KCYM 66 – Perjuangan Terakhir

Featured Image

Yuan Ruanruan memberikan dua tiket pameran lukisan untuk Zhou Xiao. Dikatakan bahwa mantan pacarnya yang karya seninya lebih abstrak dari lukisan Picasso itu membuka pameran lukisannya. Takut tidak ada orang yang pergi melihatnya, dia memberikan satu tiket kepada setiap orang yang dikenalnya. Yuan Ruanruan memberikan dua tiket kepada Zhou Xiao, membiarkan dia dan Zhao Fanzhou untuk datang melihat pameran lukisan.

Ketika Zhou Xiao sampai di rumah, dia berkata pada Zhao Fanzhou. Zhao Fanzhou mengatakan bahwa dia bersedia untuk menemaninya melakukan hal yang membosankan sekali-kali. Jadi, pada Sabtu siang, keduanya pergi ke pameran setelah makan siang. Wow, begitu sepi ternyata, di dalam pameran itu totalnya ada tiga orang, Zhou Xiao, Zhao Fanzhou dan satpam.

“Aku merasa seakan kita sedang menyewa sebuah galeri lukisan,” kata Zhou Xiao kepada Zhao Fanzhou begitu mereka memasuki pintu. 

“Siapa yang tidak ada kerjaan dan berniat untuk menyewa sebuah galeri?” Zhao Fanzhou menjawab dengan santai.

“Benar juga. Kuberitahu, bocah ini adalah mantan pacar Yuan Ruanruan. Sepertinya dia pernah membantu Yuan Ruanruan menggambar lukisan telanjang. Entah lukisan itu akan dipamerkan atau tidak,” Zhou Xiao berbisik dengan misterius.

“Kedengarannya sangat menarik, tetapi sepertinya tidak dipamerkan,” katanya. 

“Dasar mesum, bagaimana kamu tahu tidak dipamerkan?” Zhou Xiao bertanya dengan penasaran.

“Kalau ada pameran lukisan telanjang, masa pengunjungnya begitu sedikit.” Zhao Fanzhou mendorong kepalanya. “Seandainya memang dipamerkan, memangnya kamu kira Yuan Ruanruan akan memberikan tiket untuk kita melihat lukisan telanjangnya?”

“Kata siapa, di pameran lukisan waktu kita kuliah juga ada lukisan wanita telanjang, pengunjungnya juga sedikit. Tetapi, kalimat terakhirmu cukup masuk akal.” Zhou Xiao mengangguk. “Kamu memang cukup pintar.”

Kedua orang itu berjalan di sekitar pemeran, terkadang berhenti sebentar untuk melakukan percakapan yang membosankan, contohnya, “ini gambar anjing atau kucing” “kenapa orang ini tidak punya mata” “persik ini terlihat tidak segar” dan sebagainya.

Zhou Xiao berhenti lebih dari satu menit di sebuah lukisan, entah kenapa dia tidak berhasil mempelajarinya. Akhirnya, dia tidak bisa menahan diri untuk menarik orang di sampingnya dan berkata, “Menurutmu, apakah lukisan ini digantung terbalik?”

Orang di sebelahnya tidak berbicara cukup lama, Zhou Xiao menoleh dan menatapnya, dia terkejut. Wajahnya memerah, segera menarik kembali tangannya dan terus meminta maaf, “Maaf, maafkan aku.”

“Tidak masalah.” kata orang itu sambil tersenyum, kemudian dia menambahkan, “Ini tidak digantung terbalik.”

Wajah Zhou Xiao semakin memerah, setelah tertawa dia berkata, “Tidak, aku cuma bercanda.”

Zhao Fanzhou yang baru saja pergi sebentar untuk menerima telepon, kembali dan melihat Zhou Xiao sedang berbicara dan tertawa dengan seorang lelaki tak dikenal. Apakah itu pelukisnya? Dia menyimpan ponselnya dan berjalan ke arahnya.

