KPKM: Chapter 116 (Part 1): Tidak Ada Masa Depan

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Nadita ( LatifunKanurilkomari )

Editor: Kak Dhie | Proofreader: Kak Glenn

.

.

Hari ketika Shen Xin kembali dari istana, Shen Miao secara pribadi menjemputnya di luar gerbang istana.

Tentu saja beberapa orang dari Keluarga Shen merasa tidak puas dengan hasilnya, terutama Nyonya Besar Shen yang berpikir bahwa kali ini Shen Xin telah tertimpa kemalangan, dan tidak menyangka bahwa Shen Xin akan dibiarkan hidup. Akan tetapi setelah mendengar dari Shen Gui bahwa kekuatan militernya telah diambil, Nyonya Besar Shen merasa senang kembali.

Shen Xin tanpa kekuatan militer setidaknya tidak bisa dibandingkan dengan Shen Gui dan Shen Wan dalam harapan jabatan di masa depan. Nyonya Besar Shen berpikiran pendek dan tidak berpikir bahwa keseluruhan keluarga Shen bagaikan satu tubuh, ketika orang luar melihat keluarga Shen mereka akan langsung melihat Shen Xin terlebih dahulu. Sekarang ketika Shen Xin sedang jatuh mana mungkin keluarga Shen mampu mempertahankan kejayaan mereka seperti biasanya.

Akan tetapi seperti biasanya, Nyonya Besar Shen tidak mempedulikan semua itu. Dalam hatinya, Shen Gui dan Shen Wan yang telah ia lahirkan jauh lebih kuat dibandingan Shen Xin. Jika saja Jenderal Besar tidak bias pada saat itu, bagaimana mungkin Shen Xin akan menikmati kejayaan seperti ini. Karena Shen Xin telah menghadapi situasi buntu, ia bisa mengambil keuntungan dari situasi ini dan mengusir cabang keluarga Shen Xin dari keluarga Shen.

Hanya saja bagaimana cara untuk memisahkan keluarga juga adalah hal yang harus dipikirkan.

Nyonya Besar Shen sudah memikirkan bagaimana memisahkan keluarga dan Shen Miao tidak ambil pusing untuk memikirkan hal itu. Berbagai hal telah menuju satu arah dan akhirnya ia bisa berjalan menuju arah yang sudah dipikirkan oleh dirinya sejak awal. Sungguh hal yang menyakitkan bahwa Kaisar telah mengambil kekuatan militer karena tanpa semua itu keluarga Shen berada dalam posisi yang lemah. Jika seseorang terus bertahan di posisi ini, dengan banyaknya musuh keluarga Shen, mereka semua akan memaksa keluarga mereka ke posisi yang lebih menyedihkan.

Mundur adalah hal yang diperlukan.

Tanpa alasan, Shen Miao memikirkan kata-kata Xie JingXing pada hari itu. Kata “mundur” ini memang satu-satunya jalan keluar bagi Shen Xin dan Xie JingXing mampu mengetahui hal yang penting ini hanya dengan sekali pandang.

Kereta berhenti di sudut dinding Istana yang tidak terlalu terlihat. Rekan berbeda pandangan politik dari Shen Xin jelas akan melemparkan batu kepada Shen Xin, dan orang-orang yang ingin menonton kericuhan tidak akan berada di gerbang Istana. Shen Miao memahami dengan jelas orang seperti apa keluarga Fu itu dibanding orang lain. Mereka tidak akan bertindak layaknya orang yang berpikiran luas, akan tetapi akan mengambil kesempatan dalam kegelapan untuk memastikan orang lain juga ikut menderita. Shen Xin terkenal karena kekuatan bertempurnya, tapi sekarang kekuatan militernya telah disita dan telah dilempar keluar dari Istana. Ini adalah kejadian yang akan sangat menarik untuk dilihat banyak orang.

Shen Miao telah menderita banyak kekalahan di kehidupannya yang lalu, bahkan di hadapan kurangnya martabat Ming Qi (dia membicarakan saat berada di kerajaan lain sebagai tahanan dan dihina sebagai seorang permasuiri dari Ming Qi) sehingga dirinya mampu menahan penghinaan, tapi ia tidak bisa melihat keluarganya diperlakukan seperti itu. Karena itulah ia menghentikan kereta kudanya di sini untuk menjemput Shen Xin dan yang lainnya dan beristirahat di belakang.

Saat dirinya sedang berpikir, Shen Miao mendengar Mo Qing berseru dengan suara yang rendah, “Berhenti”. Sehembus angin memasuki kereta dan mata Shen Miao mengabur sesaat ketika seseorang membuka kerai kereta. Tiba-tiba saja ada penumpang tambahan di kereta yang sangat luas itu.

