FG 157 – Cacing Pasir

Featured Image

Matahari semakin tinggi. Angin sepoi-sepoi bertiup dari laut. Pada saat ini, gelombang surut, pekerja dari desa nelayan membawa alat-alat mencari makanan laut bersama teman dan keluarga.

Di musim semi, air laut terasa sejuk dan menyegarkan saat menyapu kaki para nelayan. Laut tanpa pamrih telah memelihara generasi demi generasi nelayan. Banyak harta yang terkandung di laut menunggu digali oleh para nelayan.

“Xiaocao — Xiaocao—” Suara jernih Zhou Shanhu terdengar dari halaman Keluarga Yu. Sosok ramping gadis itu seketika muncul di pintu masuk halaman. Xiaocao dan Xiaolian, yang sibuk bekerja di kebun sayur, menatapnya pada saat bersamaan.

Zhou Shanhu sedikit terkejut saat melihat wajah yang mirip. Dia mengedipkan matanya yang besar dan tertawa canggung dan berkata, “Xiaolian juga ada di rumah! Itu lebih baik!! Aku punya kabar baik untuk kalian!”

Xiaolian mengerutkan bibirnya dan bertanya, “Apa yang membuatmu begitu bahagia? Apakah ibumu juga mengatur pernikahan untukmu?”

Kakak Zhou Shanhu, Zhou Linglong baru saja bertunangan bulan lalu. Tunangannya adalah putera pemilik toko umum. Pemilik toko umum ini juga mulai sebagai penjual keliling seperti ayah Linglong. Dia seorang yang pintar, dengan cepat mengumpulkan uang dan menyewa sebuah toko di kota.

Pemilik toko umum berhubungan baik dengan ayah Zhou Linglong, sehingga kedua keluarga berhubungan dekat. Sebagian besar barang yang dijual Keluarga Zhou dipasok oleh toko umum. Ada seorang putera di keluarga itu seusia Zhou Linglong, mereka juga pernah bertemu sebelumnya saat masih muda. Dia sangat tampan. Sehingga menjadi rebutan. Zhou Linglong sekarang menyulam mas kawinnya di rumah. Zhou Shanhu bukan seseorang yang bisa diam, jadi dia sering datang ke Kediaman Yu untuk mengganggu Xiaocao.

Zhou Shanhu satu tahun lebih tua dari Xiaocao dan saudara perempuannya. Gadis sepuluh tahun itu sudah tahu malu. Dia memelototi Xiaolian dengan wajah memerah dan berkata, “Xiaocao, kau selalu menggertakku! Aku akan laporkan ke Bibi Yu!”

Xiaocao, membungkuk untuk mengumpulkan sayuran, merasa seperti ditembak. Dia mengerutkan bibirnya dan berkata, ” Shanhu, sebelum kamu mengeluh, kamu harus tahu sedang berbicara dengan siapa? Aku belum mengucapkan sepatah kata pun. Bagaimana aku menggertakmu?”

Nyonya Liu, yang telah memasukkan sayuran ke dalam keranjang, tersenyum hangat saat melihat ketiga gadis muda yang seperti bunga.  Ketika Zhou Shanhu mendengar itu, dia menyadari telah tertukar dengan kedua saudara perempuan itu lagi. Dia tersenyum malu dan berkata, “Ah! Kalian sangat mirip, aku terkecoh lagi! Xiaolian, kapan kamu menjadi begitu ceroboh?”

‘Baik! Jadi yang dia maksudkan adalah aku berbicara ngawyr! ‘Xiaocao segera membalas, “Xiaolian dan aku adalah kembar, tetapi kami tidak sama. Kakakmu belum pernah tertukar sebelumnya! IQ mu sepertinya mengkhawatirkan!”

“IQ? Apa itu IQ?” Zhou Shanhu membelalakkan matanya dan bertanya dengan ekspresi bodoh. Xiaocao mengambil selada, dengan lembut mengibaskan tanah, dan berkata, “Kamu tidak akan mengerti bahkan jika aku memberitahumu!”

Xiaolian tertawa lepas. Zhou Shanhu akhirnya menyadari bahwa Xiaocao pasti mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Dia menggembungkan pipinya dan berkata, “Xiaocao selalu menggertak orang. Xiaolian, katakan apa sebenarnya IQ itu?”  Xiaolian menunjuk diri sendiri dan tertawa, “Pikir sendiri!” Zhou Shanhu mengerutkan alisnya dan berpikir keras tentang itu.

