Chapter 60

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Cloudhie

.

.

Kedua perempuan muda itu saling memandang. Mereka tidak menyangka responnya akan begitu dingin.

Satu dari kedua perempuan muda yang mengenakan jubah berwarna pink peach maju ke depan dengan sebuah senyuman. Dia berkata dengan suara yang lembut dan halus, “Menjawab Yang Mulia, adalah Yang Mulia Permaisuri Chen yang memerintahkan kami untuk melayani anda. Saya dipanggil Liu Jiang. Dia adalah Ye Mei. Kami berdua adalah penari yang dilatih oleh Mama Qiu Yang Mulia Permaisuri Chen…”

Setelah dia selesai berbicara, dia tidak melihat Zhao Jie memperlihatkan respon apapun.

Liu Jiang dengan berani mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah Zhao Jie. Ruangan tersebut diterangi oleh cahaya lilin redup. Dia hanya dapat melihat siluet Zhao Jie dengan usaha yang lebih. Wajahnya tampan dan matanya yang gelap dan dalam tidak memperlihatkan jejak emosi, namun membuat orang lain tenggelam dalam ketertarikan. Ketika Liu Jiang menurunkan pandangannya, bahunya lebar, tangannya sangat kuat dan dua kakinya tepat di depannya… jika pria seperti ini dapat mencintainya, dia akan bahagia tidak terkira. Bahkan jika hanya satu malam, dia akan tetap bahagia dengan sempurna.

Sebelum Liu Jiang mengambil kesempatan untuk menarik kembali pandangannya, dia mendengar suara yang dingin dan keji datang dari tempat tidur, “Sudah cukup menatap?”

Dia tiba-tiba menegang dan dengan cepat-cepat membungkuk untuk mengakui kesalahannya, “Yang Mulia, tolong maafkan saya. Liu Jiang sangat tidak sopan…”

Sebelum kalimat itu selesai, Zhao Jie dengan tanpa ekspresi menginterupsinya, “Pergi. Tidak peduli siapapun yang menyuruhmu ke sini, darimanapun kau datang, kembali ke sana.”

Wajah Liu Jiang pucat. Dia dengan khawatir bertanya, “Apakah Liu Jiang telah membuat Yang Mulia marah? Jika Yang Mulia tidak senang, maka tolong hukum saja Liu Jiang…”

Di sisi lain, Ye Mei melihat ekspresi Zhao Jie semakin dingin dan dengan cepat menghentikan kalimat Liu Jiang. Dia hampir tidak bisa memaksakan senyum di wajahnya saat dia menjelaskan, “Yang Mulia, tolong tenanglah. Sifat Liu Jiang memang agak blak-blakan. Jika dia telah membuat Yang Mulia marah, mohon bermurah hatilah dan maafkan dia. Mohon untuk tidak merendahkan tingkat Yang Mulia pada levelnya…”

Dia berhenti dan dengan sungguh-sungguh berkata, “Permaisuri telah memerintahkan kami untuk melayani Yang Mulia. Jika Yang Mulia mengusir kami di hari pertama, Permaisuri pasti akan berpikir bahwa kami sembrono dalam melayani anda dan akan menghukum kami dengan berat…”

Rasa kantuk Zhao Jie telah lenyap bagaikan asap di udara setelah diganggu oleh kedua orang tersebut. Suasana hatinya sangat buruk. Mendengar kalimat Ye Mei, dia menaikkan alisnya dan berkata, “Apa hubungannya dengan pangeran ini?”

Perkataan Ye Mei tertahan. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat dengan terkejut. Dia mungkin tidak menduga bahwa Zhao Jie merupakan orang yang sangat dingin.

Zhao Jie tidak sedang dalam suasana hati untuk menangani mereka. Dia memanggil Zhu Geng dan bertanya dengan wajah yang tidak senang, “Siapa yang mengizinkan mereka untuk masuk ke kediaman? Siapa yang mengatur mereka untuk memasuki kamar pangeran ini?”

Zhu Geng melirik kedua perempuan muda di lantai yang wajah bagaikan bunga itu kini berubah pucat. Zhu Geng membungkuk, menangkupkan satu tangannya di tangan yang lain dan berkata, “Menjawab Pangeran, Kepala Pelayan, Lu Sheng Ping yang melakukannya.”