Gu Yu sangat ketakutan sehingga ia terpekik terkejut tapi mulutnya langsung ditutup oleh Jing Zhe. Suara Mo Qing yang panik terdengar. “Nona muda.”

Shen Miao menatap orang yang ada di hadapannya.

Di kereta kuda, terdapat seorang pemuda berbalut seragam merah untuk pejabat, matanya bagaikan persik mekar yang bergerak dan bibirnya terbuka sedikit. Seragam itu biasanya terlihat kaku dan serius tapi terlihat begitu indah dan agung saat pemuda itu mengenakannya sehingga orang lain tidak mampu mengalihkan pandangan mereka darinya.

“Mo Qing, mundurlah.” Dengan lembut Shen Miao memberi perintah.

“Tapi.” Suara Mo Qing yang berada di sisi kereta kuda terdengar kaku. Gerakan orang itu terlalu cepat, dirinya tidak mampu menghentikannya tepat waktu dan lebih tidak bisa diterima untuk membiarkan orang asing berada di kereta kuda bersama Shen Miao.

“Kamu tidak akan mampu mengalahkannya.” Shen Miao berkata dengan tenang sebelum memandang ke arah Jing Zhe dan Gu Yu, “Kalian berdua juga keluar dan berjagalah di depan kereta.”

Jing Zhe dan Gu Yu sudah pernah melihat Xie JingXing sebelumnya dan mengetahui bahwa ia memiliki semacam hubungan pertemanan dengan Shen Miao, akan tetapi merasa bingung mengenai hubungan pertemanan macam apa. Tidak bisa dikatakan dekat karena mereka berdua jelas saling bertentangan satu sama lain dengan sifat keras kepala yang seimbang, tapi juga tidak bisa dikatakan bermusuhan karena bagaimana mungkin Shen Miao memperlakukan musuh dengan tenang.

Akan tetapi setelah beberapa pengalaman, Jing Zhe dan Gu Yu telah memperkirakan bahwa Xie JingXing tidak akan melukai Shen Miao, dan bagi Shen Miao mengizinkan Xie JingXing untuk tetap tinggal di kereta telah meyakinkan pendapat ini. Karena itulah Jing Zhe dan Gu Yu tidak mengatakan apapun dan keluar dari kereta kuda untuk mengikuti perintah.

Pada saat ini, hanya ada Xie JingXing dan Shen Miao di dalam kereta kuda. “Saya mendengar bahwa kemarin di pengadilan, Marquis Lin An telah berbicara untuk membantu. Terima kasih banyak kepada Marquis Muda.” Ujar Shen Miao.

Xie Ding membantu Su Yu untuk mendakwa Shen Xin. Di permukaan semua itu terlihat sebagai dakwaan, tapi pada kenyataannya semua itu membuat jalan keluar bagi Shen Xin. Bukan masalah jika orang lain tidak bisa melihatnya, tapi Shen Miao percaya rubah tua yang berpikiran dalam seperti Xie JingXing tidak mungkin untuk tidak bisa melihatnya.

Cukup jelas bahwa kata-kata Shen Miao separuh benar dan separuhnya lagi salah. Xie JingXing mengangkat bibirnya, menyenderkan diri dengan malas dan lengan terbuka lebar, “Semua itu perbuatan Marquis Lin An sendiri dan tidak ada hubungannya denganku.”

“Oh.” Shen Miao memandang Xie JingXing dan tersenyum lembut. “Ternyata alasan Marquis Muda untuk datang tanpa diundang ke kereta kudaku bukan untuk mendengarkan ucapkan terima kasih.” Shen Miao secara jelas menekankan pada “kereta kudaku”, menandakan bahwa ia merasa terganggu setiap saat Xie JingXing datang tanpa diundang.

Xie JingXing menatap kepada dirinya, “Kau berencana untuk membiarkan Shen Xin mundur ke keluarga Luo dan menjaga daerah Barat Laut.”

Hati Shen Miao berdegup kencang dan ia menatap Xie JingXing tanpa berbicara. Dirinya memang berpikir seperti ini. Xie JingXing telah menunjukkan jalan untuk keluar ‘mundur’, akan tetapi dirinya tidak mau membuat jalan keluar yang pasif. Dirinya belum mencapai titik akhir dari permainan catur Ming Qi, jadi bagaimana bisa dirinya rela untuk kalah pada kesempatan yang sangat menentukan. Sebenarnya ini bukanlah hal yang sesuai untuk ambisinya dan balas dendamnya harus ditahan sebelum semua ini dimulai.

