KPKM: Chapter 114 (Part 2): Tidak Ada Kebencian yang Sepele

Featured Image

Chapter ini sebenarnya bagiannya Kak Momo, tapi kemudian karena Kak Momo lagi dinas di luar kota, Kak Anis kemudian mengambil alih, jadi terima kasih pada Kak Anis ya! ( Cichicuit)

Editor: Kak Dhie| Proofreader: Kak Glenn

.

.

Malam ini di kediaman Marquis Lin An sungguh tidak tenang.

Di halaman paling dalam, Xie JingXing baru saja melepas jubah luarnya di kamar, ketika pintu didorong terbuka dengan suara keras ‘bang’. Seorang pelayan berdiri ketakutan di pintu, takut itu akan melibatkannya sehingga dirinya menundukkan kepala dan dengan gugup berkata, “Tuan Muda … yang rendah ini tidak bisa menghentikan …”

Marquis Lin An yang berdiri dekat pintu marah saat mendengar itu, “Menghentikan? Kau mencoba menghentikanku, aku adalah ayahmu! Sejak kapan tuan kediaman Marquis Lin An berubah? Xie JingXing, bersikaplah sebagaimana mestinya!”

Xie JingXing dengan santai melirik Xie Ding dan melemparkan jubahnya dengan malas pada ranjang kemudian duduk di kursi. Dia menyenderkan punggungnya dan tampilannya tampak seperti putra hedonis, “Alasan mulia apa yang membawa Marquis kemari pada jam selarut ini?”

Sikapnya seolah-olah memperlakukan orang asing.

Tentu saja, Xie Ding menjadi sangat marah sehingga dia bisa membalikkan seekor kuda. Namun itu adalah Xie ChangWu dan Xie ChangChao, yang mengikuti di belakang Xie Ding, yang terlihat marah tetapi memiliki kebahagiaan berkelip di mata mereka. Xie ChangChao berkata, “Gege, Ayah memperlakukanmu dengan sepenuh hati dan tenaganya. Bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu kepada Ayah? Itu benar-benar tidak berbakti atau hormat!”

“Urus urusanmu sendiri.” Xie JingXing memuntahkan empat kata.

Di luar, Marquis Muda yang elegan dan mulia akan menjadi seperti tentara bajingan ketika menghadapi mereka bertiga, ini membuat ‘Jenderal Sarjana’ Xie Ding merasa tak berdaya.

“Kau anak nakal!” Xie Ding tidak memperhatikan seketika wajah hijau Xie ChangChao dan berkata dengan marah, “Permintaan macam apa menjadi komandan yang kau tulis!” Dengan membanting, dia melemparkan kertas itu ke wajah Xie JingXing.

Xie JingXing melihat kertas itu dan mengangkat alisnya, “Jika Marquis tidak senang maka biarkan Yang Mulia menulis yang lain. Kalian datang kemari di tengah malam hanya untuk ini?”

“Xie JingXing, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan!” Xie Ding mengamuk, “Apakah kau tahu tempat seperti apa Jiang Utara itu? Meminta menjadi komandan bukanlah mainan. Kau belum pernah memimpin pasukan keluarga Xie dan aku belum pernah mengajarimu sebelumnya. Apakah kau tahu cara menggunakan mereka!”

Ketika kata-kata itu diucapkan, kilasan kegelapan muncul di mata Xie ChangChao dan Xie ChangWu. Tentara keluarga Xie adalah aset paling berharga di kediaman Marquis Lin An, lebih berharga daripada kekayaan dan kemuliaan kediaman Marquis Lin An. Xie ChangWu dan Xie ChangChao juga memiliki keterampilan seni bela diri, tetapi Xie Ding tidak berniat membiarkan kedua saudara laki-laki ini untuk mengelola pasukan tentara keluarga Xie, dan terus melatih Xie JingXing sebagai penerusnya. Jadi, meskipun Xie Ding membawa kedua saudara laki-laki ke jabatan resmi, begitu Xie JingXing menggunakan pasukan tentara keluarga Xie sebagai miliknya, tidak peduli jika Xie ChangChao dan Xie ChangWu berjuang untuk seluruh hidup mereka, mereka tidak akan bisa mencapai puncak Xie JingXing.

“Lalu apa masalahnya?” Bibir Xie JingXing menarik senyuman dan matanya yang menyapu memiliki niat jahat, “Semakin sering digunakan, maka akan semakin mudah dipakai.”

“Tidak!” Xie Ding menolak dengan tegas, “Besok kau akan ikut denganku ke pengadilan dan beri tahu Yang Mulia dengan jelas. Permintaan komandan ini tidak dapat diterima!”

