DSAIP 55. Xuan Tian Ming, Siapa yang Memberimu Keberanian untuk Menghancurkan Barang-barangku?

Featured Image

Gedung Dewa Terhormat adalah sebuah rumah makan dan merupakan tempat yang istimewa yang ada di ibukota.

Berbicara mengenai hal-hal istimewa yang dimaksud, yang paling penting adalah lokasinya.

Ibukota memiliki sebuah danau di tengah-tengah kota, yang selalu menjadi tempat paling menarik bagi orang-orang untuk berekreasi di sana. Setiap malam, bahkan semakin banyak orang yang menaiki perahu di danau itu, disertai dengan suara musik dan secangkir teh. Dengan sebuah kipas di tangan, para pria akan berpura-pura bersikap jauh lebih baik daripada yang sebenarnya ketika menjemput para gadis. Bukanlah sesuatu hal yang buruk.

Dan di tengah-tengah danau ini, ada sebuah rumah makan yang membanggakan bahwa makanan yang mereka jual adalah makanan yang paling lezat dan yang paling mahal yang ada di ibukota. Rumah makan itu adalah satu-satunya tempat dimana sangat sulit untuk memesan tempat di sana. Rumah makan itu adalah Gedung Dewa Terhormat.

Semua pengunjung yang datang untuk makan di Gedung Dewa Terhormat pertama-tama harus membayar untuk menyewa sebuah perahu dayung kecil yang ada di tepi danau. Mereka kemudian akan diantar ke rumah makan oleh tukang perahu. Setelah mereka selesai makan, mereka harus menyewa perahu dayung kecil yang baru untuk mengantar mereka kembali.

Feng Yu Heng dan pelayan-pelayannya tiba di Gedung Dewa Terhormat dengan cara seperti itu.

Huang Quan jelas sangat mengenal Gedung Dewa Terhormat ini. Huang Quan bahkan mulai memperkenalkan Gedung Dewa Terhormat kepada Feng Yu Heng ketika mereka masih berada dalam perahu, “Yang Mulia membuka Gedung Dewa Terhormat ini pada usia sembilan tahun untuk bersenang-senang. Siapa yang menyangka bahwa ketika bermain-main dengan tempat ini, tempat ini menjadi terkenal. Di ibukota, tidak peduli apakah dia seorang pangeran kaya ataupun seorang nona muda, semua orang menganggap bahwa makan di Gedung Dewa Terhormat ini merupakan suatu kemewahan. Sebelumnya, hanya ruang dan bilik pribadi yang sulit untuk dipesan. Sekarang, sulit untuk memesan sebuah meja yang berada di area umum sekalipun.”

Mendengar hal ini, Qing Yu menjadi terdiam, “Siapa sebenarnya yang mengundang nona muda kita ke tempat seperti itu?” Qing Yu tiba di kediaman keluarga Feng setelah rombongan Pangeran Yu datang. Pemahaman Qing Yu mengenai Yang Mulia yang dibicarakan oleh Huang Quan sangatlah samar-samar.

Huang Quan berkata sambil tersenyum, “Tentu saja Yang Mulia itu adalah pemilik Gedung Dewa Terhormat ini.”

Ketika Huang Quan berbicara, perahu yang mereka tumpangi telah tiba di dermaga.

Seseorang yang ada di rumah makan itu segera melangkah maju untuk menyambut mereka. Melihat yang datang adalah tiga orang gadis, maka pelayan rumah makan itupun bertanya, “Apakah kalian bertiga sudah memesan tempat?”

Huang Quan memberi salam dengan cara mengepalkan tangannya di depan dada, “Bahkan jika aku yang datang, apakah masih perlu untuk memesan tempat?”

Pelayan itu tertegun tetapi dengan cepat mengenali Huang Quan, “Oh! Ternyata Huang Quan.”

Sebelum pelayan itu dapat berbicara lebih banyak lagi, seorang pria berpakaian bagus yang berusia lebih dari empat puluh tahun muncul dari dalam Gedung Dewa Terhormat. Pria itu terlebih dulu mengangguk ke arah Huang Quan kemudian memberi hormat kepada Feng Yu Heng, “Putri.” Kemudian pria itu sedikit membungkuk, dan memberi isyarat, “Silakan masuk. Yang Mulia berada di lantai tiga.”