Kediaman Pangeran Jing memiliki dua pelayan. Satu adalah kepala pelayan, Lu Sheng Ping. Yang lainnya adalah pelayan Xu Tian Ning. Lu Sheng Ping adalah seseorang yang tahu bagaimana menjadi penghubung dan menyanjung dan dapat diandalkan dalam pekerjaannya. Dia telah memegang posisi sebagai kepala pelayan selama tiga tahun. Hari ini, dia telah mengzinkan dua perempuan muda ini untuk masuk ke sini. Awalnya, dia berpikir bahwa ini akan membuat Zhao Jie senang kepadanya. Dia tidak menyangka bahwa tidak hanya usahanya untuk menjilat ini gagal dan tidak membuat Zhao Jie tidak senang, dia juga telah menyentuh titik kekesalan Zhao Jie.

Zhao Jie menautkan kedua alisnya dan berkata, “Dia seharusnya tida melakukan sesuatu tanpa persetujuan atasannya. Hukum dia dengan pemotongan setengah tahun gaji dan usir dia keluar dari kediaman.”

Zhu Geng mengangguk dan dengan suara menyanggupi perintahnya.

Mendengar ini, Liu Jiang dan Ye Mei semakin merasa takut. Zhao Jie bahkan menghukum pelayan tersebut. Sepertinya Yang Mulia Pangeran Jing benar-benar tidak senang… Apa yang akan terjadi pada mereka? Apakah mereka benar-benar diusir dari sini dan kembali ke istana?

Sesuai dugaan, Zhao Jie menatap mereka, menggunakan tangannya untuk memberi perintah dan berkata, “Sementara untuk kalian berdua… apa kau ingin kembali sendiri atau ingin pangeran ini mengusir kalian?”

Mereka saling memandang dan membuat keputusan untuk kowtow (bersembah sujud), kemudian berkata, “Terima kasih atas belas kasih Yang Mulia… kami akan pergi sendiri.”

Keduanya dengan cepat meninggalkan kamar sambil saling menopang satu sama lain. Mereka tidak berani memiliki imajinasi yang lebih lanjut tentang Zhao Jie. Zhu Geng mengikuti mereka untuk mundur. Kamar itu kini damai dan tenang, namun Zhao Jie tidak lagi mengantuk.

Dia membaringkan kepalanya di bantal yang disulam dengan benang emas. Satu tangan di belakang kepalanya. Tangan yang lain di perutnya. Di kamar yang gelap, mata phoenixnya secara khusus tampak lebih gelap dan dalam. Siapa yang tahu apa yang dipikirkannya? Dia secara perlahan menutup matanya. Dia merasa seakan dia berada di tengah aliran sedingin es. Aliran tersebut dengan lembut dan perlahan mengalirinya. Sensasinya seperti sentuhan lembut tangan perempuan.

Pemandangan berubah. Dia tengah terbaring di padang rumput luas dan tak terbatas Wu Jiang. Di belakangnya, ada medan perang dengan dua tentara kuat. Dia bisa dengan jelas mendengar pertempuran di medan perang itu. Hidungnya bahkan bisa mencium bau darah. Namun ada seorang gadis yang manis dan lembut duduk di atasnya. Penampilan gadis itu sangat indah. Kulitnya seputih salju dan es. Tangannya yang begitu lembut hingga terasa seperti tidak bertulang berada di dadanya—terus-menerus menggoda hatinya.

Tubuh Zhao Jie secara perlahan menjadi berat. Perang di belakangnya dan gadis di atasnya telah menstimulasi darah yang tersembunyi dalam tubuhnya. Tangannya yang kasar memeluk pinggang ramping gadis itu dan dengan kuat menekankan tubuh mereka. Dia berharap dapat meremukkannya ke dalam pelukannya. Suara imut gadis itu memanggil sekali dan tubuhnya terjatuh di atas tubuh Zhao Jie. Lengan gadis itu melingkar di lehernya dan dia berbisik di telinga Zhao Jie dengan cara yang manja, “Kakak, sakit…”

Zhao Jie membuka matanya dengan tiba-tiba. Hanya ada kegelapan di depannya.

Langit belum bersinar. Warna langit malam masih sangat kuat.

Malam itu sunyi senyap. Hanya ada suara nafasnya yang menjadi semakin berat.

Pada akhirnya, suara manja itu melayang di dekat telinganya dan tidak menghilang untuk waktu yang lama. Dia memikirkan wajah lembut dan halus gadis itu saat mimpi barusan.

Dia sangat menginginkannya. Gadis itu akan muncul bahkan ketika dia bermimpi. Suara seraknya memanggil dalam ingatan, “Ah Luo…”

***

Pagi-pagi sekali, Zhao Jie terbangun, mencuci wajahnya dan membersihkan mulutnya. Dia terlihat tanpa kekurangan seperti biasa.

Tidak lama setelah dia sarapan, seperti yang sudah diduganya, dia mendapatkan dekrit kerajaan Permaisuri Chen yang memerintahkannya untuk memasuki istana secepatnya.

