KPKM: Chapter 123 (Part 1): Kembali ke Ibukota

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Retna ( remi7noor)

Editor: Kak Nadita | Proofreader: Kak Glenn

.
.

Perjalanan dari Kota Xiao Chun ke ibukota Ding setinggi gunung dan sepanjang sungai, oleh karena itu mereka harus menempuh ribuan mil dan membutuhkan waktu setengah tahun untuk bolak-balik. Ketika Shen Xin menerima dekrit kekaisaran, ia memulai perjalanan keesokan harinya. Luo Ling dan Luo Tan juga melakukan perjalanan bersama.

Luo Sui membiarkan Luo Ling pergi karena dia adalah cucu tertua dari keluarga Luo, dan di masa depan Luo Lin harus mengangkat derajat seluruh keluarga Luo. Niat Luo Sui adalah untuk membiarkan Luo Ling pergi ke ibukota Ding untuk belajar melalui pengalaman dan juga untuk mendapatkan pemahaman mengenai situasi Ming Qi saat ini. Luo Sa akan tinggal di Kota Xiao Chun untuk terus melatih pasukan keluarga Luo dengan para tetua.

Luo Tan dan Luo Qian tidak seharusnya ikut, tetapi siapa yang tahu bahwa Luo Tan sendiri diam-diam naik ke kereta dan bersembunyi di dalam peti di belakang kereta dan dia baru muncul di tengah perjalanan. Pada saat itu sudah terlambat untuk mengusirnya dan mereka hanya bisa mengirim pesan ke keluarga Luo dan membawanya ke ibukota Ding.

Luo Tan dipenuhi dengan kerinduan terhadap ibukota dan berjanji berulang kali untuk tidak menimbulkan masalah sebelum akhirnya melakukan perjalanan dengan Shen Miao dan rombongan.

Selain bagian pasukan garis depan keluarga Shen yang dibawa, kali ini Shen Xin juga membawa sebagian pasukan keluarga Luo. Orang-orang ini dilatih secara pribadi oleh Shen Xin dan Shen Qiu dan merupakan yang paling elit di antara mereka semua. Jika seseorang menempatkan salah satu dari mereka di bagian mana pun, mereka akan dianggap sebagai ketua tim. Jumlah cabang tidak perlu banyak. Shen Xin telah mengolahnya sendiri, jadi dia membawa mereka bersamanya dengan samaran menjadi pengawal.

Dari awal perjalanan di musim semi hingga akhir musim gugur, semua pohon hijau di sepanjang jalan telah berubah menjadi daun layu yang bergoyang dan semuanya jatuh ke tanah terkena angin. Ketika rombongan mulai menambah pakaian (pakaian tebal) mereka, mereka akan mencapai ibukota.

Langit berangsur-angsur semakin gelap dan rombongan pergi ke penginapan di luar kota untuk beristirahat. Shen Qiu berkata, “Besok pagi kita akan memasuki kota. Yang pertama kali kita lakukan adalah mencari tempat tinggal untuk ditinggali.”

Pada saat mereka pergi, secara alami mereka berpisah dengan keluarga Shen, tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke kediaman Shen.

Sebelumnya di kediaman Luo, Luo Xue Yan telah memberi tahu Luo Sui tentang masalah berpisah dari keluarga Shen, Luo Ling dan Lu Tan tidak terkejut. Luo Tan meletakkan dagunya di tangannya, “Gugu dan Gufu, mari kita temukan tempat yang ramai untuk tinggal. Aku belum pernah ke ibukota Ding sebelumnya. Betapa hebatnya memiliki tempat tinggal yang ramai ketika seseorang meninggalkan rumah.”

Luo Xue Yan tertawa, “Awalnya, timur kota adalah tempat tersibuk tapi kami sudah dua tahun tidak kembali dan tidak tahu apakah ada perubahan.”

“Itu sederhana.” Luo Tan bertanya kepada pelayan yang melayani, “Pelayan, apakah kau tahu di mana tempat paling ramai di ibukota Ding?”

Pelayan itu tidak mengetahui status dan identitas mereka dan hanya melihat bahwa mereka memiliki begitu banyak orang dan mengenakan pakaian bagus, terutama nona muda yang duduk di tengah. Dia masih muda tetapi memiliki sikap yang luar biasa, dengan satu pandangan orang akan tahu bahwa dia adalah seorang wanita muda dari salah satu kediaman bangsawan. Dia tidak berani mengabaikan mereka dan dengan antusias menjawab, “Nona muda, ada banyak tempat ramai di ibukota Ding.”

Luo Tan jelas tidak puas dengan jawaban itu dan mengerutkan hidungnya, “Hanya itu?”