Feng Yu Heng pada awalnya tidak terlalu terbiasa dengan gelar ini, tetapi kadang-kadang Wang Chuan dan Huang Quan akan memanggil Feng Yu Heng dengan nama panggilan seperti itu. Dengan demikian Feng Yu Heng tidak merasa panggilan itu terlalu mendadak baginya. Tetapi mendengar bahwa orang itu berada di lantai tiga, dipanggil dengan sebutan ‘putri’ menyebabkan Feng Yu Heng sedikit tersipu.

Di sisi lain, Huang Quan terkikik. Setelah menaiki tangga, Huang Quan menjadi lebih serius, hal itu menyebabkan Qing Yu menjadi gugup.

Hanya setelah pelayan rumah makan secara pribadi mengantar mereka bertiga ke pintu bilik pribadi yang ada di lantai tiga, Feng Yu Heng melihat Bai Ze.

Feng Yu Heng menaikkan alisnya dan mengingat pertemuan pertama mereka jauh di pegunungan. Bunga teratai ungu yang selalu ada di pikirannya itu menjadi terlihat sedikit lebih jelas.

Setelah pelayan rumah makan menyerahkan mereka bertiga kepada Bai Ze, pelayan rumah makan itupun kembali ke bawah. Bai Ze tersenyum lebar ketika dia menatap Feng Yu Heng. Kebungkaman Bai Ze membuat Feng Yu Heng merasa jengkel, ketika Feng Yu Heng menatap lurus pada Bai Ze.

Pada akhirnya, Bai Ze masih dapat mengingat hal-hal yang penting. Setelah beberapa saat, Bai Ze berhenti tersenyum dan berbalik untuk mendorong pintu agar terbuka. Bai Ze melihat ke dalam, “Tuan, orang-orang yang anda tunggu telah tiba.” Bai Ze kemudian menatap Huang Quan, Bai Ze memberi isyarat. Huang Quan mendorong Qing Yu dan pergi bersama dengan Bai Ze.

Qing Yu masih merasa tidak nyaman. Feng Yu Heng mengangguk sedikit ke arah Qing Yu dan membuat Qing Yu berhenti merasa khawatir dan pergi bersama dengan Huang Quan.

Sedangkan Feng Yu Heng, dia berdiri di ambang pintu untuk waktu yang lama, tidak berani melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.

Ada dua orang, satu berada di dalam dan satu lagi berada di luar. Seolah-olah mereka berdua sedang bertengkar. Tidak ada satupun dari mereka berdua yang berbicara. Orang yang berada di dalam tidak keluar, dan orang yang berada di luar tidak masuk ke dalam. Hal ini berlangsung selama sekitar waktu yang diperlukan bagi sebatang dupa untuk terbakar habis.

Pada akhirnya, orang yang berada di dalam mendesah, “Kakiku tidak sehat. Kau tidak dapat mengharapkan aku akan pergi ke luar untuk menyambutmu.”

Baru pada saat itulah kesadaran Feng Yu Heng kembali pulih. Kata-kata ‘kaki tidak sehat’ sedikit menyentak hati Feng Yu Heng.

Feng Yu Heng membayangkan mereka berdua bertemu sekali lagi dan Feng Yu Heng berpikir bahwa dia harus terlebih dulu bertanya mengenai siapa sebenarnya yang melukai kaki dan wajahnya. Setelah mengetahui nama musuhnya, Feng Yu Heng pasti akan membantunya untuk membalas dendam di masa yang akan datang.

Pada saat ini, Feng Yu Heng benar-benar siap untuk mengatakan hal itu, tetapi sesuatu yang benar-benar jelas ketika dia pikirkan dalam hatinya, akan terasa berbeda ketika diucapkan secara langsung.

