IBKP 75 [3]. Tertawalah Terus dan Aku Akan Menggigitmu

Featured Image

“Jangan khawatir. Pakailah pakaian mu terlebih dahulu. Aku akan menunggu mu di luar.” Qin Jiran ingin pergi dan melarikan diri dari tempat ini. Dia belum berjalan beberapa langkah ketika Su Yanyi memanggilnya.

“Jangan pergi dulu. Bantu aku mengeringkan rambut ku.” Su Yanyi tidak terlalu suka menggunakan pengering rambut. Setiap kali, dia menggunakan handuk untuk mengeringkan tetapi selalu berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri. Sejak Qin Jiran membantunya mengeringkannya, Su Yanyi semakin tidak suka melakukan ini. Siapa yang menyuruh pria ini melakukannya dengan lembut, sampai-sampai dia menyukai sentuhannya. Setiap kali dia menyeka rambutnya, dia ingin pria ini membantu.

Qin Jiran mengambil handuk itu, sedikit kaku. Dia tidak berani melihat ke sembarang tempat. Dalam hatinya, dia menghela nafas sedikit. Haruskah dia bersyukur bahwa Yanyi tidak mengangkat kewas-wasannya terhadap dia atau mengeluh tentang bagaimana dia mengabaikannya? Apakah Yanyi tidak pernah memikirkan betapa menawannya dia?

Yanyi berjalan hanya dengan handuk dan bahkan tidak membiarkannya pergi. Yang lebih parah adalah Yanyi tidak membiarkannya melakukan apa pun. Ini adalah diskriminasi terhadapnya.

Qin Jiran benar-benar ingin mengatakan dengan suara keras kepada Su Yanyi bahwa dia adalah seorang pria! Jangan bertindak seolah dia tidak ada!

Meskipun Qin Jiran memikirkan hal ini di dalam hatinya, dia masih menyeka rambutnya dengan lembut. Dia sedikit tidak puas, berpikir Yanyi akan keluar latihan pagi nanti sementara rambutnya masih basah.

“Gunakan pengering rambut untuk mengeringkannya. Aku tidak bisa mengeringkannya dengan handuk. Akan buruk ketika kau keluar dalam cuaca dingin.” Di luar dingin dan jika rambut tidak kering, dia akan sakit kepala.

Su Yanyi tidak suka melakukan itu tetapi dia mengerti sudut pandangnya. Dia setuju: “Keringkan untukku.”

“Ok.” Bagaimana mungkin Jiran menolak? Dia menemukan pengering rambut dan mulai mengeringkan rambutnya. Rambut Su Yanyi sangat lembut, hitam, cantik dan tidak beraneka warna. Tanpa handuk, Qin Jiran bisa langsung menyentuh rambut Su Yanyi. Perasaan lembut itu membuatnya merindukan lebih.

Oh, dia benar-benar menemukan pekerjaan yang bagus! Qin Jiran berpikir, puas.

Sudah lebih larut dari waktu biasanya Qin Jiran keluar untuk latihan pagi ketika keduanya selesai berpakaian. Tapi siapa yang peduli tentang waktu saat mereka bersama?

“Berhenti menghindar dan mulai menyerang. Apakah kau pikir kau perlu membiarkan aku menang?” Dengan latihan pagi, mereka tentunya melatih bela diri mereka. Namun, Su Yanyi adalah seseorang yang menolak mengakui kekalahan dan sangat suka bersaing. Jelas, dia tidak suka ketika seseorang membiarkannya menang. Qin Jiran menerima serangan dan menolak untuk menyerang. Berlatih sebentar, Su Yanyi tidak puas dengan hasil ini.

Qin Jiran menghela nafas. Bagaimana dia bisa benar-benar memukul Su Yanyi? Oleh karena itu, ia menerima pukulan. Siapa yang sangka dia bahkan tidak ingin Jiran hanya menerima pukulan?