Pelayan itu takut memprovokasi ketidakbahagiaannya dan berpikir sejenak sebelum menjawab, “Jika nona muda benar-benar ingin tempat ramai akan lebih baik untuk pergi ke bagian selatan kota. Baru-baru ini orang-orang negara Qin dan Liang Yang Besar telah tiba dan kaisar telah menyisihkan tempat tinggal di bagian selatan kota, Jalan Simpangan Yan Qing untuk tinggal.”

“Apa itu Jalan Simpangan Yan Qing?” tanya Luo Tan.

“Jalan Simpangan Yan Qing adalah sebidang tanah paling mahal di ibukota.” Shen Qiu menjelaskan, “Ini adalah tempat yang sangat bagus yang bahkan kerabat keluarga kekaisaran tidak bisa tinggal. Bahkan jika para pangeran pindah dari Istana untuk mengatur tempat tinggal mereka, tidak akan bisa tinggal di sana. Hanya kakek paman pertama kaisar yang tinggal di Jalan Simpangan Yan Qing untuk jangka waktu tertentu.”

Luo Tan yang pertama kali terkejut, “Jalan Simpangan Yan Qing itu benar-benar sangat mahal.” Kemudian dia agak kecewa, “Tapi jika terlalu mahal maka kita tidak akan mampu membeli tempat tinggal di sana.”

Ketika pelayan mendengar ini, dia terkejut sebelum melihat Luo Tan dengan hati-hati. Jangankan membeli tempat tinggal di Jalan Simpangan Yan Qing, untuk tinggal di sana selama beberapa hari saja sudah dianggap luar biasa seperti tanduk unicorn atau bulu phoenix. Melihat cara Luo Tan berbicara, pelayan itu hampir menduga bahwa dia telah salah menilai mereka, karena rombongan ini hanya penuh dengan orang kampung yang akan memasuki ibukota untuk pertama kalinya.

“Tidak apa-apa.” Shen Miao berkata, “Di sebelah Jalan Simpangan Yan Qing ada jalan yang berbatasan dengan restoran dan jalan di luar simpangan. Harganya tidak semahal itu dan orang lain bisa membelinya. Karena tidak jauh dari Jalan Simpangan Yan Qing, tentu ini bukan pilihan yang buruk.”

Ketika kata-kata itu diucapkan, pelayan itu terkejut sejenak sebelum tanpa sadar berkata, “Ucapan nona ini benar, memang begitu adanya.”

“Jiao Jiao juga ingin melihat keramaian?” tanya Shen Xin. Tentu saja Shen Miao bukan orang yang suka terlibat dalam kegiatan tetapi dengan ucapannya hari ini, sepertinya dia memiliki minat.

“Aku merasa keramaian itu lumayan menyegarkan.” Shen Miao tersenyum.

“Bagus, bagus.” Mata Luo Tan berkilauan ketika dia memandang Shen Miao, “Biaomei, kamu yang terbaik!” Dia berpikir bahwa Shen Miao sengaja mengatakan itu untuknya dan sangat berterima kasih kepada Shen Miao di dalam hatinya.

Shen Miao memandang ke atas ke arah pelayan, “Orang-orang dari negara Qing dan Liang Yang Besar telah datang?”

Sejak awal mata pelayan tidak lepas dari nona muda ini yang terlihat seperti yang termuda. Dia merasa bahwa ketika dia duduk di sana, bahkan kursi menjadi emas dan begitu mempesona. Mendengar Shen Miao berbicara, dia segera menjawab dengan sopan, “Benar. Acara Penganugerahan Ming Qi akan dimulai dalam beberapa hari lagi, negara Qin dan Liang Yang Besar telah mengirim orang untuk memberikan ucapan selamat. Orang-orang ini diatur untuk tinggal di Jalan Simpangan Yan Qing.”

“Siapa yang dikirim negara Qin dan Liang Yang Besar?” tanya Shen Miao.

Pelayan itu menggaruk kepalanya, “Yang Mulia Putra Mahkota dan Putri Ming An dari negara Qin dan dari Liang Yang Besar adik kandung laki-laki termuda Kaisar Yong Le, Yang Mulia Pangeran Rui.”

Mata Shen Miao terasa berat, “Terima kasih banyak.”

Setelah pelayan itu pergi, Luo Ling bertanya, “Apa biaomei memikirkan orang-orang dari negara Qin dan Liang Yang Besar?”

Shen Miao tersenyum, “Tidak sama sekali, hanya merasa sedikit aneh.”

Luo Tan berseri-seri, “Tidak peduli apa, kita akan mencapai ibukota Ding besok dan juga dapat melihat keramaiannya.”

*****

Di Istana di ibukota Ding, di kamar kaisar, bau obat kental memenuhi seluruh kamar tidur dan aroma dupa yang dibakar membuat hati seseorang berat dan melankolis.

