FWIWM 134. Bagaimana aku Bisa Pergi Jika Kau Tidak Melepasku? (1)

Featured Image

“Namaku Song Xiao,” katanya pada Ye Sui.

“Aku Ye Sui; Apakah kau menungguku? ”

Song Xiao mengangguk. “Aku tahu kau bisa melihat hantu saat pertama kali melihatmu di pantai tempo hari.”

Terakhir kali, Ye Sui sudah salah menganggapnya sebagai hantu jahat, jadi dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya dan langsung pergi.

Setelah dicari oleh para hantu berkali-kali, akhirnya Ye Sui sudah terbiasa dengan mereka. “Apakah kau punya urusan yang belum selesai?”

Wajah Song Xiao mengeras. Segera air matanya jatuh di lantai kayu. “Aku sudah lama naksir pada pelukis itu.”

Song Xiao adalah korban bullying di kampus. Dia dan pelukis itu adalah siswa dari sekolah yang sama, dan pria itu adalah seniornya. Dia juga satu-satunya orang baik yang di temuinya di masa mudanya yang pendek.

Song Xiao adalah penari utama dari klub dansa sekolah mereka, tetapi karena kepribadiannya yang dingin, dia dianggap sombong dan dihina oleh orang lain. Karena itu, dia sering diintimidasi oleh teman-teman sekolahnya. Mereka mengambil sepatu dansa, memenuhi mejanya dengan buku-buku, menjambak rambutnya yang panjang, dan mendorongnya ke dinding …

Suatu hari, Song Xiao sedang duduk di tangga di samping ruang dansa, menutupi wajahnya di antara lutut dan menangis.

Kemudian seorang anak lelaki, yang dikenalinya, berjalan ke arahnya. Dia adalah seniornya yang melukis di studio lantai bawah dan selalu memegang buku gambarnya.

Pipi Song Xiao masih merah dan bengkak, dan air mata tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang dirasakannya. Ketidaksukaan mereka terhadap Song Xiao tumbuh semakin dalam, menertawakannya terus menerus, juga mengisolasi dan menyerangnya.

Sore itu, senior duduk di samping Song Xiao tanpa kata-kata penghiburan. Dia hanya memberinya tisu.

Ada terlalu banyak kebencian di dunia ini, tetapi Song Xiao melihat cahaya kecil merembes keluar dari langit yang gelap.

Kemudian, Song Xiao sekali lagi diganggu oleh seorang gadis yang menarik rambutnya dan membantingnya ke dinding. Dia dikelilingi seperti tikus yang canggung dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

Namun, seorang direktur pengajar mengetuk pintu dan mengusir semua orang yang membully Song Xiao. Setelah mereka pergi, Song Xiao melihat seorang senior berdiri di seberang pintu yang terbuka.

Keluarga Song Xiao miskin. Orang-orang seperti dia hanya bisa belajar keras untuk memperbaiki kondisi mereka.

Dia mendengar bahwa senior telah memasuki Akademi Seni Rupa. Dia bekerja keras dan kemudian harus pergi ke kotanya untuk mengisi formulir beasiswa.

Meskipun orang lain membully Song Xiao, dia tidak peduli. Hanya ketika melewati studio, dia berpikir ada orang yang dia cintai secara diam-diam dari kejauhan.

Musim panas tahun terakhirnya sudah berakhir, Song Xiao jatuh ke air dan diseret ke dalam oleh hantu air asli, menjadi kambing hitam orang lain.

Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memberitahu seniornya bahwa dia sudah lama naksir pada pria itu.

Kemudian, Song Xiao melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan orang-orang yang tenggelam setiap kali dia melihat mereka.

Song Xiao mengalami tiga tahun kekerasan sekolah menengah di kampus. Meskipun dia telah menanggung begitu banyak kepahitan, dia masih mempertahankan kebaikan di hatinya.

Dan mereka yang membully Song Xiao, para remaja yang penuh amarah, bahkan jika mereka melakukan bully secara membabi buta, sebenarnya mereka juga terluka.

Tetapi mereka sudah tidak bisa mengingat betapa banyak kerusakan yang telah mereka lakukan terhadap Song Xiao.

Dia sudah lama berada di danau sehingga Song Xiao berpikir dia tidak akan pernah melihat seniornya lagi. Tetapi suatu hari, dia melihatnya di tepi sungai.

Keluarga seniornya jatuh bangkrut. Dia melukis untuk orang lain setiap hari hanya untuk mendapatkan uang sekolah. Ketika tidak ada pekerjaan, dia akan melukis apa yang dia suka.

Senior melukis Danau Erhai dengan penuh kasih sayang, dan Song Xiao menatapnya dari dekat.

Suatu hari, lukisan-lukisan seniornya melayang ke danau, yang secara tidak sengaja jatuh ke air dan ia sedang berusaha mengambilnya. Song Xiao merasa takut karena dia tidak ingin seniornya menjadi mangsa hantu air. Dia harus menyelamatkannya.

Seniornya pernah membantunya dan membawanya keluar dari keputusasaan.

Meskipun Song Xiao sudah mati dan seniornya tidak menyadari perasaannya, Song Xiao masih berharap hidup seniornya akan terus berlanjut.

Lagi pula, kecemerlangannya telah menyulut kegelapan dalam hidupnya.

Setelah menyelamatkan seniornya, Song Xiao melihat dia semakin sering datang ke Danau Erhai. Dia akan sering melihatnya, tetapi dia mendapati dirinya kehabisan waktu, merasa bahwa dia akan pergi.

Setelah mendengar cerita Song Xiao, Ye Sui melihat tetesan air mata jatuh dari matanya. Mata Song Xiao sudah basah. “Permintaanku sangat sederhana.”

Ye Sui mendengarkan dengan sabar saat Song Xiao melanjutkan. “Bisakah kau membantuku mencarinya untuk melukisku?”

Setelah kecelakaan itu, keluarga Song Xiao telah meninggalkan Yunnan. Dengan sedih, dia memberi tahu Ye Sui tentang sekolah menengahnya, bahwa dia hanya bisa menemukan fotonya di sana.

“Keamanannya sangat ketat. Jika kau tidak bisa masuk, kau dapat memanjat dinding di samping sekolah.” Song Xiao mengingatkan Ye Sui soal dinding sekolah dengan tenang.

Song Xiao memberi tahu Ye Sui lokasi dinding itu.

Keesokan harinya, Ye Sui memutuskan untuk pergi ke sekolah Song Xiao. Bahkan jika dia ingin memanjat dinding, dia tidak bisa melakukannya, tentu saja dia harus membawa Chen Shu.

Ketika Ye Sui dan Chen Shu tiba, pelajaran masih berlangsung, dan tidak ada siswa yang ada di sekitar gerbang, keadaan tampak kosong.

Ye Sui tidak memakai seragam sekolah, jadi mereka tidak bisa berbaur dengan para murid selain itu ada banyak orang, jadi Ye Sui harus mencari cara jalan pintas.

Ye Sui berdiri di luar dinding sekolah yang lain. Dia menatap dinding tinggi untuk sementara waktu, lalu menoleh ke Chen Shu dan melirik: “Apakah kau pernah memanjat dinding?”

Table Of Content

FWIWM 133. Pasangan Sempurna (3)
FWIWM 135. Bagaimana aku Bisa Pergi Jika Kau Tidak Melepasku? (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.