Sebenarnya tidak masalah jika kekuatan militer diambil, karena Shen Xin sangat dihargai bukan karena kekuatan militernya seperti yang dipercayai oleh keluarga Fu, tapi kemampuannya untuk memimpin pasukan dan melaksanakan operasi militer. Jika ia mampu membangun pasukan keluarga Shen, itu berarti bahwa ia mampu membangun pasukan keluarga Shen yang lain. Pada saat sebelum kekuatan militer diambil, orang-orang Shen Yuan sudah terlanjur menyusup ke dalam pasukan keluarga Shen dan mereka juga adalah orangnya Fu XiuYi. Akan terlalu melelahkan untuk membawa pasukan yang memiliki seseorang yang menembakkan panah dingin pada punggung orang lain. (menusuk dari belakang alias pengkhianat)

Kecuali Shen Xin memimpin pasukan lain yang bersih. Dengan memulai dari awal, tidak akan ada kekuatan militer keluarga Shen tapi dari keluarga asal Luo XueYan, yang dimiliki oleh keluarga Luo. Hanya saja pasukan keluarga Luo tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan tempur keluarga Shen dan dalam mempertahankan garis depan, taktik keluarga Luo bukanlah sesuatu yang hebat dan tidak menarik perhatian orang lain.

Karena hal inilah Shen Miao menargetkan keluarga Luo. Dirinya ingin mengubah keluarga Luo menjadi cabang lain dari pasukan keluarga Shen sebagai kartu tersembunyi dalam lengannya, sebuah kartu yang tidak diketahui oleh siapapun. Keluarga Fu khawatir bahwa Shen Xin akan memberontak, jadi Shen Miao akan memberontak agar keluarga Fu bisa melihat.

Hanya saja pemikiran yang tersembunyi itu bisa diketahui hanya dengan tatapan tajam Xie JingXing. Ada rasa panik dalam benaknya dan ada jejak tidak sabar pada wajah Shen Miao.

Jika Xie JingXing mengetahui apa yang ia pikirkan lalu apakah mungkin orang ini, yang digambarkan dalam kitab sejarah Ming Qi dengan bahasa yang indah dan terlalu mendetail, akan mendakwanya atau mungkin membunuh dirinya?

Tapi mungkin tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi. Orang seperti apakah Shen Miao? Ia telah melalui saat yang sulit dalam kehidupan masa lalunya jadi meskipun ia sesaat merasa terkejut tapi ia mampu menekan perasaannya dengan cepat. Shen Miao berpikir karena Xie JingXing akan pergi ekspedisi ke daerah Jiang Utara, dan jika perjalanan itu sama seperti kehidupan yang lalu maka Xie JingXing akan mati. Ia akan mati dengan ribuan panah menembus jantungnya. Batas terakhir sepuluh hari akan segera tiba dan takdir bagaikan tangan yang mampu menciptakan awan dan angin. Karena itulah tidak peduli betapa jauh perencanaan Xie JingXing atau pun betapa licik pemikirannya, ia tidak akan bisa lolos dari takdir. Shen Miao memandang lurus kearah Xie JingXing.

Xie JingXing benar-benar sangat tampan (Catatan dari Zaza dan Editornya: Translator: YA KAMI TAHU, Ed: *kepala di meja #10). Di kehidupan sebelumnya saat Shen Miao berdiam di istana, ia telah melihat betapa banyaknya pemuda berbakat dengan penampilan yang menawan, tapi pada saat itu benaknya dipenuhi oleh Fu XiuYi dan tidak tertarik dengan hal lainnya. Alis panjang Xie JingXing yang lengkung dan menggantung dengan menawan di wajahnya, hidung yang mancung. Bibir tipis yang melengkung ke atas dan senyum yang tampak jahat. Ketampanannya tidak tertahankan dan seakan tidak berperasaan, tapi tidak disangka ia memiliki sepasang mata berbentuk persik yang bersinar cerah. Ketika memandang orang lain, mereka tampak bergairah dan kejam tapi juga memiliki sedikit ilusi kelembutan.

Hanya saja di bawah penampilan kaidah dunia yang ia benci, hanya orang itu saja yang tahu seberapa hitam hatinya.

Xie JingXing saat ini masih muda dan memiliki jiwa pahlawan yang indah, tapi hari ini ia mengenakan seragam pejabat berwarna merah tua yang membuat penampilannya semakin dewasa. Fu Ming pernah sekali membaca sejarah keluarga Ming Qi dan menyesali pemuda dengan bakat yang tinggi dengan karakter terhebat sepanjang masa ini menemui kematian terlalu cepat. Bisa dilihat betapa tingginya penilaian Kitab Sejarah Ming Qi terhadap Xie JingXing.