Di ranjang naga, Kaisar Wen Hui berbaring dengan kedua mata setengah tertutup. Si cantik yang mengenakan pakaian bangsawan di sampingnya bergerak lembut, menyendok sesendok obat ke dalam mulutnya. Dia bukan orang lain melainkan Selir Dong Shu.

Dia memberi makan dengan sangat sabar dan hati-hati. Kaisar Wen Hui hanya bisa minum sesendok kecil pada satu waktu, jadi ia meniup setiap sendok kecil sampai dingin dan menguji bahwa itu tidak panas, lalu perlahan-lahan memberinya kepada Kaisar Wen Hui. Saat Selir Dong Shu memberi makan, dia masih dengan lembut menepuk punggung Kaisar Wen Hui sehingga Kaisar bisa bernafas lebih lancar.

Setelah selesai makan, Selir Dong Shu mengambil buah manisan dari mangkuk keramik di samping dan menyuapkannya ke mulut Kaisar Wen Hui. Kaisar Wen Hui mengerutkan kening dan setelah menelan sedikit rasa pahit di mulutnya, dia kemudian berkata, “Sulit bagimu untuk mengingat ini?”

“Yang Mulia tidak takut akan kepahitan. Selir inilah yang khawatir bahwa Yang Mulia takut akan kepahitan.” Selir Dong Shu tersenyum hangat, “Harap Yang Mulia mempertimbangkan Selir ini dan makan sedikit buah ini.”

Kaisar Wen Hui merasa terhibur olehnya dan matanya sedikit melembut, “Di Istana ini, hanya kau yang mengerti pikiran zhen.”

Dalam dua tahun, banyak hal telah berubah. Tidak peduli berapa banyak energi naga dan keganasan harimau yang ia miliki, ia akhirnya tidak bisa mengalahkan laju waktu. Belum lagi dia memiliki begitu banyak anak lelaki yang lebih muda, lebih kuat dan lebih ambisius daripada dirinya. Dengan keadaan kritis baik di dalam maupun di luar, ia telah menua dan tubuhnya berangsur-angsur menjadi sakit.

Kondisi putra mahkota juga genting, dan fraksinya lambat laun tidak cocok karena Pangeran Zhou dan Pangeran Jing bergerak mengancam ke arah sana, sementara Pangeran Xuan dan Pangeran Li memandang dengan mata seperti harimau yang mengawasi mangsa mereka. Kaisar Wen Hui bahkan merasa jijik melihat wanita di Istana Dalam dan pada saat ini, Selir Dong Shu dan Pangeran Ding, Fu Xiu Yi, yang berdiri jauh dari urusan duniawi mengambil perhatiannya.

Kaisar yang merasa tenang jika putra dan putrinya tanpa ambisi. Ketika Kaisar Wen Hui sakit, dia suka memanggil Selir Dong Shu untuk merawatnya. Bahkan dengan hadiah kekaisaran seperti itu, Selir Dong Shu masih berhati-hati seperti biasanya, dan tidak akan mengambil inisiatif untuk berbicara tentang masalah Pangeran Ding, sehingga Kaisar Wen Hui merasa lebih puas. Dia bahkan kadang-kadang akan berbicara dengan Selir Dong Shu tentang masalah pengadilan yang merugikan.

“Penghargaan akan segera dimulai.” Kaisar Wen Hui memberi isyarat, “Utusan itu mengatakan bahwa Shen Xin akan kembali ke ibukota dalam beberapa hari ini. Zhen mengusirnya dua tahun lalu dan takut masih ada dendam di hatinya. Jika situasinya tidak mendesak, Zhen tidak akan pernah membawa serigala ke rumah.”

“Yang Mulia.” Selir Dong Shu tersenyum, “Jenderal Shen adalah bawahanmu dan secara alami akan bekerja untukmu dan melakukan apapun yang Yang Mulia perintahkan. Mengapa Yang Mulia menyiksa diri sendiri?”

“Bawahan?” Kaisar Wen Hui mencibir, “Martabat bawahan itu lebih besar dari Zhen, jadi bagaimana bisa Zhen percaya Shen Xin ingin menjadi bawahan  Pada awalnya Xie Ding juga demikian, tetapi ia kehilangan putranya dan sekarang keluarga Xie tidak dapat menahan satu pukulan pun dan Zhen juga malas untuk memberantas mereka. Keluarga Shen ini, setelah penghormatan, lebih baik … Zhen benar-benar merasa tidak nyaman.”

Selir Dong Shu tidak lagi berbicara. Pada saat seperti ini jika dia berbicara maka ada kemungkinan Istana Dalam ikut campur dalam pemerintah. Jadi dia menundukkan kepalanya tetap diam dan hanya mengutak-atik mangkuk keramiknya.

