DSAIP 60. Pangeran ini Sedang Berbicara, Kapan Kau Mendapat Giliran untuk Menyela

Featured Image

Sementara Feng Zi Hao menangis dan menjerit, para pelayan yang pergi untuk mencari di halaman Jin Yu telah kembali. Dari para pelayan itu, dua orang gadis pelayan jelas-jelas terluka, ketika mereka berjalan sambil menangis.

Nenek Besar bertanya dengan enggan, “Apa yang terjadi?”

Nenek Zhao berjalan ke samping Nenek Besar dan mencengkram lengan Nenek Besar, sambil menjawab, “Mereka berdua dipukuli oleh Nyonya Besar. Melihat kami datang untuk menggeledah halamannya, Nyonya Besar mulai menimbulkan keributan. Nyonya Besar mencengkram kedua gadis pelayan itu dan terus saja memukuli mereka berdua.”

Nenek Besar sangat marah, “Bagaimana bisa wanita jahat seperti itu layak menjadi istri utama keluarga Feng kita!”

Nenek Zhao menarik lengan pakaian Nenek Besar dan menunjukkan sesuatu yang ada di tangannya, “Benda ini ditemukan di bawah bantal nona muda tertua.”

Kata-kata ini didengar oleh semua orang. Semua orang menjulurkan leher mereka untuk dapat melihat benda itu. Bahkan Feng Zi Hao dengan tertatih-tatih melangkah maju untuk melihatnya.

Ketika Nenek Besar mengambil benda itu, tangannya gemetar. Setelah hidup sampai usia seperti itu, tidak ada benda yang belum pernah dilihat oleh Nenek Besar sebelumnya. Sebuah boneka yang tampaknya digunakan dalam sihir telah ditemukan di bawah bantal Feng Chen Yu.

Nenek Besar melihat bagian belakang boneka itu. Jelas tertulis tiga kata ‘Feng Zi Hao’ dan tanggal kelahiran Feng Zi Hao. Nenek Besar merasa hatinya menjadi dingin. Mengapa tidak ada satupun dari cucunya yang membiarkannya memiliki pikiran yang tenang!

“Feng Chen Yu!” Feng Zi Hao menunjukkan sikap bermusuhan setelah melihat hal ini, “Feng Chen Yu! Kau wanita yang busuk dan berbisa! Kau benar-benar berani memantraiku seperti itu!”

Feng Chen Yu menghadapi ketidakadilan yang bahkan lebih buruk daripada Dou E. Kapan dia meletakkan sesuatu seperti itu di bawah bantalnya? Bahkan jika Feng Zi Hao hanya bermain-main saja, Feng Zi Hao masih tetap kakak kandungnya. Bagaimana Feng Chen Yu bisa menyakitinya?

(Ketidakadilan pada Dou E adalah sebuah drama Tiongkok yang ditulis oleh Guan Hanqing [sekitar 1241 – 1320] selama dinasti Yuan berlangsung. Judul lengkap dari drama ini adalah Gan Tian Dong Di Dou E Yuan yang secara kasar diterjemahkan menjadi ‘Ketidakadilan pada Dou E yang Menyentuh Surga dan Bumi’. Kisah ini menceritakan tentang seorang pengantin yang masih anak-anak yang menjadi janda, yang bernama Dou E, yang dihukum secara keliru atas tindak kejahatan oleh pejabat pengadilan yang korup. Kejahatan itu sendiri sebenarnya dilakukan oleh pelamar yang ditolak, yang bernama Zhang si Bagal. Setelah Dou E diekseskusi, tiga fenomena yang diramalkan terjadi untuk membuktikan bahwa Dou E tidak bersalah. Ketiga fenomena itu adalah hujan darah dari langit, salju yang turun pada bulan Juni, dan kekeringan selama tiga tahun. Setelah kunjungan dari arwah Dou E, ayah Dou E akhirnya membawa pejabat yang korup itu, seorang tabib, dan Zhang si Bagal ke pengadilan. Dengan demikian hal ini membuktikan bahwa Dou E tidak bersalah. – sumber: Wikipedia.)

“Nenek Besar!” mata Feng Chen Yu dipenuhi dengan air mata, ketika tubuhnya sedikit bergetar, “Chen Yu tidak menyakiti kakak laki-laki. Boneka kecil itu bukan Chen Yu yang menusuknya!”

