Chapter 58

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh elteef

.

.

Dia (Li Song) terlalu ceroboh. Bagaimana dia bisa punya pikiran bodoh dan konyol seperti itu terlepas dari segala dendamnya?

Ketika Wei Luo berbisik ke telinganya “Karena kau menyukaiku”, dia kehilangan kemampuannya untuk berpikir secara rasional. Dari tadi malam hingga hari ini, senyum manis Wei Luo masih melekat di ingatannya. Ini adalah pertama kalinya dia tersenyum padanya, tetapi dia ingin menggunakan jepit rambutnya untuk membunuhnya. Mata pisau tajam itu menusuk dadanya. Li Song dipenuhi dengan kebencian padanya, tapi pada akhirnya, dia tetap membiarkan Wei Luo pergi.

Li Song dengan erat memegang sandaran tangan kursi kayu. Urat nadi biru di punggung tangannya mencuat dan dia hampir menghancurkan kayu itu menjadi potongan-potongan kecil.

Dia berulang kali melamun selama percakapan ini. Bahkan Puteri Gao Yang melihat bahwa perilakunya tidak biasa. Setelah memanggil namanya beberapa kali, dia bertanya, “Song-er, apa yang kau pikirkan? Ibu bertanya bagaimana kau bisa terluka. Mengapa kau tidak menjawab ibu?”

Luka Li Song berada di dadanya. Selama itu diperban, tidak ada yang bisa mengatakan bagaimana dia terluka atau seberapa parah dia terluka. Dia diam-diam berkata, “Aku terluka karena seekor hewan selama kompetisi berburu. Ini hanya luka kecil. Jangan khawatir, ibu.”

Puteri Gao Yang menatapnya ragu-ragu dan dengan khawatir bertanya, “Apakah benar-benar tidak serius? Wajahmu tidak terlihat baik.”

Dia menggelengkan kepala dan mengatakan itu tidak serius. Mengambil keuntungan dari fakta bahwa mereka belum terlalu curiga, dia menahan rasa sakit itu, dan mengubah topik, “Di mana Xiang-er? Mengapa dia tidak di sini untuk melihatku?”

Puteri Gao Yang berkata, “Dia mengurung dirinya di kamar sejak dia kembali dari Gunung Xun. Ibu sudah mengetuk pintunya beberapa kali, tapi dia masih tidak mau keluar.” Alisnya mengerut dan pada akhirnya dia berkata dengan tidak senang, “Ibu tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu.”

Apa yang bisa Li Xiang pikirkan? Itu hanya karena dia telah melukai seseorang, merasa bersalah, tapi khawatir orang tuanya akan menghukumnya, dan takut untuk melihat siapapun.

Li Song selalu menyayangi Li Xiang dan tidak tahan melihatnya menderita sedikit saja. Namun, dia berpikir bahwa dia sudah keterlaluan kali ini. karena keluarganya selalu memanjakannya, dia tumbuh dengan memiliki temperamen arogan dan susah diatur.

Li Song berpikir sejenak sebelum menceritakan peristiwa dua hari terakhir kepada Pangeran Ru Yang (Li Zhi Liang) dan Puteri Gao Yang (Zhao Xuan). Suaranya ringan saat dia berbicara, tapi mata Li Zhi Liang dan Zhao Xuan menjadi lebar dan lebih lebar. Pada akhirnya, dia (Puteri Gao Yang), “… luka tuan muda keenam Keluarga Wei disebabkan oleh Xiang-er?

Li Song mengangguk.

Puteri Gao Yang benar-benar terkejut. Jika dia tidak mendengar ini dari Li Song, dia tidak akan percaya ini tidak peduli apa. Puterinya yang dia besarkan di telapak tangannya biasanya polos dan manis. Bagaimana dia bisa melakukan hal yang jahat seperti itu? Dia bergumam, “Bagaimana mungkin Xiang-er melakukan hal seperti itu? Dia… Dia…”

Puteri Gao Yang terus mengatakan “Dia…” untuk waktu yang lama, tapi pada akhirnya, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Untungnya, pikiran Li Zhi Liang jernih. Dia memeluk istrinya yang hampir roboh dan berkata kepada kepada gadis pelayan di luar, “Minta Nona datang kesini!”