Di Istana Shu Fang milik Selir Dong Shu, ada juga seseorang yang berdiri saat ini. Jubah dan mahkota orang itu mulia dan memiliki penampilan yang sangat memukau. Itu Fu Xiu Yi. Dibandingkan dua tahun sebelumnya, ia menjadi lebih tenang dan matang dan memiliki anugerah yang tak terlukiskan.

“Shen Xin sedang beristirahat di luar kota hari ini dan akan memasuki ibukota pagi-pagi sekali.” Pengawal di depannya membungkuk untuk berbicara kepadanya dengan lembut.

Fu Xiu Yi mengepalkan gelas di tangannya dan tidak tahu apa yang dia pikirkan. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba tersenyum, “Tuan Pei benar-benar memiliki keajaiban memprediksi masa depan karena apa yang dia katakan benar. Memasuki ibukota besok … ” Dia berkata, “Sebarkan perintah, semua penjaga di gerbang kota harus mendengarkan. Ketika Shen Xin kembali ke ibukota, seluruh kota harus menyambutnya.”

Penjaga menangkupkan tangannya dan tunduk sebelum mundur dengan cepat.

Fu Xiu Yi berdiri dengan tangan di belakangnya dan ekspresi yang dalam muncul di wajahnya. Dua tahun lalu, taktik keluarga Shen untuk mengambil tindakan drastis telah mengganggu semua rencananya. Sekarang untuk kembali ke ibukota Ding lagi, Fu Xiu Yi merasa bahwa ini juga bagian dari rencana keluarga Shen. Mungkin Shen Xin sudah lama tahu bahwa akan ada hari di mana dia akan kembali ke ibukota, sehingga pada saat itu, dia pergi dengan begitu tegas dan tanpa kendali.

Kalau begitu, bagaimana kalau menempatkan keluarga Shen kembali ke api untuk dipanggang lagi? Bagaimana dengan membiarkan keluarga Shen menjadi target dan membiarkan Kaisar Wen Hui, fraksi Pangeran Zhou, fraksi Pangeran Li dan bahkan negara Qin serta Liang Yang Besar mengawasi Shen Xin, sepotong daging lemak itu? Bagaimanapun juga dia adalah orang yang menyimpan dendam dengan sangat baik dan benci dimainkan di telapak tangan siapa pun.

Untuk berani bersekongkol melawannya, Fu Xiu Yi. Keluarga Shen harus menerima akibatnya.

*****

Dini hari di hari kedua, Shen Xin dan rombongan berangkat lagi, mempercepat perjalanan mereka dari penginapan agar bisa tiba di ibukota Ding sebelum tengah hari. Karena mereka masih harus mencari tempat tinggal, sangat ideal untuk berangkat sepagi mungkin.

Ketika mereka tiba di gerbang ibukota Ding, para penjaga di gerbang kota meminta untuk melihat identifikasi plakat Shen Xin dan tiba-tiba terkagum, “Jadi ini Jenderal Shen!” Setelah selesai mereka membiarkan sisanya, dengan cepat membuka gerbang kota untuk Shen Xin dan rombongan agar bisa masuk.

Luo Tan berkata, “Gufu, mereka tampaknya sangat menghormatimu. Tampaknya peringkat resmi Gufu sangat tinggi.”

Tapi Shen Qiu dan Shen Miao mengerutkan kening pada saat yang sama. Pada hari mereka meninggalkan ibukota Ding, ekspresi wajah acuh tak acuh ditampilkan para penjaga, seperti mereka ingin melempar batu ketika sudah selesai. Sekarang untuk menjadi antusias, tentu bukan karena membutuhkan mereka untuk kembali dan menghalangi orang-orang negara Qin. Kemungkinan besar … diperintah oleh orang lain.

Luo Tan membuka tirai kereta dan melihat keluar sebelum berseru, “Ini adalah ibukota Ding. Begitu besar dan begitu hidup. Ada lebih banyak orang daripada di Kota Xiao Chun. Ah, Biaomei, nona-nona muda di sini terlihat sangat cantik, bagaimana mungkin mereka terlihat segar? Langit, bahkan tuan-tuan di sini semua halus dan lembut.”

Suaranya terdengar oleh orang-orang yang dekat dengan kereta dan mereka melihat ke atas. Tidak masalah jika mereka tidak melihat tetapi begitu mereka melihat mereka berteriak, “Itu Jenderal Shen. Jenderal Shen telah kembali!”

Jenderal Shen telah kembali!

Table Of Content

KPKM: Chapter 122 (Part 2): Dua Tahun Kemudian
KPKM: Chapter 123 (Part 2): Kembali ke Ibukota

Leave a Reply

Your email address will not be published.