“Lalu mengapa boneka itu ditemukan di bawah bantalmu?” Feng Zi Hao mengutuk dan menunjuk Feng Chen Yu, “Aku hanya berbaring di atas bantalmu sekali, namun wanita ini ingin memantraiku sampai aku mati!”

“Aku tidak memantraimu!”

Kakak dan adik mulai bertengkar di hadapan semua orang. Feng Yu Heng menarik Zi Rui ke samping, dan keduanya mengamati yang sedang terjadi sambil mengobrol, “Zi Rui, di masa mendatang, kau seharusnya tidak belajar dari kakak laki-laki tertua. Apa kau mengerti?”

Feng Zi Rui mengangguk dengan penuh semangat, “Jangan khawatir, kakak. Zi Rui adalah anak yang baik dan tidak akan melakukan hal-hal yang buruk.”

Tubuh Nenek Besar sudah dalam kondisi yang sangat buruk, dengan kemarahan setiap hari Nenek Besar terhadap satu dan lain hal, hal ini terus berlanjut selama beberapa hari tanpa jeda. Nenek Besar merasakan tekanan darahnya terus meningkat, dan hari itu Nenek Besar merasakan perasaan yang sama seperti yang dia rasakan dulu ketika berada di halaman Pinus.

Nenek Besar memegang lengan pakaiannya dengan takut dan mengeluarkan sebotol obat kecil yang diberikan oleh Feng Yu Heng kepadanya. Sambil membuka sumbat botol itu, Nenek Besar menuangkan beberapa obat langsung ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat, Nenek Besar akhirnya merasa tenang.

Tanpa sadar, Nenek Besar memikirkan lagi betapa baiknya Feng Yu Heng. Memperhatikan kembali Feng Yu Heng, Nenek Besar melihat bahwa cucu perempuannya itu sedang memeluk cucu laki-lakinya yang bungsu dan mengobrol di taman. Kakak beradik itu terlihat akrab. Penampilan fisik Feng Zi Rui yang ramah dan kuat menjadi terlihat semakin menarik.

Memperhatikan kembali kakak beradik yang berada di sisi lain, mereka berdua juga dilahirkan dari ibu yang sama, tetapi mereka berdua berada di tengah-tengah pertengkaran yang buruk. Jika bukan karena salah satu dari mereka berdua sedang terluka dan yang lain masih ingat untuk menahan diri, keduanya bisa saja langsung mulai berkelahi setiap saat.

Nenek Besar tidak dapat menahan diri untuk melotot pada Yao Shi. Jika bukan karena keluarga Yao mengalami musibah, kediaman keluarga Feng akan melewati hari-hari yang jauh lebih baik.

Sementara halaman masih ramai, Feng Jin Yuan telah kembali dari pengadilan.

Wajah perdana mentri itu mulai menjadi gelap, tetapi begitu perdana mentri memasuki halaman, dia mendengar Feng Zi Hao mengutuk dengan marah, “Pada waktu itu, bagaimana aku tidak tidur denganmu?”

“Siapa atasanmu? Kau ingin tidur dengan siapa?” Feng Jin Yuan merasa dia pasti telah melakukan dosa karena melahirkan hal-hal seperti ini. Feng Jin Yuan bergegas maju tiga langkah, menempatkan dirinya tepat di hadapan Feng Zi Hao, dan menampar Feng Zi Hao sebanyak dua kali. Feng Zi Hao dipukul dengan sangat keras sehingga menyebabkan dia menjadi bingung.

Feng Zi Hao juga tidak melihat dengan jelas siapa yang memukulnya. Feng Zi Hao tanpa sadar mulai mengutuk, “Bajingan mana yang berani memukulku?”

Melihat kembali, Feng Zi Hao melihat bahwa yang memukulnya adalah ayahnya sendiri dan diapun segera menjadi lemas.

Chen Yu berlutut dan meraih jubah Feng Jin Yuan, sambil menangis, “Ayah, Chen Yu benar-benar diperlakukan dengan tidak adil. Chen Yu benar-benar tidak melakukan apapun untuk memantrai kakak!”

Feng Jin Yuan melirik Chen Yu kemudian berbalik dan melihat Pendeta Tao Senior Zi Yang. Sambil mengerutkan alisnya, Feng Jin Yuan bertanya, “Mengapa Pendeta Tao Senior datang?”

Nenek Besar menarik Feng Jin Yuan dan menjelaskan semua yang telah terjadi. Feng Jin Yuan menginjak tanah, “Bodoh!”