Segera setelah itu, Li Xiang muncul di depan pintu. Dia memakai atasan sutera putih dan rok kain sutera tipis hijau zaitun. Untuk sebagian besar, Li Xiang sudah menebak alasan dia diperintahkan datang kesini. Tidak ada sedikitpun rasa takut atau rasa bersalah di wajahnya. Sebaliknya, hanya ada senyuman. Dia tiba di depan Puteri Gao Yang dan mengajukan pertanyaan sementara ia sudah mengetahui jawabannya, “Ibu, mengapa memanggilku kesini? Aku sudah bilang aku sedang tidak enak badan.”

Puteri Gao Yang menenangkan pikirannya. Dia duduk di kursinya dan mencoba bertanya dengan tenang, “Xiang-er, katakan yang sebenarnya. Apakah kau memiliki hubungan dengan cedera Wei Chang Hong?”

Senyum di wajah Li Xiang membeku. Dia segera melihat Li Song, “Apakah kakak yang memberitahu ibu?”

Suara Puteri Gao Yang menjadi lebih keras, “Katakan saja iya atau tidak!”

Berkebalikan dengan ekspektasi, Li Xiang sangat jujur. Alisnya terangkat dan dengan sikap bersedia menerima konsekuansi dari tindakannya, dia berkata, “Akulah yang menyerangnya. Apa itu masalah?”

Li Xiang telah melukai seseorang. Alih-alih memiliki perasaan yang menyesal, dia bertindak seolah-olah apa yang dia lakukan itu benar. Tindakannya membuat Puteri Gao Yang merasa marah dan kecewa, “Bagaimana kau bisa…” Ketika dia mengucapkan kata-kata ini, dia merasa penglihatannya menggelap. Dia harus tenang untuk waktu yang lama sebelum dia sadar kembali. Dia telah mendengar perselisihan Li Xiang dan Wei Luo. Masalahnya tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Paling-paling, keluarga mereka tidak akan bersatu dengan pernikahan. Tapi sekarang masalahnya benar-benar berbeda. Li Xiang telah melukai Chang Hong. Mereka tidak hanya menyinggung Keluarga Wei, jika masalah ini diketahui publik, ini akan sangat merusak reputasi Li Xiang dan akan membuatnya sulit untuk menikah! Bagaimana bisa anak ini begitu bodoh?

Melihat wajah Zhao Xuan (Putri Gao Yang) tidak terlihat baik, Li Xiang segera maju untuk menopangnya, dengan penuh perhatian menuangkan secangkir teh kepadanya, dan membawakan teh itu kepadanya. “Ibu, jangan marah. Aku mendengar orang berkata bahwa Wei Chang Hong baik-baik saja sekarang. Dia hanya terluka sedikit. Siapa yang tidak terluka saat berburu?” Setelah mengatakan ini, dia melihat pada Li Song, “Selain itu, kakak akan bertanggung jawab untukku. Apa yang harus aku khawatirkan?”

Li Song tidak menjawab dan memalingkan wajah darinya.

Li Xiang tidak berpikir jauh atas tindakannya. Dia terus mengucapkan kata-kata untuk membujuk Puteri Gao Yang. Dia dilahirkan dengan mulut yang pintar. Selama dia mau, dia akan bisa membuat seseorang merasa nyaman. Selain itu, Zhao Xuan (Putri Gao Yang) sangat mencintainya. Bahkan jika Zhao Xuan marah, dia tidak akan memberikan Li Xiang ke Keluarga Wei untuk dihukum. Saat dia menenangkan Zhao Xuan, dia secara logis menjelaskan alasannya, “Aku tidak suka Wei Chang Hong dari awal. Itu ayah dan ibu yang bersikeras untuk menyatukan kami bersama. Hubungan antara dua keluarga kita tidak baik dan juga Wei Luo itu jahat dan licik. Jika aku menikah dengan keluarga mereka, bukankah aku hanya bisa menderita ditindas? Apakah ayah dan ibu ingin aku dianiaya oleh keluarga mereka setiap hari? Bukankah situasi sekarang ini lebih baik? Pernikahan ini tidak perlu terjadi lagi…”

Meskipun Wei Chang Hong lebih tua darinya setahun, dia menganggap Wei chang Hong seperti dibawahnya.

