KPKM: Chapter 120 (Part 1): Serangan Tu Jue

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Alfi (  ShinMin02 )

Editor: Kak Dhie | Proofreader: Kak Glenn

.

.

Hari-hari dalam keluarga Luo berlalu seperti itu.

Shen Xin dan Shen Qiu adalah orang-orang yang tidak bisa diam, sehingga mereka akan menuju ke tempat latihan yang lusuh di luar kediaman Luo. Secara alami mereka melatih bagian depan pasukan keluarga Shen yang tersisa. Bagian depan pasukan adalah mereka yang melakukan tugas dan hal-hal kecil, sehingga mereka merasa sulit dilatih seperti ini dan Shen Xin juga menjadi marah ketika dia melatih.

Luo XueYan sibuk mengunjungi teman dan kerabat di sekitar. Kota Xiao Chun adalah tempat ia tinggal selama masa kecil dan masa remajanya, sehingga ia memiliki sejumlah teman baik di sekitarnya. Dia setiap hari akan membawa Shen Miao keluar untuk mengunjungi teman-teman lama dan, dengan demikian Shen Miao berkenalan dengan sejumlah Nyonya.

Awalnya semua orang dengan hati-hati melayani Nona Muda yang lembut dari Ming Qi ini, makanan yang dimakan adalah yang paling lezat, bahan yang digunakan adalah yang paling lezat, makanan ringan dari semua jenis yang berbeda, bahwa bahkan flora dan fauna dipangkas jauh lebih indah daripada sebelumnya. Sebelumnya putri pejabat itu marah karena mereka datang dari ibukota Ding ke Kota Xiao Chun, sehingga semua orang takut tidak memperlakukan Shen Miao dengan baik karena kecerobohan. Siapa yang tahu bahwa setelah tinggal selama beberapa waktu, mereka mendapati pikiran mereka sebelumnya tidak berguna. Shen Miao membaur ke dalam Kota Xiao Chun dengan baik dan tidak melakukan apa pun yang memerlukan perlakuan khusus. Kota Xiao Chun sesekali akan mengalami hujan es dan Shen Miao tidak takut dan malah penasaran.

Seiring waktu, keluarga Luo secara bertahap menurunkan penjagaan mereka terhadap BiaoMei ini. Di antara empat generasi muda keluarga Luo, Luo Ling dan Luo Sa telah memulai tugas di penjaga, dan tidak sering mereka bisa bertemu. Luo Tan dan Luo Qian sering di rumah dan Luo Tan berteman dengan Shen Miao setelah dia memberinya cermin ala Barat. Adapun Luo Qian, dia memiliki kepribadian yang bersemangat secara alami, seperti Su MingLang yang sudah dewasa dan sering meminta Shen Miao untuk menceritakan kepadanya kisah-kisah tentang ibu kota Ding.

Shen Miao tidak perlu memikirkan masalah Fu XiuYi di Kota Xiao Chun, jadi pikirannya jauh lebih jernih dan secara praktis memperlakukan Luo Qian sebagai adik lelaki.

Hari ini, Luo Qian dan Luo Tan datang ke halaman Shen Miao lagi untuk mencarinya. Kota Xiao Chun tidak seperti ibu kota Ding, jika seseorang pergi ke ibu kota Ding, orang bisa pergi berbelanja. Butuh berbulan-bulan untuk mengunjungi semua toko di jalan-jalan besar dan kecil, tetapi Kota Xiao Chun itu kecil dan tidak akan ada banyak toko untuk berbelanja setelah beberapa hari. Shen Miao tinggal di kediaman, dan mungkin Luo Tan dan Luo Qian merasa itu membosankan dan datang untuk mengobrol dengannya.

Luo Qian sedang makan makanan ringan Jiangnan yang dibuat oleh koki saat berbicara, “Kemarin aku pergi ke tempat pelatihan untuk menonton latihan BiaoGe. Meskipun para prajurit itu tidak begitu baik, masih ada Penjaga Mo di samping Kakak Qiu. Saya tidak bisa melewati selain beberapa pukulan darinya dalam pertandingan. Bisakah kau meminta Kakak Qiu untuk memberiku beberapa petunjuk?”

