KPKM: Chapter 112 (Part 1) : Permintaan untuk Komandan

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Momo ( MoritaAulianti )

Editor: Kak Dhie | Proofreader: Kak Glenn

.

.

“Apa artinya itu?” Tanya Shen Miao.

Xie JingXing tidak akan mengatakan kata-kata seperti itu tanpa alasan sehingga ada makna lain di balik kata-kata itu.

Alis Xie JingXing terangkat saat dia memandangnya, “Shen Yuan adalah orang-orang Pangeran Ding.”

Hati Shen Miao sedikit terkejut tetapi dia tidak berbicara.

“Tidak mungkin!” Shen Miao berteriak tanpa sadar.

Pandangan Xie JingXing terpaku padanya seolah menatap Shen Miao ketika dia bertanya, “Kenapa?”

Telapak tangan Shen Miao menjadi sedikit basah dan hatinya dalam keadaan kacau. Permulaan sebenarnya dari kemalangan keluarga Shen tidak terjadi dalam dua tahun ini. Keluarga Kekaisaran juga akan menunda berurusan dengan keluarga Shen karena tidak ada yang mengambil alih saat ini. Shen Yuan bekerja untuk Pangeran Ding dan mereka berdua adalah orang-orang yang sangat berhati-hati, dan tidak akan mengambil tindakan jika mereka tidak terlalu percaya diri. Sama seperti dalam kehidupan terakhir, pada saat terakhir akhirnya dia tahu bahwa Rumah Kedua dan Ketiga memiliki bagian di dalamnya, dan Shen Yuan pasti mengeluarkan bukti pemberontakan di akhir.

Tapi ada apa dengan waktunya? Ini masih terlalu dini ketika keluarga Kekaisaran ingin berurusan dengan Shen Xin, jadi mengapa Shen Yuan memilih untuk mengambil tindakan pada saat ini? Saat ini bukti tidak akan lengkap jadi mengapa Fu XiuYi memilih untuk mengambil tindakan sekarang?

Bagaimana bisa berubah seperti ini?

Ekspresinya terus berubah dan ketika dia mendongak, dia bertemu dengan tatapan serius Xie JingXing. Hati Shen Miao bergetar, Xie JingXing memiliki pikiran yang gesit dan satu ketakutan bahwa ia dapat merasakan sesuatu dari ekspresinya. Memikirkan hal ini, Shen Miao menutupinya tawa, “Shen Yuan adalah TangXiong Keduaku, mengapa dia membahayakan Ayahku?”

Mendengar itu, Xie JingXing benar-benar tertawa dengan cara yang mendalam dan berkata, “Shen Miao, apakah kau memperlakukanku sebagai orang bodoh?”

“Karena Marquis Muda memberitahuku masalah ini,” kata Shen Miao dengan serius, “Lalu bagaimana Yang Mulia Pangeran Ding berurusan dengan Ayahku?”

Xie Jing ing menggelengkan kepalanya.

Shen Miao awalnya tidak memiliki harapan terlalu banyak bahkan jika Xie JingXing tahu, tidak ada alasan baginya untuk mengatakan yang sebenarnya padanya. Keluarga Xie mengarungi permainan Ming Qi dan jika mereka ingin membantu yang lain, seseorang takut masalah akan datang mengetuk. Bahkan jika dia dan posisi Xie JingXing dipertukarkan, dia bahkan tidak akan memberikan pengingat.

Hanya saja… Shen Miao memandang jubah resmi Xie Jing Xing dan bertanya dengan bingung, “Apa yang kamu lakukan di Istana?”

Dia bertanya dengan santai tetapi tidak tahu bahwa ini membuat Xie JingXing yang percaya diri berhenti. Tapi itu hanya sesaat sebelum Xie JingXing berkata dengan malas, “Masuk ke Istana untuk permintaan komandan.”

“Permintaan untuk komandan?” Shen Miao membeku sejenak sebelum bertanya tanpa sadar, “Permintaan komandan untuk siapa?”

Xie JingXing tersenyum tetapi tidak menanggapi. Shen Miao tiba-tiba menatapnya, “Kau … ingin menjadi komandan sendiri? Jiang Utara … Xiong Nu? “

Kali ini Xie JingXing terkejut, “Bagaimana kamu tahu?” Masalah Jiang Utara adalah masalah rahasia dan itu adalah rahasia besar bahwa sebelum dekrit Kekaisaran diterbitkan, Shen Xin bahkan tidak akan mengetahuinya, apalagi Shen Miao. Xie JingXing selalu penasaran tentang bagaimana Shen Miao mendapatkan informasinya, dan merasa lebih terkejut mengetahui hal-hal di Istana.

Shen Miao menatapnya dengan tatapan kosong, tetapi ada badai di hatinya.

