FM 23(2) – Jiang Li Memasak

Featured Image

Jiang Li dengan cepat meletakkan tutup panci tanpa panik sama sekali. Dia menoleh dan melihatku meringkuk di sudut, dengan bangga berkata: “Aku telah menguasai langkah ini sejak  taman kanak-kanak.”

Aku: ……….

Aku tidak punya apapun untuk dikatakan; jelas dialah yang tidak tahu cara memasak, jadi pada akhirnya mengapa dia mengejekku?

Merasa sangat berhasil, Jiang Li memasukkan semua sayuran yang baru saja dia goreng ke dalam … baskom.  Ya benar, sebuah baskom, Kamu membacanya dengan benar, aku tidak salah menuliskannya karena sayuran yang telah digoreng itu tidak muat di mangkuk.

Setelah menyelesaikan tugas ini, Jiang Li masih bisa mengatakan: “Apakah Kamu punya hal lain untuk dimasak?”

“Ummm, kalau begitu bagaimana dengan puding telur kukus?”  Aku menyarankan hidangan ini karena tingkat kesalahan saat menyiapkan puding telur kukus relatif rendah.  Tentu saja, ada alasan lain – selain telur, kami tidak punya bahan baku lain……

Menyetujui pendapatku, Jiang Li mengangguk. Kemudian mulailah proses memasak puding telur kukus.

Aku dengan ramah memastikan: “Jiang Li, Kamu tidak tahu cara memasaknya, bukan?”

“Tentu saja, aku tahu cara memasaknya.” Jiang Li memandang telur di tangannya dan kemudian dengan pelan bergumam pada dirinya sendiri, “Tapi apa yang harus kukukus lebih dulu, telur atau nasi?”

“Kamu bisa mengukus keduanya bersama-sama.” Mengukus bersamaan, kita semua mengerti apa artinya itu, kan?

Jiang Li memberi aku pandangan aneh dan dengan nada bertanya bertanya: “Bisakah kita mengukusnya bersama?”

“Omong kosong, tentu saja bisa!” Jadi Jiang Li selesai mencuci beras, menaruhnya di rice cooker, menuangkan air, menncolokkan kabel ke listrik dan mulai memasak.

Dia memecahkan dan menuangkan isi beberapa telur ke dalam mangkuk.  Kemudian dia mengambil sendok untuk mengambil potongan kulit telur yang jatuh ke dalam mangkuk (berkeringat), mengaduknya dengan baik selama beberapa menit (yang aku instruksikan kepadanya), menambahkan minyak wijen dan garam (yang lagi-lagi aku instruksikan kepadanya).  Kemudian dia mengambil tindakan yang sangat berani, tindakan yang sangat menakutkan sehingga untuk sesaat aku bahkan tidak bisa bereaksi.

Sambil memegang mangkuk telur yang baru diaduk di satu tangan, ia melepaskan tutup penanak nasi, dengan cepat ‘mengguncang’ nasi dan kemudian menuangkan telur ke dalam nasi yang masih mentah.

Karena bingung, aku hanya berdiri di tempatku.  Aku melihat air mendidih yang keluar dari kompor, telur yang belum dimasak dan nasi mentah yang digulung menjadi satu dan menertawakan kegilaan dunia ini.

Semuanya sudah berakhir, selesai ……

Jiang Li dengan bangga menggenggam sepasang sumpit untuk mengaduk semua isi rice cooker lalu menoleh untuk melihat ke arahku.  Dia memperhatikan bahwa reaksiku tidak normal, karena itu ia mengajukan pertanyaan dengan sangat hati-hati: “Jadi, bagaimana? Apa ada yang salah? ”

Apakah dia bercanda? Apakah ada yang salah? Jiang Li merenung sejenak, dengan polosnya berkata, “Tidak ada yang salah, aku lakukan seperti yang kamu katakan, cuci beras, kocok telur, dan kukus bersama-sama….”

Kukus bersama-sama, apakah dia menerimanya secara harfiah seperti ‘mengukusnya bersama’?  Aku berdiri di sudut dapur seperti patung dan untuk waktu yang lama hanya satu kalimat yang bergema di pikiranku: tidak benar, itu tidak benar.

Sementara Jiang Li selesai menyajikan ‘puding telur kukus’ di piring dan membawanya ke meja makan, aku masih berdiri di tempat yang telah ditentukan, di sudut dapur.

“Ke marilah dan makan, tidak perlu menjadi rendah diri denganku, atau kamu ingin aku memberi makanmu dengan tanganku sendiri?”

Aku dengan putus asa menolak: “Tidak, aku tidak ingin makan.”

Dengan tidak sabar, Jiang Li menarikku: “Aku memperlakukanmu dengan sangat baik dan kamu malah pilih-pilih.  Pernahkah kamu melihat aku pilih-pilih dengan makanan yang kamu sajikan?”

Hei, itu karena makanan yang kusajikan untukmu selalu normal!