Shen Miao tersenyum, “Jika kau ingin belajar maka langsung beri tahu Gege Sulung, dia pasti akan menyetujuinya.”

“Benarkah?” Luo Qian adalah seorang pemuda yang polos dan merasa senang untuk sesaat. Anehnya, Tuan-tuan dan kaum muda di ibu kota Ding sebagian besar itu sombong, namun sejumlah skandal yang tidak proporsional tercipta karena kurangnya pengalaman mereka. Generasi muda keluarga Luo berbeda, seperti Luo Qian, jujur ​​dan terus terang serta memiliki pesona awet muda yang polos, membuat orang lain merasa senang.

BiaoMei.” Luo Qian sangat ramah pada BiaoMei yang cantik dan lembut ini, dan telah lama melihatnya sebagai salah satu miliknya (bagian dari keluarga), jadi dia berkata, “Keterampilan seni bela diri Kakak Qiu benar-benar terlihat bagus. Apakah dia yang nomor satu di seluruh ibukota Ding dan yang terbaik di Ming Qi? Keterampilan seni bela diri BiaoGe Sulung dan BiaoGeKedua adalah yang teratas di sini tetapi mereka masih kalah dari Kakak Qiu.”

Luo Tan yang telah membalik buku bergambar akhirnya tidak tahan mendengar ini, dan memutar matanya ke arah Luo Qian saat dia menggigit jeruk di mulutnya, “Apakah kamu tidak bodoh untuk begitu jahil? Jangan memberi tahu orang lain bahwa kau berasal dari keluarga Luo, dan jangan memberi tahu orang lain bahwa aku adalah jiejiemu. Sangat memalukan.”

Luo Tan dan Luo Qian adalah dua saudara kandung yang akan berdebat sepanjang hari, dan Shen Miao sudah terbiasa dengannya. Cukup yakin ketika Luo Qian mendengar ini, dia tidak yakin, “Bagaimana kau tahu aku tidak tahu apa-apa? Maksudmu Kakak Qiu bukan yang nomor satu?”

“Xie Selatan, Shen Utara.” kata Luo Tan sangat lambat.

Shen Miao kaget. Luo Tan dengan gemetar menggelengkan kepalanya dan berkata, “Semua orang tahu bahwa Ming Qi memiliki dua keluarga militer yang hebat, pertama adalah keluarga Jenderal Besar Shen milik GuGu (bibi/saudara perempuan ayah) dan GuFu (suami dari saudara perempuan ayah) , yang kedua adalah Marquis dari keluarga Xie Lin. Kakak Qiu adalah elit keluarga Shen dan seseorang mendengar bahwa keluarga Xie Marquis dari kediaman Lin An memiliki Marquis Muda yang sangat brilian. Sebelumnya*Yeye  memiliki kesempatan untuk bertemu si Marquis Kecil itu sekali, dan sekembalinya, dia mengatakan bahwa dia bukanlah bagian dari kolam** dan pasti akan menjadi naga yang melayang melalui Sembilan Surga.”

(*dalam bahasa Inggrisnya dituliskan preciously yang berarti sangat berharga dan menurut kami karena tidak ada kaitan dari kalimat sebelum atau sesudanya, kami merasa itu adalah typo dari kata previously yang berarti sebelumnya).

(**bukan bagian dari kebanyakan orang)

WaiZuFu telah melihat Marquis Muda Xie?” Tanya Shen Miao dengan ragu.

(Zaza sering sekali mengganti istilah yang digunakan Shen Miao memanggil Luo Sui aka kakeknya dari pihak ibu. Untuk seterusnya, kami akan menggunakan istilah WaiZuFu yang berarti kakek dari pihak ibu)

Luo Qian juga berkata, “Hei Jiejie, kenapa aku tidak tahu?”