“Zhou Xiao, ini adalah?” Zhao Fanzhou berjalan ke samping Zhou Xiao dan bertanya.

“Ah? Kamu kemana? Aku juga….” Dia terkejut dengan kemunculan Zhao Fanzhou yang tiba-tiba, “…. tidak tahu.”

“Apa kabar.” Lelaki asing itu mengulurkan tangan, “Zhou Tianning, penanggung jawab galeri.”

“Apa kabar, Zhao Fanzhou.” Zhao Fanzhou menjabat tangan itu.

Zhou Tianning mengulurkan tangan kepada Zhou Xiao, “Dan Nona ini?”

“Zhou Xiao.” Dia juga mengulurkan tangan dan menjabat tangannya. “Kalau begitu kita termasuk satu keluarga ya.” katanya sambil tersenyum.

“Ah?” Zhou Xiao menatapnya dengan tidak mengerti. 

“Sama-sama bermarga Zhou.”

“Oh, benar juga. Hehe.” Zhou Xiao harus bertanggung jawab memainkan peran, jadi dia tersenyum bodoh.

“Bagaimana pendapat Nona Zhou tentang pameran kali ini? Aku sangat membutuhkan pendapat kalian.” tanya Zhou Tianning.

“Masih…” sebenarnya dia ingin mengatakan masih lumayan, tetapi setelah melihat sekeliling, dia merasa tidak bisa menyembunyikan hal ini di dalam hatinya, “…kelihatannya benar-benar sepi.”

“Haha, kamu lucu sekali,” lelaki itu tertawa.

Zhao Fanzhou yang dianggurkan di sebelah mereka untuk waktu yang lama, merasa tidak senang. Dia mendekati Zhou Xiao, meletakkan tangannya di pinggangnya dan berbisik di telinganya, “Kamu mau menggoda pria lain?”

Zhou Xiao menatapnya dengan polos, mana ada?

Zhao Fanzhou tersenyum dan berkata pada Zhou Tianning, “Kami ada urusan dan harus pergi dulu, senang berkenalan denganmu.”

“Sedang berkenalan dengan kalian.” Zhou Tianning berkata sambil tersenyum, matanya kemudian menatap Zhou Xiao, “Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.” Zhou Xiao membalas sambil tersenyum manis.

Zhao Fanzhou menyeret Zhou Xiao keluar dari galeri lukisan. Hati Zhou Xiao penuh dengan sukacita, sudah berapa lama dia tidak melihat wajah cemburu seseorang?

“Mau kemana?” Zhou Xiao mengguncangkan tangannya yang digandeng oleh Zhao Fanzhou.

“Pulang.” katanya.

“Pulang? Kenapa? Masih ada begitu banyak lukisan yang belum aku lihat.” Dia mengeluh dengan sengaja.

“Memangnya kamu bisa memahaminya,” Dia mendengus dan tiba-tiba teringat sesuatu, “Beberapa hari lalu, Mamamu bertanya kapan kita akan menikah.”

“Oh,” Zhou Xiao menatap ke langit dan mendesaknya, “Ayo jalan, aku tiba-tiba ingin pulang untuk menonton drama Korea.”

“Jangan mengalihkan topik pembicaraan.” Zhao Fanzhou menariknya, “Bagaimana menurutmu tentang pernikahan?”

“Ah, kita bicarakan nanti saja. Kamu masih begitu muda, aku tidak ingin membuatmu terikat. Nanti kalau kamu menyesal bagaimana?” Zhou Xiao memasang wajah sangat baik hati.

“Kita bahkan sudah tinggal bersama, apa yang kamu takutkan?” Zhao Fanzhou berubah muram, “apakah menikah denganku begitu menyulitkanmu?”

“Bukan begitu, aku hanya merasa belum siap saja.” Zhou Xiao memeluk lengannya, berkata dengan nada membujuk.

