Chapter 59

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh MoritaAulianti

.

.

Pria dan kuda itu perlahan mulai memudar menjauh. Wei Luo berbalik untuk melihat ke arah itu. Kabut di matanya menjadi lebih berat dan lebih berat. Sepertinya dia belum menusuk jepit rambut itu cukup dalam. Kalau tidak, bagaimana Li Song dapat berpartisipasi dalam perjamuan dan minum anggur? Chang Hong masih terbaring di tempat tidur sekarang, tapi Li Song bahkan tidak punya masalah menunggangi kuda!

Jika dia belum pergi terlalu jauh, Wei Luo benar-benar ingin berjalan ke depan dan menikamnya lagi.

Saat dia terus melihat ke arah itu, pemandangan di depannya tiba-tiba menjadi hitam. Garis pandangnya benar-benar dihalangi oleh jubah hitam bersulam benang emas. Dia terkejut sesaat, lalu dia mendongak, dan dengan ringan mendorong jubah itu. Kepalanya keluar dari dalam jubah dan dia menatap Zhao Jie dengan tercengang, “Kakak?”

Sudut bibir Zhao Jie sedikit melengkung. Dia membungkuk dan memakaikan jubah hitam itu. Dengan senyum samar, dia berkata, “Hari ini dingin. Pakai jubah ini sehingga kamu tidak akan kedinginan.”

Zhao Jie tahu apa yang baru saja dilihat Wei Luo, tetapi dia tidak mengatakannya. Hatinya merasa kesal, tetapi wajahnya tidak mengungkapkan ini. Sebaliknya, ia memutuskan untuk melepaskan jubahnya untuk diberikan pada Wei Luo dan menghalangi pandangannya. Sifat posesifnya terhadap Wei Luo tumbuh setiap harinya. Dia tidak bisa mentolerir dia melihat pria lain. Dia hanya diizinkan untuk melihatnya.

Seperti yang diduga, dia berhasil mengalihkan perhatian Wei Luo. Dia lupa tentang Li Song dan menunggu sampai dia selesai memakaikan jubah sebelum berkata, “Tapi aku tidak kedinginan…”

Zhao Jie mengelus kepalanya dan tidak akan membiarkan dia menolak, “Aku khawatir kamu akan kedinginan.”

Dia hanya bisa mengenakan jubah itu dan mengucapkan terima kasih pada Zhao Jie. Melihat bahwa sudah larut, dia berpisah dengannya di pintu masuk istana. Dia berbalik, memasuki istana, dan berjalan menuju Aula Chen Hua Istana Qing Xi.

Tepat ketika dia tiba di pintu masuk Aula Chen Hua, dia melepaskan jubah Zhao Jie. Dia tidak melakukan ini karena dia tidak menyukai Zhao Jie, tetapi karena dia ingin menghindari pertanyaan Liuli jika dia melihat dia mengenakan jubah ini. Dia tidak ingin membuang energinya untuk menjelaskan. Akan lebih baik jika Liuli tidak tahu tentang ini sejak awal. Selain itu, aula itu tidak dingin. Akan menjadi halangan untuk mengenakan jubah, jadi melepasnya akan lebih nyaman.

Dia berjalan di dalam aula. Setelah berjalan di sekitar tempat itu, dia tidak dapat menemukan Zhao Liuli, jadi dia hanya bisa bertanya pada salah satu gadis pelayan istana, “Di mana Putri Tianji?”

Gadis pelayan istana berkata, “Untuk menanggapi Nona, Yang Mulia pergi bersama Pengawal Yang ke kebun belakang untuk memancing.” Dia terus bertanya, “Kapan dia akan kembali?” Gadis pelayan istana menggelengkan kepalanya, “Pelayan ini juga tidak tahu. Nona, tolong tunggu di sini sebentar. Pelayan ini akan membawakan anda secangkir teh.”

Wei Luo hanya bisa duduk di aula dan menunggu. Tidak lama kemudian, dia mendengar suara tajam Zhao Liuli dari luar aula. Dia meletakkan cangkirnya yang dihiasi bunga lotus berwarna cerah, berdiri, berjalan keluar dari aula, dan melihat beranda di sisi lain.

Ketika dia melihat adegan itu, dia membeku sejenak. Yang Zhen membawa Zhao Liuli di punggungnya dan berjalan ke sini. Ada senyuman samar di wajah pemuda yang biasanya dingin dan pendiam itu. Matanya lembut dan memanjakan. Zhao Liuli bersandar di punggungnya dan kedua lengannya berada di lehernya. Dia berbicara dekat telinganya. Wei Luo tidak tahu apa yang mereka katakan, tapi tawa Liuli sangat manis. Bahkan dari jauh, Wei Luo bisa merasakan kebahagiaan dalam suara Liuli.