Dia menyukai Liang Yu yang gagah alih-alih seorang anak lemah yang mengikuti kakak perempuannya setiap hari. Mata Wei Chang Hong hanya tertuju pada kakak perempuannya. Perempuan yang menikahinya harus bersaing dengan saudara ipar ini (Wei Luo) untuk kasih sayangnya. Itu akan benar-benar menjadi nasib buruk seumur hidup.

Puteri Gao Yang menunjuk ke arahnya, “Jadi, kau melukainya karena ini? Bagaimana kau ingin orang lain menggambarkanmu? Pemarah dan jahat? Atau kejam dan brutal? Apakah kau masih menginginkan reputasimu?”

Li Xiang bertindak manja dengan bersandar dan mengusap kaki ibunya. “Ibu, aku tahu aku salah… Itu salah Wei Luo karena menjebakku. Aku hanya melakukannya karena aku terlalu marah waktu itu, jadi aku tidak bisa mengendalikan diri.” Pada akhirnya, dia tidak berani mengatakan bagaimana Wei Luo sudah menjebaknya dan hanya bisa menyamarkan untuk menyembunyikannya. “Selain itu, aku memiliki kakak. Kakak, bagaimana kau menyelesaikan masalah ini?”

Li Song tidak menjawabnya. Luka di dadanya terlalu dalam. Kemarin, dia hanya membalut luka itu dengan perban di Gunung Xun. Sekarang, lukanya terasa sangat sakit. Dia mengepalkan tinjunya, menahan rasa sakitnya, dan berkata, “Aku lelah. Aku pergi dulu ke kamar untuk beristirahat sebentar.”

Setelah dia berkata, dia tidak menunggu jawaban mereka. Dia berbalik dan pergi.

Li Xiang membeku sesaat. Dia berpikir bahwa dia hanya dalam suasana hati yang buruk. Dia menyusulnya dan berseru, “Kakak!”

Li Song tidak menghentikan langkahnya. Setiap langkahnya sangat lambat.

Li Xiang akhirnya menyusulnya di beranda berpernis merah terang. Dia berjalan di depannya dan dengan cemas bertanya, “Kakak, apakah kau marah padaku…”

Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, dia melihat darah keluar dari dada Li Song. Dia membeku sejenak. Matanya terbuka lebar saat dia bertanya, “Kau terluka? Kapan kau terluka? Bukankah kau masih baik-baik saja ketika kompetisi berburu berakhir…” Tiba-tiba dia memikirkan sesuatu. Li Xiang dengan marah mendongak dan bertanya, “Apakah itu Wei Chang Hong? Ataukah itu Wei Luo? Apakah mereka melakukan ini?”

Li Song merasa putus asa dan cemas. Dia mengalami sakit kepala karena sakit dari lukanya, jadi wajahnya tidak terlihat baik. Nada suaranya keras ketika dia berkata, “Li Xiang, aku memikul kesalahan atas tindakanmu kemarin. Jika kau terus begitu keras kepala di masa depan, aku tidak akan membantumu lain kali.” Dia memegangi dadanya, mendorong pergi Li Xiang, dan dengan suara serak berkata, “Selama waktu ini, patuhlah untuk tinggal di rumah. Jangan tunjukkan wajahmu di depan umum sampai orang-orang berhenti membicarakan masalah ini.”