“Kau hanya tahu cara makan, makan, makan. Bagaimana kau tahu?” Luo Tan memutar matanya ke arah Luo Qian dan terus berbicara, “Mendengar itu pada awalnya ia mendapat perintah militer dengan Marquis dari Lin An, dan kebetulan melihat Marquis Muda Xie di perkemahan. Setelah ZuFu melihat Marquis Muda Xie, dia terus meratap sedikit. Saya ingin bertanya tetapi ZuFu mengatakan kepadaku untuk menjauh darinya, karena dia mengatakan bahwa Marquis Muda Xie adalah karakter berbahaya yang sebaiknya tidak diganggu.”

Shen Miao mengerutkan kening. Luo Sui ternyata melihat Xie JingXing sebelumnya, dan ini adalah sesuatu yang dia tidak tahu. Namun Luo Sui benar-benar melihat bahwa Xie JingXing tidak sederhana dan sebelum dia dapat melepaskan pikirannya, dia mendengar Luo Tan bertanya, “BiaoMei, ngomong-ngomong, kau juga dibesarkan di ibu kota Ding sehingga kau pasti telah melihat Marquis Muda Xie itu sebelumnya.”

Shen Miao berhenti sejenak sebelum mengangguk.

“Bagaimana tampangnya?” Luo Tan meraih ke lengan Shen Miao, “Apakah dia sangat tampan seperti makhluk abadi seperti yang dikatakan rumor, dan bahwa dia bahkan lebih tampan daripada Kakak Ling?”

‘Kakak Ling’ yang dia bicarakan sebenarnya adalah Luo Ling. Di antara ketiga putra keluarga Luo, Luo Ling lembut, Luo Sa galak, Luo Qian bersemangat dan semuanya memiliki penampilan yang tampan. Hanya karena Luo Ling adalah yang paling lembut, orang akan menemukan bahwa dia adalah yang paling ‘tampan’.

Shen Miao berkata tanpa keengganan, “Tidak setampan Kakak Ling.”

“Ah.” Luo Tan melepaskan tangannya dan matanya dipenuhi dengan kekecewaan, “Tapi aku mendengar yang lain mengatakan bahwa Marquis Muda Xie sangat tampan, dan memiliki karakter romantis bahwa jika perempuan meliriknya, mereka akan mabuk, dan bahwa tidak ada perbandingan dengan Kakak Ling. “

Luo Qian menatapnya dengan gembira dalam kemalangannya, “Yang paling penting bagi pria adalah kemampuan seseorang secara alami, apa hubungannya dengan penampilan. Selain itu jika Marquis Muda Xie benar-benar mencari seorang istri, dia pasti tidak akan mencarimu.” Luo Qian berseri-seri ketika dia memandang Shen Miao, “Tentu saja seseorang harus mencari seorang wanita muda yang lembut, penuh kasih sayang dan jelas seperti BiaoMei.”

Luo Tan dan Luo Qian segera mulai bergulat.

Shen Miao memegang dahinya ketika dia menyaksikan saudara kandung itu bertengkar, dan merasa agak tidak berdaya di hatinya. Dia tidak berharap bahwa di Kota Xiao Chun, Xie JingXing akan setenar itu. Berpikir sekarang tentang itu, Xie JingXing telah menuju ke Jiang Utara, kemungkinan besar dia sudah sampai di sana. Itu adalah pertama kalinya dia memegang posisi Marshal (pemimpin/perwira dalam peperangan) dan mengerahkan pasukan di medan perang, dan meskipun dia tahu bahwa Xie JingXing memiliki kemampuan dalam penempatan pasukan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menciut ketika dia memikirkan hasilnya di kehidupan sebelumnya.

Menghentikan pemikiran masalah ini, Shen Miao menggelengkan kepalanya dan mengusir pikiran-pikiran yang tidak bisa dijelaskan dalam benaknya. Sebelumnya, dia berpikir bahwa Xie JingXing unggul dalam menggunakan formasi militer tetapi setelah meluangkan waktu dengannya, dia kemudian menemukan bahwa keahliannya adalah meletakkan potongan-potongan catur dalam kegelapan. Pikiran orang seperti itu begitu tenang, rumit dan pasti. Dia pasti bisa mengubah kemalangan menjadi berkah.