Ini … Kedua orang ini …

Wei Luo tidak bisa berkata-kata dan termenung disana. Dia pikir adegan ini terlalu tidak biasa. Keintiman di antara mereka berdua terlalu berlebihan. Atau, apakah dia terlalu memikirkannya? Apakah normal bagi seorang puteri dan pengawalnya untuk bergaul seperti ini? Dia berdiri di depan pintu masuk Aula Chen Hua dan menoleh untuk melihat gadis pelayan istana yang ada di dekatnya. Dia menemukan bahwa kepala semua orang tertunduk dalam pemahaman dan berpura-pura bahwa mereka tidak melihat apa-apa. Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan ini.

Yang Zhen membawa Zhao Liuli kepada Wei Luo. Matanya yang gelap dengan tenang menatapnya sejenak. Segera setelah itu, dia dengan hati-hati menempatkan Zhao Liuli di tanah dan memperingatkannya, “Nona muda keempat dari kediaman Wei ada di sini. Yang Mulia, Anda harus masuk ke dalam.”

Setelah Zhao Liuli berdiri tegak, dia maju untuk memegang tangan Wei Luo dan sepertinya tidak menyadari keanehan Wei Luo. Dia berjalan ke dalam Aula Chen Hua dengan semangat tinggi. “Ah Luo, kapan kamu datang kemari? Kenapa kamu tidak menunggu di dalam aula? Hari ini berangin. Bagaimana jika kamu terkena flu dari cuaca berangin?”

Wei Luo mengikutinya dari belakang dengan ekspresi aneh. Setelah beberapa lama, dia perlahan bertanya, “Di luar itu berangin. Dan kamu masih pergi keluar dengan Yang Zhen?”

Zhao Liuli menunjuk mantel kasmirnya untuk menunjukkan bahwa dia berpakaian hangat dan tidak takut dengan angin. Selain itu, ada kehangatan dari pemanas Aula Chen Hua. Dia melepas mantelnya dan menggantungnya di atas sekat layar kayu lipat yang dihias dengan banyak batu permata di tepinya. Dia menjelaskan sambil tersenyum, “Kakak Yang Zhen berkata dia akan membawaku untuk menerbangkan layang-layang. Kondisinya harus berangin untuk menerbangkan layang-layang.”

Jadi mereka berada di kebun belakang untuk menerbangkan layang-layang?

Wei Luo berpikir sejenak. Para tabib kekaisaran semua mengatakan bahwa Liuli harus lebih sering pergi keluar untuk berjalan-jalan. Akan baik bagi kesehatannya untuk sesekali pergi keluar untuk menerbangkan layang-layang selama itu tidak berlebihan. Tapi … Wei Luo meliriknya dan mencoba untuk menyelidikinya, “Apakah kamu terluka? Mengapa Yang Zhen membawamu dipunggungnya?”

Liuli duduk di sofa arhat kayu mawar. Dia mengambil cangkir pola teratai yang dibawa seorang gadis pelayan istana dan meminumnya. Dia berkedip dan berkata, “Aku tidak terluka … tapi aku lelah, jadi aku meminta kakak laki-laki Yang Zhen membawaku kembali di punggungnya.”

“…”

Wei Luo benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Hubungan Liuli dengan Yang Zhen dari awal sudah spesial dan sekarang mereka bahkan lebih intim. Bukankah dia sengaja membiarkan orang salah paham? Wei Luo memegang tangannya yang diletakkan di atas meja yang diukir dengan bentuk singa, ragu-ragu sejenak, menyesuaikan nada suaranya dan berkata, “Liuli, kamu sudah berusia empat belas tahun ini …”

Wei Luo jelas baru berusia tiga belas tahun dan wajahnya yang kecil tampak muda, tetapi dia menggunakan nada suara yang terdengar seperti orang yang berpengalaman ketika dia mengucapkan kata-kata ini. Itu membuat seseorang merasa aneh. Zhao Liuli dengan hati-hati melihat wajahnya. Melihat bahwa Wei Luo tidak bercanda, dia menoleh dan memberi isyarat kepada gadis pelayan istana untuk meninggalkan ruangan. “Ah Luo, aku punya sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”

Segera, mereka adalah dua orang yang tersisa di ruangan hangat itu.

Wei Luo tiba-tiba teringat sesuatu. Zhao Liuli mengundangnya ke istana karena ingin membicarakan sesuatu dengannya.

