KPKM: Chapter 130 (Part 2): Jiao Jiao Milikku

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Amal (pengembara_cinta )

Editor: Kak Nadita | Proofreader: Kak Glenn

.

.

Di ujung lain, Chang Zai Qing kembali ke halaman barat. Kediaman barat adalah tempat seluruh keluarga Shen Xin tinggal dan sekarang hampir kosong. Sebelumnya ada sejumlah pelayan di halaman barat dan karena Shen Xin biasa memanggil tentara pribadinya untuk latihan, setiap hari kediaman itu akan ramai dengan suara kebisingan dan kegembiraan. Ketika keluarga Shen Xin pindah, Chen RouQiu mengurangi jumlah pelayan di kediaman barat. Tanpa adanya tentara yang berlatih setiap hari, kediaman barat yang luas menjadi sepi.

Ketika pengasuh Chang ZaiQing, Zhao Mama, melihat Chang ZaiQing kembali, dia dengan cepat pergi untuk melepas jubah Chang ZaiQing dan berkata dengan cemas, “Nona, bagaimana pembicaraan dengan Shen furen ketiga hari ini?”

Zhao Mama mengusulkan agar ZaiQing memasuki ibu kota untuk mencari bantuan keluarga Shen. Selain cara ini, Chang ZaiQing benar-benar tidak punya jalan lain. Tetapi keluarga Shen dan Chang tidak berhubungan selama bertahun-tahun dan hati orang-orang telah berubah. Awalnya, mungkin Jenderal Besar Shen bersedia mengurus keluarga Chang, tetapi sekarang Jenderal Bedar Shen tidak lagi hadir sehingga tidak ada yang tahu bagaimana keluarga Shen memperlakukan Chang ZaiQing.

Chang ZaiQing menggosok dahinya dan duduk di sofa empuk di tengah ruangan, “Shen furen ketiga sangat antusias dan setuju kita tinggal selama beberapa hari. Bahkan jika orang-orang itu datang ke ibukota Ding, mereka tidak akan berani datang memprovokasi keluarga Shen.”

Zhao Mama kemudian menepuk dadanya dengan lega, “Amitabha. Dulu tuan berkata setiap orang dalam keluarga Shen memiliki hati Bodhisattva, saya awalnya mengkhawatirkan nona dan takut bahwa keluarga Shen tidak mau membantu. Sekarang tampaknya saya dapat tenang.”

Mama terlalu naif.” Chang ZaiQing tersenyum dingin dan wajahnya tidak berubah, “Bagaimana mungkin ada makan siang gratis di bawah surga? Bahkan jika Jenderal Besar Shen merawat keluarga Chang, itu karena Ayah memblokir pisau untuknya bertahun-tahun yang lalu. Tidak ada orang yang akan memperlakukan orang lain dengan baik tanpa bayaran. Shen furen Ketiga menjadi seantusias ini hanya karena aku bisa berguna baginya.”

Zhao Mama terkejut dan memandang Chang ZaiQing, “Maksud nona adalah Shen furen ketiga bukan seseorang yang baik? Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Mama beristirahatlah.” Chang ZaiQing menghiburnya tetapi matanya dipenuhi dengan sensasi yang mengerikan, “Shen furen Ketiga memiliki permohonan kepadaku, aku juga membutuhkan sesuatu darinya. Meskipun aku tidak tahu permainan seperti apa yang dia rencanakan, aku selalu dapat menemukan solusi.”

“Tapi.” Zhao Mama agak gelisah.

“Yakinlah Mama.” Chang ZaiQing berkata sambil tersenyum, “Kita telah mengatasi masalah yang paling sulit. Kita mencapai hari ini dan melihat bahwa ada rute untuk hidup. Apa lagi yang perlu kutakuti? Keluarga Shen adalah batu loncatan kita sehingga tentu saja kita harus memanfaatkannya sepenuhnya. Karena Shen furen ketiga ingin memanfaatkanku, aku juga akan memanfaatkannya.”

Zhao Mama memandang Chang ZaiQing dan akhirnya mengangguk, “Pelayan tua ini hanya menginginkan hal yang baik untuk nona. Apapun yang nona katakan, akan saya patuhi.”

*****

Kota Ding adalah ibu kota Ming Qi dan tentu saja tanah di kota itu mahal. Tanah paling mahal di ibu kota Ding selain Istana adalah Jalan Yan Qing. Jalan Yan Qing terletak di bagian selatan kota dan tidak jauh dari sana terdapat restoran dan toko yang paling ramai menghadap sungai dengan pemandangan yang indah. Alasan tingginya nilai Jalan Yan Qing selain ada mantan pejabat tinggi yang tinggal, adalah terdapat seorang biksu pemimpin Tao yang terkenal yang datang pada suatu hari untuk melihat daerah tersebut dan menyebutkan bahwa selain mahal tempat ini memiliki energi naga. Selain keturunan bangsawan, tidak ada yang bisa mengandung energi naga di daerah ini dan hanya mereka yang terhormat di bawah surgalah yang bisa menempatinya.