“Kalau begitu hati-hati.” Karena Ratu tidak bahagia, Qin Jiran tentunya harus berusaha lebih keras. Dia sangat menantikan untuk bisa pergi bersama di pagi hari. Dia tidak ingin dipandang rendah oleh Yanyi karena penampilannya. Jika Yanyi akhirnya tidak ikut bersamanya lagi, dia akan sangat kesal!

Ketika keduanya bertarung sekali lagi, gerakan Qin Jiran, seperti yang diharapkan, menjadi lebih sengit. Dibandingkan dengan gerakan Su Yanyi yang kejam dan penuh kekerasan, mereka berdua bagus dalam beberapa aspek.

Namun, Su Yanyi lebih baik dalam kelincahan dan gerakan cerdiknya. Di sisi lain, Qin Jiran lebih baik dalam kekuatan dan staminanya. Tentu saja, kelemahan terbesar Qin Jian adalah dia tidak tega bersikap keras terhadap Yanyi. Meskipun dia serius, dia masih menerima pukulan. Su Yanyi dengan cepat menghindari pukulan Qin Jiran dengan membalik. Dari belakang, Yanyi memegang lehernya dalam lengan. Qin Jiran tidak punya pilihan selain berhenti ketika Yanyi menambahkan tekanan padanya.

“Aku menyerah.” Gaya bertarung Su Yanyi jauh lebih baik daripada gayanya. Ditambah lagi, gerakannya mengungkapkan keinginan untuk membunuh. Meskipun Jiran telah membiarkannya menang sedikit, dia tidak kalah secara tidak adil. Dia yakin dengan hati dan perkelahian. Yanyi-nya, seperti yang diharapkan, selalu yang terbaik. Yanyi pandai dalam segala hal, membuat Jiran lebih mengaguminya.

Mendengar kata-kata menyerah Qin Jiran, Su Yanyi tidak melonggarkan cengkeramannya. Sebaliknya, dia menambahkan lebih banyak tekanan dan meninggalkan bekas jari di lehernya. Dia menempel dekat bagian belakang Qin Jiran. Posturnya agak ambigu. Namun, kata-katanya mengungkapkan rasa ancaman.

“Lain kali kau tidak bertarung denganku secara serius, aku tidak akan sopan lagi.” Qin Jiran telah membiarkan Yanyi menang sedikit tetapi pada saat yang sama, Yanyi melakukan hal yang sama untuknya. Semua gerakan yang Yanyi pelajari penuh niat untuk membunuh. Saat bertarung melawan Qin Jiran, ada banyak gerakan yang tidak bisa ia gunakan. Tapi sikapnya masih serius. Di bawah prasyarat untuk menghindari menyakiti Qin Jiran, dia menggunakan hampir semua kekuatannya untuk setiap gerakan. Di sisi lain, Qin Jiran hanya berpura-pura bertarung. Dia sangat tidak senang.

“Baik. Aku pasti akan serius.” Rasa sakit di lehernya membuat Qin Jiran memahami bahwa Yanyi benar-benar tidak suka dia membiarkannya menang. Dia hanya bisa berjanji untuk serius. Lagipula, tidak terlihat terlalu bagus untuk kalah setiap saat. Dia akan dipandang rendah oleh Yanyi.

Pertempuran antara mereka berdua berubah sangat luar biasa seperti yang diharapkan. Meskipun Su Yanyi telah menangkis serangannya dengan gesit, dia telah mengambil beberapa pukulan setelah Qin Jiran maju. Jika bukan karena Qin Jiran menahan sedikit kekuatannya, pada akhirnya Su Yanyi akan terluka.

Keduanya berlatih selama sekitar setengah jam sebelum mereka mengakhiri latihan pagi hari. Qin Jiran bertanya dengan sangat hati-hati: “Apa kau baik-baik saja? Apakah kau terluka di suatu tempat?”

Ketika mereka saling menyerang, Qin Jiran tidak bisa mengingat apakah dia benar-benar telah memukul Su Yanyi. Bahkan jika dia tidak melakukannya, mereka pasti bertabrakan satu sama lain dan hal-hal seperti itu.