“Apalagi yang harus kamu persiapkan? Kita sudah tinggal bersama.” Dia melepaskan tangannya, nada bicaranya agak sengit, “bukankah semua hal sudah cukup stabil sekarang, kenapa tidak bisa menikah? Masih mau ditunda sampai kapan?”

“Kenapa kamu begitu galak? Kenapa kalau kita tinggal bersama? Memangnya kalau tinggal bersama aku harus menikah denganmu? Kamu saja belum melamarku.” Zhou Xiao berjalan terlebih dahulu setelah selesai mengatakannya, terserah mau ikut atau tidak, menyebalkan!

Zhou Xiao berjalan cukup jauh, menyadari bahwa tidak ada langkah kaki yang mengikutinya dari belakang. Bagus, sekarang sudah mulai keras kepala ya? Dia mempercepat langkahnya dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, melihat Zhao Fanzhou sudah duduk di ruang tamu dan menonton TV. Dia sangat marah! Rasanya ingin menghancurkan tubuhnya untuk dibuat pai labu.

Zhao Fanzhou hanya mendongak dan menatapnya dengan dingin, kemudian melanjutkan nonton TV.


Zhou Xiao dan Zhao Fanzhou secara resmi memasuki era perang dingin, keduanya bahkan mampu menghabiskan waktu seharian tanpa saling berbicara sepatah kata pun. Zhou Xiao menyerah untuk duduk di dalam Bus selama tiga hari untuk pergi bekerja. Pada malam hari, dia hanya memasak untuk dirinya sendiri. Dia juga mengepel kamarnya sendiri dan mencuci pakaiannya sendiri.

Dulunya mereka juga pernah bertengkar, tetapi biasanya tidak akan bertahan lama karena salah satu pihak akan mengajak berdamai. Seringkali yang mengajak damai adalah Zhao Fanzhou. Tapi kali ini sepertinya dia sudah menyerah, bahkan tidak sama sekali ada tanda-tanda akan melunak.

Sebenarnya sejak awal kemarahan Zhou Xiao sudah menguap, tetapi dia juga kesal melihat wajah Zhao Fanzhou yang seperti orang mau mati. Kalau memang mau menikah, kan tinggal melamar saja. Mana ada orang yang mau menikah tapi seakan mencari keuntungan sendiri seperti ini?

Pada hari ke-4 perang dingin, Zhou Xiao pulang kerja. Belum sempat membuka pintu, sudah terdengar suara orang dari dalam rumah, masih ada aroma makanan yang menggugah selera. Dia membuka pintu dan masuk, terkejut oleh Papanya dan Adiknya yang sedang duduk di sofa. Apa yang sedang terjadi?

“Papa, kenapa kalian ada disini?” Zhou Xiao sampai lupa mengganti sepatunya.

“Fanzhou meminta kami untuk main ke sini.” Papa membalik koran di tangannya, “ganti dulu sepatumu.”

“Oh.” Zhou Xiao bergegas mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Zhou Xiao sudah pulang?” Zhao mama keluar dari dapur, “Mamamu sedang memasak sup ayam kesukaanmu.”

“Bibi, apa kabar.” Zhou Xiao merasakan kecurigaan dalam perutnya, apakah sedang ada acara keluarga?

Zhou Xiao berjalan ke dapur, ketika dia berjalan sampai setengah perjalanan, Zhao Fanzhou membuka pintu dan membawa banyak barang di tangannya. Pada saat ini, Zhou Xiao sudah lupa bahwa mereka sedang perang dingin. Dia menariknya ke samping dan bertanya, “Ada apa ini? Kenapa semua orang ada di sini?”

“Aku meminta mereka untuk berkunjung kemari.” Dia meletakkan barang-barang di tangannya, “memangnya tidak boleh?”

“Boleh.” Zhou Xiao sedikit marah, “Lagipula kamu juga tidak menghargai aku.”

“Papa dan Mama sudah datang, kamu jangan marah lagi.” Setelah mengatakannya, dia kembali mengambil kembali barang-barang di lantai itu dan berjalan ke dapur.