Li Xiang berdiri di tempatnya dan memperhatikan punggung Li Song saat dia berjalan menjauh. Tidak bisa menahan emosinya, dia menggertakkan giginya. Siapa yang tahu jika dia mendengarkan kata-katanya dan apakah iya atau tidak dia akan mengikuti mereka?

Puteri Gao Yang sangat mencintai puterinya dan juga mendengar bahwa Li Xiang tahu bahwa dia salah, jadi dia tidak tega untuk menghukum Li Xiang dengan berat. Pada akhirnya, dia hanya menghukum Li Xiang dengan berlutut di depan Buddha selama enam jam dan menyalin kitab suci seratus kali sebelum menghitung masalah itu diselesaikan. Adapun pernikahan dengan Keluarga Wei, itu pasti tidak akan bisa terjadi. Tidak hanya pernikahan itu tidak akan terjadi, dia (Puteri Ga Yang) takut bahwa kebencian mereka akan sulit untuk diselesaikan.

***

Di kediaman Duke Ying, Wei Chang Hong tidak sepenuhnya pulih dari cederanya hingga setengah bulan kemudian.

Selama waktu ini, Wei Luo selalu disekitar untuk mengawasi Wei Chang Hong. Dia telah mencari dan mengumpulkan berbagai macam obat mahal untuknya dan tidak akan merasa yakin sampai dia menyaksikannya minum semangkuk besar obat setiap hari. Kadang-kadang, Wei Chang Hong merasa sangat tidak berdaya dan berusaha melawan ini, “Ah Luo, aku tidak selemah dirimu. Lukaku sudah sembuh sejak lama. Bisakah aku berhenti minum tonik ini?”

Wei Luo menggelengkan kepalanya dan dengan agak tidak masuk akal berkata, “Kau bahkan tidak bisa mengalahkan Li Song. Ketika kau bisa mengalahkan Li Song, kau tidak perlu terus minum tonik ini.”

Li Song telah berlatih seni bela diri sejak dia masih kecil. Wei Chang Hong hanya belajar sedikit olahraga tinju untuk memperkuat tubuh dan kesehatannya. Kemampuan mereka tidak bisa dibandingkan. Syaratnya terlalu tidak masuk akal. Wei Chang Hong tidak memiliki metode lain dan hanya bisa terus minum tonik-tonik itu.

Hari ini Zhao Liuli telah mengundang Wei Luo ke istana karena dia memiliki sesuatu yang ingin dia diskusikan dengan Wei Luo. Jadi, Wei Luo melepaskan Chang Hong untuk hari ini. Dia kembali ke kamarnya, mengganti bajunya, dan pergi ke istana.

***

Pada saat yang sama, Kaisar Chong Zhen mengatur perjamuan di Aula Lin De dan mengundang tiga pemenang teratas kompetisi berburu untuk memberikan penghargaan kepada mereka. Beberapa pangeran dan putera-putera pejabat kekaisaran juga akan menghadiri perjamuan itu. Zhao Jie dan Zhao Zhang juga ada di daftar undangan.

Zhao Jie secara tidak resmi berpartisipasi dalam kompetisi berburu tahun ini. Zhao Jie hanya mengambil kesempatan untuk bergabung dalam pesta. Lagipula, jenis kompetisi ini adalah metode Kaisar Chong Zhen untuk menguji kemampuan para pemuda itu. Ini bukan acara yang besar dan serius. Tidak ada alasan bagi pangeran untuk memamerkan kekuatan mereka dan mencuri kesempatan orang lain. Awalnya, Zhao Jie ingin memburu seekor rubah kecil untuk Wei Luo, tetapi karena gadis itu tidak tertarik, dia hanya bisa menjatuhkan pokok pembicaraan itu.

Pada perjamuan itu, Kaisar Chong Zhen mengenakan jubah upacara kekaisaran berwarna ungu dan yi shan guan (sejenis mahkota Dinasti Ming). Senyumnya tentunya terlihat baik sementara dia membiarkan semua orang duduk. Zhao Jie dan Zhao Zhang duduk di sisi kiri dan kanannya.

