DKMK Chapter 18 – Harus Berhasil

Featured Image

Bagian atas kepalanya menjadi gelap, begitu Jian Zechuan berdiri, tubuh yang tinggi itu benar-benar menyelimuti pemandangan di hadapannya. Ketika Jian Zechuan sedang duduk, dia membuat orang merasa auranya begitu kuat. Begitu dia berdiri, barulah semua orang sadar bahwa dia ternyata begitu tinggi.

Jian Zechuan bergegas menghampiri Xin Ai dan tersenyum licik, detik berikutnya dia mengangkat tangannya, “Ikat dia.”

Xin Ai begidik, Ik… ikat?

“Paman, Sanye, Tuan Jian, berbicaralah baik-baik.”

Alis Jian Zechuan sedikit berkerut, Heh, Paman!

Xin Ai tidak tahu darimana Jian Si mengeluarkan seutas tali dan mengikat kaki serta tangannya, sepanjang keluar dari kamar 4018, tidak peduli seperti apapun Xin Ai berteriak, pria di hadapannya hanya berjalan dengan acuh tak acuh.

Xin Ai merasa cemas dan takut, apapun yang terjadi hari ini, dia harus tetap menjadi wanita pilihan Jian Zechuan.

Xin Huan adalah satu-satunya kerabatnya yang tersisa di dunia ini, dia ingin melakukan segalanya yang dia bisa untuk menemukan Xin Huan. Jika Xin Huan benar-benar sudah meninggal, mayatnya juga harus ditemukan.

Selain itu, Xin Ai benar-benar sudah menemui jalan buntu. Dia sudah menyinggung Cheng Ming. Kalau dia masih tidak menemukan payung pelindung, Chen Ming pasti tidak akan melepaskannya. Chen Ming bisa menggunakan cara-cara yang licik untuk membuatnya celaka.

Menjadi seorang wanita yang tidak memiliki kekuatan dan kepintaran, satu-satunya yang bisa dimanfaatkan hanyalah wajah dan tubuhnya.

Tidak peduli demi menemukan Xin Huan, atau demi menemukan payung pelindung untuk dirinya sendiri, dekat dengan Jian Zechuan adalah satu-satunya jalan pintas.

Hari ini dia harus berhasil, tidak boleh gagal.

Tetapi sekarang dia diikat oleh Jian Zechuan, Xin Ai masih belum yakin apakah dia bisa melihat matahari besok atau tidak.

Dari lift eksekutif itu langsung menuju ke tempat parkiran mobil di lantai 2, Xin Ai melihat ada beberapa mobil yang sudah menunggu di sana. Dua baris pengawal berpakaian hitam berdiri di depan mobil. Begitu melihat Jian Zechuan turun, mereka segera membungkuk hormat tanpa berbicara. Semuanya benar-benar sudah dilatih dengan baik.

Jian Si membuka salah satu pintu mobil dan melemparkan Xin Ai di dalamnya, dia mengira bahwa Jian Zechuan akan duduk di mobil yang sama dengannya. Pada akhirnya, dia malah naik ke mobil yang berada di depannya.

“Paman, kita satu mobil saja, di jalan sangat membosankan, aku akan menemanimu mengobrol…”

Pintu mobil tertutup dengan suara ‘peng’, suara Xin Ai teredam di dalamnya.

Xin Ai mendesah, meskipun dia harus mencapai tujuannya hari ini, tapi entah mengapa dia merasa sedikit mengantuk!

Barisan mobil itu meninggalkan Hotel Wandou, acara jamuan makan malam sudah berubah menjadi huru-hara, polisi masih berada di dalam hotel untuk menemukan keberadaan Xin Ai.

Xin Ai tidak tahu dirinya dibawa kemana. Begitu dia memasuki pintu, dia sembarangan dilemparkan ke lantai, tubuhnya sempat berguling sesaat sebelum akhirnya berhenti.

Jian Zechuan terduduk, “Masih ada 5 menit sebelum tenggang waktu 30 menit yang kamu katakan itu. Biarkan aku melihat, foto apa yang kamu ambil?”

Tatapan Jian Zechuan dingin dan acuh. Saat menatap Xin Ai, tidak ada emosi yang berlebihan di dalamnya. Tampaknya jika Xin Ai tidak mengatakan hal yang sebenarnya, detik berikutnya dia akan dilemparkan keluar.

Di bawah cahaya, wajah itu membuat Xin Ai lagi-lagi terpesona. Kenapa Tuhan begitu merawat pria ini, apakah pria ini adalah anak kandung dariNya?

Ketenaran, kekayaan, kekuasaan, ketampanan, semua yang diinginkan oleh setiap pria ada pada dirinya, dia memiliki hampir semuanya.

Xin Ai menelan air liur dan menatap orang-orang di belakang Jian Zechuan, apakah perlu begitu banyak pengawal?

“Kalian…. lepaskan aku dulu, aku baru bisa memperlihatkannya kepada kalian. Lagipula begitu banyak orang, aku tidak akan bisa melarikan diri.”

Jian Si melirik Jian Zechuan, kemudian pergi untuk membuka ikatan pada Xin Ai. Xin Ai bangkit berdiri seperti seorang siswa sekolah dasar, berjalan beberapa langkah sampai ke hadapan Jian Zechuan.

Sepatu hak tinggi yang dia pakai mungkin tertinggal di dalam mobil, kakinya menginjak di atas karpet yang lembut. Kaki Xin Ai begitu kecil dan imut, putih dan lembut, bagaikan manik-manik yang berkilau. Tatapan Jian Zechuan sempat berhenti di kaki Xin Ai untuk sementara waktu, kemudian jakunnya terlihat bergerak sedikit.

Xin Ai berkata sambil tersenyum, “Foto…. takutnya…. kamu sudah tidak dapat melihatnya lagi.”

“Hmm?” Mata Jian Zechuan sedikit terpana, ekor matanya naik.

Xin Ai menggerak-gerakkan kakinya karena gugup, “Karena, aku…. aku hanya membohongi kamu. Aku mana mungkin berani mengambil fotomu… Hehe….”

1
Comment

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • 0