemahan kepada siapapun bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Seperti mimpi buruk barusan yang membuat gadis ini terbangun, rasa putus asa yang terpancar dari matanya cukup mengejutkan Xie JingXing.

(Catatan Editor: Jiao berarti halus, menyenangkan, lembutmanja)

Gadis ini mencengkeram bajunya dan seluruh tubuhnya gemetar, seakan dia sedang menghadapi sesuatu yang mengerikan tapi setelah tersadar dia langsung kembali ke penampilannya yang agung. Bagaikan seekor binatang buas yang harus tampil kuat dan besar sepanjang waktu, karena jika tidak begitu musuh akan mengetahui kelemahannya dan mereka akan dibunuh dan diserang hingga tidak tersisa.

Xie JingXing merasa bingung. Dirinya bukanlah orang baik bahkan dirinya juga memiliki kekejaman yang tidak dimiliki orang biasa, tapi setiap saat dirinya bertemu Shen Miao dirinya akan sedikit melunak. Sejak pertama kali dirinya bertemu Shen Miao, dirinya menjadi lembut hanya kepada gadis itu. Malahan dirinya selalu mengalah kepada Shen Miao.

Tapi Xie JingXing juga tidak tahu mengapa dirinya seperti itu hanya kepada Shen Miao.

Sama seperti saat Xie JingXing mengatakan bahwa hujan tidak akan berhenti sehingga dirinya bisa menemani Shen Miao hingga tertidur. Jelas sekali gadis itu sangat ketakutan tapi dia berusaha bersikap berani, karena itulah Xie JingXing mengalah dan berpura-pura tidak tahu.

Hujan sudah berhenti dan Xie JingXing merapatkan selimut Shen Miao, menurunkan tirai dan meninggalkan ruangan.

Kediaman yang ada di balik dinding kediaman Shen adalah milik Pangeran Rui. Ketika Xie JingXing melangkah keluar, Tie Yi dan Nan Qi yang menunggu di luar langsung mengikuti tuan mereka.

“Undangan yang dari istana, katakan aku akan datang.” Ujar Xie JingXing.

Tie Yi terkejut, “Bukankah Tuan mengatakan tidak mau datang?”

“Aku berubah pikiran,” Xie JingXing melemparkan tatapan tajam kepada Tie Yi.

Tie Yi langsung diam dan patuh akan tetapi diam-diam merasa curiga. Undangan yang dikirimkan berasal dari beberapa pangeran di istana untuk semua pangeran di Ming Qi dan putra mahkota Kerajaan Qin. Xie JingXing tidak berminat untuk bergaul dengan mereka semua karena itulah semua undangan langsung ditolak. Lalu kenapa tiba-tiba saja tuannya itu berubah pikiran sekarang? Tie Yi mencuri lihat kepada tuannya itu dan merasa tatapan mata Xie JingXing sangat dingin. Perasaan Tie Yi menjadi tidak enak.

Tatapan mata Xie JingXing sangat dingin.

Sebenarnya saat Shen Miao bermimpi, gadis itu tidak hanya menggumamkan nama Luo XueYan. Gadis itu juga menggumamkan nama Pangeran Ding, Fu XiuYi

Tidak lagi menyukai Fu XiuYi? Bibir Xie JingXing terangkat dan membentuk seringai. Menyukai?

‘Pernah suka’ selalu menjadi kata-kata yang paling merusak suasana hati.

Table Of Content

KPKM: Chapter 135 (Part 2): Mimpi Buruk
KPKM: Chapter 136 (Part 2): Pernikahan

Leave a Reply

Your email address will not be published.