Marquis.” Xie JingXing memiringkan kepalanya dan berbicara padanya seolah-olah dia sedang melihat lelucon, “Permintaan menjadi komandan adalah keinginanku dan sekarang menarik kembali ucapanku pada Yang Mulia… Jika Marquis ingin melihat kepalaku jatuh, katakan saja terus terang, mengapa mengikuti orang lain menempuh jalan memutar.” Ketika dia mengatakan itu, dia memandang Xie ChangChao dan saudara lelakinya sambil tersenyum tetapi tidak tersenyum.

Tampak jelas dikatakan bahwa Xie ChangWu dan Xie ChangChao tidak memiliki niat baik. Kedua wajah mereka kaku dan Xie ChangChao berkata, “Gege Sulung, Ayah mengatakan ini dengan niat baik. Medan Jiang Utara itu rumit, jika terjadi sesuatu, bukan hanya keselamatanmu sendiri yang akan terganggu, bahkan Ayah akan dihukum dan seluruh pasukan tentara keluarga Xie akan dipermalukan. Kamu jangan hanya memikirkan diri sendiri saja dan tidak peduli dengan masa depan keluarga Xie.”

Maksud dari kata-kata itu adalah bahwa perjalanan Xie JingXing ini sepenuhnya karena ambisinya, dan bahwa dia tidak tahu seberapa tinggi Surga itu, juga dia benar-benar tak tahu malu ingin membangun karir yang sukses tanpa mengetahui kapasitas dirinya.

Ketika kata-kata itu terucap, bahkan Xie Ding mau tidak mau mengerutkan kening.

Didi tidak perlu khawatir.” Xie JingXing membalas, “Gege Sulung ini akan menunggumu memasuki jabatan resmi dan mencapai prestasi besar dengan prospek tanpa batas. Pada saat itu seseorang akan bergantung pada kalian berdua untuk melindungi keluarga Xie. Marquis juga akan sangat senang.”

Sekarang Xie ChangWu dan Xie ChangChao baru saja memasuki jabatan resmi, menyebutkan mereka tentang mencapai prestasi besar dengan kemampuan mereka, ini menyindir bahwa itu kejadian jauh di masa depan. Xie JingXing mengejek tentang kualifikasi mereka, di mana mereka hanya mengandalkan hubungan keluarga Xie untuk naik.

“Kau!” Xie ChangChao marah dan hendak bicara ketika Xie Ding membentak, “Cukup!”

Xie ChangChao dan Xie ChangWu segera diam, dan hanya Xie JingXing yang menunjukkan ketidaksabaran, “Sudahkah Marquis selesai bicara? Kalau begitu, tolong cepat pergi, aku ingin tidur.”

“Jing Xing.” Xie Ding tiba-tiba berkata dengan lelah, “Setelah bertahun-tahun, kamu masih membenciku seperti ini? Kamu tidak sabar menggunakan hidupmu untuk meninggalkan kediaman Marquis.”

Xie Ding saat ini tidak seperti ketika dia masih muda, tetapi masih dianggap sebagai pria paruh baya tampan. Meskipun dia adalah seorang Jenderal tetapi dia berbeda dengan perilaku kasar dan terus terang Shen Xin, seolah-olah dia memiliki keanggunan seorang pria. Ketika Xie Ding masih muda, ia memiliki julukan ‘Jenderal Sarjana ‘dan dianggap tampan. Sebagian besar keluarga Xie mewarisi penampilan Xie Ding, bahkan Xie ChangWu dan Xie ChangChao pun dianggap tampan tetapi bila dibandingkan dengan Xie JingXing, akan ada perbedaan yang besar.

Putri Yu Qing wanita yang lembut dan anggun sementara Xie Ding adalah bangsawan seperti sepotong giok saat dia masih muda, tetapi melahirkan Xie JingXing yang temperamennya lebih kuat dari penampilannya. Dia mempermainkan tanpa rasa hormat, sombong dan keji, seolah-olah tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa mengendalikan atau mengaturnya. Sepertinya tidak ada yang menarik baginya, dan sangat bangga bahwa tidak ada yang berharga di matanya. Penampilan dan temperamen seperti ini jika ditemukan dalam buku-buku sejarah, bisa dianggap sebagai kepribadian romantis yang legendaris.

Tapi itu juga membuat orang lain merasa tak berdaya, seperti yang dirasakan Xie Ding pada saat ini.

Pelipis Xie Ding sudah beruban, “JingXing, kamu masih membenciku?” Ketika kata-kata ini diucapkan, suara Xie Ding agak bergetar. Dia terus-menerus marah dengan Xie JingXing, tetapi pada saat ini seperti seorang ayah menyerah tanpa daya kepada seorang putra.