Keluarga Kekaisaran Ming Qi tidak terletak di bagian selatan kota dan tidak dapat membangun kembali Istana karena rakyat jelata akan mengeluh, selain itu tidak ada begitu banyak uang dalam perbendaharaan. Tetapi siapa pun yang berani tinggal di tempat yang dipenuhi dengan energi naga akan dihentikan langsung oleh Kaisar dan bahkan mereka yang tidak takut dengan kaisar tidak akan mampu membayar uang sebanyak itu. Dengan demikian Jalan Yan Qing sangat kosong dan hanya menjadi hiasan selama bertahun-tahun.

Tetapi pada saat ini, akhirnya seseorang pindah ke Jalan Yang Qing. Mereka adalah tamu dari negara Qin dan Liang Yang Besar. Mereka yang datang dari negara Qin adalah Putra Mahkota dan dari Liang Yang Besar adalah Pangeran Tingkat Pertama (Qinwang), keduanya jelas dari keturunan bangsawan. Uang bukan masalah sehingga tidak ada tempat yang lebih cocok dari Jalan Yan Qing bagi mereka. Lagipula mereka tidak bisa tinggal di Istana, karena Kaisar Wen Hui tidak akan bisa beristirahat selama berhari-hari. Bagaimanapun juga tidak menyenangkan mengetahui ada musuh yang tinggal di Istana dan mengganggu tidur kaisar.

Pada saat ini di bagian terdalam dari Jalan Yan Qing ada sebuah rumah besar yang dijaga oleh tentara. Meskipun tempat itu adalah mansion, tetapi lebih terlihat seperti replika istana karena didekorasi dengan mewah dan daerahnya sangat luas. Bahkan kediaman para pejabat harus digabungkan bersama untuk bersaing dengan rumah mewah ini.

Rumah besar ini adalah tempat tinggal Pangeran Rui. Ada beberapa rumah dan Putra Mahkota negara Qin memilih tempat terluar sedangkan rumah paling mewah dipilih oleh Pangeran Rui. Tidak tahu apakah dia sengaja ingin menjaga jarak dari negara Qin. Tapi bagaimanapun juga, mansion ini adalah yang paling mahal dari seluruh Jalan Yan Qing, dua kali lebih mahal dari yang dipilih oleh Putra Mahkota negara Qin. Pangeran Rui bahkan tidak mengedipkan mata saat melihat harganya, membuat orang lain bertanya-tanya apakah perbendaharaan Liang Yang Besar benar-benar dipenuhi dengan emas.

Pangeran Rui dari Liang Yang Besar sangat arogan. Pada hari pertama pindah, ia menginstruksikan untuk mengganti plakat di pintu dengan plakat emas berwarna cerah dan mempesona dengan tulisan Kediaman Pangeran Rui. Membuat orang merasa geli dan konyol. Pangeran Rui dari Liang Yang Besar ini berlari ke Ming Qi untuk membeli sebuah mansion, bahkan memasang plakat seperti itu. Mungkinkah dia benar-benar ingin tinggal di sini?

Saat ini di salah satu halaman kediaman Pangeran Rui, ada benda putih bersalju yang tergeletak di lantai.

“Benda ini tangkas tetapi terlalu ganas. Dia masih sangat kecil tapi sudah begitu galak, mengapa Tuan ingin menyimpannya?” Seorang wanita berjubah kuning berjongkok di lantai dan memegang tongkat untuk menggoda bola bulu putih bersalju di depannya. Ketika melihat lebih dekat, benda itu ditutupi dengan bulu halus dan saat benda itu mendongak sepasang mata yang jernih dapat terlihat, berguling-guling seperti anak kecil dengan penampilan yang cerdas. Pada saat ini dia sedang menggaruk wanita itu dengan kakinya ketika tiba-tiba saja kaki itu berubah menjadi gigi. Ini adalah seekor anak harimau. Kemungkinan besar baru lahir dan masih sangat muda. Bulu di kulitnya berwarna terang langka dan bahkan tidak ada garis yang bisa dilihat. Dari kejauhan terlihat seperti harimau berwarna seputih salju dan tidak sulit untuk menyayanginya.

Wanita yang menggoda harimau itu tiba-tiba mengeluarkan desis dan melemparkan tongkat kayu di tangannya sambil berkata dengan marah, “Hewan ini terlihat sangat lembut tetapi sebenarnya hewan penggigit orang. Sangat menyakitkan. Nanti aku akan merobekmu.”

