KPKM: Chapter 123 (Part 2): Kembali ke Ibukota

Featured Image

 Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Amal ( pengembara_cinta )

Editor: Kak Nadita | Proofreader: Kak Glenn

.
.

Shen Xin awalnya memiliki reputasi yang menonjol di hati rakyat Ming Qi dan karena dalam dua tahun ini, keluarga Xie jatuh ke dalam kemalangan dan keluarga Shen pindah, hal ini membuat orang-orang merasa bahwa akhir dari para pahlawan sudah tiba. Terlebih lagi ketika orang-orang negara Qin dan Liang Yang Besar datang ke ibu kota Ding, tiba-tiba ada perasaan rendah hati karena mereka tidak dapat melindungi diri mereka sendiri. Untuk Shen Xin muncul pada saat seperti ini, tidak diragukan lagi membuat semua orang merasa seolah-olah mereka masih memiliki pilar dukungan. Ketika semakin banyak orang mengelilingi Shen Xin, mereka semua berteriak dengan bersemangat, “Jenderal Shen telah kembali!”

Selama beberapa waktu sorak-sorai kerumunan hampir menenggelamkan jalan di depan kereta kuda, ketika para rakyat berteriak dengan fanatik dan melihat mereka. Luo Tan menutup mulutnya, “Ya ampun, reputasi GuFu di mata dan pikiran orang-orang ini memang sangat tinggi. “

Luo Ling dan yang lain yang ada di luar memiliki ekspresi yang tak terbaca. Untunglah ada orang yang memberi sambutan hangat dan itu tidak buruk untuk dilihat. Setiap tahun ketika Shen Xin kembali ke ibukota selalu akan ada pemandangan seperti ini. Tapi hari ini Shen Xin tidak kembali dengan penuh kemenangan, sebaliknya dia ditarik kembali ke ibukota oleh Kaisar setelah diusir selama dua tahun. Semakin keras sorakan semua orang, semakin keras tamparan kepada Kaisar Wen Hui. Ini sama dengan melawan Kaisar.

Di kereta, ekspresi Luo Xue Yan dan Shen Miao menjadi sedikit serius. Terutama bagi Shen Miao karena tatapannya tiba-tiba menjadi lebih dingin. Hanya Luo Tan yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan senang dengan pamor Shen Xin.

Jalan itu diblokir dan Shen Xin hanya bisa membiarkan beberapa penjaga di sampingnya menjelaskan kepada semua orang. Ketika orang-orang mendengarnya, meskipun mereka berdiri di kedua sisi jalan untuk melihat, mereka tidak bersemangat seperti sebelumnya dan membuka jalan.

Mo Qing dan Ah Chi menunggangi kuda mereka untuk mencari tempat tinggal. Sama seperti yang dikatakan Shen Miao, ada kediaman di Jalan Yan Qing dan tempat tinggal di sana tidak buruk. Shen Xin telah menghabiskan banyak uang untuk mengatur kembali pasukan keluarga Luo sehingga dia tidak sejahtera seperti sebelumnya. Terlepas dari ini, karena Shen Miao ingin tinggal di bagian selatan kota, Shen Xin menyetujuinya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Kereta kuda menuju ke arah selatan kota.

Semakin dekat dengan Jalan Yan Qing, semakin sedikit orang di sana. Ini karena mereka yang tinggal di sekitar Jalan Yan Qing adalah pejabat tinggi dan bangsawan sehingga rakyat biasa tidak akan mampu tinggal di bagian ini. Orang yang ramah jarang berada di sini sehingga kereta bisa berjalan lancar. Mo Qing dan yang lainnya dengan cepat melaporkan bahwa mereka telah menemukan kediaman yang dapat ditinggali sebelum membahas masalah uang. Pemilik asli tempat tinggal itu mengetahui nama Shen Xin dan tidak meminta banyak uang untuk jaminan.