Seperti sekarang, Feng Yu Heng masuk ke dalam ruangan pribadi dan menutup pintu yang ada di belakangnya. Feng Yu Heng kemudian berjalan di hadapan Xuan Tian Ming. Kata-kata pertama yang dikatakan oleh Feng Yu Heng kepada Xuan Tian Ming adalah, “Kau telah melumpuhkan kakimu dan merusak wajahmu. Mengapa kau tidak terus maju dan kehilangan nyawamu juga?”

Feng Yu Heng benar-benar ingin menampar mulutnya sendiri!

Xuan Tian Ming, bagaimanapun juga, tidak merasa bahwa hal itu aneh. Gadis ini belum pernah mengucapkan kata-kata yang baik kepadanya. Memikirkan kembali perlakuan gadis itu kepadanya pada saat di gunung, Xuan Tian Ming merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Feng Yu Heng pada saat ini sudah tepat.

Karena itu Xuan Tian Ming merentangkan tangannya dan bersandar di kursi rodanya, sambil berkata, “Jika aku kehilangan nyawaku, siapa yang akan memberikan dukungan untukmu di ibukota?”

Feng Yu Heng secara spontan menjawab, “Tanpamu, aku masih dapat menyingkirkan mereka!”

Xuan Tian Ming terkekeh.

Menghadapi orang ini, sudut bibir Feng Yu Heng sedikit melengkung ke atas. Senyuman itu benar-benar menyentuh hati Feng Yu Heng. Jika mereka berdua terus beradu kata-kata seperti itu, Feng Yu Heng merasa bahwa dia tidak akan sanggup melanjutkannya lagi.

Menatap kosong orang yang berada di hadapannya, topeng emas itu nampak sangat halus. Pada bagian atas topeng itu, bahkan terdapat permata yang dipotong dan dipoles dengan indah. Bunga teratai ungu itu muncul dengan jelas pada lubang kecil yang ada di daerah antara kedua alis. Penampilannya yang tidak biasa membuat pria ini nampak sedikit mempesona.

Feng Yu Heng tidak banyak berpikir. Tanpa diduga tanpa adanya tanda-tanda tangan diangkat, Feng Yu Heng langsung meraih topeng itu.

Tetapi tepat sebelum ujung jari Feng Yu Heng menyentuh topeng itu, Xuan Tian Ming memegang tangan Feng Yu Heng dengan lembut.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Xuan Tian Ming tanpa daya, “Sangat tidak sedap dipandang mata.”

Feng Yu Heng tiba-tiba menoleh dan membelakangi Xuan Tian Ming. Bibir Feng Yu Heng tertutup rapat, dan menatap tajam pada sudut ruang yang kosong.

Feng Yu Heng sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak keluar. Menahan tangisan agar tidak keluar benar-benar terasa tidak nyaman.

Xuan Tian Ming juga tertegun. Menatap punggung Feng Yu Heng yang canggung itu, Xuan Tian Ming merasa bahwa gadis ini terlihat lebih kurus daripada ketika mereka bertemu di pegunungan.

“Apakah keluarga Feng tidak memberimu makan dengan baik?” sebuah pemikiran melintas di benak Xuan Tian Ming dan langsung keluar dari mulutnya begitu saja seolah-olah Xuan Tian Ming merupakan anggota keluarga Feng Yu Heng. Xuan Tian Ming mengulurkan tangannya dan menarik lengan baju Feng Yu Heng, “Aku berpikir bahwa setelah nyonya Zhou melakukan perjalanan, keluarga Feng akan dapat menahan diri. Mengapa kau masih begitu kurus?”

Feng Yu Heng tidak marah setelah lengan bajunya ditarik oleh Xuan Tian Ming. Feng Yu Heng berbalik dan menepis tangan Xuan Tian Ming, “Setelah itu, aku makan dengan baik. Aku baik-baik saja. Kau harus menurunkan berat badanmu ketika kau sudah gemuk.”

Xuan Tian Ming belum pernah mendengar ungkapan ‘menurunkan berat badan’. Merenungkan ungkapan itu sendiri selama beberapa waktu, Xuan Tian Ming menyimpulkan bahwa mungkin para gadis tidak ingin menjadi gemuk. Xuan Tian Ming menggelengkan kepalanya dengan marah, “Berapa usiamu? Kau sedang berada dalam masa pertumbuhan. Apa perlunya mengkhawatirkan hal itu?”