Kemudian dia tiba-tiba marah dan malu dan berteriak, “Oke, Yu Xiaocao, kamu benar-benar berkata aku tidak punya otak! Aku tidak bodoh! Aku sangat pintar!!” Nyonya Liu memperhatikan saat mereka membuat keributan. Meskipun bercanda, dia khawatir puterinya marah pada Shanhu. Jadi, dia buru-buru berkata, “Xiaocao! Kamu tidak boleh menggertak Shanhu lagi. Shanhu, bukankah kamu mengatakan ada kabar baik untuk diceritakan?”

Zhou Shanhu memukul dahinya sendiri dan berteriak, “Ah! Aku hampir lupa! Xiaocao, Dokter Sun dari Klinik Tongren datang langgsung dan mengatakan ia ingin mengumpulkan cacing sendok dengan harga tinggi!”

Dengan penuh keraguan, Xiaolian bertanya, “Mengumpulkan cacing sendok? Untuk apa? Apakah cacing sendok juga sejenis ramuan obat?” Xiaocao telah mempelajari banyak buku tentang obat-obatan dengan Dokter You, jadi dia segera berkata, “Cacing sendok juga dikenal sebagai cacing pasir.

Alamiahnya bersifat dingin, rasanya manis dan asin. Memberi nutrisi pada yin, mengurangi panas dalm, dan membersihkan paru-paru. Menurut buku-buku medis, cacing pasir adalah obat untuk gejala-gejala seperti demam, keringat dingin karena kekurangan yin, batuk asma, sesak, dahak, kekurangan laktasi paskapersalinan, dan sebagainya.

Untuk gejala seperti TBC, neurasthenia, defisiensi limpa atau kekeringan pada anak-anak, sangat efektif minum sup yang diseduh cacing pasir, irisan jahe, dan daging tanpa lemak. Cacing sendok dapat menyehatkan yin dan ginjal, sehingga mengkonsumsi bubur cacing adalah terapi yang baik untuk anak-anak dan orang-orang yang sering buang air kecil di malam hari …”

“Ah! Cacing sendok ternyata sangat berguna. Tidak heran Klinik Tongren menawarkan untuk membeli seharga seratus koin logam per catty! Xiaocao, Xiaolian, ayo cepat pergi! Kalau tidak, semua tempat bagus di pantai akan diambil!”

Sebelum Zhou Shanhu selesai berbicara, dia berlari pulang untuk mengambil alat-alatnya. Xiaolian cemberut dan sepertinya tidak terlalu optimis, “Tidak mudah menemukan cacing sendok. Mereka semua bersembunyi di pasir, dan segera setelah ada gerakan, mereka dengan cepat bersembunyi. Bahkan setelah menggali lama, belum tentu bisa menemukan satu pun dari mereka!” Nyonya Liu memandangi kedua puterinya sambil tersenyum dan berkata, “Pergi dan lihatlah bersama Shanhu! Anggap sebagai hiburan.”

Kedua puterinya, jarang memiliki kesempatan berinteraksi dan bermain dengan teman sebaya. Nyonya Liu merasa senang, namun hatinya juga sedih, memiliki dua anak perempuan yang sangat baik. Untungnya, kaki suaminya telah pulih, dan putera sulungnya juga telah pulih dari cedera. Sudah waktunya bagi puterinya bersantai dan bergaul. Yu Xiaocao cukup tertarik dengan cacing pasir.

Dia tahu bahwa, selain nilai obatnya, cacing pasir juga bernilai gizi tinggi. Jika dimasak dengan baik, rasanya pasti enak. Meskipun cacing pasir tidak sama berharganya dengan teripang, sirip hiu, dan abalon, tetap terasa lezat dan lembut. Mereka tidak kalah dengan teripang dan sirip hiu. Dia dengan antusias mengambil sekop kecil dari ayahnya, mengambil ember kecil, dan memanggil Xiaolian untuk pergi ke pantai bersamanya. Xiaolian memutuskan untuk menemaninya setelah jarang melihat adik perempuannya gembira.

Zhou Shanhu telah menunggu dengan keranjang di dekat rumahnya. Kakak laki-lakinya, Zhou Shaohua [1] yang biasanya menjual barang-barang dan jarang di rumah, berdiri di sampingnya. Zhou Shaohua seumuran dengan Qian Wen dan Tuan Muda Ketiga Zhou. Mungkin karena mengikuti ayahnya sepanjang tahun, kulitnya sedikit lebih gelap. Selain itu, dengan fitur wajah Keluarga Zhou yang lebih menonjol, dia terlihat sedikit lebih tua dari usianya yang sebenarnya.

