IBKP 105 [2]. Sweet Valentine’s Day

Featured Image

“Aku akan mengurus piring, dan kamu bisa istirahat.” Qin Jiran dengan cepat melangkah maju dan mengambil piring dari Su Yanyi.

Su Yanyi tidak menolak, tetapi ketika pria itu mengambil kedua piring itu, dia berbalik untuk membawa piring-piring lainnya. Keduanya dengan cepat mengatur meja dan duduk untuk makan malam.

“Yanyi …” Qin Jiran diam-diam memanggil nama Yanyi, tapi dia tidak tahu harus berkata apa. Dia selalu merasa ada ribuan kata di dalam hatinya, tetapi dia lupa kata-kata itu.

“Apakah kamu menyukai hadiah Hari Valentine?” Meskipun tidak begitu kreatif dan tidak so sweet, tetapi itu masih sepenuh hati. Terlebih lagi, hadiah ini bukan hanya hidangan sederhana.

Ketika Su Yan berbicara, dia menunjuk ke kue telur di tengah meja. Kue telur dimodelkan dan dibuat menjadi bentuk hati, yang dia pelajari dari telur goreng.

Qin Jiran juga melihat kue telur yang dibawa keluar Su Yan terakhir kali. Bentuknya yang indah meluluhkan seluruh hatinya.

“Aku menyukainya. Kamu pasti kelelahan.” Sayangnya, dia jelas ingin bersikap baik pada Yanyi, tetapi setiap kali dia menemukan bahwa apa yang dia lakukan tidak sebaik Yanyi, yang membuatnya merasa senang dan bahagia.

Su Yanyi melirik pria itu dan merasa ada yang tidak beres dengan ucapan pria itu.

“Kamu yang memasak setiap hari, merasa kelelahan?” Dia hanya sesekali membuat hidangan seperti itu, dimana itu cukup baik jika melihat reaksi pria itu. Tampaknya hadiah itu sangat sweet.

“Di mana aku merasa kelelahan, kebahagiaan datang terlambat. Aku bersedia melakukannya untukmu.” Qin Jiran tersenyum. Memasak untuk Su Yanyi merupakan salah satu kegembiraannya.

“Kalau begitu aku beruntung dengan sedikit lelah?” Kekuatan tidak selalu berarti ketimpangan. Untuk Su Yanyi, dia tidak pernah merasa bahwa dalam hubungan pernikahan mereka, Qin Jiran harus melakukan apa yang seharusnya tidak dia (SY) lakukan. Dia ingat apa yang dilakukan Qin Jiran padanya. Dan karena Qin Jiran dapat melakukannya, apa yang tidak bisa dia (SY) lakukan? Bagaimana dia (SY) bisa merasa lelah hanya karena dia baru saja memasak? Yang seharusnya lebih lelah adalah Qin Jiran.

Dalam menghadapi pertanyaan retoris Su Yanyi, Qin Jiran terkekeh: “Ha ha, itu tidak melelahkan. Makan cepat, aku lapar.”

Dua orang mulai makan. Qin Jiran memberikan hidangan pada Su Yanyi. Mereka hanya makan dan makan. Pada akhirnya, Yanyi tiba-tiba menatap Qin Jiran, sumpit diletakkan.

“Apa yang kamu lihat?” Qin Jiran sedikit tidak nyaman untuk terus ditatap.

Su Yanyi sangat ingin bertanya “Mana hadiahku”, tetapi tugas sistem memintanya untuk tidak meminta hadiah secara blak-blakan, jadi dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain menatap Qin Jiran dan menunggunya untuk mengerti.

“Ada apa? Kenapa kamu tidak bicara?” Qin Jiran menatap bingung. Dia menyentuh sudut mulutnya, apakah ada sesuatu di wajahnya?

Su Yanyi memandang kebodohan Qin Jiran, dan memperkirakan pria itu tidak bisa memahaminya, jadi dia hanya bisa mengucapkan sepatah kata dengan dingin: “Bodoh!”

Tiba-tiba, Qin Jiran, yang dimarahi lagi, dikatakan seperti itu dia sangat tersinggung. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya terus makan. Bagaimana dia bisa menjadi bodoh lagi? Dia sangat terluka.