Ketika Shen Miao menyadari keberadaan Xie JingXing, dirinya sudah menjadi permaisuri dan melihat Xie JingXing dari kejauhan di perjamuan istana. Dirinya secara tidak sadar menilai bahwa Xie JingXing adalah pemuda yang tampan akan tetapi sikap Fu XiuYi terhadapnya tidak terlalu ramah. Xie JingXing saat ini adalah pemuda yang tangguh tapi siapa yang bisa mengira bahwa pemuda yang tersenyum dengan indah ini akan kehilangan hidupnya di medan perang tak lama lagi.

Pandangan Shen Miao dipenuhi rasa kasihan. Setelah kelahirannya, ia bukanlah orang yang baik hati tapi karena Fu Ming dan Wang Yu memuji orang ini maka setidaknya ia harus memiliki sedikit rasa penghormatan.

Sepasang matanya yang tidak berubah terkadang waspada dan terkadang dipenuhi simpati membuat Xie JingXing merasa tidak mampu memahaminya. Tiba-tiba ia teringat di Guang Wen Tan ketika dirinya melihat Shen Miao untuk pertama kalinya, gadis ini juga menatap dirinya dengan tatapan kasihan sehingga ia menanyakan kepada Shen Miao apa yang gadis itu pikirkan, “Kau merasa kasihan kepadaku?”

Shen Miao diam-diam berpikir bahwa pemuda ini seorang pengamat yang lebih baik daripada dirinya, akan tetapi senyum yang lembut hadir di wajah Shen Miao, “Keahlian macam apa yang kumiliki untuk bisa merasa kasihan kepada orang lain?”

Xie JingXing dengan tenang menjawab dengan sebuah “en”, menyadari kebenaran kata-kata Shen Miao. Tapi tiba-tiba ia merentangkan lengannya dan mengangkat tirai kereta. Di sini adalah area terpencil yang tidak akan didatangi seorangpun. Dengan mengangkat sudut tirai, ia bisa melihat dinding istana yang tinggi.

Pandangan Shen Miao tidak mampu dicegah untuk memandang jauh.

Ia telah tinggal di istana dalam selama beberapa tahun dan setelah kelahiran kembalinya ia tidak mampu lolos dari takdir ini. Akan tetapi Shen Miao tidak menyesalinya karena tujuan hidup bagi orang yang tidak mampu bertahan hidup adalah untuk membalas dendam.

Shen Miao menatap dengan teliti setiap bagian dinding istana sehingga terpeta di benaknya. Xie JingXing melihat ini dan bibirnya terangkat, “Kau mau tinggal di dalamnya.”

Shen Miao merasakan tubuhnya kaku.

“Aku bisa membantumu jika kau mau tinggal di dalamnya.” Xie JingXing membuka mulutnya akan tetapi nada bicaranya terdengar aneh dan senyumnya bagaikan menyembunyikan sesuatu yang dalam, “Pada saat itu, bagaimana kau akan berterima kasih kepadaku?”

“Jika Marquis Muda bisa menghancurkan tempat ini dengan api, mungkin saya akan berterima kasih kepadamu.” Ujar Shen Miao.

Xie JingXing tidak diduga mengangkat alisnya, “Kupikir kau ingin menjadi seorang bangsawan.”

“Aku ingin menjadi seorang bangsawan.” Shen Miao memutar kepalanya dan menatap tawa sarkas Xie JingXing, “Tapi bukan jenis bangsawan seperti yang anda maksud. Seorang bangsawan yang jauh lebih dihormati dibandingkan bangsawan biasa.”

“Kau ingin menjadi seorang Permaisuri.”

Permaisuri. Mata Shen Miao kembali menerawang. Dirinya juga telah mengenakan jubah pengadilan dengan tusuk Phoenix di rambutnya. Dan pada saat pelantikan Kaisar dan Permaisuri sangat mengesankan melihat semua pejabat berlutut, rakyat biasa bersorak sorai dan dirinya menjadi ibu negara.

Pada saat itu, dirinya berpikir bahwa ia telah memiliki semua yang ia inginkan.

Tapi sekarang semakin tinggi seseorang memanjat, saat terjatuh akan semakin sakit dan Permaisuri hanyalah sebuah jabatan dalam nama saja.

“Mudah untuk menjadi seorang Permaisuri.” Xie JingXing berujar ringan, “Tapi menjadi Kaisar adalah hal yang sulit.”