Nenek Besar tidak mengerti, “Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa semua hal ini bodoh? Tahun itu, kau tidak menunjukkan keraguan terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Pendeta Tao Senior. Pendeta Tao Senior mengatakan bahwa A Heng adalah bintang bencana dan mengatakan bahwa Chen Yu akan memiliki takdir burung Phoenix. Bukankah hal-hal yang terjadi pada saat ini … pada saat ini semuanya sedang benar-benar terjadi.”

Pada awalnya Feng Jin Yuan merasa bahwa kedatangan Zi Yang ke kediaman keluarga Feng agak sedikit membingungkan, tetapi menyebut bintang bencana, Feng Jin Yuan tidak dapat untuk tidak memikirkan hal-hal yang telah terjadi pada beberapa hari terakhir ini. Tampaknya sejak saat Feng Yu Heng kembali ke kediaman keluarga Feng, keluarga Feng tidak memiliki kelonggaran sedikitpun. Mungkinkah Feng Yu Heng benar-benar memiliki ramalan yang tidak cocok dengan kediaman keluarga Feng?

Persis pada saat Feng Jin Yuan melemparkan tatapan penuh keraguan ke arah Feng Yu Heng, pengurus rumah tangga yang bernama He Zhong, yang sejak tadi berdiri di pintu, tiba-tiba berlari ke arah Feng Jin Yuan. Sambil mendekat, He Zhong membisikkan beberapa kata di telinga Feng Jin Yuan.

Wajah Feng Jin Yuan menjadi dingin. Feng Jin Yuan dengan cepat menunjuk ke arah Zi Yang dan berkata kepada He Zhong, “Cepat! Ikat dia dan lemparkan dia ke gudang penyimpanan kayu bakar! Cepat!”

He Zhong tidak mengatakan sepatah katapun dan memberi isyarat kepada sekelompok pelayan. Hanya dengan beberapa gerakan, Zi Yang diikat dengan erat.

Tidak ada seorangpun yang mengerti apa yang terjadi. Mulut Zi Yang disumpal dengan selembar kain, sehingga tidak ada suara Zi Yang yang dapat keluar dari mulutnya.

Feng Jin Yuan benar-benar tidak punya waktu untuk menjelaskan dan hanya memperingatkan semua orang, “Hal-hal yang terjadi pada hari ini, tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk mengungkit-ungkitnya lagi!”

Pada saat ini, terdengar suara yang sedikit lesu tetapi lucu dari arah gerbang utama, “Hal seperti apa yang tidak boleh untuk diungkit-ungkit lagi?”

Kemudian terdengar suara melengking dan canggung yang mengumumkan, “Yang Mulia Pangeran Yu telah tiba!”

Kepala semua orang yang ada di kediaman keluarga Feng terasa berdentum dan meledak!

Pangeran Yu? Sudah tiba?

Yang mulia orang suci penuh kemenangan itu telah datang secara pribadi?

Betis Feng Jin Yuan menjadi kram. Feng Jin Yuan telah menjadi perdana mentri selama bertahun-tahun, dan berurusan dengan para pangeran dapat dianggap sebagai kejadian biasa yang terjadi setiap hari. Tetapi dia adalah Pangeran Kesembilan. Feng Jin Yuan benar-benar tidak dapat mendekatinya. Bahkan ketika mereka telah mengatur pernikahan antara Pangeran Kesembilan dengan Feng Yu Heng, Feng Jin Yuan mendengar seseorang mengatakan bahwa Pangeran Kesembilan tidak hadir. Setuju dengan pernikahan yang diatur itu adalah cara Pangeran Kesembilan menghormati Permaisuri. Ketika tiba saatnya, Pangeran Kesembilan yang memiliki hak untuk memutuskan pada saat terakhir, apakah dia benar-benar ingin menikah, ataukah tidak.

Dengan demikian, masalah pernikahan ini dilupakan oleh banyak orang. Bahkan Kaisar lupa dan mengatur pernikahan Pangeran Kesembilan dengan putri dari keluarga Wang.