Dia mengganti pakaiannya dengan jubah hijau muda yang didekorasi dengan ukiran bambu. Alih-alih naik kuda, dia memasuki istana dengan kereta yang memiliki kanopi hijau dan tiba di pintu masuk aula Zhao Yang. Sebelum dia memasuki aula, dia bisa merasakan suasana suram yang tajam yang ada di dalam sana. Dia melengkungkan bibirnya dan berjalan masuk dengan beberapa langkah. Dia melihat Permaisuri Chen duduk di sofa arhat kayu mawar, tengah meminum tehnya tanpa ekspresi.

Melihat dia telah masuk, Permaisuri Chen meletakkan tutup cangkir teh bunga teratai miliknya. Dia menatap Zhao Jie tanpa mengubah ekspresinya, “Kau bisa duduk.”

Zhao Jie melepaskan mantelnya dan duduk berseberangan dari Permaisuri Chen.

Dia telah membuat pelayan istana untuk mengeluarkan harta bendanya. Meja kini penuh dengan dengan jimat perak umur panjang, aksesoris pinggang perak, kalung kebahagiaan dan benda-benda sejenis lainnya… dia dengan sengaja bertanya pada Zhao Jie, “Bulan lalu, adik sepupu dari pihak ayah Duke Zheng, Duke Ding mendapatkan cucu laki-laki pertamanya. Anak ini akan berumur satu bulan dalam beberapa hari. Permaisuri ini berpikir tentang apa yang akan diberikan pada anak itu sebagai hadiah pertemuan pertama. Bantu aku memilih hadiah. Lihat hadiah mana yang lebih baik.”

Arti dari kalimatnya sangat jelas. Putra Duke Ding kini berusia dua puluh satu tahun ini dan dia telah memiliki seorang putra. Zhao Jie berusia dua puluh dua tahun dan dia bahkan tidak memiliki seorang istri. Bagaimana mungkin Permaisuri Chen tidak khawatir?

Zhao Jie tersenyum dan dengan terus terang berkata, “Ibunda Permaisuri, langsung saja katakan kalimat yang ingin ibunda katakan.”

Permaisuri Chen menatap tajam ke arahnya. Dia memegang cangkirnya sembari langsung ke pokoknya, “Aku mengirimkan dua wanita semalam. Apa yang membuatmu tidak puas? Kenapa kau harus mengusir mereka keluar dari kediamanmu?”

Zhao Jie tahu bahwa semua ini karena hal itu. Dia menatap mata penuh tanda tanya milik Permaisuri Chen, “Ibunda Permaisuri tidak bertanya tentang pendapatku sebelum mendorong dua wanita itu padaku. Di hatimu, apakah putramu ini adalah tipe orang yang sangat lapar hingga melahap semuanya tanpa terkecuali?”

Zhao Jie tidak hanya menolak tuduhannya, tapi juga menyerang balik dengan tuduhannya sendiri. Permaisuri Chen terdiam. Nada suaranya tidak masuk akal seperti sebelumnya ketika dia berkata, “Kapan ibu punya pemikiran seperti itu? Hanya saja kau tidak memiliki wanita di sisimu dan ibu khawatir, jadi hanya dapat memikirkan metode seperti ini.”

Semalam, istana telah dikunci. Liu Jiang dan Ye Mei berdiri di luar sepanjang malam dengan hanya pakaian tipis. Ketika mereka masuk ke dalam istana keesokan harinya, mereka sangat dingin hingga sekujur tubuh mereka menggigil. Mereka juga ketakutan bahwa Permaisuri Chen akan menghukum mereka, jadi mereka tidak kembali ke ruangan mereka. Pagi-pagi sekali, mereka kowtow dan memohon ampunan di luar aula Zhao Yang. Mereka menangis hingga hati Permaisuri Chen melembut. Karena inilah Permaisuri Chen memutuskan untuk memanggil Zhao Jie masuk ke dalam istana sehingga dia dapat menginterogasinya dengan hati-hati.

Apa yang dipikirkannya? Apakah Zhao Jie tidak memiliki ketertarikan pada wanita?

Melihatnya tidak berkata apapun, Permaisuri Chen tidak sabaran dan tidak dapat menahan diri untuk tidak menambahkan, “Kau tidak muda lagi. Jika kau tidak segera menikah, berapa lama lagi kau berencana untuk membiarkan ini berlarut-larut? Dan Yang (Gao Dan Yang) telah menunggumu lima hingga enam tahun. Dia telah menunggu hingga menjadi perawan tua sekarang. Kau tidak khawatir, namun Duke Zhen dan bibimu sangat khawatir. Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apa yang membuatmu tidak puas dengan Dan Yang?”