“Hei!” berbicara mengenai hal ini, Feng Yu Heng sekali lagi menemukan kekuatannya. Feng Yu Heng berbalik, melompat dan duduk di atas meja, kedua kakinya menggantung, “Kau juga mengetahui bahwa aku masih muda ya? Aku begitu muda, jadi mengapa kau terburu-buru untuk memberikan hadiah pertunangan? Kemudian kau mengatakan sesuatu mengenai segera untuk membuatku menikah pada usia lima belas tahun. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu gegabah seperti ini. Juga …” Feng Yu Heng menaikkan alisnya, “Pernahkan kau bertanya apakah aku menginginkannya?”

“Ketika aku masih kecil dan pernikahan ini diputuskan, tidak ada orang yang bertanya apakah aku menyetujuinya.” Xuan Tian Ming mengatakan hal yang sebenarnya, “Masalah pernikahan ini, apa yang kita berdua pikirkan tidak menjadi masalah.”

Feng Yu Heng mengerutkan alisnya kuat-kuat. Kakinya yang berayun-ayun tiba-tiba berhenti, ketika Feng Yu Heng menatap kosong pada Xuan Tian Ming.

“Jika kau mengatakan hal ini, maka itu artinya bahwa kau tidak menginginkan pernikahan ini?”

Xuan Tian Ming menggelengkan kepalanya, “Logika macam apa itu?”

“Mengapa memberikan hadiah pertunangan seperti itu?” Feng Yu Heng mengajukan pertanyaan yang selalu ingin dia tanyakan, “Kapan kau mengetahui bahwa aku adalah nona muda kedua keluarga Feng?”

Xuan Tian Ming menjawab dengan jujur, “Suatu hari di luar gerbang ibukota, aku melihatmu. Aku meminta Bai Ze untuk menyelidiki. Mengenai hadiah pertunangan itu … merupakan pembayaran karena sudah merawatku.”

Feng Yu Heng menggelengkan kepalanya dan menatap mata Xuan Tian Ming, “Biaya untuk perawatan itu sudah dibayar.”

“Dua puluh tael terlalu sedikit.”

“Tidak terlalu sedikit. Jika aku tidak memiliki dua puluh tael itu, aku tidak dapat kembali ke ibukota.”

Keduanya terdiam.

Xuan Tian Ming memikirkan bagaimana Feng Yu Heng melawan musuh dengan batu. Xuan Tian Ming berpikir mengenai bagaimana Feng Yu Heng menarik dan menyeretnya dari celah yang ada di pegunungan. Xuan Tian Ming berpikir mengenai bagaimana Feng Yu Heng membantu memperbaiki tulang-tulangnya. Ketika Xuan Tian Ming mengingat Feng Yu Heng ketika dia pergi, Xuan Tian Ming memikirkan sosok Feng Yu Heng yang kurus dan kesepian itu.

Dan Feng Yu Heng memikirkan perjalanannya dari Barat Laut ke ibukota. Seluruh perjalanan Feng Yu Heng melarikan diri sebagai buronan bergantung pada dua puluh tael yang diberikan oleh Xuan Tian Ming kepadanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Kepribadian Feng Yu Heng yang keras kepala kembali muncul. Feng Yu Heng benar-benar langsung terbang ke arah tubuh Xuan Tian Ming dari atas meja. Feng Yu Heng langsung meraih topeng itu.

“Biarkan aku melihatnya.”

Xuan Tian Ming terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Feng Yu Heng itu dan dengan cepat menangkap Feng Yu Heng. Sambil menghindari tangan Feng Yu Heng, Xuan Tian Ming berteriak, “Heng Heng, jangan membuat masalah.”

Feng Yu Heng menyambar beberapa kali dan tidak dapat meraih topeng Xuan Tian Ming. Kemudian Feng Yu Heng dengan patuh menarik tangannya, tetapi Feng Yu Heng masih tetap berbaring di atas tubuh Xuan Tian Ming. Tangan Feng Yu Heng mencengkram erat bagian depan jubah yang dikenakan oleh Xuan Tian Ming. Dua tetes air mata Feng Yu heng perlahan bergulir di atas pipinya.