Zhao Jie mengenakan jubah abu-abu dengan ujung keemasan dan pola naga yang belum tumbuh tanduknya

Zhao Jie mengenakan jubah abu-abu dengan ujung keemasan dan pola naga yang belum tumbuh tanduknya. Sikapnya begitu ningrat.

Zhao Zhang tujuh atau delapan tahun lebih muda darinya. Dia mengenakan jubah biru gelap dengan pola python dan menangkupkan tangan sebagai ucapan salam. Senyumnya ramah dan lembut, tetapi wajahnya tidak menunjukkan rasa takut.

Liang Yu duduk di bawah Zhao Jie. Li Song duduk di bawah Zhao Zhang. Putera pejabat lainnya duduk di sebelah Liang Yu. Yang lainnya duduk masing-masing di sisi kiri dan kanan aula.

Selama perjamuan, Kaisar Chong Zhen sangat memuji Liang Yu dan dua pemenang lainnya. Dia memuji mereka sebagai pemuda yang memiliki bakat, berani dan kemampuan strategis yang luar biasa. Kata-katanya begitu menghargai.

Liang Yu dengan sopan langsung berdiri dan merasa agak malu mendengar kata-kata ini. Namun, Kaisar Chong Zhen tidak memiliki kesan yang sama. Dia memerintahkan para pelayan istana untuk mengeluarkan hadiah yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk diberikan kepada tiga orang ini.

Ketiga orang itu berlutut, menerima hadiah, dan duduk di kursi mereka lagi.

Upacara penghargaan diikuti dengan acara minum dan menyaksikan tarian para penari.

Para penari mengenakan pakaian penuh warna. Mereka bergoyang dan memutar tubuh mereka seiring suara musik. Gerakan dan postur mereka anggun. Kebanyakan orang tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari penari-penari tersebut.

Zhao Jie menunduk. Dengan ketertarikan yang memudar, dia menuang secangkir anggur untuk dirinya sendiri dan mengangkat cangkir keramik anggur itu. Dia menaikkan pandangannya untuk melihat pada Li Song, yang duduk di sisi lain.

Luka di dada Li Song belumlah sembuh, jadi dia tidak bisa minum anggur. Dia tampak melamun sejak perjamuan dimulai dan menopang dagu dengan tangannya. Saat ini, semua orang dengan senang menyaksikan para penari yang berpakaian penuh warna. Meskipun matanya melihat pada para penari itu, siapa yang tahu kemana kesadarannya telah menghilang?

Zhao Jie memanggil seorang pelayan dan membisikkan beberapa kata kepadanya. Pelayan itu mengangguk, dengan cepat dan diam-diam muncul di belakang Li Song, dan mengatakan beberapa kata ke telinganya.

Setelah Li Song mendengar kata-kata ini, Li Song menatap Zhao Jie dengan suram.

Zhao Jie mengangkat cangkir anggurnya. Bibir tipisnya menahan senyumannya. Dia mengangkat kepalanya, meminum cangkir dalam satu tegukan, dan meletakkan cangkir itu di atas meja untuk menandakan, ‘Aku selesai. Lakukan seperti apa yang kau inginkan.’

Mata Li Song semakin dalam. Dia hanya bisa menuangkan secangkir anggur untuk dirinya, bersulang dengan Zhao Jie, mengangkat kepalanya, dan menghabiskan cangkirnya dalam satu tegukan.

Li Song mengira ini akan selesai setelah satu cangkir. Siapa yang akan menduga bahwa Zhao Jie dengan sengaja menyiksanya? Satu cangkir saja tidak cukup. Ada cangkir kedua, lalu cangkir ketiga… Ketika dia sudah meminum cangkir ketujuh, rasanya seolah luka di dadanya telah terbuka. Jantungnya merasakan sakit yang sangat membakar. Tapi ketika dia melihat bahwa Zhao Jie tidak memiliki niat untuk berhenti, dia hanya bisa menahan rasa sakitnya dan menemaninya minum. Mereka berdua bersemangat dan bersumpah untuk tidak menyerah sampai salah satunya jatuh (kalah).