Kata-kata Liuli berikutnya mungkin tentang itu. Dia tiba-tiba memiliki firasat buruk bahwa tebakannya tentang Yang Zhen akan menjadi kenyataan. Kata-kata berikut Zhao Liuli pasti akan menjadi peristiwa besar yang sangat serius.

Seperti yang diharapkan, Zhao Liuli berulang kali ragu-ragu berbicara. Wajah mungilnya yang halus semakin canggung. Akhirnya, dia mengumpulkan keberaniannya dan berkata, “Aku pikir aku menyukai kakak Yang Zhen.”

Tebakannya telah dikonfirmasi. Wei Luo segera menyusut. Dia tanpa sadar mengencangkan pegangannya di cangkir di depannya dan tidak bisa mengatakan satu kata pun. Bagaimana bisa Zhao Liuli menyukai Yang Zhen? Status mereka sangat berbeda. Salah satunya adalah seorang putri muda yang dimanja di telapak tangan dan hati Permaisuri Chen. Yang lain hanya pengawal kekaisaran yang tidak memiliki status.

Bagaimana bisa ada hasil yang bagus? Dia seharusnya sudah bisa menebak dari kata-kata Zhao Liuli sebelumnya. Jika mereka hanya memiliki hubungan yang normal, bagaimana bisa tindakan mereka begitu intim … Jika Zhao Jie tahu tentang ini, apa yang akan dia pikirkan dan lakukan?

Pikiran Wei Luo berubah seribu kali. Dia tidak bisa memikirkan apa yang harus dikatakan.

Zhao Liuli melanjutkan, “Kakak  Yang Zhen memperlakukanku dengan sangat baik. Dia melindungiku sejak aku masih kecil. Apapun yang aku inginkan, dia akan memikirkan cara untuk mendapatkannya untukku …”

Wei Luo merenungkan masalah itu dan akhirnya menemukan suaranya (menemukan apa yang harus dikatakan), “Liuli, kamu hanya terlalu kesepian. Kamu hanya memiliki Yang Zhen di sisimu sejak kecil, jadi kamu pikir dia baik. Ada perbedaan besar antara kalian berdua. Ini tidak akan menjadi akhir yang bahagia … “

Zhao Liuli dengan keras kepala menggelengkan kepalanya. Emosi di matanya tulus. “Bukan. Ah Luo, jangan katakan itu. Aku benar-benar menyukai kakak Yang Zhen. Bahkan jika ada orang lain di sisiku, aku akan tetap menyukainya.” Dia sudah memikirkan ini sejak lama. Meskipun dia orang yang sederhana, dia masih mempertimbangkan hal-hal yang harus dia pertimbangkan. Kali ini, dia mengundang Wei Luo ke istana untuk mengatakan ini padanya. Mereka sedekat saudara perempuan, jadi dia tidak ingin menyembunyikan ini darinya. “Ketika saatnya tiba, aku akan memberi tahu ibunda permaisuri. Dia sangat mencintaiku. Dia pasti akan setuju …”

Wei Luo menatap matanya dan tiba-tiba tidak tahan mengucapkan kata-kata bantahan.

Sakit sejak kecil, Liuli belum memperoleh banyak hal dan telah kehilangan banyak hal. Sekarang, dia akhirnya memiliki seseorang yang dia sukai. Itu mungkin hal yang sulit.

Wei Luo menurunkan matanya. Segera setelah itu, dia melengkungkan bibirnya dengan senyuman, dan mendongak untuk berkata, “Seberapa baik Yang Zhen memperlakukanmu? Kau sangat menyukainya?”

Saat menyebutkan ini, mata indah Zhao Liuli tampak bersinar. Dia menahan pipinya dengan tangannya dan dengan hati-hati mengatakan, “Kakak Yang Zhen ingat apa makanan favoritku dan setiap kali kami meninggalkan istana, dia akan membelikan makanan itu untukku. Setiap kali aku bertemu dengan bahaya, dia akan menjadi orang pertama di depanku yang melindungiku dari bahaya. Dia memberiku hadiah. Dan dia sangat memperhatikanku … Suatu kali, aku melukai pergelangan kakiku. Dia lebih mengkhawatirkannya daripada diriku. Dia secara pribadi mengoleskan obat pada pergelangan kakiku…”

Semakin banyak yang dikatakan Zhao Liuli, semakin banyak yang harus dia katakan. Tapi, Wei Luo menjadi tenang dan lebih tenang.

