FM 23(1) – Jiang Li Memasak

Featured Image

Aku baru akan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba ‘sungai’ air mata mulai mengalir keluar dan aku tidak bisa menahannya.

Jiang Li berjongkok, menatap wajahku dengan tak percaya: “Apakah kamu …… menangis?”

Oh sial, dia tidak melihat itu, kan ??

Jiang Li dengan nada berdamai mengatakan, “Ngomong-ngomong, tahukah kamu bahwa kamu terlihat lebih menarik saat menangis daripada tertawa?”

Aku melihat wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku, benar-benar ingin meninju wajahnya dengan keras.

Jiang Li bangkit untuk duduk di sofa, mengeluarkan saputangan dari sakunya dan menyerahkannya kepadaku: “Bagaimana mungkin orang berkulit tebal sepertimu menangis, apakah ada orang yang berani mem-bully-mu, hah?”

Aku mengambil saputangannya dan tanpa suara menyeka air mataku.  Ya, ah aku menangis, tetapi siapa yang berani mem-bully-ku?

Tidak ada yang …… Lagipula, yang mengatakan aku memiliki kulit tebal, hah……

Jiang Li bersandar di belakang sofa dan dengan acuh tak acuh berkata, “Kamu baru saja dipecat, ya?  Tidak apa-apa; tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku masih bisa menanggungmu. ”

Aku merasa seolah-olah dia senang dengan kesengsaraanku, jadi aku membentak: “Siapa yang butuh ditanggung olehmu!!!!”

Jiang Li berkata: “Kamu di-bully di luar sana, lari kembali ke rumah dan kemudian marah kepadaku. Kamu menunjukkan semua tanda-tanda seseorang yang perlu ditanggung.”

Aku menggerakkan tubuhku yang kelelahan, berdiri untuk menyiapkan makan malam untuk mengalihkan perhatian Jiang Li.

Jiang Li: “Apa yang kamu lakukan?”

Aku: “Mau menyiapkan makan malam.”

Jiang Li tiba-tiba meraih pergelangan tanganku dan menarikku kembali ke sofa.

Kali ini aku benar-benar sangat marah: “Apa yang kamu lakukan?”

Jiang Li dengan nada yang tidak terlalu cepat atau terlalu lambat menjawab: “Aku takut dengan pikiran kacau seperti sekarang kamu akan membakar seluruh dapur.”

“Jiang Li!!  Tidak bisakah kamu melihat aku dalam suasana hati yang buruk, jadi untuk sekali ini saja bisakah kamu tidak mem-bully-ku dan tidak menggangguku? ”

“Aku tidak mem-bully-mu.” Jiang Li berpikir sejenak, tiba-tiba berdiri tegak dan berkata: “Oke, aku akan memasak dan kamu mengamati saja.”

Kupikir aku salah dengar.


Karena Jiang Li memasak adalah hal yang langka, jadi aku juga sedikit senang dan pergi ke dapur bersama dengannya.

Jiang Li menunjuk ke sudut di dapur dan mengatakan kepadaku, “kamu berdiri di sini dan jangan bergerak sedikit pun.  Amati saja dengan tenang dari sini. ”

Aku dengan tulus mengikuti instruksinya.

Jiang Li mengambil semua sayuran dari lemari es, membuang semua tidak lagi segar dan memasukkan sisanya ke dalam mangkuk besar berisi air.  Setelah itu dia mulai mencucinya dengan ahli.

Aku agak bingung: “Kamu benar-benar terlihat seperti seorang profesional meskipun kamu bahkan tidak tahu cara memasak.”

Menundukkan kepalanya saat mencuci sayuran, dia berkata, “Aku hanya tahu cara mencuci sayuran.  Sebelumnya di rumah aku dulu mencuci sayur, ibuku memasak, dan ayahku mencuci piring. ”

Keluarga yang bahagia, ah. Aku merasa sedikit iri padanya. Jiang Li tampaknya telah menebak pikiranku sehingga dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatapku, berkata: “Tapi sekarang ayahku adalah ayahmu. Aku tidak menganggapmu sebagai orang luar. ”

Meskipun kata-katanya tidak jelas, tetapi hatiku masih sedikit terharu oleh gerakan kecilnya. Terkadang pria ini, Jiang Li, benar-benar dapat mengatakan kepada orang apa yang ingin mereka dengar.