Kenapa jadi dia yang marah? Sebenarnya siapa yang sedang marah?

Ketika sedang makan, hidangan di atas meja adalah kesukaan Zhou Xiao. Zhao Fanzhou dengan murah hati menambahkan sayur untuknya. Semua orang tersenyum, tetapi Zhou Xiao mencium aroma konspirasi.

Benar saja, ketika tidak lama acara makan dimulai, Mamanya tiba-tiba angkat bicara, “Bagaimana persiapan pernikahan kalian? Beberapa etika pernikahan kuno dan tradisi, anak muda memang kurang mengerti. Kalau bisa berhemat, lebih baik uangnya dihemat saja. Kalau ada waktu, pergilah meregistrasikan pernikahan dulu. Tinggal bersama tanpa status juga tidak baik.”

“Benar, Fanzhou memang anak bodoh, bagaimana bisa dia merugikan Zhou Xiao seperti ini?” Zhao Mama juga ikut angkat bicara. Zhou Xiao sebenarnya masih ingin menggigit sumpit untuk menonton pertunjukan. Ketika mendengar ini, dia segera menjelaskan, “Kita tidur di kamar yang terpisah kok.”

Mata ketiga orang tua itu menatap Zhao Fanzhou, mata mereka penuh dengan tatapan khawatir. Apakah anak ini punya penyakit sulit untuk mengatakan masalah hatinya?

Zhao Fanzhou berdiri, berkata dengan serius kepada Zhou Papa dan Zhou Mama, “Paman, Bibi, aku berharap kalian dapat merestui pernikahanku dengan Zhou Xiao. Aku pasti akan menyayanginya, mencintainya, menggunakan seumur hidupku untuk memberikan kebahagiaan untuknya.”

Zhou Xiao meliriknya, uh bocah kecil, kata-kata yang begitu membuat orang terharu pun mampu kau katakan!

“Aku lega setelah mendengar kata-katamu ini. Setelah pulang, kami akan mencari hari baik untuk menyiapkan hal ini.” kata Zhou Mama setelah beradu pandang dengan Zhou Papa.

“Bagus sekali, kalau begitu kedepannya kita akan berbesan.” Zhao Mama menggandeng tangan Zhou Mama.

“Mama…” Zhou Xiao ingin menentang.

“Zhou Xiao.” Zhao Fanzhou tiba-tiba berlutut dengan satu lututnya, tangannya memegang sebuah kotak cincin berwarna merah, “Maukah kamu menikah denganku?” kata-kata Zhou Xiao seakan tersangkut di tenggorokannya, dia tidak harus bagaimana merespons.

Pada saat itu, Zhou Mama segera berlari dan menarik Zhao Fanzhou agar berdiri, “Anak bodoh, kami tidak setuju dengan cara seperti ini, tidak pantas.”

Zhao Fanzhou tersenyum dan berkata, “Tidak masalah, Bibi. Ini adalah ketulusanku.”

Dia kembali berlutut dan satu tangannya memegang tangan Zhou Xiao, “Di depan semua orang yang paling penting dalam hidupku, aku akan menyerahkan seluruh hidupku kepadamu, apakah kamu menginginkannya?”

Air mata Zhou Xiao sudah mulai mengalir deras, dia meraih pundak Zhao Fanzhou dengan kedua tangannya dan menariknya untuk berdiri, “Kamu bangun dulu.”

“Tidak mau, kamu jawab dulu.” Matanya juga agak sedikit lembab.

Zhou Xiao menggosok matanya, mengulurkan tangannya ke hadapan Zhao Fanzhou yang dibalas oleh tatapan bodoh Zhao Fanzhou, “Kenapa?”

“Dasar idiot, bantu aku pakai cincinnya.” Zhou Xiao menghentakkan kakinya.

