FWIWM 136. Cinta Sepihak (1)

Featured Image

Waktu Song Xiao sudah hampir habis. Ye Sui harus bergegas. Dia mengambil foto dan bersama Chen Shu menuju ke pelukis.

Ye Sui mendatangi pelukis dan duduk didepannya. Chen Su berdiri di samping. Ye Sui berkata, “Bisakah Anda membantuku melukiskan sesuatu?”

Ye Sui: “Ini bukan untukku, tetapi untuk gadis ini.” Ye Sui membuka foto Song Xiao di telepon genggamnya dan menyerahkannya kepada pelukis, yang mengambilnya dan melihat foto itu.

Pelukis itu mengingat gadis ini, dia adalah gadis di sekolahnya. Ketika gadis itu diintimidasi oleh orang lain, dia membantunya. Tapi sejauh yang dia tahu, gadis itu sudah meninggal.

Tangan pelukis itu sedikit bergetar. Dia menenangkan emosinya dan menatap Ye Sui: “Apa hubunganmu dengan dia?”

Ye Sui melirik Song Xiao di sebelah pelukis itu: “Dia adalah temanku.”

Ye Sui bertanya: “Kau kenal dia? ”

Pelukis itu menyipitkan matanya, menatap langsung pada gadis cantik di foto:” Aku pernah membantunya, tetapi dia pasti tidak mengingatku sekarang. ”

Song Xiao menggelengkan kepalanya, dia ingin meraih dan menarik pelukis tanpa sadar. Katakan padanya, bagaimana mungkin dia tidak ingat?

Ketika hampir menyentuh pelukis, dia menurunkan tangannya. Dia lupa kalau dia sudah mati dan mereka sudah dipisahkan oleh dua dunia.

Ye Sui menghela nafas: “Tolong lukis gadis di foto itu, kau bisa menggunakan imaginasi dengan bebas di lukisan ”

Pelukis itu menyimpan foto Song Xiao. Sebelum Ye Sui pergi, dia melihat Song Xiao berdiri di sebelah pelukis, gadis itu menatap pelukis, dan hanya ada pelukis di matanya.

Pria itu itu mulai melukis, dia melihat foto itu, tetapi entah mengapa ada kenangan mulai terlintas di benaknya.

Sewaktu jatuh ke dalam air, dia pikir dia akan mati. Pada saat itu, dia merasa sepasang tangan ramping menariknya keluar dari air yang gelap.

Di ambang kematian, dia membuka matanya dan sepertinya menatap sepasang mata yang indah. Kemudian dia bangun dan terbaring di tanah, tetapi tidak ada jejak orang di sekitarnya.

Selama ini dia telah mencari gadis yang menyelamatkannya, tetapi tidak menemukannya.

Pelukis itu tidak tahu bahwa gadis yang telah menyelamatkannya sebenarnya telah mati. Meskipun telah meninggal, jiwa gadis itu tetap di sampingnya.

Pada saat ini, gadis itu berdiri di depannya, tidak jauh dari dia, tetapi dia tidak akan pernah melihatnya.

Pelukis menyentuh foto itu, dan dengan lembut membelai mata gadis di foto. Dia tidak tahu apakah itu hanya ilusinya. Dia selalu merasa mata gadis di foto seperti gadis yang menyelamatkannya.

Pria itu mulai melukis, dan waktu berlalu dengan tenang, Song Xiao terus memperhatikannya, dan ketika dia melihat hasil lukisan yang perlahan-lahan muncul, matanya terkejut.

Saat ini pria itu menggambar suasana di bawah air. Airnya gelap, tapi ada cahaya jatuh di atasnya. Terlihat gadis yang mengulurkan tangannya dan memiringkan kepalanya, seolah memegang sesuatu di air.

Song Xiao menangis, ternyata pria itu selalu ingat. Dia ingat kalau gadis itu telah menyelamatkannya. Song Xiao mendekat dan air mata jatuh di atas kertas gambar.

Pelukis melihat air mata ini, dia menyentuh kertas gambar, dan berkata dengan aneh, “Apakah hujan?” Tetapi langit berwarna abu-abu dan tidak hujan.

Pelukis itu melihat kembali ke kertas gambar. Wajah gadis itu belum mulai dilukis, dan lokasi air mata ini tepat di mana ia ingin melukisnya.

Sepanjang garis air mata, pelukis mulai menggambarkan mata gadis itu di lukisan itu, perlahan-lahan membuat sketsa, dengan sangat hati-hati, seolah-olah menuangkan emosi di hatinya ke dalam lukisan itu.

Dari garis sketsa perlahan jadi gambar, dan dari gambar ke warna, di bawah pena, wajah gadis itu sedikit demi sedikit terlihat, dan mirip dengan wajah Song Xiao yang ada di sebelahnya.

Itu juga mirip dengan bayangan wajah gadis itu di hatinya.

Malam berikutnya, Ye Sui datang untuk mengambil lukisan itu. Ye Sui pertama kali melirik Song Xiao. Tubuh Song Xiao menjadi sangat lemah, dan dia akan menghilang.

Pelukis itu menyerahkan lukisan kepada Ye Sui: “Maaf, aku menambahkan latar belakang air terjun tanpa izin.”

Ye Sui memandang Song Xiao, dan Song Xiao mengangguk, air matanya berlinang. Ye Sui berkata, “Aku puas dengan lukisan ini”

Ye Sui pergi, Song Xiao mengikutinya, dan keduanya berdiri di tempat yang jauh. Ye Sui menyerahkan lukisan itu kepada Song Xiao.

Song Xiao menyentuh lukisan itu dengan ceria dan berkata dengan lembut, “Dia ingat kalau aku menyelamatkannya.” Meskipun pelukis tidak tahu siapa gadis itu, itu sudah cukup.

Song Xiao tersenyum, tetapi air mata keluar: “Dia melukis dengan sangat baik, aku bahkan tidak tahu kalau aku bisa terlihat begitu indah.”

Hidupnya terlalu menyakitkan, hanya pria itu yang membuatnya merasa dia benar-benar hidup. Ada di dunia ini.

Ye Sui: “Sudahkah kau memikirkan untuk menceritakan isi hatimu kepadanya?” Dia akan pergi, mungkin …

Song Xiao menggelengkan kepalanya: “Aku rendah diri ketika masih menjadi manusia, dan bahkan gagal ketika aku menjadi hantu (dia dirumorkan jadi hantu jahat, menarik orang ke air). Jadi tidak, aku tidak ingin mengganggunya lagi. ”

Cinta sepihaknya, dulu, ditanam dalam hatinya seperti benih, dan ketika dia menyadarinya, pohon cinta sepihaknya telah tumbuh besar menjadi dedaunan yang subur, tidak bisa lagi dipisahkan dari hidupnya.

Pria itu sangat baik sehingga dia berani mendekatinya dengan hati-hati hanya ketika dia sudah menjadi hantu dan ketika pria itu tidak bisa melihatnya.😥

Table Of Content

FWIWM 135. Bagaimana aku Bisa Pergi Jika Kau Tidak Melepasku? (2)
FWIWM 137. Cinta Sepihak (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.