Wilayah Jiang Utara adalah tempat di mana Xiong Nu tidak pernah mundur. Meskipun medannya rumit di Jiang Utara, tahun-tahun ini Kaisar Wen Hui membuat keributan kecil dan bertempur dalam pertempuran kecil, tidak mau menentang dengan keras kepala. Setelah itu Xiong Nu menjadi yang terburuk sehingga Kaisar Wen Hui mengirim Xie Ding ke medan perang. Pasukan keluarga Xie pemberani tetapi seluruh pasukan itu tewas di medan perang. Pada akhir tahun itu, kuda Xie Ding membawa jenazahnya kembali dan membuat seluruh negara berduka. Pada tahun kedua ketika musim semi dimulai, Xie JingXing berangkat pada ekspedisi atas nama ayahnya, dan pasukan dikalahkan seperti tanah longsor dan dia memiliki akhir yang tragis karena ribuan anak panah menusuk hatinya, dan dia dikuliti dan dipajang di menara kota.

Xie JingXing meninggal ketika dia berusia dua puluh dua dan sekarang dia baru saja berusia sembilan belas tahun.

Dalam sekejap, jantung Shen Miao terasa tercekik. Tidak mungkin bagi Kaisar untuk berurusan dengan Xiong Nu saat ini, dan Xie JingXing yang mengajukan diri ke posisi komandan. Xie Ding kemungkinan besar tidak tahu tentang hal ini dan dari penampilan Xie JingXing, dia seharusnya mendapat berita.

Berubah lagi! Berubah lagi!

Jelas hal-hal yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan, tetapi mereka ditarik lebih cepat dari jadwal. Agar Xie JingXing pergi berperang sekarang, bisakah akhir hidupnya sama dengan kehidupan terakhir?

Adapun keluarga Xie, Shen Miao ingin meninggalkan mereka sampai nanti untuk mengkonfirmasi kekuatan kekaisaran. Namun tidak peduli berapa banyak dia mengubah hal-hal, apakah akan ada orang yang masih akan mengikuti jalan yang asli? Akankah pemuda tampan dengan bibir merah dan gigi putih di depan masih berjalan ke langkah paling mengerikan? (Editor Zaza: * rollseyes)

Xie JingXing melihat ekspresi berbeda pada Shen Miao dan tidak merasa aneh. Matanya sedikit berkedip ketika dia berkata, “Kamu tampaknya sangat khawatir?”

Shen Miao saat ini tidak menganalisis makna di balik kata-kata yang sedikit konyol ini, karena hatinya agak kacau. Dia menatapnya, “Kau… akan memimpin pasukan keluarga Xie?”

“Lebih memperhatikan pasukan keluarga Xie secara internal, dan juga memperhatikan orang-orang di sisimu.” Shen Miao berhenti setiap kata ketika dia berbicara. Pada awalnya dia berbicara banyak tetapi pada akhirnya, ekspresinya berangsur-angsur tampak serius, “Angin berpasir dari Jiang Utara besar dan peralatannya berat tetapi tidak peduli apa, kau jangan sampai melepas pelindung jantung.” dalam kehidupan sebelumnya hati Xie JingXing ditusuk oleh ribuan anak panah, jadi mungkin lebih baik dia selalu memakai pelindung jantung. Yang paling penting adalah bahwa Shen Miao merasa bahwa kematian Xie JingXing terlalu aneh, seperti bagaimana Wakil Jenderal yang luar biasa yang memiliki taktik militer yang tak tertandingi akan dikalahkan dengan begitu menyedihkan. Apalagi setelah secara bertahap memahami gambaran keseluruhan dan mengetahui bahwa keluarga Kekaisaran menyerang keluarga bangsawan lama, kehadiran orang-orang keluarga Kekaisaran dalam pasukan keluarga Xie. Apalagi tragedi ayah dan anak Xie mungkin memiliki konspirasi untuk itu.

 Shen Miao dengan sepenuh hati memikirkan situasi keseluruhan tetapi tidak menyadari bahwa dengan hubungan saat ini antara Xie JingXing dan dirinya, karena belum mencapai tingkat persahabatan, kata-kata keprihatinan semacam ini agak mengejutkan.

Xie JingXing juga terkejut padanya, dan senyum tiba-tiba terbentuk di bibirnya saat dia mendekati Shen Miao dan sedikit menundukkan kepalanya. Dia sangat dekat dengan Shen Miao karena sepasang matanya yang berbentuk buah persik dipenuhi dengan tawa ketika dia berkata dengan bercanda, “Jadi, mengkhawatirkanku?”

Shen Miao sedang sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak menyadari bahwa Xie JingXing sudah begitu dekat. Bahkan sebelum Shen Miao kembali pulih, dia bingung untuk sementara waktu. Setiap kali ketika dia bingung dia akan terlihat menyedihkan.