Ming Qi berada dalam posisi yang tidak stabil karena kesembilan pangeran memiliki keuntungan maupun kelemahan masing-masing, yang bahkan membuat posisi Putra Mahkota juga tidak stabil. Siapa yang tahu seperti apa masa depan dan di tangan siapa posisi itu akan jatuh. Keluarga bangsawan besar menikahkan putri-putri mereka kepada para pangeran, bukan karena berani bertaruh tapi untuk bertaruh di masa depan.

Orang kaya dan bangsawan mempertaruhkan hal yang berbahaya karena sifat rakus adalah insting manusia. Ketika berhasil seseorang menjadi Raja dan ketika kalah seseorang menjadi penjahat(Istilah yang menyatakan bahwa siapapun yang menang akan menjadi raja dan menentukan peraturan, sementara yang kalah akan tersingkir, dalam hal ini, bisa saja diasingkan atau dibunuh) Ketika seorang wanita salah memilih, maka otomatis mereka juga akan ikut kalah.

Xie JingXing bertanya dengan ringan, “Siapa yang kau pilih?”

Ini menanyakan kepada Shen Miao pangeran mana yang akan dipilih olehnya, yang ingin ia nikahi dan yang akan ia dukung.

“Menurut Marquis Muda yang mana yang memiliki masa depan?” Shen Miao balik bertanya.

“Dilihat dari penampilan tidak ada yang memiliki masa depan.” Kata-kata Xie JingXing terlalu mengerikan untuk didengar, “Apa yang akan kau lakukan?”

“Mencari yang memiliki masa depan.”

“Lalu menurutmu bagaimana denganku?” Xie JingXing mengangkat alisnya dan bertanya. Kata-katanya mungkin saja hanya untuk menggoda Shen Miao, karena itu ia sendiri tidak terlalu serius saat mengucapkannya.

Marquis Muda juga tidak punya masa depan.” Shen Miao menatapnya dengan serius.

“…” Xie JingXing tersedak saat mendengar kata-kata Shen Miao, meskipun ia tidak merasa marah tapi ia juga merasa tidak puas. Dirinya berpikir bahwa ia telah bertemu dengan banyak wanita yang mengagumi dirinya dan para pria yang takut kepada dirinya, akan tetapi Shen Miao tidak mengagumi dan juga tidak takut kepadanya dan sering melukai dirinya sendiri dengan melawan pemimpin harimau. Mungkinkah dirinya terlalu baik kepada Shen Miao sehingga membuat gadis itu berpikir bahwa dirinya adalah orang yang sabar?

“Apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Marquis Muda? Tolong segera pergi jika sudah selesai.” Shen Miao dengan terang-terangan mengusirnya, “Tidak baik jika orang lain salah paham.”

“Salah paham?” Mata Xie JingXing terlihat penuh tawa dan dengan lembut ia berkata, “Salah paham apa?”

“Seorang pemuda mesum melakukan hal yang tidak pantas kepada seorang gadis muda yang polos.” Shen Miao tidak mengedipkan mata dan menjawab dengan marah. Gadis itu mampu melihat bahwa berdasarkan peraturan dan standar yang ditetapkan, Xie JingXing benar-benar tidak tahu malu.

Meskipun Xie JingXing sudah melihat banyak gadis muda, ia tersedak dengan kata-kata Shen Miao dan merasa sedikit pusing. Ia terbatuk dua kali, duduk dengan tegap dan tidak lagi menggoda Shen Miao, “Mundurlah ke daerah Barat Laut, lebih cepat lebih baik. Semakin lama menetap justru akan semakin merugikan Shen Xin.”

Shen Miao memandangi dirinya, tidak menyangka bahwa Xie JingXing akan memperingatkan dirinya dengan kata-kata itu. Setidaknya Shen Miao tidak ingin melawan orang seperti Xie JingXing dan sudah cukup bagus bahwa pemuda ini tidak bersikap jahat kepada dirinya.

“Banyak terima kasih.”

Xie Jing Xing berujar, “Akan lebih baik jika Shen Xin bisa meninggalkan ibukota Ding sebelum aku pergi.”

Shen Miao merasa kesal, “Itu juga kalau bisa berhasil.” Tidak semua orang memiliki kemampuan Xie JingXing. Shen Miao selalu beranggapan bahwa Xie JingXing bergantung pada latar belakangnya, tapi bukan sepenuhnya kepada kediaman Marquis Lin An, tapi kepada sesuatu yang jauh lebih tinggi dibandingkan kediaman Marquis Lin An. Tapi di Ming Qi, kekuatan yang lebih tinggi dibanding Marquis Lin An adalah keluarga kekaisaran, akan tetapi keluarga kekaisaran dan Xie JingXing berada di pihak yang berseberangan.

Shen Miao tidak mampu menduga apapun.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.