Waktu berlalu dengan cepat, Luo Tan dan Luo Qian telah duduk di sisi Shen Miao sepanjang malam. Langit mulai berubah suram. Kapan pun itu di bulan kesembilan di Kota Xiao Chun, rumput di luar kota akan kering tetapi sering hujan deras di kota. Itu adalah jenis hujan yang berbeda dari pengalaman ibu kota Ding, karena hujan Kota Xiao Chun memiliki pemandangan pasir yang berangin, dan seringkali sangat agresif dan awan gelap hampir menutupi seluruh langit, yang hanya dalam beberapa saat singkat , rasanya seperti malam.

Luo Tan memandangi langit, “Ini tidak baik. Takutnya akan ada hujan es.”

“Mengapa GuFu dan yang lainnya belum kembali?” Luo Qian juga berdiri dan mengerutkan kening.

Meskipun pasukan keluarga Luo dibubarkan, orang masih dibutuhkan untuk penjaga kota. Pada hari-hari normal, Luo LianYing dan Luo LianTai akan bekerja di unit Penjaga dan setelah Shen Xin datang, ia juga membawa Shen Qiu untuk membantu. Begitu waktu makan malam tiba, mereka semua akan kembali ke kediaman bersama untuk makan tetapi ke waktu sekarang, mereka belum kembali.

Shen Miao melirik keluar dan tiba-tiba memikirkan sesuatu, sebelum ekspresi wajahnya berubah secara dramatis.

Luo Tan melihat bahwa ekspresi Shen Miao tidak benar, dan berpikir bahwa dia takut dan hatinya terasa sedikit aneh, “BiaoMei, apakah kamu takut? Beberapa hari yang lalu ada hujan es, kau bahkan tidak takut jadi mengapa sekarang kamu takut?” berbicara sampai di sini, dia menepuk bahu Shen Miao, “Jangan khawatir, kami telah tinggal di sini selama bertahun-tahun dan setiap tahun saat ini, sering kali akan ada hujan es. Tidak perlu takut.”

Suasana hati Shen Miao tidak membaik karena kata-kata Luo Tan yang menghibur, tetapi ekspresinya menjadi lebih buruk. Akibatnya, bahkan Luo Qian yang ceroboh juga merasa ada sesuatu yang salah dan menatap Shen Miao dengan bingung, “Mengapa BiaoMei begitu cemas? Jika khawatir tentang GuFu maka tidak apa-apa.” ketika kata-katanya baru saja keluar, mereka dapat mendengar seseorang di luar memanggil. Itu adalah pelayan kediaman Luo dan karena lari cepat, dia bahkan tersandung, “Tuan Muda Termuda, Nona Muda dan Nona Muda BiaoFuren meminta Anda semua untuk datang ke aula dengan cepat.”

Luo Tan terkejut dan alisnya menegang, “Apa yang terjadi?”

“Tu Jue datang dan merampok banyak hal lagi. Tuan Besar membawa dua Tuan dan Jenderal Shen ke dataran. Dua Tuan Muda masih di kediaman dan melihat bahwa langit akan berubah, Nona Muda lebih baik cepat menuju ke aula.” meskipun pelayan itu agak cemas, dia tidak melupakan sopan santunnya, peristiwa seperti ini, sering terjadi dan itu adalah peristiwa biasa.

Luo Tan dengan pahit menginjak kakinya, “Tu Jue itu harus mati.”

Luo Qian berkata kepada Shen Miao, “Pertama-tama BiaoMei ikuti kami terlebih dahulu. Ini bukan masalah.” pada saat ini, dia masih tidak lupa untuk menghibur Shen Miao.

Shen Miao menganggukkan kepalanya dan ketika dia sampai di aula depan kediaman Luo, ada sejumlah orang yang berkumpul di sana. Kemungkinan besar Nyonya Ma takut menakuti Shen Miao, dia berjalan ke Shen Miao dan memegang tangannya, “Jiao Jiao belum pernah melihat hujan es besar sebelumnya. Tidak apa-apa, kita akan mengobrol di aula. Sudah begitu lama dan Jiao Jiao belum pernah memberi tahu kami tentang hal-hal di ibukota Ding.” tapi dia tidak menyebutkan tentang masalah Tu Jue. Nyonya Yu lebih lembut dan juga tersenyum, “Begitulah, mari kita makan domba panggang malam ini. Tidak yakin apakah Jiao Jiao sudah terbiasa dengan rasanya.”