Tapi tentu saja, dia masih sedikit kurang jika dibandingkan dengan Zhao Han! Sudah lebih dari sepuluh hari sejak Saudara Han kembali ke ibu kota. Dia merindukan hari-hari bersamanya! “Cepat, cepat! Jika Klinik Tongren mendapat cukup, semua upaya kita tidak sia-sia!” Zhou Shanhu berkepribadian sedikit eksentrik. Dia berbicara dengan cara yang berisik dan ramai, seperti burung pipit kecil.

Di bawah desakan gadis kecil Shanhu, keempat orang itu dengan cepat mencapai tepi laut. Ada banyak tokoh sibuk di sepanjang pantai. “Ini sangat dingin!!” Zhou Shanhu mengerutkan kening. Dia memakai sandal jerami, jadi kakinya basah oleh air laut. Xiaocao mengenakan sepatu bot kulit rusa yang diberi Tuan Muda Ketiga Zhou. Sepatu bot itu benar-benar tahan air. Xiaolian mengenakan sepatu bot yang terbuat dari kulit hiu, yang juga cukup tahan air. Zhou Shanhu memandangi kedua saudari itu dan berbisik kepada kakak laki-lakinya, “Alangkah baiknya jika ayah juga bisa menangkap hiu dan membuat sepatu bot untukku!”

Zhou Shaohua tertawa kecil dan berkata, “Berhenti bermimpi! Ada lebih sedikit orang di sana. Ayo pergi kesana!” Yu Xiaocao belum pernah menggali cacing pasir sebelumnya, jadi dia mengambil sekop dan mulai menggali. Xiaolian tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis, “Ada trik menggali cacing sendok. Kamu tidak boleh asal menggali. Saat mencari cacing sendok, kamu harus menemukan lubang kecil dahulu. Lihat, jumbai di pantai itu adalah lubang yang dibuat oleh cacing sendok. Saat menggali, berjalanlah pelan dan gali cepat. Kalau tidak, cacing sendok akan dengan cepat bersembunyi jika ada gerakan sekecil apa pun. Juga, jangan langsung menggali. Kamu harus menggali pada sudut besar dari permukaan pantai.”

Xiaocao mengambil sekop dan bekerja keras menggali lubang cacing. Dia harus menggali sangat dalam sebelum berhasil menggali cacing pasir yang gemuk. Cacing pasir bertubuh licin, seperti versi cacing tanah yang lebih gemuk, dan terlihat sangat menyeramkan. “Kita terlalu berisik, jadi cacing sendok segera bersembunyi. Mari menyebar. Berhati-hatilah saat menggali!”

Xiaolian memasukkan cacing pasir ke dalam ember kecil Xiaocao, mengambil keranjang lain, dan berjalan ke arah lain. Xiaocao terus berjalan di sepanjang pantai, dan segera menemukan lubang lain di pasir. Dia meletakkan embernya dan menggali dengan keras. Setelah menggali lubang yang sangat dalam, dia menempelkan wajah di pasir dan merentangkan tangannya untuk mencari ke dalam lubang yang dalam.

Tubuh dan wajahnya ditutupi pasir saat menangkap cacing pasir yang mencoba masuk lebih dalam ke pasir. ‘Sangat lapar! Andai saja cacing pasir bisa keluar sendiri … Tunggu! Apakah aku membawa — batu suci?’ [Huh! Kamu memberi tugas mudah lagi! Ini penghinaan terhadap martabatku sebagai dewa!!] Cahaya keemasan bersinar dari batu beraneka warna di pergelangan tangan Xiaocao, dan perlahan-lahan berubah menjadi kucing miniatur yang lucu.

Dia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi saat mondar-mandir di pantai dengan angkuh. Xiaocao menyentuh kepalanya dengan tangannya yang tertutup pasir, tetapi tangannya dihempas. Murid emasnya melebar saat berteriak, [Sangat kotor! Kamu menyentuh buluku yang suci dan murni dengan tangan yang kotor]. “Kotor? Mhm, sedikit kotor. Bukankah akan bersih setelah mandi?”

Yu Xiaocao menyeringai nakal. Sementara kucing emas itu lengah, dia mengambilnya dari belakang lehernya dan melemparkannya ke laut. [Yu! Xiao! Cao!! Batu Suci ini akan membuatmu menyesali apa yang kamu lakukan hari ini!!] Anak kucing emas itu tidak bisa menggunakan kekuatannya di depan banyak orang, sehingga ia terbang dan jatuh ke laut.

[1] Dinamai Zhou Wenhua di bab-bab sebelumnya, tetapi penulisnya mengubah namanya menjadi Zhou Shaohua.

 

FG 156 - Mengantar Mereka
FG 158 - Curang

Leave a Reply

Your email address will not be published.