(T/N: Duke Zhen dan bibi dari pihak ibu Zhao Jie adalah orangtua dari Gao Dan Yang)

Zhao Jie dengan tenang berkata, “Aku hanya memperhatikannya seperti saudara. Tidak ada perasaan romantis.”

Permaisuri Chen tidak pernah bertemu dengan orang keras kepala seperti ini sebelumnya. Memangnya kenapa kalau perasaannya seperti saudara? Setelah menikahinya, Zhao Jie dapat menumbuhkan hubungan mereka dengan benar. Tidakkah kemudian akan muncul perasaan romantis?

Permaisuri Chen berusaha untuk membujuknya, namun kalimat itu telah terucap beberapa kali. Meskipun dia tidak lelah mengatakan itu semua, Zhao Jie telah lelah mendengarkannya. Zhao Jie menautkan alisnya dan mengganti topik, “Apa yang dilakukan Liuli akhir-akhir ini? Aku belum melihatnya beberapa lama ini.”

“Dia ada di aula Chen Hua. Akhir-akhir ini, dia terlihat lebih tenang dan tidak sibuk meninggalkan istana.” Permaisuri Chen dengan santai berkata. Dia belum lupa atas topik yang sebelumnya dan melanjutkan, “Lusa adalah hari perayaan satu bulan cucu laki-laki Duke Ding. Kirim hadiah atas nama Ibunda Permaisuri. Ketika kau bertemu dengan Dan Yang, sapa dia dengan beberapa kalimat. Ibu dengar suasana hatinya kurang bagus akhir-akhir ini.”

Duke Ding adalah adik sepupu Duke Zhen dari sisi ayah dan kedua keluarga sangat dekat. Gao Dan Yang juga pasti akan hadir.

Zhao Jie dengan refleks menolak. Dia tidak pandai dalam menangani hal-hal seperti ini.

Permaisuri Chen tahu cara berpikir Zhao Jie yang seperti ini, jadi dia dengan cepat berkata, “Jika kau tidak pergi, kau akan dilarang untuk memasuki aula Zhao Yang.”

Zhao Jie tertawa tanpa sadar dan tanpa daya berkata, “Apakah Ibunda menggunakan itu untuk mengancamku?”

Permaisuri Chen dengan murah hati mengakui, “Ya.”

Dia menurunkan pandangannya dan tidak berkata apapun. Dia mempertimbangkan jimat umur panjang perak di meja kayu. Ibu jarinya perlahan membelai serat kayu. Setelah beberapa saat, dia mengangguk dan berkata, “Baik, aku akan pergi.”

***

Kediaman Duke Ying juga menerima undangan Duke Ding.

Duke Ying memiliki hubungan yang baik dengan Duke Ding. Hubungan mereka jujur dan royal. Ketika mereka masih muda, mereka saling membantu dan merupakan teman dekat. Sekarang Duke Ding mendapatkan cucu pertamanya, Duke Ying tentu akan pergi ke perayaan. Selain Duke Ying (Wei Zhang Chun), anggota keluarga dari cabang pertama, kedua, keempat dan kelima juga pergi. Hanya cabang ketiga Liu-shi yang menangguhkan undangan dengan alasan dia sedang tidak sehat.

Semua orang tahu bahwa rumah orangtua Liu-shi telah merosot dan tidak dapat memenuhi kebutuhan bulanan. Mayoritas mas kawinnya telah dikirim kembali untuk mensubsidi rumah orang tuanya. Sekarang, dia bahkan tidak bisa mengeluarkan hadiah yang layak untuk ulang tahun bayi yang berumur satu bulan, jadi tentu saja dia tidak akan mau keluar dan mempermalukan dirinya sendiri.

Dua hari kemudian, Wei Kun telah mengatur segalanya dengan baik dan membawa putra dan dua putrinya ke kediaman Duke Ding.

***

Pada saat yang sama, di kediaman Pangeran Ru Yang, sementara Pangeran Ru Yang dan Putri Gao Yang Zhang bersiap untuk pergi ke kediaman Duke Ying, mereka mendengar dari para pelayan bahwa putra mereka telah kembali. Li Song telah bermain-main di luar selama dua hari sebelumnya tanpa pulang ke rumah pada malam hari. Pangeran Ru Yang telah memerintahkan orang untuk mencarinya dua kali, tetapi Li Song benar-benar mabuk dan mengusir semua orang.

Pangeran Ru Yang sangat marah dan mengancam bahwa dia akan mengabaikan putranya itu di masa depan. Mereka terkejut mendapati Li Song kembali sendiri hari ini.

