KPKM: Chapter 111 (Part 1) : Bertemu kembali di Istana

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak El ( elvarania )

Editor: Kak Dhie | Proofreader: Kak Glenn

.

.

“Kenapa berkata begitu?” Ji YuShu bertanya.

Gao Yang menyentuh dagunya, “Karena dia sudah menentang Pangeran Ding, dia tidak akan berada satu tim dengan Pangeran Ding. Putra Mahkota, Pangeran Zhou dan Pangeran Li, pada siapa Shen Miao akan berpihak?”

“Tidak pada siapapun.” Kata Xie JingXing.

“Oh?” Ji YuShu merasa aneh, “Kenapa tidak pada siapapun?”

Tatapan Xie JingXing sedikit tak tergesa-gesa, “Pei Lang bukan orang biasa dan dia hanya belum masuk ke dalam pemerintahan, itu dikarenakan usianya yang masih muda. Baru saja kalian sudah mendengarnya, Shen Xin tidak perlu seteliti Shen Miao dalam tindakannya dan mengeksekusi.”

Tidak terlalu mempermudah, tidak membenarkan, juga tidak mengakui ataupun menolak dan juga tidak menerima. Bahkan para pejabat yang telah bangkit dan jatuh di lautan pemerintahan tidak akan mampu sepenuhnya menjadi satu elemen seperti dia. Shen Xin adalah seorang jenderal dan Luo XueYan juga seorang jenderal, jadi dari siapa Shen Miao mempelajari kemampuannya yang seperti ini? Apakah ada seorang ahli yang membimbing keluarga Shen secara diam-diam? Awalnya ia berpikir seperti itu tapi sekarang, dia bisa yakin bahwa itu semua adalah tujuan Shen Miao sendiri. Jika dia adalah orang yang bersama dengan Putra Mahkota atau dengan Pangeran-Pangeran lain, dia tidak akan pernah menggunakan cara yang seperti ini merencanakan dan mempersiapkan di setiap langkahnya, karena setiap Pangeran memiliki kekuatan yang besar di belakang mereka karena itulah mereka tidak akan menggunakan cara bodoh seperti itu.

Bagaimanapun dia mampu memaksimalkan pencapaiannya dengan menggunakan kemampuan dan kesempatan. Orang hanya bisa bertanya-tanya, jika dia diberikan cukup koneksi dan kekuasaan, seberapa besar badai yang bisa dia ciptakan. Bahkan sekarang ketika dia tidak memiliki pengaruh apapun,  dia bisa dengan perlahan melatih bidak-bidak caturnya.

Dunia ini seperti sebuah permainan catur dan dalam permainan catur Ming Qi, ada terlalu banyak orang yang bermain. Namun, Xie JingXing tidak pernah memperhitungkan Shen Miao di dalamnya karena dia adalah seorang wanita yang lemah dan tidak memiliki tujuan.

Namun sekarang Xie JingXing sudah bisa melihat menembus kemampuan gadis muda ini dalam menaklukkan seorang pahlawan dengan secangkir arak, dan melihat ambisinya.

“Tapi kita masih belum tahu bagaimana dia bisa tahu tentang latar belakang Pei Lang.” Ji YuShu berkata, “Bahkan Rumah Gadai Feng Xian tidak bisa menggalinya.”

Kediaman Hakim Distrik Pei sudah mengerahkan seluruh usaha keras mereka untuk melindungi putra mereka, jadi tentu saja persiapannya telah dibuat dengan sempurna. Pei Lang juga tidak mengecewakan harapan ayahnya, dan tidak mencari pembalasan dendam atau memendam kebencian dan hidup dalam penyamaran sementara dia juga menjadi seorang guru. Tidak ada seorang pun yang akan memperhatikannya tapi Shen Miao dapat melihat melalui trik samarannya, dan juga membuat Liu Ying melakukan tawar-menawar melawan Pei Lang.

Tidak ada yang tahu dari mana informasi itu didapatkan, sama seperti kasus pada Chen bersaudara.

“Jangan terlalu memikirkan dia.” Xie JingXing berkata, “Apakah memorandum untuk permintaan posisi komandan sudah selesai ditulis.”

“Sudah selesai ditulis.” Gao Yang mengernyit, “Apa kau benar-benar sudah yakin… Sekali ini dimulai, maka tidak akan ada jalan untuk kembali. Dan rencanamu untuk bagian terakhirnya belum juga diterima oleh pihak lain, jika ini tidak diterima…”

“Lakukan seperti kataku.” Xie JingXing bangkit berdiri.