Xie JingXing sedikit berhenti dan semacam perasaan tak berdaya muncul di hatinya. Dia awalnya kejam dan hanya merasa bahwa keluarga Shen adalah bidak catur di papan. Dia tahu dengan jelas bahwa Shen Miao memiliki pikiran yang dalam dan tindakannya misterius, dan jelas bukan wanita yang tidak menikah yang tidak berbahaya seperti yang dia tampilkan di muka umum. Tetapi ada saat-saat ketika Xie JingXing merasa bahwa dia hanyalah seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa, dan merasa bahwa itu adalah hal yang memalukan untuk menggertak seorang gadis kecil.

Pikiran tiba-tiba ini dengan cepat terlempar ke belakang kepalanya saat Xie JingXing mundur sedikit, “Pengaruh pasukan keluarga Shen terlalu kuat dan itu bukan hal yang baik.”

Shen Miao menjawab, “Hari ini Ibuku yang memasuki Istana, dan yang memanggilnya adalah Permaisuri Xu Xian dan Permaisuri Dong Shu.” Ketika dia berbicara tentang Permaisuri Xue Xian dan Permaisuri Dong Shu, ekspresinya tidak hormat, seolah-olah dia berbicara tentang dua orang biasa. Xie JingXing juga terbiasa dengan itu.

Dia berkata, “Mundur.”

“Mundur?” Tanya Shen Miao.

Xie JingXing tidak lagi berbicara. Pada akhirnya dia masih memberi Shen Miao sedikit dorongan. Jika Shen Miao cerdas, dia akan mengerti apa yang dimaksudnya.

Mata Shen Miao terkulai dan dia berpikir sejenak sebelum berbicara, “Terima kasih banyak.”

Xie JingXing melambaikan tangannya dengan malas saat dia memikirkan sesuatu. Shen Miao bertanya lagi, “Permintaan untuk komandan… Kapan tanggal keputusannya?”

“Sepuluh hari kemudian.”

“Begitu cepat?” Seru Shen Miao.

“Kenapa?” Xie JingXing menatapnya dari samping dan berkata sambil tertawa, “Tidak bisa menahannya?”

“Bukan begitu…” Shen Miao berkata datar, “Kalau begitu… maka aku akan berharap Marquis Muda untuk memenangkan kemenangan dengan mengibarkan bendera dan kembali dengan kemenangan.”

“Ketika aku kembali dan mendapatkan hadiah,” Xie JingXing berkata tanpa peduli, “Aku akan memberimu hadiah mainan kecil, untuk pertanda baik.”

Tepat ketika Shen Miao hendak berbicara, dia melihat Xie JingXing menekan turun pinggang Shen Miao dan berkata, “Seseorang akan datang.” Setelah itu dia tersenyum pada Shen Miao, “Berharap untuk melihatmu lagi, Shen… Jiao Jiao.” satu belokan ia terbang menjauh dari jendela.

Orang ini menggunakan jendela seperti sedang berjalan melewati pintu kediamannya sendiri. Shen Miao masih kaget ketika pintu-pintu didorong terbuka dan Tong Yao masuk. Melihat Shen Miao berdiri di tengah ruangan, dia bertanya dengan rasa ingin tahu, “Mengapa Nona Muda Shen tidak duduk?”

Shen Miao sadar kembali dan tersenyum sebelum berjalan ke samping untuk duduk. Tapi di dalam hatinya, dia memikirkan apa yang dikatakan Xie JingXing.

Xie JingXing memang meminta menjadi komandan dan akan berangkat dalam waktu sepuluh hari. Dalam sepuluh hari… Bukankah itu sama persis dengan tiga tahun kemudian? Dalam tiga tahun, pada saat inilah Xie JingXing berangkat untuk ekspedisi, dan setelah itu ayah dan anakXie dicatat selamanya dalam buku-buku sejarah Ming Qi.

Keluarga Xie telah menuju akhir yang tak terhindarkan seperti kehidupan terakhir … Bagaimana dengan keluarga Shen? Bagaimana jadinya keluarga Shen? Xie JingXing memberinya petunjuk sebelum pergi tapi itu bukan hasil yang ingin dilihatnya. Mundur seperti ini, meskipun nyawa akan diselamatkan tetapi ini hanyalah metode menyelamatkan nyawa. Tanpa kekuatan untuk melindungi, hari-hari damai akan menjadi kemewahan. Jalan kehidupan sebelumnya membuat Shen Miao memahami hal ini. Hanya dengan berdiri di posisi yang lebih tinggi dari musuh, seseorang dapat benar-benar mengendalikan nasib.

Namun metode Xie JingXing sangat mempertahankan posisi seseorang tetapi tidak memiliki cukup perlawanan.

Metode apa yang dapat digunakan untuk keluar dari situasi sulit ini?