Ketika Liuli membicarakan hal ini, Wei Luo tidak bisa tidak memikirkan orang itu … Zhao Jie juga akan mengingat makanan favoritnya dan memberikan dia hadiah. Saat itu ketika mereka pergi ke Rong Chun Fang untuk mendengarkan musik, dia adalah orang pertama yang berdiri di depannya untuk menghadang kereta yang tidak terkontrol. Dia dengan erat memeluknya. Oh. Ketika mereka baru-baru ini pergi ke Villa Jing He, ketika dia melukai pergelangan kakinya, dia adalah orang yang membawanya ke kamarnya dan secara pribadi mengoleskan obat untuknya.

Zhao Liuli telah berbicara banyak, tetapi dia tidak menerima tanggapan Wei Luo. Dia tidak tahan untuk mengulurkan tangannya dan melambaikannya di depan Wei Luo. “Ah Luo, apa kamu mendengarkan?”

Wei Luo tiba-tiba kembali ke akal sehatnya. Dia mengangguk dan berkata, “Aku mendengarkan.”

Zhao Liuli melengkungkan matanya dan tersenyum. Dia bertanya dengan kepuasan sempurna, “Apakah kau pikir kakak Yang Zhen memperlakukanku dengan baik?”

Dia berhenti sejenak, lalu dia perlahan mengangguk, “… Yah.”

Setelah Li Song meninggalkan istana, dia tidak pulang. Sebagai gantinya, ia mengundang beberapa teman ke distrik lampu merah sekitar Ping Kang dan memutuskan minum-minum untuk menghilangkan kekhawatirannya.

Teman-teman ini hanya kadal pemalas dan pesuruh yang suka menimbulkan masalah. Mereka tidak tahu apa-apa dan tidak kompeten. Tapi, mereka semua mengikuti perintah Li Song. Sekarang Li Song mengatakan mereka untuk keluar, mereka tentu saja senang melakukannya. Beberapa saat kemudian, lima atau enam orang berkumpul bersama. Mereka meminta kamar pribadi di Bao Gui, memerintahkan beberapa wanita untuk menemani mereka, dan memulai pesta minum mereka.

Li Song duduk di kursi teratas. Dia sudah banyak minum di istana, tetapi ketika anggur itu dibawa kepadanya, dia hanya fokus minum dan mengabaikan orang lain.

Di samping Li Song, seorang bangsawan muda yang mengenakan jubah biru menunjuk seorang wanita muda. Wanita muda itu diam-diam mengerti. Seperti ular, dia menekan tubuh lembutnya pada Li Song, “Tuan Li, sangat membosankan untuk minum sendiri. Bagaimana kalau membiarkan pelayan ini menemanimu?”

Gerakan Li Song dalam menuangkan arak tidak berhenti. Dia mengangkat kepalanya dan menghabiskan cangkir lagi. Dia tidak setuju atau menolak. Seolah-olah dia tidak mendengar kata-katanya.

Wanita muda itu memiliki penglihatan yang luar biasa dan kemampuan untuk membuat penilaian yang tajam. Dia segera mengambil cangkir arak dari tangannya. Setelah cangkir arak penuh, dia membawa cangkir arak putih ke mulutnya.

Dia berhenti sejenak. Dia tidak menolak dan mabuk dari cangkir arak yang dipegang oleh wanita muda itu.

Keharumannya yang kuat berlama-lama di sekitarnya seolah-olah dia menempatkan dirinya di dalam sekelompok bunga. Dia tidak terbiasa dengan bau yang kuat. Dia memikirkan aroma ringan dan manis Wei Luo yang benar-benar berbeda dari wanita muda ini. Mengapa memikirkannya? Bukankah dia sudah mabuk? Kenapa dia masih memikirkannya?

Bangsawan muda berjubah biru melihat bahwa Li Song melamun dan tidak bisa menahan untuk bertanya dengan senyuman, “Ah Song, bukankah kau memenangkan tempat kedua dalam kompetisi berburu? Kau pasti telah menerima hadiah dari Yang Mulia, kan? Mengapa kamu terlihat sangat kecewa? Apakah ada sesuatu yang tidak memuaskan?”

Dia menurunkan matanya dan menatap cairan di cangkir anggurnya. Cairan itu berkilau dan tembus cahaya. Dia memutarnya dan melihat riak. Wajah yang buram, cantik, dan hidup tiba-tiba muncul di permukaan cairan. Wajah tersenyum itu dengan lembut dan hangat bertanya, “Li Song, apakah kamu menyukaiku?”

“Aku tidak …” Dia menutup matanya dan dengan menyakitkan mengatakan, “Aku tidak.”

Bagaimana dia bisa menyukainya? Dia membencinya. Dia adalah orang yang licik dan kejam dengan hati yang jahat. Dia tidak menyukainya!