“Lebih baik lupakan saja.” Suara wanita lainnya terdengar. Dia adalah wanita berpakaian mencolok yang mengenakan jubah merah muda. Dia melihat benda di lantai itu dan berkata, “Dia secara pribadi dibawa pulang untuk dibesarkan oleh Tuan. Ye Ying, bahkan sebelum kamu bisa menyentuhnya, kamu akan dikoyak duluan oleh Tuan.”

Perempuan dengan nama Ye Ying berdiri lalu anak harimau putih itu maju untuk memegang ujung rok di mulutnya dan menariknya sebelum ditendang oleh Ye Ying. Dia berjalan ke sisi wanita berpakaian merah, “Huo Long, apa Tuan gila? Mengapa memelihara harimau tanpa alasan yang jelas? Harimau itu terlihat bagus dan imut tapi emosinya buas, bagaimana jika di masa depan nanti malah melukai orang?”

Huo Long mengangkat bahu, “Kemungkinan besar harimau ini punya sifat yang jelek. Setelah harimau ini dibawa ke sini, dia terus makan dan tidur, lalu tidur dan makan. Setelah membuka matanya selama beberapa hari, dia cuma tahu cara menggigit orang.”

“Di masa depan ketika Tuan membawa pulang seekor harimau besar, Yang Mulia akan pusing mengetahui hal ini.” Ye Ying menunjukkan wajah pahit.

“Untuk apa kalian berdua bermalas-malasan?” Seorang pria membentak keras. Kedua wanita itu berbalik dan menatap seorang pria paruh baya yang melangkah mendekat. Pria itu berjalan ke kandang dan melihat sebuah mangkuk sebelum melihat Ye Ying dan Huo Long yang tidak senang, “Aku menyuruh kalian memberi makan tetapi kalian hanya tahu cara bermalas-malasan.”

“Tie Yu.” Ye Ying berkata dengan marah, “Kami keluar dari menara penjara dan berpikir bahwa mengikuti tuan adalah pekerjaan yang baik, tetapi siapa yang tahu hanya ternyata tugas kami hanya untuk memberi makan harimau. Kami adalah Tentara Mo Yu dan bukan pengasuh anak-anak. Bagaimana bisa kamu membiarkan kami bermain-main dengan harimau?”

“Lakukan dengan baik apa yang Tuan perintahkan. Untuk apa mengajukan begitu banyak pertanyaan?” Tie Yi berjongkok dan mengambil mangkuk dari lantai lalu memberi makan harimau putih itu, semangkuk daging yang dimasak cincang dan dicampur dengan telur. Harimau putih itu maju untuk mengendus-endus sebelum akhirnya makan dengan gembira. Tie Yi menggosok kepala harimau putih itu dan harimau itu tampak gembira.

Seorang lelaki yang besar dan kuat dan seekor harimau mungil yang duduk bersama adalah pemandangan yang hangat sehingga terasa agak aneh.

Harimau itu makan setengah mangkuk dan menolak untuk makan lebih banyak. Tie Yi mengambil mangkuk itu dan ketika berbalik dia melihat Huo Long dan Ye Ying membungkuk ke arah di belakangnya, “Tuan.”

Xie JingXing melambaikan tangannya dan berjalan keluar ruangan. Dua orang yang mengikutinya tentu saja Ji YuShu dan Gao Yang.

Ji YuShu melihat harimau putih itu dan matanya melebar, “Ini seekor anjing?”

Tie Yi gemetar ketika Gao Yang berkata, “Apa kamu bodoh? Ini jelas seekor anak kucing.”

Padahal ini anak harimau.

Tie Yi berkata, “Tuan Muda Ji, Tuan Gao, ini adalah harimau putih.” Nada suaranya memprotes ketidakadilan untuk harimau putih. Sayangnya anak harimau itu tidak mengerti dan mulai mengejar ekornya di bawah matahari seperti kucing.

“Harimau.” Ji YuShu memandang ke arah Xie JingXing, “Kakak Ketiga, apa kamu baik-baik saja? Mengapa sekarang kamu bahkan memelihara harimau?”

Ye Ying menyuarakan, “Tuan Muda Ji, Tuan melihat harimau ini dalam perjalanan ke ibukota Ding. Beberapa pemburu menjual kulit harimau ini dengan harga tinggi dan Tuan kami menyelamatkannya.”

Gao Yang menyipitkan matanya dan menatap Xie JingXing, “Sejak kapan kamu baik hati? Hal semacam ini bukan sesuatu yang akan kamu lakukan.”