Ketika mereka hanya satu jalan jauhnya dari Jalan Yan Qing, tiba-tiba hembusan angin meniup tirai kereta Shen Miao, dengan cepat meniup tirai tetapi dengan cepat pula kembali terjatuh.

Mata Shen Miao sedikit membeku. Luo Tan melihat ini dan bertanya, “Ada apa?”

Shen Miao melirik ke tirai kereta dan menggelengkan kepalanya, “Tidak ada.” Tapi dia diam-diam merasa waspada karena untuk sesaat dirinya benar-benar merasa diawasi. Perhatian semacam ini membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman.

Di salah satu gedung tinggi di kejauhan, ada seorang pria muda memegang seruling dengan seorang wanita di sisinya. Penampilan wanita itu sehalus bunga dan disempurnakan seperti batu giok, perhiasan norak yang ia kenakan tidak terlihat jelek sama sekali, tetapi malah membuatnya tampak sangat menawan. Dia melirik kereta yang jauh dan berkata dengan jijik, “Bukankah ini Jenderal Besar Shen yang tangguh, keluarga Shen? Gengsi yang luar biasa tetapi tidak lebih dari ini.”

Laki-laki di sisinya berusia awal dua puluhan dan memiliki kemiripan dengannya. Dia dianggap tampan tetapi karena hidungnya sedikit bengkok, itu membuatnya tampak ganas. Dia tersenyum, “Bahkan mampu membuat keluarga Kekaisaran Ming Qi untuk menahan rasa takut mereka, keluarga Shen bukan sekedar sampah sederhana.”

” Huang Taizi bercanda lagi.” Mata perempuan itu dipenuhi dengan kesombongan, “Marquis Lin An dari keluarga Xie juga sebelumnya tidak memiliki hukum, tetapi sekarang masih seperti anjing yang berduka. Mereka bahkan tidak bisa mempertahankan mayat Xie Jing Xing secara utuh. Lebih mungkin daripada tidak, keluarga Shen akan menjadi keluarga Xie kedua. “

(E/N: Huang Taizi berarti Kakak Putra Mahkota, karena yang sedang berbicara di sini adalah Putra Mahkota dan Putri Kekaisaran Qin)

Pria itu tersenyum tetapi tidak melanjutkan kata-kata wanita itu.

Di sisi lain ada seseorang yang bersandar di bangunan, warna hijau yang indah membalut sosoknya sementara di tepinya mengalir sulaman emas. Salah satu tangannya mengambil cangkir teh di hadapannya dengan genggaman yang kuat. Terdapat cincin giok putih di jari tengah yang membuat seluruh tangannya tampak diukir dari batu giok. Ketika cangkir teh itu mendekati bibirnya, semua itu justru menampilkan dagunya yang indah. Bibir tipis kemerahan yang telah disentuh oleh teh tampak agak lembab tetapi cukup menggoda pikiran orang lain.

Sudut bibirnya perlahan terhubung.

*****

Kediaman yang ditemukan Mo Qing adalah sebuah lorong belokan dari Jalan Yan Qing di mana restoran tersibuk di kota selatan berada. Lokasinya sangat bagus dan pemiliknya sudah pindah. Luo Xue Yan dan Shen Xin adalah orang-orang yang sangat jujur ​​sehingga ketika si pemilik memasang harga yang wajar, mereka langsung membeli kediaman tersebut malam itu juga dan mengubah kepemilikan tempat tinggal.

Ketika masalah kediaman baru saja diselesaikan, kasim dari Istana datang untuk membacakan dekrit kekaisaran, mendekritkan Shen Xin untuk memasuki Istana pada hari berikutnya dan bertemu dengan Kaisar karena bagi Kaisar Wen Hui situasi saat ini berada dalam posisi yang sangat kritis. Setelah menerima dekrit Kekaisaran dan memindahkan barang-barang, langit telah gelap. Setelah makan malam dan menyelesaikam tugas, semua orang bisa pergi beristirahat.

