FG 3 – Beraneka Warna Batu yang Misterius

Featured Image

Yu Xiaocao, yang berbaring di ranjang kang [1], menatap Nyonya Liu yang penyayang. Dia tidak benar-benar mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Meskipun Nyonya Liu terlihat lemah dan tidak dapat diandalkan, tetapi akhirnya dia memiliki seorang Ibu yang mencintainya lagi setelah empat belas tahun.

Yu Hang membelai rambut Xiaocao sambil berbicara kepada Ibunya, “Ibu, kondisi Adik lemah dan sering sakit-sakitan. Sekarang, dia cedera parah… Kakek Yu menginstruksikan untuk memberinya makanan bergizi agar cepat pulih.”

Sejenak keheningan memenuhi ruangan. Nyonya Liu teringat Ibu mertuanya yang pelit lalu keluar dengan ekspresi sedih. Setelah dia pergi, Shitou mendekat dan membelai wajah kakaknya dengan tangan yang dingin. Dia berbisik dengan lembut, “Kakak, istirahatlah dan cepatlah sembuh. Besok, aku akan membawakanmu telur untuk dimakan…”Yu Xiaocao menenangkan diri, lalu tersenyum. Dia bercanda dengan bocah imut itu sesaat sebelum akhirnya merasa sangat mengantuk. Sebelum terlelap, dia sempat mendengar Nyonya Liu dengan takut berkata, “Ibu, dokter mengatakan bahwa tubuh Cao’er lemah dan dia perlu makan makanan bergizi. Tadi pagi dia hanya makan sedikit bubur, aku ingin membuatkan sup telur untuknya.”

“Makan, makan, makan terus! Keluarga kaya sekalipun tidak sanggup membiayai seluruh pasien. Memanggil dokter, menebus obat-obatan, mana yang tidak membutuhkan uang?! Kita harus menjual telur saat pasar dibuka. Masih ada beras di dalam toples, ambil saja untuk membuat semangkuk bubur…”

Tubuh Yu Xiaocao memang lemah ditambah baru saja kehilangan banyak darah. Karena itu, dia tidak dapat menahan kantuk yang teramat sangat lalu tertidur lelap dalam sekejap.

Dia tertidur sangat lama kali ini. Dia bahkan tidak bangun saat mereka memberinya makan bubur dan obat-obatan. Dia seolah-olah jatuh ke dalam kegelapan yang panjang. Tidak perduli betapa keras dia berjuang, tetap tidak dapat melarikan diri dari keputusasaan yang tak berujung.

Saat dia akan menyerah dan menerima nasibnya, tiba-tiba secercah cahaya bersinar dalam kegelapan. Suara yang terdengar frustrasi namun lembut muncul di benaknya:

[Sial! Betapa cerobohnya aku menjanjikan kesetiaan kepada manusia yang lemah? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku… aku harus mengabaikannya saja. Jika dia meninggal, maka hubungan tuan-pelayan kami akan batal. Namun, aku tidak tahu kapan aku bisa hidup kembali!]

Dewi Roh terkutuk itu benar-benar mengunci sebagian besar kekuatan spiritual batu ilahi yang perkasa ini, lalu meninggalkannya di alam manusia secara acak. Batu itu sudah menunggu tepat delapan ratus tahun sebelum diambil oleh seorang manusia. Namun, telah mati sebelum dia bisa mengakui tuannya…

Dibutuhkan semua kekuatan spiritual yang tersisa untuk membawa jiwa manusia ke alam lain dan menemukan tubuh yang cocok untuk dihidupkan kembali. Jika kekuatannya tidak dapat menyelamatkan, maka batu itu benar-benar harus melewati delapan ratus tahun lainnya agar hidup kembali.

Ah… Lebih baik lemah sedikit daripada tetap dalam kegelapan. Namun, luka di kepalanya… Sepertinya diperlukan sedikit kekuatan spiritual untuk menyembuhkannya…

Sementara Yu Xiaocao kagum dengan bola yang banyak bicara itu, seketika dia merasakan dingin dan menyegarkan pada luka di dahinya. Sensasi menyakitkan juga hilang. Saat kegelapan di sekitarnya berangsur-angsur pudar, perlahan dia membuka kelopak matanya yang berat.

Lampu redup menyala di dalam ruangan. Samar-samar ia bisa melihat Nyonya Liu yang kurus berbaring di tepi ranjang kang. Napasnya dapat terdengar jelas dalam keheningan.

Yu Xiaocao mengingat kembali mimpi aneh yang baru saja dialaminya. Dia mengangkat lengannya dan menyentuh dahinya. Sudah tidak sakit lagi. Apakah ini mimpi? Apakah bola emas yang bersinar itu, yang menyebut dirinya ‘Batu Ilahi’, benar-benar ada? Apakah itu juga yang menyembuhkan luka di kepalanya?

Yu Xiaocao merasa kepanasan dan gerah karena tertutup selimut. Dia mengambil lengannya dari selimut dan memperhatikan tali merah yang tipis di pergelangan tangannya. Ada batu beraneka warna yang diikat di tali merah. Bukankah ini batu kecil yang diambil di aliran gunung dekat Istana Potala sewaktu dia pergi berlibur?

Batu itu hanya seukuran kelereng. Batu itu terlihat halus dan bulat tergeletak di tengah-tengah sungai. Dia mengambilnya karena batu beraneka warna itu terlihat sangat indah. Setelah mengambilnya, dia membuat lubang di dalamnya, memasangnya di tali merah, dan mengenakannya di pergelangan tangannya. Saat sedang memanggang makanan, dia merasa tidak nyaman memakainya. Karena itu, dengan santai dia membuangnya dan melupakannya. Mengapa batu itu ikut pindah bersamanya?