Putri Gao Yang khawatir dengan putranya dan menyuruh Li Xiang untuk pergi ke kamar Li Song untuk melihat, “Xiang-er, pergi lihat bagaimana keadaan kakakmu. Jika dia sadar, ajak dia pergi bersama kita.”

Li Xiang memperbaiki kalung giok delapan harta karunnya, berdiri dan berkata, “Baik.”

Li Xiang meninggalkan ruang tamu dan berjalan ke arah belakang kediaman. Dia melewati jalan menuju halaman Li Song. Dia berdiri di luar pintu dan memanggil, “Kakak.” Namun tidak mendengar jawaban apapun. Dia hanya bisa mendorong pintu terbuka dan memasuki ruangan bagian dalam. Bau alkohol yang menyengat menyerang hidungnya. Dia mengeluarkan sehelai saputangan sutra tebal untuk menutupi hidung dan mulutnya dan berseru dengan suara rendah dan teredam, “Kakak, apakah kau di sini?”

Ada pergerakan di belakang tirai tempat tidur. Dia berjalan maju untuk membuka tirai. Sesuai perkiraan, ada seseorang yang terbaring di sana, hanya dalam kurun waktu dua hari, tapi Li Song sudah terlihat semakin kurus dan ada janggut yang tumbuh di dagunya. Dia terlihat begitu berbeda dari sosoknya yang menarik dan tampan. Li Xiang sangat terkejut. Dia dengan cepat menggoyangkan tubuhnya agar terbangun, “Kakak, ada apa denganmu? Bangunlah. Ayah dan Ibu ingin kau ikut bersama kami ke kediaman Duke Ding. Jangan tidur terus.”

Li Song mengerutkan kening dan akhirnya dengan perlahan membuka matanya. Matanya sangat gelap dan berkabut. Ada momen kebingungan yang dirasakannya, namun kemudian matanya berputar dan terjatuh pada wajah khawatir Li Xiang. Dengan suara serak dia berkata, “Li Xiang?”

Li Xiang mengangguk, “Ini aku. Kakak, kenapa kau seperti ini?”

Li Song hanya merasakan kepalanya berdenyut sakit. Dia telah minum terlalu banyak selama dua hari ini hingga pada titik kepalanya tidak lagi jernih. Dia memegangi kepalanya sembari dengan perlahan bangkit. Alisnya bertaut saat berkata, “Suasana hatiku sedang tidak bagus, jadi aku minum sedikit arak.” Dia memikirkan wajah khawatir Li Xiang dan bertanya, “Ada apa?”

Li Xiang hanya dapat mengulangi kalimat yang baru saja dikatakannya, “Hari ini perayaan satu bulan cucu laki-laki Duke Ding. Ayah dan Ibu diundang ke perayaannya. Karena kau telah kembali, ikutlah dengan kami?”

Li Song berbaring kembali ke tempat tidur dan menolak, “Pergilah tanpaku. Aku akan tidur di sini untuk beberapa saat.”

Dia baru pulang sekitar jam 3-5 pagi hari ini. Dia belum tidur untuk waktu yang lama sebelum dibangunkan oleh Li Xiang. Pada saat ini, kepalanya sangat sakit dan dia tidak sedang dalam suasana hati untuk keluar.

Namun, kalimat Li Xiang berikutnya membuatnya terbangun, “Bagaimana bisa kau tetap tidur? Aku dengar keluarga Duke Ying juga pergi. Wei Chang Hong sebelumnya telah terluka di daerah perburuan. Jika kau tidak pergi, bukankah itu akan membuat kita terlihat bersalah?” Li Xiang menariknya dan berkata, “Kakak, bangunlah.”

Li Song membuka matanya. Tubuhnya menjadi kaku seperti mayat.

Chapter 59

2 thoughts on “Chapter 60”

  1. Teh Wordsmiths, novel yg ini ga ada judulnya, hanya nmr chapter aja, gimana mo carinya di select category ?
    Saya suka cerita nya.
    Sankyu….

    1. Kalau judul ceritanya namanya Chongfei Manual atau Panduan Memanjakan Istri. Cerita ini ada di bagian Chinese Novel yang sudah tamat. Tapi karena sekarang masih dalam proses dipindahkan ke web makanya belum tamat ceritanya 😂😂😂

      Untuk judul chapter dari pengarangnya memang hanya berupa nomor, jadi kami juga tidak bisa apa-apa 🙈 tapi silahkan dinikmati ceritanya ya kak. Dijamin seru kok.

Leave a Reply

Your email address will not be published.