Shen Miao dan Luo Tan tinggal di kediaman yang berdekatan. Kediaman di sini tidak seluas tempat tinggal Jenderal, tetapi rapi, bersih, dan memiliki gaya yang unik. Hanya saja Shen Xin dan Shen Qiu memiliki beberapa penyesalan karena mereka tidak bisa berlatih di halaman. Luo Xue Yan dan Luo Tan sangat puas dan Shen Miao tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu, jadi tentu saja Shen Miao tidak merasa keberatan.

Di penghujung malam, Luo Tan menyelinap ke kamar Shen Miao untuk berbicara.

Luo Tan terbungkus jubah ketika dia duduk di sofa Shen Miao, “BiaoMei, aku tidak bisa tidur. Temani aku untuk mengobrol.”

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Shen Miao membiarkan Jing Zhe dan yang lainnya mundur dan memotong sumbu lampu minyak lebih pendek. Pada saat ini Shen Miao tidak punya niat untuk tidur sehingga dengan santai membalik halaman buku di atas mejanya tetapi tidak serius membaca.

“Aku tidak menyangka ibukota Ding akan seperti ini.” Orang tidak bisa mengatakan apakah nada suara Luo Tan kecewa atau gembira, “Aku tumbuh di Kota Xiao Chun dan berpikir bahwa tempat-tempat di luar akan sama dengan Kota Xiao Chun. Aku tidak menyangka bahwa ibukota Ding bahkan lebih besar dan lebih hidup daripada apa yang diceritakan semua orang. BiaoMei, aku masih sedikit takut. “

Akhirnya ada suatu hari di mana rasa takut menyergap putri muda tertua keluarga Luo. Shen Miao tersenyum lembut, “Apa yang begitu menakutkan?”

“Tentu saja aku akan takut ketika sendirian disini. Meskipun Ling TangXiong ada di sini, tapi ini bukan Kota Xiao Chun yang kukenal. BiaoMei, apa kamu pernah mengalami masa-masa menakutkan seperti ini sebelumnya? Pada awalnya ketika GuGu dan GuFu berada di wilayah Barat Laut dan meninggalkanmu sendirian di ibu kota Ding, apakah kamu merasa takut? “

“Tidak ada yang menakutkan.” jawab Shen Miao ringan. Bagi Shen Miao bukanlah hal yang menakutkan ditinggalkan sendiri di kediaman Shen, di matanya dulu orang-orang di kediaman Shen dianggap sebagai kerabat yang dipercaya. Tidak tahu apapun sehingga tidak merasa takut. Seperti apa yang Luo Tan katakan, menjadi takut karena sendirian di luar … Pada awalnya ketika dirinya berada di negara Qin, bukankah seperti itu juga?

Berpikir mengenai negara Qin, mata Shen Miao berkedip dan tiba-tiba memikirkan kata-kata yang dikatakan para pelayan hari ini. Orang-orang dari negara Qin dan Liang Yang Besar telah datang. Pada saat ini dalam kehidupan masa lalunya, pada saat acara penghormatan inilah dirinya bertemu dengan Putra Mahkota negara Qin dan orang-orang Liang Yang Besar. Pada saat itu ambisi Liang Yang Besar mulai muncul, membuat keluarga Kekaisaran Ming Qi merasa takut. Untuk menyeimbangkan kekuatan Liang Yang Besar, negara Ming Qi dan Qin saling membantu hingga saat Fu Xiu Yi duduk di atas tahta, Ming Qi dan negara Qin memulai aliansi dan membiarkan dirinya, seorang Ratu, pergi ke negara Qin sebagai sandera. Putra Mahkota negara Qin, HuangFu Hao, adalah orang yang sangat keji dan biadab, dirinya tidak tahu mengapa, tapi Putra Mahkota itu suka menindas dirinya, dan juga Putri Ming An begitu sombong sehingga semua itu menjadi hal yang menakutkan. Hari-hari yang sulit dan memalukan di negara Qin semuanya berkat sepasang saudara kandung ini.