“Yanyi, dibagian mana diriku yang bodoh? Katakan padaku, aku akan berubah!” Qin Jiran berhenti makan, memegang tangan Su Yanyi dan mulai bermain centil! Tentu saja, perilaku semacam ini tidak centil dalam pandangan Qin Jiran sendiri, tapi itulah yang dirasakan Su Yanyi.

Su Yanyi mengangkat tangannya, dengan tenang menyentuh kepala Qin Jiran, dan berkata, “Jadilah baik. Makanlah.”

Qin Jiran tidak bisa tertawa ataupun menangis. Dia tidak sengaja membuat Yanyi tersenyum, dan mulai makan dengan gembira.

Selama waktu makan, Qin Jiran selalu enggan makan kue telur berbentuk hati, tetapi hanya meletakkannya di depan matanya dan melihatnya berulang kali.

Su Yanyi secara alami tidak memiliki gangguan seperti itu. Dia ingin makan dengan sendok, tetapi dia melihat bahwa lelaki itu menarik kue telur. Su Yanyi memandang pria itu dan menemukan garis pandang Qin Jiran yang enggan. Dia terdiam dan bertanya dengan ragu, “Apa yang kamu pikirkan? Cukup makan saja, ah. Itu tidak benar-benar buruk untuk dimakan.”

“Jika kamu tidak mau makan, berikan kepadaku.” Qin Jiran menarik kue ayam ke arahnya dan berkata dengan suara rendah.

“Kamu benar-benar bodoh!” Su Yanyi hampir tidak bisa berkata-kata. Dia meletakkan sendok dan membawa kue telur langsung di depannya (SY), seolah-olah dia tidak ingin Qin Jiran memakannya.

Qin Jiran masih menatap kue telur dengan enggan, memikirkannya, dan bertanya dengan ragu, “Apakah kamu ingin mengambil gambar?”

Su Yanyi memandang Qin Jiran dengan tatapan bodoh. Lalu dia tidak bisa tidak berkata, “Ayo cepat ambil gambar dan makan semuanya setelah berfoto!”

“Oke!” Qin Jiran mengambil lebih dari sepuluh foto dalam satu napas dari semua sudut; atas, bawah, kiri, dan kanan. Dia lalu berhenti memfoto dan berkata kepada Yanyi sambil tersenyum, “Mari kita makan kue telur bersama.”

“Kamu sangat menyukainya, kamu saja yang memakan semuanya.”

Pada akhirnya, Qin Jiran sangat patuh. Dia harus makan sepiring kue telur, tidak hanya kue telur, tetapi juga hidangan lainnya. Ini adalah makan malam spesial yang dibuat oleh Yanyi untuknya. Dia harus makan bahkan jika dia sudah mati!

Setelah makan malam, keduanya pergi ke aula perdana. “War of Thrones” dirilis pada pukul 07:30 malam. Su Yanyi dan Qin Jiran bergegas ke pertunjukan ini. Pada saat mereka pergi, banyak orang sudah tiba. Qin Jiran dan Su Yanyi tidak menonjolkan diri, mereka mengenakan topi dan syal, dan tidak menarik banyak perhatian setelah duduk.

Film dimulai segera. Qin Jiran tampak sangat tampan dalam seragam polisi, gagah dan serasi, penuh maskulin, tetapi begitu dia muncul di panggung, dia menyebabkan banyak gadis kecil berteriak.

“Sangat tampan! Pria yang baik!”

Su Yanyi mendengar sorak-sorai gadis-gadis kecil di sekitarnya. Dia tidak bisa tidak melihat Qin Jiran dan bercanda: “Pesona Kaisar Film sangat besar.”

“Mengapa suaramu begitu sedih?” Qin Jiran tersenyum senang. Yanyi tampak seperti pacar kecil yang cemburu.

“Maksudmu aku cemburu?”

“Kamu yang mengatakannya, bukan aku.” kata Qin Jiran, menatap Yanyi dengan polos dan membenarkan.