Benci? Benci apa? Benci bahwa pada awalnya dia membiarkan Nyonya Fang masuk, dan membiarkan wanita licik itu memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan? Benci bahwa dia membiarkan Putri Yu Qing mati karena timbunan kebencian, dan membiarkan kehidupan Xie JingXing seperti orang asing di kediaman? Sudah jelas bahwa sejak awal itu kesalahannya, tetapi masih bertindak seperti seseorang jungkir balik dan tidak lagi menikah lagi. Tetapi meskipun dia memiliki sikap jungkir balik, dia tidak mau membunuh Nyonya Fang. Apakah memperlakukan Xie JingXing dengan segala jenis cinta merupakan upaya yang sia-sia sebagai bentuk penebusannya?

Kesalahan telah lahir dan orang itu tidak ada lagi, jadi bagaimana mungkin suatu dosa dihapuskan dalam penebusan.

Xie JingXing meliriknya dan matanya menjadi sangat tajam. Namun, bahkan jika Jenderal yang mampu menegur Surga dan Bumi ini mengungkapkan kelemahannya, Xie JingXing tidak akan pernah tergerak.

Dia tidak pernah membenci Xie Ding, hanya meremehkan. Selain itu … Xie JingXing berkata, “Marquis terlalu banyak berpikir. Bagaimana aku memiliki waktu kosong untuk melakukannya.”

Di mana aku punya waktu kosong untuk membencimu.

Kata-kata ini terlalu menyakitkan. Ketika Xie Ding mendengarnya, tanpa sadar dia mundur dua langkah dan mencengkeram dadanya dengan tatapan memilukan.

Xie ChangWu dan Xie ChangChao lah yang paling bahagia. Semakin dalam Xie JingXing menyakiti Xie Ding, semakin Xie Ding akan kecewa dengan Xie JingXing, dan hanya seperti ini maka akan ada kemungkinan bagi kedua bersaudara untuk menggantikan posisi Xie JingXing sepenuhnya.

“seperti itu …” Xie Ding berkata dengan susah payah, “Kalau begitu kamu pergilah.” Suaranya sangat rendah, “Aku akan menjelaskan dengan jelas pada pasukan tentara keluarga Xie. Orang-orang itu akan pergi bersamamu. Ambil baju besi di kediaman dan perisai pelindung dada.” Xie Ding kelihatan berusia sepuluh tahun lebih tua dalam satu malam saat dia memandang Xie JingXing,” Kamu … Hati-hati.”

Xie ChangChao dan Xie ChangWu mendukung Xie Ding keluar, dan sesaat sebelum pergi Xie ChangChao masih tersenyum jahat pada Xie JingXing, “Didi ini berharap Gege Sulung dapat mengalahkan musuh dan kembali dengan kemenangan.”

Tapi dia menantikan bagaimana Xie JingXing mati di medan perang.
Setelah mereka pergi dan pintu ditutup, di bawah cahaya nyala api, seorang berpakaian hitam sudah muncul sedari tadi. Orang berpakaian hitam itu berkata, “Tuan, Xie ChangChao dan Xie ChangWu …”

“Abaikan.” Xie JingXing berkata, “Jika mereka mati sekarang, Marquis Lin An tidak akan membiarkanku pergi.”

“Tentara keluarga Xie hanya akan mendengarkan Marquis Lin An dan tentu saja tidak akan mendengarkan perintah Tuan.” Orang berpakaian hitam itu berkata, “Rencana apa yang akan Tuan lakukan?”

“Hanya tentara keluarga Xie yang tidak penting. Siapa yang akan repot.” Xie JingXing agak tidak sabar,” Bagaimana pengaturan kediaman Putri?”

“Menjawab Tuan, orang-orang ditempatkan dalam kegelapan untuk melindungi Yang Mulia Putri Rong Xin. Apakah Tuan tidak mengucapkan selamat tinggal kepada Putri Rong Xin?”

“Tidak perlu.” Xie JingXing melambaikan tangannya, “Ini akan dilakukan.”

Orang berpakaian hitam menurut lalu berbalik untuk mundur.

Api di ruang gelap, bibir dan wajah merah itu berkedip-kedip dan menunjukkan sedikit kehangatan. Tanpa jubah emas ungu dan hanya dengan pakaian tengah giok putih, bulu mata pemuda itu tampak sangat panjang, seolah-olah nyala api menciptakan lukisan yang tampan.

“Benci?” Dia menunduk dan tersenyum ringan.

“Semua orang di bawah langit akan membenciku.”

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.