Adapun Pangeran Rui dari Liang Yang Besar… Shen Miao mengerutkan kening. Dalam acara penghormatan asli Ming Qi, utusan yang dikirim Liang Yang Besar di masa lalu bukanlah Pangeran Rui ini akan tetapi kerabat Kekaisaran lain, tapi reputasi Pangeran Rui sudah tersebar luas. Dia adalah adik kandung sedarah Kaisar Yong Le, tetapi dia tidak akan muncul banyak di keluarga Kekaisaran dan juga dunia luar tidak terlalu menghiraukannya. Shen Miao adalah Permaisuri Ming Qi di kehidupan sebelumnya dan dia tidak tahu banyak mengenai Pangeran Rui ini karena Fu Xiu Yi tidak pernah menyebut tentang orang ini sebelumnya.

Pada akhirnya, ada beberapa hal yang berubah.

Luo Tan tidak memperhatikan bahwa Shen Miao tenggelam dalam pikirannya dan mengatakan apa yang dia inginkan, “Awalnya aku masih berpikir bahwa jika aku pernah melakukan perjalanan ke ibukota Ding dalam sisa hidupku, aku pasti akan melakukan kunjungan resmi ke Marquis Lin An di kediaman keluarga Xie, Marquis Muda Xie. Tidak pernah terpikir bahwa sekarang aku tidak akan dapat bertemu dengannya lagi.” Berbicara sampai di sini, Luo Tan menjadi agak sedih,”Mengapa dia tidak menunggu sampai aku datang untuk melihatnya? “

Shen Miao sedikit terkejut sejenak. Dalam dua tahun ini sosok yang jarang dipikirkan lambat laun menjadi semakin jelas di benaknya. Setelah menemukan tempat tinggal di ibu kota Ding, para pelayan sebelumnya di kediaman asli berbicara mengenai peristiwa dalam dua tahun ini. Salah satu peristiwa besar adalah kediaman Marquis Lin An, sejak kematian Xie Jing Xing, vitalitas pasukan keluarga Xie sangat menurun dan Xie Ding bertambah sepuluh tahun lebih tua dalam semalam. Xie Ding awalnya memberikan pengunduran dirinya kepada Kaisar Wen Hui tetapi tidak berhasil karena Kaisar tidak mengizinkannya. Meskipun Xie Ding masih mempertahankan posisi resminya, dia tidak punya keinginan untuk bertarung dan akan sering melamun sepanjang hari. Namun kedua putra Shu nya telah memasuki jabatan resmi dan meskipun posisi mereka tidak tinggi, mereka memiliki pencapaian yang baik dan dalam beberapa tahun lagi mereka mampu menjadi pemimpin generasi muda di Ming Qi.

Bertolak belakang dengan apa yang diperkirakan, ketika berita kematian Xie Jing Xing mencapai ibu kota Ding, Putri Rong Xin melakukan perjalanan ke kediaman Marquis Lin An dan membuat masalah. Beliau mengatakan bahwa Xie Ding bersikap dingin dan kejam, membuat tempat tinggal Marquis yang awalnya baik menjadi kehilangan Putri Yu Qing dan Xie Jing Xing dan kediaman ini adalah sarang iblis yang memangsa orang. Putri Rong Xin menangis saat dia melampiaskan kemarahannya dan hampir menghancurkan seluruh kediaman Marquis Lin An. Setelah itu Putri Rong Xin menjalani kehidupan yang  terpencil dan tidak pernah keluar lagi.

Keluarga Su yang memiliki hubungan baik dengan kediaman Marquis Lin An juga secara bertahap menurun. Tidak perlu menyebut Su Yu, putra keluarga Su yang memiliki prospek cemerlang, perlahan-lahan kediaman itu menurun pamornya. Secara umum keluarga Xie menurun seiring dengan kematian Xie Jing Xing dan semua orang tidak bisa tidak menyebutkannya dengan penyesalan.