“Yah, tidak ada yang perlu dicemburui. Semua yang ada padamu adalah milikku. Yang terbaik yang bisa mereka lakukan adalah menonton TV dan berteriak. Kenapa aku harus peduli?” Apa yang dikatakan Su Yanyi adalah apa yang dia pikirkan, dan dia tidak bertindak terlalu jauh dengan berdebat dengan sekelompok penggemar, belum lagi bahwa semakin banyak orang-orang menyukai Qin Jiran, semakin bangga dirinya, karena pria ini adalah miliknya, dan semakin baik dia (QJ), semakin bangga dia (SY)!

Penampilan bangga Su Yanyi membuat Qin Jiran merasa sangat bersemangat. Melihat bahwa tidak ada yang memperhatikannya, dia membungkuk dan menciumnya (SY). Di bioskop gelap, hal yang paling cocok untuk dilakukan adalah berciuman.

“Hei, kamu sedang menonton film. Jangan bergerak.” Setelah berciuman selama beberapa menit, Su Yanyi merasa bahwa dia tidak bisa bernapas dengan lancar, tetapi lelaki itu masih tidak berniat melepaskan, jadi dia mengulurkan tangannya dan mendorong lelaki itu menjauh, memprotes dengan tidak puas.

“Aku pikir aku lebih tampan daripada yang ada di layar.” Qin Jiran jelas tidak memiliki ciuman yang cukup dan enggan berpisah.

“Bukankah itu sama saja?” Su Yanyi bertanya tanpa daya.

“Bagaimana itu bisa sama? Jika kamu menyentuhku, aku bisa membiarkanmu menyentuhnya, tapi yang di layar tidak bisa disentuh (secara nyata).” Qin Jiran mengambil tangan Su Yanyi dan meletakkannya di dadanya. Meskipun dia masih mengenakan pakaian, dia bisa merasakan detak jantung yang kuat.

“Apakah kamu cemburu pada dirimu sendiri?” Mendengarkan kata-kata kekanak-kanakan Qin Jiran, Su Yanyi semakin merasa bahwa mungkin ada sesuatu yang salah dengan IQ pria itu.

Qin Jiran tersenyum dan tidak segera menjawab, tetapi berpikir: dia tidak iri dengan dirinya sendiri, dia hanya ingin membuat mata Yanyi selalu menatapnya!

Keinginan posesif yang kuat ini membuat Qin Jiran merasa sangat aneh, tetapi beberapa tidak dapat dikendalikan, atau tidak ingin dikendalikan. Dia ingin membiarkan hati Yanyi hanya tertuju padanya, semakin Qin Jiran memikirkannya, semakin dia bersemangat!

Itu hanya perasaannya yang ingin seperti itu, tapi dia tidak bisa mengatakannya. Dia tidak tahu apakah Yanyi akan suka atau tidak.

“Kamu bisa melihatnya. Setelah menonton yang ada di layar, lihat aku (yang nyata) lagi.”

“Itu terasa aneh.”

Keduanya berhenti berbicara dan fokus menonton film. Sebenarnya, ini adalah pertama kalinya Su Yanyi pergi untuk menonton film yang diperankan oleh Qin Jiran dengan sangat serius, dan memandang pria di layar yang tampak berbeda dari kehidupan nyata. Perasaan Su Yanyi juga sedikit berbeda.

Su Yanyi tidak merasa bahwa di film itu dia (QJ) lebih tampan daripada yang sebenarnya. Dia merasa lebih kagum dan sakit di hatinya; dia mengagumi keterampilan akting Qin Jiran yang terampil, dan merasa sakit karena banyak kesulitan yang dia (QJ) derita karena syuting.

Terutama ketika dia melihat film Qin Jiran di hutan salju, bahkan jika dia (QJ) sakit, dia (QJ) masih bersikeras untuk syuting. Bagaimana mungkin pria seperti itu tidak membiarkannya (SY) merasa sakit.

IBKP 105. Sweet Valentine’s Day
IBKP 105 [3]. Sweet Valentine’s Day

Author: Blue Shine

Jadilah dirimu sendiri dan lakukan apa yang kamu suka. -IAMTB

Leave a Reply

Your email address will not be published.