*****

Kembali ke Kediaman Shen, di halaman Barat, Shen Miao mengganti bajunya dan saat ia baru saja menurunkan rambutnya ia melihat Bai Lu datang dengan tergesa-gesa, “Nona Muda, Nyonya meminta anda datang untuk mendiskusikan sesuatu.”

Akhir tahun telah berlalu dan sudah hampir tiba waktunya musim semi tiba. Karena Shen Xin meminta pada Kaisar Wen Hui untuk tinggal di ibukota Ding selama setengah tahun, Luo XueYan menjadi lebih santai. Dia akan sering membeli baju-baju dan perhiasan-perhiasan untuk Shen Miao atau meminta Shen Qiu membawa Shen Miao keluar untuk makan dan bermain. Ada juga waktu saat Shen Miao sendiri merasa bahwa ia telah dibesarkan seperti seorang anak hedonistik dari orang tua yang kaya oleh Shen Xin dan istrinya.

Shen Miao menyanggul rambutnya ke atas kepala dengan sambil lalu dan pergi menuju ke ruangan Luo XueYan. Ketika ia masuk ke dalam ruangan, ia tidak menyangka akan melihat kehadiran Shen Xin dan Shen Qiu. Melihatnya berjalan masuk, Luo XuoYan segera menariknya untuk duduk di sampingnya dan berkata, “Apa yang dilakukan Jiao Jiao di luar hari ini?”

Shen Miao menyuruh Bai Lu dan Shuang Jiang tetap tinggal di kamarnya, dan mengatakan bahwa ia pergi berbelanja jika ada orang yang bertanya. “Hanya berkeliling melihat-lihat. Saat lewat di Kuai Hou Lou, aku pergi untuk membeli beberapa guci anggur keras untuk Ayah dan Gege Pertama.”

“Benar-benar pantas menjadi kesayangan Ayah!” Mata Shen Xin bersinar terang saat ia mendengar kata-katanya dan berkata, “Anggur di ibukota Ding begitu manis dan lembut, bagaimana bisa disebut sebagai anggur! Anggur keras baru lebih cocok!”

Shen Qiu juga merasa senang, “Meimei memang sangat perhatian!”

“Tahunya hanya minum saja!” Luo XueYan memutar matanya pada ayah dan anak itu, ” Biarkan pelayan yang membeli barang-barang seperti itu. Kenapa Jiao Jiao harus peduli dengan mereka.”

“Hei wanita yang telah menikah!” Shen Xin tidak merasa senang, “Itu bentuk ketulusan Jiao Jiao, bagaimana bisa yang dibeli oleh pelayan sama dengan apa yang dibeli oleh Jiao Jiao? Benar-benar pikiran dangkal!” Sangat jarang Shen Miao bisa begitu dekat dengan mereka jadi Shen Xin merasa sangat senang sekali, hingga bahkan jika Shen Miao membawa pulang dua guci air sekalipun, dia akan tetap bahagia seperti di Surga, jadi tentu saja dia akan menyangkal kata-kata Luo XueYan.

“Pikiran dangkal?” Luo XueYan menyipitkan mata padanya.

Furen tidak boleh marah,” Shen Xin segera berkata, “Maksudku anak nakal ini yang berpikiran pendek.” Shen Xin memukul kepala Shen Qiu.

Luo XueYan tidak mau terganggu oleh tingkah laku ayah dan anak itu dan berkata kepada Shen Miao, “Jiao Jiao, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kami diskusikan denganmu di sini.”

“Ibu, silakan katakan.”

“Kau sudah mendengar tentang masalah perpisahan dari keluarga. Aku pikir setelah beberapa hari perpisahannya akan dilakukan, jadi Ayahmu dan aku sudah memikirkan ini dengan masak-masak dan akan membeli sebuah rumah. Aku sudah melihat satu rumah di bagian sisi timur kota, yang tidak terlalu buruk dan hanya butuh membeli beberapa pelayan untuk membersihkannya. Hanya saja…” Luo Xue Yan melihat kepada Shen Miao dan berkata dengan susah payah, “Sebelumnya ketika Ayahmu dan aku pergi ke daerah Barat laut dan meninggalkanmu, aku merasa bahwa dengan perlindungan dari keluarga Shen kau akan menjadi lebih aman dan stabil. Sekarang dengan adanya perpisahan dalam keluarga, jika Ayahmu, kakakmu dan aku pergi, kau gadis muda tidak akan aman ditinggalkan sendiri di seluruh kediaman ini, dan aku juga khawatir dengan apa yang akan orang lain katakan. Jadi… Jiao Jiao, apa kau bersedia pergi ke daerah Barat laut dengan ibu?”

Shen Miao sedikit terkejut.

