FM 22(3) – KAWAN LAMA

Featured Image

Aku sampai di rumah, dengan lelah bersandar di sofa.  Saat ini aku merasa seolah-olah seluruh energi tubuhku telah habis.

Mengapa aku bertemu dengannya lagi, dunia begitu luas lalu mengapa kami masih bertemu?  Aku tidak ingin melihatnya lagi dalam hidupku, lalu mengapa takdir memaksa kami untuk bertatap muka sekali lagi?  Aku jelas telah melupakannya lalu mengapa, ketika aku melihatnya di kantor hari ini, pikiranku benar-benar kosong?

Mengapa dia memanggilku ‘Yan Yan’?  Apa haknya?

Aku merasa sedikit kedinginan; musim gugur telah datang, karena itu cuaca berubah dingin. Aku melihat ke lantai, saat musim gugur sinar matahari tersebar di karpet ruang tamu.  Samar-samar aku bisa mengingat, di bawah sinar matahari musim gugur yang indah dia berdiri, tinggi dan tegak. Sambil tersenyum, dia memanggil: “Yan Yan.”

Tapi sekarang, apa haknya?

Tiba-tiba aku merasa sangat lesu, mungkin. Apakah aku merasa terlalu lelah atau terlalu mengantuk, aku tidak yakin.

Aku hanya berbaring di sofa dan segera tertidur lelap.


……… Masih mengantuk, aku mendengar seseorang membuka pintu dan kemudian menutupnya, diikuti oleh suara langkah kaki yang mendekat. Saat ini, aku sudah bangun tetapi aku tidak membuka mata. Aku tidak ingin bangun dari sofa.

Jiang Li mendekati aku dan berbisik, “Si bodoh ini.”

Aku mengabaikannya dan terus tidur di sofa. Ah, mimpi indah. Dalam mimpi aku tidak harus menghadapi kenyataan hidupku yang berantakan.

Kemudian, tiba-tiba aku merasakan sedikit beban pada tubuhku. Ternyata Jiang Li menunjukkan tindakan kebaikan yang langka, menutupi tubuhku dengan jaketnya.

Menggosok mataku, aku duduk. Melihatnya masih berdiri di depan sofa, perlahan-lahan aku bergumam, “Oh, kamu sudah kembali.”

Jiang Li melihat aku sudah bangun sehingga dia segera mulai berteriak kepadaku dengan marah: “Apakah kamu tahu apa yang telah kamu lakukan? Tanpa memberitahuku kamu pulang kantor lebih awal.  Lebih parah lagi kamu bahkan tidak mengangkat ponselmu, membuatku melakukan perjalanan bolak-balik yang tidak berguna ke kantormu.”

Aku melihat ke bawah “Oh” dengan suara yang sangat kecil berkata: “Aku minta maaf.”

Sikapku pasti benar-benar mengejutkan Jiang Li. Jadi dia lupa mamarahiku dan malah membungkuk.  Dia mengangkat wajahku dan mengamatinya dengan cermat selama satu menit. Terkejut, dia berkata: “Mengapa kamu terlihat begitu kosong dan tidak bernyawa?”

Dengan acuh aku memalingkan kepalaku dan berkata, “Itu bukan urusanmu.”

Jiang Li berdiri. Dia melipat tangannya, berkata: “Kalau begitu aku harus bertanya sesuatu yang menjadi urusanku, apakah kamu sudah memasak makan malam untukku?”

Aku menggelengkan kepala; lagipula aku baru bangun tidur. Jiang Li mengerutkan kening dan dengan marah berkata, “Xiao Guan Yan, kamu benar-benar keterlaluan.”

Aku bermaksud membuka mulut untuk mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba ‘sungai’ air mata mulai mengalir keluar dan aku tidak bisa menahannya.

FM 22(2) - KAWAN LAMA
FM 23(1) – Jiang Li Memasak

Leave a Reply

Your email address will not be published.