Xie JingXing tidak peduli dengan mereka berdua. Dia mengenakan jubah ungu gelap dengan pola bunga bersulam emas dan seperti biasa sangat indah. Tidak peduli seberapa cantik pakaian itu tentu tidak sebanding dengan penampilannya yang luar biasa. Xie JingXing berjalan santai ke harimau putih itu dan ketika anak harimau putih itu tiba-tiba melihatnya, sang harimau membuka cakar dan menerkam Xie JingXing dengan rahang terbuka.

Tapi harimau itu terlebih dulu telah diambil di bulu lehernya.

Xie JingXing mengangkat anak harimau putih itu di udara, anak harimau itu tampaknya sangat tidak nyaman karena berusaha untuk menjatuhkan kakinya. Xie JingXing buta akan hal itu saat dia meneliti harimau ini dengan serius.

“Mungkin harimau ini tidak diinginkan lagi sekarang?” Ye Ying memberi isyarat memenggal kepala ke Huo Long. Huo Long bergidik dan menggelengkan kepalanya.

Pada akhirnya Xie JingXing mengamati beberapa saat sebelum akhirnya membuka kaki belakang harimau putih itu dan tertawa setelah melihatnya, “Ini harimau betina.”

Semua orang, “…”

Jadi kenapa kalau harimau betina? Mungkinkah Xie JingXing berencana membawanya kembali ke Liang Yang Besar sebagai Rui WangFei?

Anak harimau itu merintih tetapi karena terlalu muda suaranya sangat lembut. Xie JingXing meletakkannya di dada dan memeluknya. Setelah harimau putih itu berbaring di dadanya, dia menatap Xie JingXing dan merintih tanpa henti, tampak sangat menggemaskan dan menyedihkan.

Xie JingXing mengulurkan jari-jarinya dan bermain dengan kumis harimau putih itu untuk menggodanya. Ye Ying terkejut dan berseru, “Tuan tidak boleh melakukan itu. Harimau putih ini membenci orang yang menyentuh kumisnya dan akan mulai menggigit.”

Suara itu hampir tidak terdengar ketika harimau putih itu menggigit jari Xie JingXing. Huo Long dan Tie Yi juga melompat kaget, sementara Ji YuShu menutupi mulutnya dengan kedua tangan dan tampak panik, tetapi Gao Yang bersukacita karena kemalangan orang lain.

Xie JingXing dengan tenang bertukar pandang dengan harimau putih itu dan setelah harimau putih itu menatap Xie JingXing beberapa saat dia tiba-tiba merasa agak bersalah dan melepaskan gigitannya lalu memalingkan kepala ke tempat lain. Jari Xie JingXing memiliki bekas gigi yang dangkal tapi cukup jelas.

“Mata dan temperamen yang sama. Bahkan kebiasaan menggigit orang juga sama.” Xie JingXing menundukkan kepalanya, menatap harimau putih di pelukannya dan tidak merasa marah, tetapi malah membelai kepala harimau putih itu.

Harimau putih itu tampak sedikit mengantuk dan menguap sebelum melakukan peregangan. Dia tidak menolak dan membiarkan Xie JingXing membelai kepalanya, tidak melakukan apa pun kecuali berbaring di dada Xie JingXing dan beristirahat.

Dengan matahari yang bersinar keemasan matahari, pria berpakaian ungu itu terlihat cantik dan tampan saat menatap harimau putih itu. Bulu matanya sangat panjang tetapi tidak bisa menyembunyikan penampilannya yang lembut. Bulu harimau putih itu sangat indah karena tergeletak di lengannya. Satu orang, satu harimau, seperti lukisan yang sangat bagus sehingga Tie Yi yang baru saja memberi makan harimau itu merasakan sensasi aneh.

Xie JingXing mengangkat alisnya dan menatap harimau yang matanya hampir tertutup itu, “Masih belum ada nama. Bagaimana kalau begini, namamu adalah Jiao Jiao.”

Ji YuShu bertepuk tangan, “Kakak Ketiga, nama apa ini? Terlalu aneh bagimu untuk memberikan nama halus seperti ini pada harimau betina.” Dia memprotes, “Ganti namanya, Tiger Chief, Hammer atau Tiger Brother juga cukup bagus.”

Gao Yang memiliki ekspresi ‘tidak lihat’ saat ia menggunakan kipas untuk menutupi matanya.

Xie JingXing melirik Ji YuShu dan terus menggelitik anak itu tanpa tergesa-gesa dan berkata dengan lembut, “Diam, ini Jiao Jiao milikku.”

Table Of Content

KPKM: Chapter 130 (Part 1): Jiao Jiao Milikku
KPKM: Chapter 131 (Part 1): Seseorang Yang Tidak Sebaik Harimau

Leave a Reply

Your email address will not be published.