Meimei, daerah Barat laut sangat menyenangkan.” Shen Qiu melihat wajah tak berdaya Shen Miao dan segera berkata, “Tidak seberlebihan seperti yang mereka katakan. Di Kota Xiao Chun, di sana ada pegunungan di satu sisi dan sungai di sisi yang lain. Di sana juga ada burung-burung langka dan hewan-hewan jadi ketika tiba masa berburu, aku bisa berburu harimau putih untuk membuat mantel untukmu.”

“Omong kosong!” Luo XueYan tersenyum saat dia mengomel, “Adikmu adalah seorang perempuan, untuk apa dia ingin kulit harimau putih?”

Shen Qiu menggaruk kepalanya, “Di sana juga ada tambang dan batu-batu permatanya sangat besar. Meimeiuga bisa mendapatkan perhiasan.”

Shen Miao tersenyum samar. Ia tadinya masih memiliki beberapa keraguan karena masih ada beberapa hal yang harus ia lakukan di Ibukota Ding tapi mendengar kata-kata Shen Qiu, ia memiliki sedikit harapan pada Kota Xiao Chun di daerah Barat laut. Siapa yang tidak ingin menikmati hidup dengan bebas dan siapa yang rela berniat jahat kepada orang lain setiap hari ketika setiap kali membuka mata? Ia mendesah dalam hatinya. Pergi saja bersama mereka kalau begitu, selama ia pergi ke sana sekali, bukan masalah jika ia tidak pergi di masa depan.

“Baiklah.” Dalam tatapan penuh harap semua orang, Shen Miao menganggukkan kepalanya, “Aku juga ingin pergi ke sana dan meningkatkan pengetahuanku.”

Luo XueYan menjadi lega saat Shen Xin tertawa dengan keras, “Sudah kukatakan bahwa Jiao Jiao pasti akan setuju! Setelah kembali sekian lama, kapan Jiao Jiao pernah meninggalkan kita!”

Meimei, meimei.” Shen Qiu juga merasa senang, “Pada saat itu aku akan membawamu bertemu dengan saudara-saudaraku. Mereka semua tahu bahwa aku mamiliki seorang meimei tapi tidak pernah bertemu denganmu. Dan juga ada keluarga Kakek. Kau belum pernah melihat mereka sejak kau lahir, jadi kau tidak akan bisa mengenali mereka.”

Keluarga Luo XueYan bertempat tinggal di daerah Barat laut sebagai jenderal dan hanya kembali ketika Shen Miao lahir. Setelah itu dikarenakan jarak ribuan Li (mil) yang memisahkan, ia belum pernah bertemu dengan mereka. Mata Shen Miao tertunduk ke bawah, dalam kehidupannya dulu setelah Luo XueYan meninggal, keluarga Luo memutuskan hubungan dengan keluarga Shen dan karena Shen Miao pada dasarnya tidak memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga dari ibunya, ia tidak begitu ingat dengan jelas bagaimana akhir bagi keluarga Luo. Namun memikirkan cara jahat Nyonya Mei, ia akan melakukan segala cara untuk memastikan Fu XiuYi tidak akan pernah membiarkan keluarga Luo selamat.

Setelah berbincang-bincang beberapa kata hingga larut malam, Luo Xue Yan lalu mengirim Shen Miao kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Setelah Shen Miao bersih-bersih diri dan duduk di depan meja, ia melihat pada api yang melompat-lompat dan tak tahan untuk mendesah. Jika ia benar-benar harus mengikuti Shen Xin dan yang lainnya pergi ke daerah Barat laut, ia harus mengatur segalanya dengan baik dalam waktu setengah tahun ini.

Jika ada satu hal yang menyenangkan hari ini, maka itu adalah mengenai masalah Pei Lang.

Ia selalu mengerti dengan jelas bahwa keluarga Shen adalah sebuah pohon besar yang menarik hembusan angin, jadi bukan hal yang bagus untuk terlibat dalam masalah di pemerintahan, dan terlabih lagi ia hanyalah seorang anak perempuan yang belum menikah dan biasanya tidak akan memiliki kesempatan untuk berhubungan dengan masalah yang lebih dalam. Sekarang setelah begitu banyaknya masalah yang telah berubah di kehidupan ini, ia hanya bisa membiarkan Pei Lang menjadi informannya. Fu XiuYi memiliki sifat mudah curiga dan akan sering mencari tahu lebih banyak hal daripada yang dikirimkan ke pangkuannya dan mau tidak mau dia akan mengetahuinya. Tapi setelah setahun, Fu XiuYi akan mengambil inisiatif untuk merekrut Pei Lang dan Pei Lang akan dapat mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan dari situasi*, membuat masalah menjadi lebih mudah.