Pemuda yang terhormat dan berprestasi yang pantang menyerah dan gagah berani, seharusnya menjadi pahlawan di medan perang, tetapi pada akhirnya ia meninggal dengan tragis. Tidaklah mengherankan bahwa ketika para wanita muda Ming Qi mendengar berita kematian Xie Jing Xing, mereka tidak bisa menahan tangis.

Ketika Shen Miao menyaksikan nyala api yang meredup, matanya turun dan ketika dia berbalik, dia melihat bahwa Luo Tan telah jatuh ke sofa, tertidur lelap.

*****

Luo Xue Yan menggunakan sisir untuk merapikan rambutnya. Meskipun dia adalah ibu dari dua anak, rambutnya masih gelap dan berkilau tanpa sehelai rambut putih dan bahkan mampu bersaing dengan dua puluh delapan perempuan muda.

Shen Xin melepas baju besinya yang berat dan mendengar Luo Xue Yan berbicara, “Sehubungan dengan memasuki Istana besok, hatiku merasa cemas.”

“Apa yang harus ditakutkan?” Shen Xin berjalan di belakangnya dan memegang pundaknya sebelum dengan tenang berkata, “Ini bukan pertama kalinya kita memasuki Istana, mungkinkah kamu takut dengan musik yang mereka mainkan? Jangan takut, masih ada aku di sini. “

“Aku tidak takut dengan itu.” Luo Xue Yan memutar mata ke arahnya, “Kamu dan aku sangat paham alasan kenapa kita kembali lagi ke sini. orang-orang di istana kemungkinan besar memiliki ganjalan di hati mereka. Ketika sebelumnya aku berdiskusi dengan Ayah mengenai masalah ini, Ayah berkata seseorang merasa cemas bahwa Yang Mulia Kaisar telah memegang sesuatu untuk mengendalikan keluarga Shen kita.”

Shen Xin mengerutkan kening, “Apa maksud kata-kata furen?”

“Jiao Jiao dan Qiu-er masih belum menikah.” Luo Xue Yan mengingatkan, “Akan lebih baik jika mereka menikah selama dua tahun kita berada di Kota Xiao Chun, sehingga satu masalah besar telah terselesaikan. Tetapi orang-orang tidak menyangka bahwa dekrit Kaisar akan datang begitu cepat. Sekarang kekuasaan keluarga Shen telah kembali, aku khawatir bahwa orang lain akan waspada. Akankah Kaisar menggunakan pernikahan Qiu-er dan Jiao Jiao sebagai topik untuk mengendalikan keluarga Shen? “

Shen Xin melompat kaget, “Bagaimana mungkin? Omong kosong!” Tidak peduli apa yang terjadi di mata Shen Xin, pernikahan Shen Qiu dan Shen Miao tidak boleh dicampuradukkan dalam keegoisan politik, apalagi menggunakan pernikahan mereka untuk mengendalikan keluarga Shen atau menyatu dengan kekuatan lain.

“Tidak perlu menyebutkan Qiu-er, aku merasa bahwa Jiao Jiao tidak boleh ditunda terlalu lama.” Luo Xue Yan berkata, “Jiao Jiao saat ini berusia enam belas tahun, tidak perlu membicarakan Kota Xiao Chun, saat ini kita berada di ibu kota Ding dimana usia Jiao Jiao sudah terlibat dengan semua hal. Jika Jiao Jiao bertunangan dalam waktu ini, dua tahun kemudian usia Jiao Jiao akan delapan belas tahun dan sangat cocok untuk menikah. Kita harus mengurus pernikahan Jiao Jiao selagi masih belum ada kabar dari Istana. “

“Begitu terburu-buru?” Shen Xin ragu-ragu, “Keluarga baik macam apa yang ada di sini? Belum lagi kita butuh memahami karakter pihak yang lain. “

“Bagaimana menurutmu …” Luo Xue Yan menatapnya, “mengenai Ling-er?”

Table Of Content

KPKM: Chapter 123 (Part 1): Kembali ke Ibukota
KPKM: Chapter 124 (Part 1): Pangeran Rui

Leave a Reply

Your email address will not be published.