FWIWM 128. Kisah Hantu Air (1)

Featured Image

Chen Shu menjadi kaku setelah tertangkap basah, sambil memegang sertifikat villa di tangannya. Dia berusaha menunjukkan ekspresi tenang, tidak membiarkan Ye Sui melihat tindakannya.

Chen Shu harus secepatnya memikirkan cara untuk keluar dari situasi canggung ini.

Ye Sui menggosok matanya untuk memastikan dia tidak bermimpi, Chen Shu berdiri di samping tempat tidurnya, selain itu, pria itu tampaknya tidak seperti biasanya.

Chen Shu tidak menjawab pertanyaan Ye Sui dan juga tidak memandangnya. Sebaliknya, dia hanya bangkit dan menjauhi tempat tidur Ye Sui. Pada saat yang sama, dia segera menyembunyikan sertifikat villa yang ada di tangannya.

Mata Ye Sui mengikuti Chen Shu saat pria itu seperti tidak sadar bangkit, berjalan, dan berbalik … tampak sangat mirip dengan keadaannya pada saat dia tidur sambil berjalan pada waktu itu.

Chen Shu berpikir tindakannya ini akan membuatnya terhindar dari masalah tanpa dipertanyakan .

Chen Shu hendak berjalan menuju ke sofa, Ye Sui sudah sedikit sadar. Dia menyipitkan matanya, dan melihat Chen Shu berputar dengan lincah, merasa sedikit aneh.

Apakah Chen Shu benar-benar berjalan sambil tidur? Mereka hanya tinggal di sini selama satu malam dan belum terbiasa dengan ruangan ini, mengapa dia berjalan kembali ke sofa dengan lincah?

Memikirkan hal ini, Ye Sui tiba-tiba berkata, “Chen Shu, berhenti.”

Begitu kata-kata itu terdengar, langkah Chen Shu berhenti, kemudian perlahan-lahan melanjutkan ke arah sofa, berpura-pura tidak mendengar panggilan Ye Sui.

“Klik!”

Ye Sui menekan sakelar, lampu tiba-tiba menyala, mengalir turun dari atas dan menyinari seluruh ruangan.

Dalam satu detik hal itu merusak suasana, dan akting buruk Chen Shu tidak bisa lepas dari pandangan seorang veteran akting seperti Ye Sui. Dia berjalan keluar dari tempat tidur, menuju arah Chen Shu, dan menepuk pundaknya.

Chen Shu, yang ketahuan: “…”

Chen Shu memunggungi Ye Sui, masih memegang sertifikat villa di tangannya. “Aku akan tidur.” Suaranya terdengar sedikit ngantuk.

Detik berikutnya, Ye Sui berada di depan Chen Shu, yang tertangkap basah dan melirik benda di tangannya.

Mata Ye Sui berkilau saat dia memerintahkan Chen Shu, “Keluarkan.”

Ketika Ye Sui menatap Chen Shu, sudut matanya menyipit dan tampak bersinar, seolah-olah dia tergoda oleh sesuatu.

Kelopak mata Chen Shu tiba-tiba melonjak, dan tanpa sadar dia menyerahkan benda di tangannya. Dia telah bersusah payah mendapatkan sertifikat villa; pada akhirnya, dia tidak bisa menyembunyikannya.

Chen Shu menunduk, dan ruangan menjadi sunyi selama beberapa detik. Kemudian terdengar suara Ye Sui. “Kau … membeli sebuah vila di Danau Erhai!?!”

Chen Shu menghela nafas.

‘Ya, dia orang yang dangkal sehingga dia menghabiskan uang untuk villa.’ Dia menundukkan kepalanya, siap menerima omelan Ye Sui.

Saat itu pagi-pagi sekali,tidak ada suara yang bisa terdengar. Kemudian suara familiar Ye Sui memenuhi ruangan, “Chen Shu, kau luar biasa.”

Di mata keluarga Chen, Chen Shu bukanlah apa-apa. Dia adalah seorang pria yang bertahan hidup hanya dengan mengandalkan dana perwalian keluarganya.

Ye Sui, bagaimanapun, merasa Chen Shu benar-benar berbeda dari orang yang selalu mereka bicarakan. Sekarang, dia telah menghasilkan cukup uang dan dapat membeli sebuah vila besar.

Chen Shu bingung dan tak bisa berkata-kata, matanya bersinar. Dia tidak bisa mempercayainya, mengulangi apa yang dikatakan Ye Sui barusan. “Luar biasa?”

Ye Sui dengan hati-hati mengartikan kata-kata itu dan menekankannya lagi. “Ya, kau luar biasa.”

Mendengarkannya lagi, Chen Shu mengalihkan matanya ke Ye Sui dan melihatnya tertawa, tatapannya tampak memberi semangat dan penghargaan. Wajah cantik Ye Sui dan senyumnya yang mempesona seperti matahari yang cerah di dunianya yang kelabu.

Dia tiba-tiba ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Ye Sui bertanya, “Mengapa kau ingin meletakkan sertifikat villa di sini?”

Chen Shu: “Aku tidak sengaja  membawanya ke sini.”

Ye Sui segera menyadari Chen Shu berbohong.

Tatapan Chen Shu tajam dan mendalam saat dia menatap mata Ye Sui. Mungkin karena sudah larut malam, suaranya agak canggung. “Selamat malam.”

Table Of Content

 

FWIWM 127. Hantu Air (2)
FWIWM 129. Kisah Hantu Air (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.