Alasan Feng Jin Yuan memiliki ide untuk mengubahnya menjadi Feng Chen Yu adalah karena Pangeran Kesembilan baru saja kembali meraih kemenangan, sehingga kedudukan Pangeran Kesembilan sebagai putra mahkota akan menjadi kuat. Ketika saatnya tiba, Feng Jin Yuan akan bergabung dengan para pejabat yang lain untuk menekan Kaisar. Feng Jin Yuan telah mengubah kesetiaannya, jadi mengubah pengaturan pernikahan, mungkin saja untuk dilakukan. Hanya berdasarkan kecantikan Feng Chen Yu, bahkan jika Pangeran Kesembilan pada saat itu menolak, Pangeran Kesembilan akhirnya akan takluk pada pesona feminin yang dimiliki oleh Feng Chen Yu.

Tetapi sekarang, Feng Jin Yuan mulai menyesali keterlibatannya dengan Pangeran Kesembilan. Selain dari peringkatnya yang terus naik, kepribadian Pangeran Kesembilan ini semakin sulit untuk dibaca, hal yang membuat Feng Jin Yuan sedapat mungkin menghindari Pangeran Kesembilan.

Seperti sekarang ini, Pangeran Kesembilan tiba-tiba datang ke kediaman keluarga Feng, dan keluarga Feng mereka tidak membuat persiapan sebelumnya. Yang lebih mengerikan adalah, bagaimana mungkin Pangeran Kesembilan yang datang itu membawa hal-hal yang baik. Feng Jin Yuan khawatir jika hal itu akan menyebabkan lebih banyak terjadinya hal-hal yang buruk.

Bersamaan dengan kata-kata ‘Yang Mulia Yu telah tiba’, muncul sebuah tandu giok yang diangkat oleh empat orang pengawal. Seorang laki-laki berjubah ungu duduk dengan malas di atas tandu. Topeng emas yang menutupi wajah laki-laki itu, berkilauan di bawah sinar matahari dan menyilaukan semua orang.

Semua orang yang berada di kediaman keluarga Feng segera berlutut dan menyambut Pangeran Yu, sambil berteriak, “Panjang umur Yang Mulia Pangeran Yu.”

Feng Yu Heng mengangkat kepalanya sedikit dan menatap Xuan Tian Ming dan melihat bahwa Xuan Tian Ming juga sedang menatap ke arahnya. Mata mereka berdua bertemu, dan kedua belah pihak saling menatap dengan tatapan yang angkuh.

Xuan Tian Ming sepertinya tidak berniat untuk membiarkan para pengawalnya itu menurunkan tandu giok yang dinaikinya itu. Xuan Tian Ming hanya mengangkat tangannya dengan malas, dan kasim yang berada di dekatnyapun berkata, “Kalian boleh bangun.”

Orang-orang dari kediaman keluarga Feng akhirnya berdiri.

Feng Jin Yuan mengambil inisiatif dan maju ke depan, sambil berkata, “Kami tidak tahu bahwa Yang Mulia Pangeran Yu akan datang kemari. Maafkan saya karena tidak keluar untuk menemui anda dan saya berharap Yang Mulia akan memaafkan kesalahan ini.”

Xuan Tian Ming menatap Feng Jin Yuan. Xuan Tian Ming tetap terdiam untuk waktu yang lama, dan hanya memainkan cambuk yang ada di tangannya.

Feng Jin Yuan mengetahui bahwa cambuk itulah yang telah merenggut nyawa puluhan pengawal istana kekaisaran.

“Tuan Feng masih belum menjawab pertanyaan pangeran ini.” Kata Xuan Tian Ming. Jelas, Xuan Tian Ming berbicara dengan perlahan, sehingga orang-orang berpikir bahwa Xuan Tian Ming akan tertidur. Tetapi ketika kata-kata itu keluar dari mulut Xuan Tian Ming, terasa ada nada dingin yang mematikan juga sedikit pesona dalam suara Xuan Tian Ming itu, seperti bunga teratai berwarna ungu yang mekar di antara alis Xuan Tian Ming. Orang-orang merasa takut untuk menatap langsung ke arah Xuan Tian Ming, tetapi juga merasa penasaran ingin menatap Xuan Tian Ming.

Feng Jin Yuan menyeka keringat dari dahinya dan berkata tanpa daya, “Bukan apa-apa. Tidak ada apa-apa.”

“Hm?” Xuan Tian Ming meluruskan punggungnya dari tandu giok dan mencondongkan tubuhnya ke depan, “Apakah tuan Feng sedang mempertanyakan telinga pangeran ini?”