Sayangnya untuk Li Song, toleransinya terhadap alkohol tidak sebaik Zhao Jie. Setiap gelas anggur ditaruh, wajah Zhao Jie tidak berubah sedikitpun. Sebaliknya, wajahnya menjadi semakin tenang. Adapun Li Song, adegan di depannya sudah agak kabur. Tiba-tiba ada bau manis di tenggorokannya, tetapi dia menahannya dan menelannya. Dia dengan rajin meminum cangkir lain dan dengan kuat menempatkan cangkir itu di atas meja berpernis hitam yang dilapisi dengan emas!

***

Perjamuan berakhir. Semua orang kembali ke kediaman mereka masing-masing.

Langkah Zhao Jie stabil. Selain tubuhnya yang berbau arak, dia tidak tampak seperti orang yang baru-baru ini minum dua puluh cangkir arak. Dia dengan acuh tak acuh mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang, berjalan menuruni tangga di dekat singgasana, dan pergi melalui pintu masuk Istana Xuan De.

Sebaliknya, mata Li Song merah dan gaya berjalannya serampangan. Dengan bantuan seorang pelayan istana, dia nyaris tidak bisa keluar dari Aula Lin De. Pada saat dia berjalan ke luar menuju pintu masuk Istana Xuan De dan merasakan angin dingin, dia merasa agak sadar.

Tanpa disengaja, kereta yang tertutup dengan kain berwarna hijau kebiruan tiba dan berhenti di ambang pintu Istana Xuan De. Salah satu tangan Wei Luo memegang roknya yang dihiasi seratus kupu-kupu dan bunga-bunga emas dan tangan lainnya memegang Jin Lu saat dia keluar dari kereta. Ketika dia pertama kali melihat ke atas, dia bertemu dengan pandangan Zhao Jie. Bibir merah mudanya mulai melengkung ke atas untuk menunjukkan sebuah senyuman. Saat garis pandangannya berubah, dia melihat Li Song di belakang Zhao Jie dan sudut bibirnya langsung turun. Wei Luo memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin melihatnya.

Zhao Jie tersenyum. Dia meraihnya dalam beberapa langkah. Dia mengusap puncak kepalanya dan bertanya, “Mengapa kau datang ke istana? Apakah Liuli mencarimu?”

Wei Luo mengangguk dan dengan jelas berkata, “Liuli mengatakan ada sesuatu yang ingin dia diskusikan denganku dan menginginkanku untuk datang mengunjunginya.” Saat dia mengatakan ini, dia mencium bau alkohol di tubuh Zhao Jie. Dia mundur setengah langkah dan memegang hidungnya. “Apakah kakak minum anggur? Baunya sangat kuat.”

Tidak hanya minum, dia sudah minum dengan banyak.

Zhao Jie tidak bisa mencium bau dirinya sendiri, tetapi melihat wajah gadis muda itu yang terlihat tidak suka. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk menggodanya, “Apa? Kau tidak suka kalau pangeran ini minum?”

Jauh dari pertanyaan suka atau tidak suka, hanya saja dia tidak terbiasa dengan baunya. Dia menurunkan tangan yang memegang hidungnya, “Jika aku mengatakan kalau aku tidak menyukainya?”

Dia melengkungkan bibirnya, menatap matanya, dan berkata setengah bercanda dan setengah sungguh-sungguh, “Kalau begitu, aku tidak akan minum anggur lagi.”

Wei Luo berkedip dan tidak mengatakan apapun.

Di belakang Zhao Jie, Li Song memalingkan wajah dari mereka, mengambi tali kekang yang diberikan seorang pelayan istana kepadanya, menaiki kuda, mengangkat cambuk kuda, mendesak kuda itu maju, dan pergi tanpa menoleh ke belakang.

Chapter 57
Chapter 59

Leave a Reply

Your email address will not be published.