Tapi suara itu terus terulang di telinganya seolah itu mantra penyihir yang tidak bisa dia singkirkan. Dia hanya bisa minum cangkir demi cangkir untuk mematikan rasa pada dirinya sampai dia berhenti mendengar suara Wei Luo.

Tubuh yang menggoda dan menyenangkan tiba-tiba menabraknya dan meringkuk di pelukannya. Sebuah tangan lembut dengan gelisah membelai dadanya dan secara bertahap pindah ke jakun, dagu, mulutnya … Dia mengerutkan kening dan dengan ganas menggenggam tangan itu, “Jangan bergerak.”

Wanita muda itu mengenakan jaket dan rok persik merah muda. Dia dengan lembut tertawa dan tidak menanggapi kata-kata Li Song dengan serius. Dia mengambil kesempatan ini untuk menggerakkan mulutnya untuk menggigit telinganya dengan lembut dan meniupnya, “Tuan Li, Anda bercanda. Siapa yang datang kemari dan tidak melakukan apa-apa?” Saat dia mengatakan ini, dia mengambil tangan Li Song yang lain dan meletakkannya di pinggangnya.

Namun, pada saat berikutnya, dia mendorongnya dan dengan marah berteriak, “Pergi!”

Dia tidak tahu apakah kalimat itu telah memprovokasinya. Li Song menutupi telinganya dan matanya merah. Dia mengangkat kakinya dan menendang meja cendana kecil. Barang-barang di atas meja jatuh ke lantai! Li Song terus marah sambil memaki, “Kalian semua pergi! Pergilah!”

Semua orang terkejut dengan tingkahnya. Satu demi satu, mereka mundur ke arah pintu. Mereka tidak tahu seperti apa kebiasaan mabuk yang dia miliki.

Para wanita muda sudah pergi melewati pintu. Para kadal pemalas tidak berani maju untuk membujuknya dan hanya saling memandang dengan cemas. Pada akhirnya, mereka pergi satu per satu.

Setelah semua orang pergi, tubuh Li Song runtuh. Dengan bunyi keras, dia jatuh ke lantai. Dia mabuk dan pikirannya tidak jelas, tetapi dia masih mencengkeram telinga kirinya. Dia meringkuk dan terus mengulang, “Aku tidak. Aku tidak.”

***

Meskipun Permaisuri Chen marah dengan Zhao Jie di permukaan, dia masih mengkhawatirkannya di dalam hatinya. Dia masih tidak ingin menikah pada usia ini. Sebagai ibunya, dia tentu akan khawatir. Selain itu, dia baru-baru ini mendengar bahwa laki-laki penghangat tempat tidur (Ed note: Ini betulan laki-laki bukan typo :lol) sangat populer di ibu kota. Mereka yang memiliki kekuasaan dan status semua suka menyimpan satu atau dua di tempat tinggal mereka untuk memuaskan selera mereka yang ‘berbeda’. Meskipun Permaisuri Chen memahami karakter pribadi putranya, dia masih sedikit khawatir. Setelah merenungkan ini untuk waktu yang lama, dia akhirnya tidak bisa menolak untuk mengatur dua wanita muda untuk dikirim ke kediaman Pangeran Jing.

Kedua wanita muda dan cantik ini berasal dari penari istana dengan latar belakang yang bersih. Permaisuri Chen berpikir jika Zhao Jie menyukai mereka, mereka bisa tetap tinggal di kediamannya sebagai selir.

Menjelang malam, Zhao Jie selesai menangani urusannya. Dia meninggalkan ruang kerjanya untuk pergi ke kamar tidurnya. Setelah mencuci wajahnya dan membersihkan mulutnya, dia akan berganti pakaian dan pergi tidur. Tepat ketika dia duduk di atas tempat tidur kayu cedar yang diukir dengan awan, dia melihat dua wanita muda keluar dari balik sekat layar pembatasnya. Yang satu anggun dan tenang. Yang lainnya menawan dan genit.

Dia berhenti bergerak dan melihat mereka berdua.

Mereka berdua membungkuk dan memberi hormat. Kedua pipi wanita muda itu memerah seperti kelopak bunga. Pakaian transparan yang mereka kenakan tidak bisa menutupi pemandangan dada mereka. Kulit putih giok mereka sebagian tersembunyi dan sebagian terlihat. Mereka berkata, “Yang Mulia, kami akan membantu Anda pergi tidur di masa depan …”

Tatapan Zhao Jie mendingin dengan cepat. Dia tidak bergerak dan suaranya sangat rendah sehingga menakutkan, “Siapa yang mengizinkan kalian berdua masuk?”

Chapter 58
Chapter 60

Leave a Reply

Your email address will not be published.