Kota Xiao Chun berdekatan dengan padang rumput dan ketika Tu Jue tidak merampok mereka, mereka akan menukar sapi dan kambing mereka dengan beberapa kebutuhan sehari-hari. Sapi dan domba kuat sehingga ketika seseorang mendapatkan domba segar, seseorang akan mengiris daging mereka dengan sangat tipis dan menyiapkan panci panas untuk dengan cepat memasak irisan daging tipis ini. Ketika dimasak, seseorang akan mencelupkannya ke dalam saus kecil dan rasanya seperti surga. Luo Tan sebelumnya ingin membiarkan Shen Miao mencicipi daging domba, tetapi dia takut Shen Miao tidak akan terbiasa dengan rasanya. Untungnya ini dibahas hari ini.

Jelas bahwa seseorang tidak ingin Shen Miao terganggu dan memikirkan hal-hal lain sehingga Shen Miao tersenyum lembut kepada Nyonya Yu. Keluarga Luo selalu menunjukkan niat baik mereka sepenuhnya.

Tu Jue sering bersarang jauh di padang rumput, sehingga dalam setiap pengejaran, tenaga tentara Luo tidak akan cukup. Semua lelaki berkemampuan dari keluarga Luo perlu diaktifkan untuk pengejaran seperti itu, tetapi tahun ini Shen Xin dan isterinya ada, jadi itu lebih baik. Shen Xin, Luo XueYan dan Shen Qiu, Luo LianYing dan Luo LianTai semua pergi dan bahkan Luo Sui mengikuti. Luo Ying dan Luo Sa juga ingin pergi tetapi karena Shen Xin dan yang lainnya pergi, Luo Ling dan Luo Sa tetap tinggal di Kota Xiao Chun.

Langit di luar telah berubah menjadi gelap dan Luo Tan menggigit bibirnya dengan erat, merasa frustrasi. Setiap tahun akan ada orang yang datang ke rumahnya sendiri untuk mencuri barang-barang, bagaimana orang akan merasa senang tentang hal itu.

Sebagian besar orang di aula adalah perempuan dan beberapa pelayan. Bai Lu dan Shuang Jiang, diam-diam menyajikan makanan ringan sisa dari sore hari ke Shen Miao sehingga dia bisa makan beberapa.

Panci di aula telah disiapkan dan di dapur sedang memotong domba. Aroma mulai menguar dari sup kental di dalam panci, tetapi, pada saat ini tidak ada yang merasa senang.

Luo Qian merasa agak lapar dan melihat masih ada makanan ringan di sisi Shen Miao, dia berjalan dan duduk di samping Shen Miao dan mengambil satu makanan ringan untuk dimakan.

Shen Miao menatapnya tanpa berkedip. Luo Qian merasa aneh ditatap oleh Shen Miao seperti itu, dan akhirnya menggaruk kepalanya dan tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “BiaoMei, mengapa kamu menatapku? Apakah kamu takut?”

Keduanya duduk agak jauh dari Nyonya Yu dan yang lainnya, sehingga orang normal tidak akan bisa mendengar suara mereka. Shen Miao berkata, “Kakak Qian, untuk alasan apa WaiZuFu tidak ingin mengatur kembali pasukan keluarga Luo?”

Luo Qian kaget.

“Hari itu setelah mendengarku berbicara, WaiZuFu menjadi marah. Satu ketakutan bahwa itu bukan hanya karena masalah tidak memiliki cukup uang untuk pasukan keluarga. Kakak Qian, bisakah kau memberitahuku alasannya?”

KPKM: Chapter 119 (Part 2): Keluarga Luo
KPKM: Chapter 120 (Part 2) : Serangan Tu Jue

Leave a Reply

Your email address will not be published.