Dia tiba-tiba menyadarinya, “Tapi cincin kawin harus dipakai di sebelah kiri.” Zhou Xiao dengan malu menarik tangan kanannya dan menggantinya dengan tangan kiri.

Cincin di tangan Zhao Fanzhou perlahan bersarang di jari manis kirinya. Ketika cincin itu sudah terpasang di sana, kedua orang itu hanya saling memandang tanpa mengatakan apa-apa.


Langkah selanjutnya adalah persiapan pernikahan yang menjengkelkan. Zhou Xiao mulai ragu bahwa segala sesuatu tentang pernikahan yang dia sempat dengar pada saat itu hanyalah ilusi. Tidak tahu kehebohan yang muncul darimana, hari pernikahannya dengan Zhao Fanzhou sempat berganti beberapa kali dikarenakan ramalan antara hari dan jam lahir mereka yang tidak sesuai. Kemudian masih ada hal lainnya seperti pertunangan, seserahan, dan undangan pernikahan. Zhao Fanzhou yang awalnya berkata bahwa dia sangat menghormati keputusan pihak wanita dan akan mengikuti seluruh aturan yang diwajibkan, sekarang mulai terlihat kewalahan. Zhou Xiao bahkan tidak tega melihatnya.

Akhirnya sampailah pada hari pernikahan, Zhou Xiao sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Zhao Fanzhou. Dia diusir untuk tinggal di Hotel untuk beberapa hari. Katanya, pengantin pria dan pengantin wanita tidak boleh bertemu sebelum menikah.

Pagi-pagi buta, Zhou Xiao dibangunkan dari tempat tidur oleh mamanya, kemudian tukang rias yang datang entah darimana, mulai membantunya merias wajah dan menata gaya rambutnya.

Dia disulap menjadi sebuah boneka. Pertama-tama dia berlutut untuk menyajikan teh kepada orang tuanya, kemudian dia berpamitan untuk pergi. Dia berjalan di tengah suara petasan yang sangat berisik dan diminta untuk masuk ke sebuah mobil yang berada di deretan pertama di depan rumahnya. Setelah dia masuk ke dalam mobil, dia baru sadar bahwa Papanya juga berada di dalam mobil. Dia tersenyum dan menyapa Papanya, tiba-tiba mata Papanya memerah dan menoleh untuk melihat ke luar jendela. Zhou Xiao tertegun, melihat keluar mobil, Mamanya sedang membawa sebaskom air dan menyiramkan air itu ke mobil. Mamanya menggumamkan sesuatu, “Air membasahi mobil, pengantin menjadi seorang yang baru…*” Zhou Xiao melihat kilatan air mata di mata Mamanya, hatinya terasa sedih, tiba-tiba air matanya mengalir bagaikan tanggul yang jebol.

*(T/N: Ungkapan untuk pengantin wanita agar memulai hidup baru dan cepat mendapatkan momongan)

Mobil itu perlahan-lahan meninggalkan hotel, melihat tetesan air di kaca jendela, tubuh Papanya yang menegang di sebelahnya dan bayangan Mamanya yang semakin lama semakin jauh. Zhou Xiao menangis tanpa suara. Setelah disiksa seharian, akhirnya Zhao Fanzhou sudah bisa melihat pengantinnya yang bermata merah. Hanya saja, tampaknya suasana hati pengantinnya ini tidak begitu sesuai dengan keinginannya.


Ini adalah chapter yang membuatku sangat baper dan malemnya langsung kebawa mimpi.
Soalnya aku pas nikah juga ga pake dilamar kayak gini sama mantan pacar yang sudah jadi suami itu #Upsss

Yah, besok KCYM udah habis, tapi masih ada side story mungkin sekitar 4-6. Aku lagi persiapkan proyek baru, keep stay tuned yaa~ 🙂

KCYM 65 - Kejadian Ketika Tinggal Bersama
KCYM 67 - Akhir Bahagia [END]

Leave a Reply

Your email address will not be published.