“Cao’er, kamu sudah bangun! Kamu tertidur selama tiga hari. Jika kamu masih belum bangun, aku akan membawamu ke kota untuk menemui dokter.” Nyonya Liu, yang berbaring di ranjang kang, memperhatikan gerakan itu dan mengangkat kepalanya. Dia menangis bahagia ketika dia mendongak dan melihat putrinya sedang memperhatikan batu beraneka warna tersebut.

Yu Xiaocao menatap Nyonya Liu. Kesan pertama adalah dia terlihat kurus. Meskipun dia memiliki wajah yang cantik dan lembut, tetapi terlihat kurus dan pucat. Tangan yang sedang memperbaiki selimutnya, penuh dengan kapalan dan bekas luka. Dengan hanya melihat sekilas, semua orang tahu dia melakukan pekerjaan kasar.

“Ibu…” Meskipun Nyonya Liu tidak jauh lebih tua darinya dalam kehidupan sebelumnya, dia tersentuh oleh cinta Ibu di matanya. Tidak ada yang memandangnya dengan tatapan penuh cinta sejak Ibunya meninggal saat dia berusia empat belas tahun. Yu Xiaocao tiba-tiba merasa ingin menangis.

“Jangan menangis, Cao’er. Apakah lukamu masih sakit? Ibu akan meniupnya untukmu…” Liu Muyun dengan lembut meniup kepala putrinya yang dibalut, lalu dia dengan cepat berbalik dan menyeka air matanya dengan lengan bajunya.

Saat dia mengandung si kembar, dia tidak sengaja jatuh ke air sewaktu mencuci pakaian sehingga melahirkan sebelum waktunya. Meskipun Xiaolian agak kurus, ia tumbuh dengan tubuh yang sehat. Namun, berbeda dengan Xiaocao. Dia bahkan tidak bisa minum susu pada awalnya. Selain itu, dia sering sakit-sakitan, bahkan ada beberapa kali dia hampir meninggal.

Anak itu perlu minum obat sepanjang tahun, tetapi keluarga mereka masih hidup bersama. Semua uang yang diperoleh suaminya dari memancing dan berburu harus diserahkan ke Ibu mertuanya. Setiap kali dia meminta untuk membeli obat, Nyonya Liu selalu enggan memberikannya sambil mengeluarkan kata-kata tidak menyenangkan. Adik ipar tertuanya juga ikut mencemooh.

Dia dapat menanggung apapun demi anaknya. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa putrinya hampir mati di tangan kakak ipar tertuanya. Dokter dengan jelas menginstruksikan untuk memberi makan Xiaocao lebih banyak nutrisi, tetapi Ibu mertuanya tidak mau memberi mereka telur.

Wajah Liu Muyun penuh dengan ketidakberdayaan saat dia melihat langit malam yang gelap melalui jendela. Dia sudah menikah dengan Keluarga Yu selama tiga belas tahun. Setiap hari, dia harus menjadi yang pertama bangun dan terakhir tidur. Dia selalu kelelahan karena dia bertanggung jawab untuk semua pekerjaan rumah tangga.

Dia tidak takut lelah, tetapi Ibu mertuanya tidak pernah puas. Dia merasa tersiksa dari tatapannya yang menuntut dan cemoohannya yang merendahkan. Bahkan anak-anaknya pun diperlakukan dengan buruk.

Tidak ada seorang pun di keluarga yang bisa diandalkan. Xiaocao terluka karena ipar perempuan tertua dan tidak sadarkan diri selama tiga hari, tetapi keluarga kakak sulung bahkan tidak muncul sama sekali. Hanya adik iparnya yang termuda dan ayah mertua yang datang membesuk Xiaocao…

“Cao’er, apakah kamu lapar? Bibimu yang termuda memberi sebutir telur dan sudah direbus.” Liu Muyun mengupas kulit telur untuk putrinya. Wajahnya tersenyum puas saat melihat putrinya perlahan memakan telur.

Dia melanjutkan, “Putriku yang baik, kamu harus kembali istirahat. Ibu akan pergi menyiapkan makan malam. Bubur congee[2]  kesukaanmu akan tersedia saat kamu bangun. Ibu akan memasaknya dengan kental dan menambahkan beberapa sayuran di dalamnya. Ibu akan membawa semangkuk besar untukmu!”

Yu Xiaocao teringat apa yang didengarnya sebelum tertidur. Ibunya ditolak setelah meminta telur dari neneknya. Nampaknya keluarga ini jarang makan biji-bijian halus seperti nasi putih dan tepung terigu.

Untuk semangkuk bubur ini, Nyonya Liu harus tahan cemoohan. Hati Cao’er sedih, “Ibu, aku akan makan apa saja. Tidak perlu menyiapkan terpisah untukku. Bukankah aku sudah makan telur hari ini?”


[1] Ranjang Kang – suatu tempat yang dipanaskan secara tradisional dalam waktu lama untuk tidur, hiburan, dan lain-lain; biasa ada di Cina Utara yang mana udaranya sangat dingin.

[2] Bubur congee – bubur ayam dengan bumbu-bumbu khas dari Cina

FG 2 - Nenek Tiri yang Jahat
FG 4 - Dia Memiliki Ayah yang Baik

Leave a Reply

Your email address will not be published.