Setelah mencuci sayuran, Jiang Li menaruh wortel, bayam dan sayuran lainnya di tumpukan.  Dia meletakkan tangan kirinya di punggungnya dan kemudian mengacungkan pisau di tangan kanannya, dia mulai ‘memotong’ sayuran itu.

Aku terkejut dengan tindakannya, setelah waktu yang lama aku mendapatkan kembali rohku. Kemudian, dengan gemetar aku berkata: “Jiang Li, kamu memotong sayuran dengan satu tangan …”

Jiang Li berhenti, dengan malu dia berkata: “Aku takut memotong tanganku sendiri…”

Sepertinya Jiang Li dulu benar-benar anak yang baik yang sangat menyenangkan.  Menyaksikan Jiang Li memasak makan malam sudah merupakan pemandangan yang langka, jadi meskipun dia tidak tahu cara memotong sayuran dengan benar, itu masih bisa diterima bagiku.  Dan sekarang aku juga bisa melihat wajahnya yang malu. Aku memutuskan untuk lebih menghargai kesempatan emas ini dan dengan demikian menyeringai pada Jiang Li.

Jiang Li tidak marah, dengan wajah memerah dan nafas pendek dia terus ‘memotong’ sayuran malang itu.

Melihat kondisi menyedihkan dari sayur-sayuran beraneka ragam di papan potong, kata-kata mengerikan tiba-tiba muncul di benakku: tubuh yang dimutilasi.

Setelah memotong beberapa saat, Jiang Li menaruh pisau, menatapku dengan sangat puas dan berkata, “Tidak buruk, kan?”

Hatiku gemetaran tetapi entah ada suara hati apa dalam diriku, aku menjawab: “Tidak buruk.”

“Jadi sekarang apa yang harus menjadi langkah selanjutnya?”

Menatap tumpukan sayuran yang hancur, aku berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk menjawab: “Mengapa kamu tidak menggorengnya dulu!”

Jiang Li dengan sangat cepat menyalakan kompor gas, mengambil segenggam sayuran yang baru saja dia potong dan melemparkannya ke dalam panci, lalu dengan cara yang sangat meyakinkan dia mulai memindahkannya dengan spatula. Gerakannya sangat ringan dan santai.

Aku tidak bisa menahan diri lagi, dengan cepat melangkah maju dan berkata: “Tidak seperti ini.  Kamu harus mencuci pancinya terlebih dahulu, tuangkan sedikit minyak ke dalam panci dan kemudian tambahkan sayuran ke dalamnya. ”

Jiang Li mematikan kompor gas.  Berbalik ke arahku dan menunjuk ke sudut tempatku ditempatkan: “Mundur.”

Tingkat antusiasmeku langsung berkurang setengahnya dan aku dengan patuh kembali ke sudut itu.  Lalu aku merasa kecewa.  Rumah ini adalah miliknya dan milikku juga, jadi mengapa aku harus mendengarkannya?

Jadi aku memutuskan untuk menggunakan kata-katanya sendiri untuk membantahnya, “Jiang Li, aku khawatir kamu akan membakar dapur.”

Jiang Li hanya menjawab: “Jangan khawatir tentang itu, kita memiliki kamu untuk itu.”

Jawaban macam apa itu !!!

“Jiang Li, ambil panci lain dan tambahkan minyaknya dulu.”

“Stop, jangan tuangkan terlalu banyak minyak.”

“Kamu benar-benar konyol, ya.  Tunggu sebentar dan kemudian tambahkan sayuran. ”

“Baiklah baiklah. Sekarang tambahkan kecap dan cuka ke dalamnya……”

“Sekarang nyalakan api!!!” Memeluk kepalaku, aku segera berjongkok, meskipun aku sering menumis sayuran, tetapi berapa kali pernah timbul api, terlebih lagi aku takut api.

Jiang Li dengan cepat meletakkan tutupnya di panci tanpa panik sama sekali. Dia menoleh dan melihatku meringkuk di sudut, dengan bangga berkata: “Aku telah menguasai langkah ini sejak  taman kanak-kanak.”

Aku: ……….

FM 22(3) – KAWAN LAMA
FM 23(2) - Jiang Li Memasak

Leave a Reply

Your email address will not be published.