“Hamba tidak berani.” Feng Jin Yuan berpikir dalam hati, bagaimana aku berani mempertanyakanmu, “Itu hanya masalah keluarga. Saya takut jika saya membicarakannya akan mengganggu kedamaian dan ketenangan Yang Mulia.”

“Oh.” Xuan Tian Ming mengangguk dan tidak melanjutkan bertanya. Tetapi Xuan Tian Ming tetap duduk di atas tandu tanpa berbicara sepatah katapun. Xuan Tian Ming duduk di sana, berjemur di atas sinar matahari, seakan-akan dia jatuh tertidur.

Feng Jin Yuan benar-benar tidak berdaya. Sambil menenangkan diri, Feng Jin Yuan kembali bertanya, “Saya tidak tahu alasan Yang Mulia datang ke kediaman keluarga Feng pada hari ini …”

“Jika kau tidak menyebutkan hal itu, pangeran ini hampir saja melupakannya.” Xuan Tian Ming akhirnya mulai berbicara, “Pangeran ini datang kemari untuk mengantarkan makanan untuk calon selir di masa yang akan datang.”

Feng Yu Heng menepuk dahinya. Tiba-tiba Feng Yu Heng teringat bahwa pada hari itu di Gedung Dewa Terhormat, Xuan Tian Ming mengatakan bahwa dia kurus. Xuan Tian Ming juga mengatakan bahwa keluarga Feng, sampai saat ini, masih berani untuk tidak memberi makan Feng Yu Heng. Feng Yu Heng berpikir bahwa pernyataan yang diucapkan oleh Xuan Tian Ming itu hanyalah sepintas lalu dan Feng Yu Heng tidak berpikir bahwa Xuan Tian Ming ini akan benar-benar melakukan sesuatu.

Feng Jin Yuan tidak mengerti. Karena merasa bingung, Feng Jin Yuan-pun bertanya, “Mengantar makanan? Mengantar makanan apa?”

Xuan Tian Ming menunjuk Feng Yu Heng, “Keluarga kami, Heng Heng, telah diusir untuk memberi makan serigala jauh di pegunungan di Barat Laut selama tiga tahun. Heng Heng menjadi sangat kurus sehingga hanya tinggal kulit dan tulangnya saja. Pangeran ini berpikir bahwa dengan kembali ke ibukota, keluarga Feng akan memberikan ganti rugi yang layak bagi Heng Heng, siapa yang menyangka bahwa ketika kemarin bertemu dengan Heng Heng, aku melihat bahwa Heng Heng masih sekurus ini. Karena kediaman keluarga Feng anda tidak mampu untuk merawat putri anda itu, pangeran ini datang untuk merawatnya. Heng Heng akan menikah di istana Yu.”

Kata-kata yang diucapkan oleh Xuan Tian Ming ini langsung menampar wajah keluarga Feng; Namun, dari semua orang yang hadir di tempat itu, tidak ada yang berani untuk membantahnya. Feng Jin Yuan tidak berani. Nenek Besar tidak berani. Dan orang lain hanya bisa menundukkan kepala mereka.

Tetapi ada satu orang yang berani untuk membalas kata-kata Xuan Tian Ming itu, “Bagaimana mungkin keluarga Feng tidak mampu merawat seorang anak perempuan!”

Semua orang memutar kepala mereka. Orang yang berbicara itu adalah Feng Zi Hao.

Xuan Tian Ming jelas tidak dapat berbicara langsung kepada Feng Zi Hao, tetapi Xuan Tian Ming juga tidak bermaksud untuk mengabaikannya; oleh karena itu, yang menanggapi kata-kata Feng Zi Hao tadi adalah cambuk yang berada di tangan Xuan Tian Ming.

Terdengar suara ‘ctaaarrrr’, ketika Xuan Tian Ming mencambukkan cambuknya itu, dan langsung menyerang tubuh Feng Zi Hao. Serangan cambuk Xuan Tian Ming ini nyaris merenggut nyawa Feng Zi Hao.

“Pangeran ini sedang berbicara, kapan kau mendapat giliran untuk menyela?!”


Table Of Content

DSAIP 59. Pendeta Tao yang Miskin ini akan Mempertunjukkan sebuah Ramalan
DSAIP 61. Xuan Tian Ming, Kau Memiliki Penglihatan yang Bagus

One thought on “DSAIP 60. Pangeran ini Sedang Berbicara, Kapan Kau Mendapat Giliran untuk Menyela”

Leave a Reply

Your email address will not be published.