Benar-benar tanpa peringatan sebelumnya, Feng Yu Heng-pun menangis.

Feng Yu Heng menangis sedih tetapi tanpa mengeluarkan suara. Tenggorokan Feng Yu Heng terasa sakit karena menahan tangisannya itu. Rahang Feng Yu Heng terkatup begitu rapat sehingga giginya mengeluarkan bunyi berkeriut, ketika ingus Feng Yu Heng mengalir deras.

Pada tahun-tahun sebelum Xuan Tian Ming pergi ke Barat Laut, Xuan Tian Ming telah melihat wajah banyak gadis yang sedang menangis, termasuk wajah salah satu putri raja yang istananya telah dibakar habis oleh Xuan Tian Ming.

Tetapi tidak ada gadis yang benar-benar menangis dengan tulus dan … tidak mempedulikan imejnya.

Xuan Tian Ming tiba-tiba saja merasakan sakit di dalam hatinya, perasaan yang baru dan aneh ini menyelimuti hati Xuan Tian Ming. Xuan Tian Ming tanpa sadar mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Feng Yu Heng dengan lembut, seolah-olah Xuan Tian Ming tengah membujuk seorang anak kecil, Xuan Tian Ming-pun berkata pada Feng Yu Heng, “Gadis yang baik, jangan menangis.”

Sebaliknya, Feng Yu Heng menangis semakin keras.

Xuan Tian Ming tidak punya pilihan. Dia hanya dapat menahan tekanan yang menyakitkan pada kakinya karena tertindih oleh berat badan Feng Yu Heng. Sambil menarik Feng Yu Heng ke dalam pelukannya, Xuan Tian Ming menepuk punggung Feng Yu Heng dengan lembut.

Benar! Feng Yu Heng hanya seorang anak kecil. Feng Yu Heng baru berusia dua belas tahun. Feng Yu Heng dilahirkan delapan tahun setelah Xuan Tian Ming lahir.

“Apakah kau menyesal? Orang yang harus kau nikahi adalah seseorang yang cacat dan wajahnya hancur. Kau kecewa, bukan?”

Xuan Tian Ming sengaja menggoda Feng Yu Heng, tetapi siapa yang menyangka bahwa gadis yang sedang menangis di pelukan Xuan Tian Ming itu, Feng Yu Heng, tiba-tiba saja mengangkat kepalanya. Meskipun air mata masih mengalir di wajah Feng Yu Heng, Feng Yu Heng tidak lagi terisak-isak. Feng Yu Heng hanya menatap Xuan Tian Ming untuk waktu yang lama kemudian membuka mulutnya dengan lemah dan berkata, “Kaki yang telah aku dan tabib perbaiki dengan susah payah, bagaimana bisa kembali patah?”

Xuan Tian Ming mengeluarkan saputangan dari pinggangnya dan menyeka air mata dan ingus Feng Yu Heng, “Setelah kau pergi, aku dan Bai Ze tidak dapat meninggalkan gunung dengan aman. Kami berdua disergap di jalan masuk pegunungan.”

Xuan Tian Ming mengatakannya dengan mudah, seolah-olah peristiwa yang dialaminya itu hanyalah sebuah pertempuran kecil.

Sebenarnya, penyergapan itu hampir merenggut nyawa Xuan Tian Ming dan Bai Ze.

“Siapa yang mengatur penyergapan itu?” Feng Yu Heng merenung, “Apakah negara musuh?”

Xuan Tian Ming menggelengkan kepalanya, “Sepertinya bukan. Masalah ini sedang diselidiki. Jangan terlalu mengkhawatirkan masalah ini.”

Feng Yu Heng menjadi marah, “Kakimu lumpuh. Wajah yang paling aku sukai telah hancur. Xuan Tian Ming, siapa yang memberimu keberanian untuk menghancurkan barang-barangku seperti ini?”


1
Comment

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • 0