(*Idiom Cina : mendorong perahu dengan memanfaatkan arus)

Mengenai menundukkan Pei Lang, bagian yang paling berperan besar dalam melakukannya adalah karena keberuntungan kecil. Tahun itu ketika Fu XiuYi menundukkan Pei Lang, itu dikarenakan oleh anak buahnya, Penasihat Zeng berteman dengan kediaman Hakim Prefektur Pei, dan dengan itulah dia mengikuti petunjuk dan mengetahui latar belakang Pei Lang. Pada saat itu karena Fu XiuYi mampu membantu menstabilkan Liu Ying, lalu Pei Lang akhirnya bekerja untuknya.

Saudara-saudara dalam keluarga Pei adalah orang-orang yang tidak terbawa oleh taktik halus maupun keras, dan mereka memiliki pemikiran yang kuat. Seperti contohnya Liu Ying, ketika dia jatuh ke dalam kemalangan dalam kehidupannya, tidak ada jejak ataupun bayangan yang menunjukkan bahwa dia adalah putri seorang pejabat karena dia sudah bertekad ketika dijadikan pelacur, mungkin itu karena karena rasa sakit yang dia rasakan saat mengingat identitas aslinya. Dan Pei Lang, dia tidak menyebutkan tentang balas dendam dan fokus menjadi seorang guru.

Liu Ying tidak bersedia mengakui identitasnya, dan juga merasa berduka dengan keluarga Pei yang meninggalkannya untuk melindungi adik laki-lakinya, jadi ketika Pei Lang muncul, Liu Ying akan semakin menolak bahkan lebih kasar. Namun Shen Miao memberikan Liu Ying cara hidup yang lebih jinak. Ketika sekali seseorang berhasil mengatasi Liu Ying, maka orang itu akan mampu mengendalikan perasaan bersalah Pei Lang.

Setelah beberapa tahun, Pei Lang akan menjadi lebih dewasa karena latihan yang berat dan kerja keras di pemerintahan, dan hanya bisa merasa bahwa di sana ada begitu banyak celah ketika mengingat kata-kata Shen Miao hari ini. Namun Pei Lang yang sekarang ini masih belum masuk ke dalam lingkaran pemerintahan dan tak peduli sepintar apapun dia, dia masih kurang pengalaman.

“Nona Muda, lebih baik istirahat lebih awal.” Jing Zhe tersenyum, “Saya masih harus menemani furen untuk melihat-lihat kediaman di bagian kota sebelah Timur.”

Shen Miao menganggukkan kepalanya. Dalam waktu setengah tahun ini, setidaknya keluarga bisa dipisahkan dan sekarang membutuhkan tempat tinggal lain.

Namun ia tidak menyangka bahwa rencananya tidak mampu mempertahankan perubahan pada akhirnya.

Di pagi hari kedua setelah Shen Miao selesai makan, pelayan pribadi Luo Xue Yan datang, dan menyebutkan untuk melihat kediamannya setelah Shen Miao berganti pakaian. Karena itu adalah kediaman yang akan ia tempati nantinya, keputusan baru akan dibuat setelah melihat apakah tempat itu nyaman atau tidak.

Namun sebelum Shen Miao selesai berdandan, seseorang dari Istana datang. Luo XuYan harus melakukan perjalanan ke Istana dan pelayan Istana juga menyebutkan bahwa jika memungkinkan, untuk mengajak serta Shen Miao.

Meskipun disampaikan seperti itu, tapi bisa dikatakan itu adalah sebuah perintah. Wajah Shen Xin dan Shen Qiu langsung menggelap dan Luo XueYan merasa agak bingung. Meskipun ia adalah seoerang wanita bangsawan di ibukota tapi ia tidak sering berada di ibukota Ding, dan tidak akrab dengan para furen di lingkaran kebangsawanan dan orang yang datang mengatakan bahwa dia diutus oleh salah satu Tuan Putri di Istana, yang bahkan menjadi sangat konyol.

Di pikir-pikir sana sini, Luo XueYan sama sekali tidak memiliki hubungan dengan para wanita di Istana.

Shen Xin dan Shen Qiu berpikir lebih jauh. Luo XueYan tidak memilik teman dengan para wanita tapi ada pemintaan untuk membawa serta Shen Miao. Ada maksud yang tersembunyi* jadi mungkinkah ada seseorang yang memiliki tujuan terhadap Shen Miao. Sekali masalahnya melibatkan Shen Miao, mereka akan menjadi sangat cemas. Shen Xin berkata, “Lebih baik aku juga menemani furen dalam perjalanan ke Istana ini.”