Jiang Li menyeretku ke meja makan, mendorongku di kursi dan meletakkan semangkuk campuran nasi-telur di depanku.  Aku mengambil sumpit aku dan menusuknya, menusuknya kembali tetapi tidak memakannya.

Jiang Li kesal; dia duduk di sampingku dan mengambil sumpit dari tanganku. Aku pikir dia akan membuangnya, bagus, dia seharusnya membuangnya tapi aku tidak mau memakannya.

Namun, dengan menggunakan sumpit itu, Jiang Li mengaduk campuran telur beras lalu menekan leherku, membawa sepotong campuran telur beras di depan mulutku dan dengan suara rendah-dalam berkata: “Ayo, makan.”

Aku selalu berpikir pria menggunakan suara serak seperti itu untuk merayu wanita (atau pria) tapi aku tidak pernah tahu itu bisa juga digunakan untuk membujuk orang untuk makan. Aku mengeraskan hati aku dan tetap teguh dengan keputusan aku ‘tidak makan’.

Jiang Li tidak menyerah; dia membungkuk sedikit dan berbisik di telingaku, “Jika kamu tidak makan maka konsekuensinya akan sangat serius, mengerti!”

Aku tertawa: “seperti?”  Macan kertas, aku tidak percaya dia bisa melakukan apa pun kepadaku.

“Sebagai contoh” Jiang Li tiba-tiba dengan nada yang sangat dingin berbisik: “Sebagai contoh, ceri kamu bisa pecah*!”

*terjemahan dari ‘your cherry may pop’, yang berarti kehilangan keperawanan

Aku bergidik hingga ke sumsum tulang dan hampir jatuh dari kursi.

Jiang Li, orang ini terlalu kejam!!

Jiang Li meraih pundakku, terkekeh sendiri dan berkata, “Ayo, mari kita makan, ini sangat lezat.”

Aku dengan gemetar membuka mulut dan memasukkan sepotong campuran nasi-telur.

Anehnya, makanan ini tidak seburuk yang kubayangkan.  Telurnya termasak dengan baik dan tentu saja nasi terasa seperti biasa.  Sebenarnya hidangan ini masuk dalam kategori di antara tidak enak dan sulit untuk ditelan.

“Apakah kamu menikmati makanan ini?”  Aku hampir menangis, hanya menganggukkan kepalaku. Aku tidak berani berbicara apa-apa.


Jiang Li juga mengangguk puas, mengambil sepotong wortel dan menaruhnya di mangkukku: “Ayo, makan sayuran juga.”

Aku memandangi potongan wortel yang anehnya berwarna hitam, dan diam-diam menangis tanpa air mata.

Karena “bujukan” Jiang Li yang konstan, yang pada kenyataannya merupakan ancaman terselubung, aku berhasil makan semangkuk campuran nasi-telur dengan bumbu tambahan berupa kecap dan sayuran goreng asin (di Indonesia biasa disebut ‘tongcay’).  Karena aku mengikuti arahannya dengan patuh, Jiang Li akhirnya membiarkanku pergi.

Tampak puas dengan prestasinya, dia bertanya: “Apakah itu lezat?”

Dia sudah mengajukan pertanyaan yang sama setidaknya dua ratus kali. Aku menganggukkan kepala dengan agresif; itu lezat, enak dan sangat nikmat!

Jiang Li tersenyum dan berkata: “ini enak, eh, kalau begitu mau makan lagi?”

Dengan sedih aku menggelengkan kepalaku, tidak mau makan, tidak bisa makan……. Paman Li, tolong ampuni Xiao Yan kecil ini …..

Jiang Li dengan lembut menepuk-nepuk kepalaku, “Istriku, ah, hari ini aku mengetahui bahwa masakanku benar-benar tidak seburuk yang kukira, haruskah aku memasak makan malam mulai sekarang?”

Aku terlalu takut, berulang kali menggelengkan kepalaku, Paman Li kamu tidak perlu berlelah-lelah.  Kamu harus mengistirahatkan tubuhmu dengan baik.

Jiang Li dengan nakal membuat segalanya lebih sulit bagiku: “eh, kamu tidak mau?”

“Aku mau, benar, aku bersumpah” mataku penuh dengan ketulusan, wajahku serius tanpa henti.  Dalam hati aku berpikir – Lelucon atau tidak, tidak ada yang boleh menyiksa orang lain seperti ini.

Jiang Li tampak sedikit malu, akhirnya tersenyum dengan sungguh-sungguh. Aku menghela nafas lega.  Ya Tuhan, tubuhku semakin tua dan benar-benar tidak bisa menerima siksaan seperti itu lagi.

Jiang Li mengambil sepotong campuran nasi-telur dan memasukkannya ke mulut.  Dia bahkan tidak mengunyah dan memuntahkannya segera.

Hatiku meneteskan air mata.

Sejak itu pikiranku memiliki keyakinan yang kuat:

Jiang Li bukan manusia, dia sampah!!!

FM 23(1) – Jiang Li Memasak
FM 24(1) - Jiang Li yang Ramah

Leave a Reply

Your email address will not be published.