Su Yanyi mengulurkan lengan bajunya untuk melihat dua memar merah. Namun, itu tidak dianggap sebagai cedera. Normal untuk meninggalkan bekas ketika berkelahi dengan seseorang: “Tidak apa-apa. Cepat buat makanan. Aku lapar.”

Su Yanyi berkata itu bukan masalah tapi Qin Jiran merasa tidak enak di hatinya. Dia benar-benar berhati-hati tetapi masih membuatnya terluka: “Yanyi, usapkan sedikit obat pada dirimu sendiri, kalau tidak akan lebih menyakitkan nanti.”

Su Yanyi juga berpikiran sama. Akhir-akhir ini, dia tidak berolahraga sebanyak itu dan dia banyak berolahraga pagi ini. Dia tidak tahu apakah mungkin nanti ada beberapa pegal-pegal dan semacamnya.

“Apakah kau tahu cara memijat?” Su Yanyi bertanya dengan tenang.

Qin Jiran tertegun. Jika dia menjawab ‘ya’ saat ini, sudah jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Aku belajar sedikit tetapi aku bukan seorang profesional.” Qin Jiran merenungkan nadanya, menjawab. Dia diam-diam menatap Su Yanyi. Memijat untuk Yanyi, ini membuat wajahnya memerah hanya karena memikirkannya!

“Kalau begitu coba.” Su Yanyi juga tidak pilih-pilih. Dia merasa selama dia bisa menggunakan seseorang, itu bagus.

Pada kenyataannya, Su Yanyi percaya Qin Jiran tahu bagaimana caranya. Dia berpikir kembali ke kehidupan masa lalunya ketika Qin Jiran memijatnya. Pada saat itu, dia adalah dalam kondisi vegetatif dan Jiran akan memijatnya hampir setiap hari. Pada awalnya, meskipun keterampilannya tidak sepenuhnya mahir, itu masih cukup bagus. Setelah itu, Jiran semakin mahir.

Meskipun Su Yanyi tidak bisa bergerak, dia merasakan ini. Tidak hanya keterampilan Qin Jiran dipraktekkan dengan baik, dia menambahkan lebih banyak teknik di dalamnya. Dia tampaknya secara khusus mempelajari ini dan itu, agar dia bisa merawat Yanyi lebih baik.

Untuk merawatnya, Qin Jiran tidak hanya mempelajari ini. Dia juga belajar segala macam keterampilan keperawatan dan pengetahuan medis, terutama aspek yang berkaitan dengan kondisi vegetatif. Semua itu menjadi bidang studi spesifik untuk Qin Jiran. Sering kali, Qin Jiran tinggal di sisinya sementara dia membaca berbagai jenis buku medis. Yanyi merasa sangat bersyukur di hatinya.

Sebenarnya, pada saat itu, Su Yanyi sering mempertanyakan apa yang disukai Qin Jiran tentangnya. Kenapa dia begitu baik dan seberapa dalam kasih sayangnya bisa bertahan?

Su Yanyi tidak meragukan keunggulannya tetapi sikapnya terhadap Qin Jiran di kehidupan sebelumnya benar-benar tidak terlalu bagus. Dia bahkan tidak ingat apa yang telah dia lakukan untuk Qin Jiran. Paling-paling, itu mungkin karena perjanjian yang dibuat karena pernikahan mereka di mana dia membantunya dalam karirnya. Tapi berdasarkan pemahamannya tentang Qin Jiran, ini jelas bukan alasan mengapa Jiran menyukainya.

“Yanyi, apakah kau ingin kembali ke kamar tidur atau tinggal di sini?” Qin Jiran sedikit gugup tetapi memegang beberapa harapan juga. Su Yanyi tiba-tiba memikirkan sesuatu dan memegang suasana hati yang rumit.

“Kamar Tidur.” Su Yanyi menatap Qin Jiran sebelum membawanya kembali ke kamar. Dia merasa nyaman dan berbaring di tempat tidur, menunggu Qin Jiran memijatnya.

Yang terbaik adalah ketika seseorang melayani mu.

 

 

IBKP 75 [2]. Tertawalah Terus dan Aku Akan Menggigitmu
IBKP 76. Dukungan Regu Fans

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.