Di Shichen berikutnya (1 Shichen = 2 jam), Shen Miao terus memikirkan masalah ini. Dia tidak menyentuh makanan kecil di atas meja dan bahkan tidak minum seteguk teh, apalagi melihat salah satu novel. Itu memicu Pejabat Wanita Tong Yao untuk sering melihatnya, dan bertanya-tanya bagaimana mungkin baginya untuk duduk sepanjang sore dengan kedewasaan, bahwa bahkan semua selir yang baik hati tidak akan memiliki kesabaran seperti itu.

Orang tidak tahu berapa lama dia menunggu sampai seorang kasim datang untuk mengundang mereka keluar. Pejabat Wanita Tong Yao kemudian membawa Shen Miao keluar saat Luo XueYan ada di pintu menunggunya. Setelah melihat Shen Miao, dia memaksakan senyum dan menariknya keluar dari Istana dan kembali ke kediaman.

Meskipun Luo XueYan melakukan yang terbaik untuk menunjukkan seolah-olah tidak ada yang terjadi, orang seperti apa Shen Miao? Dia sudah bisa mengamati kata-kata dan gerakan orang lain lama di Istana Dalam dan melihat kekhawatiran di hati Luo XueYan. Dia berkata, “Ibu, apa yang mereka bicarakan?”

Luo XueYan tersenyum, “Tidak ada yang penting, hanya beberapa hal tentang gaya hidup kota Xiao Chun. Kemungkinan besar karena mereka belum pernah ke wilayah bagian selatan dan ingin mengetahuinya. “

Shen Miao bertanya, “Sungguh, hanya ini? Jika demikian, maka itu benar-benar terlalu aneh untuk sengaja memanggil Ibu ke Istana untuk berbicara selama itu. “

Luo XueYan membelai kepala Shen Miao, “Apa yang sangat aneh tentang itu. Para wanita di Istana tidak bisa kemana pun dan kemungkinan besar hari-hari berlalu dengan membosankan. Ibu berbicara kepada mereka tentang hal-hal luar untuk mengusir kebosanan sehingga mereka akan sedikit bahagia.” Bahkan setelah mengatakan itu, Luo XueYan tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir. Meskipun dia tidak terlibat dalam masalah pengadilan, tetapi itu tidak berarti bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang bahaya di sana. Hari ini dia sangat teliti dan berhati-hati, dan justru karena kedua Selir itu berbicara tentang gaya hidup yang membuatnya bingung.

Tidak ada orang bodoh di Istana dan semua orang sangat pintar. Tetapi pembicaraan hari ini tidak menyentuh masalah militer, dan bahkan pasukan keluarga Shen tidak disebutkan. Sebaliknya percakapan itu tentang rakyat jelata di kota Xiao Chun yang membuat Luo XueYan bingung.

Orang-orang yang berperang memiliki intuisi bahaya yang kuat. Dia jelas merasa bahaya mendekat tetapi tidak tahu di mana masalahnya, dan itu membuat Luo XueYan resah.

Tetapi dia takut menakut-nakuti Shen Miao dan tidak bermaksud memberi tahu Shen Miao hal-hal semacam ini. Shen Miao tidak bertanya padanya lagi dan ketika mereka kembali ke kediaman, langit sudah mendekati malam. Shen Qiu dan Shen Xin telah menunggu di pintu kediaman, dan hanya menghela napas lega setelah melihat mereka kembali.

Setelah selesai makan malam, Luo XueYan menginstruksikan Shen Miao untuk beristirahat lebih awal dan menarik Shen Qiu dan Shen Xin kembali ke kamar untuk membahas tentang masalah memasuki Istana. Shen Miao tidak mengikuti karena dia telah belajar banyak hal dari Luo XueYan, tetapi hal yang tidak dia mengerti adalah apa yang diberikan Shen Yuan kepada Fu XiuYi.

Lampu minyak bersinar terang ke mata seseorang, ketika Shen Miao duduk di depan meja merenungkan sementara Jing Zhe dan Gu Yu berhati-hati untuk tidak mengganggu. Gerimis ringan mulai jatuh di luar jendela. Ini adalah gerimis pertama sejak akhir tahun dan itu menandakan bahwa Musim Semi akan datang.

Awal Musim Semi akan tibai dan semuanya akan pulih. Itu jelas merupakan awal dari bagaimana baru, tetapi bagaimana membuat rute di antara salju tebal yang memungkinkan pohon-pohon willow untuk memberikan keteduhan dan bunga untuk menunjukkan cahaya?

Shen Miao menutup matanya.

Pada malam itu, ada seseorang berjalan dengan Tie Yi.

KPKM: Chapter 111 (Part 2): Bertemu kembali di Istana
KPKM: Chapter 112 (Part 2): Permintaan untuk Komandan

Leave a Reply

Your email address will not be published.