(*Idiom Cina: Anggur sang kekasih tidak berada dalam cangkir)

“Untuk apa kau pergi ke sana?” Lou XueYan berkata, “Tidak ada undangan agar kau pergi, apa kau akan membuat kekacauan? Aku yang akan membawa Jiao Jiao kesana.” Ia meragu sesaat, “Masalahnya tidak akan melampaui batas kepantasan karena di sana ada banyak orang. Selain itu aku bukanlah wanita yang tidak punya kekuatan untuk menangkap ayam, jika…” Ia ingin mengatakan bahwa jika terjadi sesuatu yang salah dan diperlukan tindakan, ia tidak akan selalu dirugikan.

Shen Xin menganggukkan kepalanya, “Dipikir-pikr lagi, situasi saat ini tidak semengkhawatirkan itu. Kau pergilah tidak perlu khawatir.”

Luo XueYan menggandeng tangan Shen Miao dan masuk ke dalam kereta kuda yang telah dipersiapkan oleh Istana. Tadinya rencananya mereka ingin melihat-lihat rumah sejak pagi tapi karena masalah ini, tidak ada yang tahu apakah ini sebuah berkah ataukah kutukan.

Shen Qiu dan Shen Xin tetap berada di pintu kediaman saat meraka melihat kereta kuda pergi semakin jauh. Shen Qiu bertanya tak tenang, “Ayah, Ibu dan Adik akan baik-baik saja, kan?”

“Aku akan pergi ke Kementerian Perang.” Shen Xin berbalik, “Kau tetaplah di kediaman untuk memberikan bantuan jika ada sesuatu yang terjadi.”

Shen Qiu menganggukkan kepalanya.

Di dalam kereta kuda, wajah kecil Shen Miao menegang kencang tapi hatinya tetap mengeluarkan berbagai macam spekulasi.

Ia tidak merasa bahwa ia sedang berada dalam bahaya. Baru-baru ini tidak ada rencana jahat yang melawannya, dan selain itu ia tahu lebih banyak daripada orang lain tentang para Putri di Istana. Jika ada taktik apapun maka itu tidak akan terjadi hari ini. Keluarga kerajaan lebih peduli dengan apa yang terlihat dari luar, dan karena itulah jika terjadi sesuatu padanya di Istana, keluargta kerajaan akan menjadi yang pertama yang terlibat.

Jika ia berspekulasi yang sebaliknya… pandangan Shen Miao menjadi semakin berat. Para wanita di Istana tidak berafiliasi dengan Luo XueYan tapi memanggil Luo XueYan ke Istana untuk berbincang-bincang, mungkin untuk bertanya beberapa hal kepada Luo XueYan dan ada maksud tersembunyi. Jadi apakah itu pada keluarga Shen? Ataukah Shen Xin?

Namun kenapa tiba-tiba menaruh perhatian kepada Shen Xin? Shen Xin tidak pernah  menonjolkan diri di ibukota sejauh ini dan tidak berhubungan dengan Fu XiuYi seperti di kehidupannya dulu. Bahkan jika keluarga kerajaan memilik tujuan untuk menekan keluarga Shen, mereka harus memiliki alasan yang cukup untuk melakukannya. Mungkinkah… ‘alasan’ itu sudah ada?

Shen Miao merasa sedikit bingung. Membiarkan Luo XueYan membawanya ke Istana, seharusnya itu menjadi sebuah peringatakan karena jika sampai terjadi sesautu, maka Shen Miao tidak akan terlindungi… Semakin Shen Miao memikirkannya, semakin ia merasa itu mungkin saja dan ia menjadi gugup. Ada begitu banyak hal di kehidupan ini yang berbeda, terutama permainan besar Ming Qi, ia telah berusaha keras untuk menghindarinya dan menunda tragedi keluarga Shen, tapi tetap saja ia tidak bisa menghindari takdir. Kali ini apa lagi alasannya?

Ketia Luo XueYan melihat rona muka Shen Miao terlihat tidak bai, ia mengira bahwa Shen Miao merasa takut dan berkata, “Jiao Jiao tidak perlu takut. Ini hanya masuk ke dalam Istana untuk berbincang-bincang dengan para Putri. Ini akan segera selesai, dan saat itu lalu kita bisa pergi dan melihat-lihat rumah.”

Shen Miao tersenyum lembut tapi pikirannya disibukkan dengan hal yang lain.

KPKM: Chapter 110 (Part 2): Menundukkan Pei Lang
KPKM: Chapter 111 (Part 2): Bertemu kembali di Istana

Leave a Reply

Your email address will not be published.