Chapter 57

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh elvarania
.

.

Wei Luo terkejut. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Ia menatap Zhao Jie dengan ekspresi bingung. Wei Luo sedang tidak berpikir ketika datang kemari. Ia hanya ingin melampiaskan kemarahannya untuk Chang Hong. Wei Luo begitu sangat marah hingga tidak memperhatikan cedera di pergelangan kakinya. Tapi, sekarang ada seseorang di depannya yang dengan penuh perhatian mengkhawatirkan cederanya. Ia merasa sedikit tersentuh. Wei Luo menarik nafas sekali sebelum ia memanggil, “Kakak…”

Zhao Jie menjawab pelan, “En.”

Mata gadis kecil itu memerah. Zhao Jie mengira bahwa dia sedang kesakitan karena pergelangan kakinya dan berniat menggendongnya. Siapa sangka bahwa dia akan merentangkan kedua tangannya dan menggumam, “Peluk aku?”

Hati Zhao Jie tiba-tiba melembut. Keinginannya untuk memanjakannya tak bisa lebih besar lagi. Ia berkata, “Baiklah.” Zhao Jie mencondongkan tubuhnya dan memeluknya mendekat ke dadanya. Satu tangannya melingkar di pinggang Wei Luo dan tangannya yang lain berada di atas kepalanya. Zhao Jie mendekap Wei Luo dengan erat di dadanya.

Itu hanyalah sebuah permintaan kecil. Bagaimana bisa ia menolaknya? Lagipula, sudah sejak lama ia ingin memeluk gadis ini.

Tubuh gadis muda itu begitu wangi dan lembut. Wei Luo semakin meringkuk ke dalam pelukannya seolah ia telah merindukannya. Bahasa tubuhnya menunjukkan sebuah kebergantungan mutlak. Pada momen ini, Zhao Jie merasa Wei Luo mengerti apa yang ia (Zhao Jie) pikirkan dan bahkan menginginkan dirinya sama seperti ia menginginkan Wei Luo. Tetapi, sesaat kemudian, tubuh manis dalam pelukannya  bergerak dan meninggalkan dekapannya. Dia berdiri di depannya dengan senyum seolah tak pernah ada yang terjadi dan berkata, “Aku sudah tak apa-apa. Aku sudah cukup menguras energimu.”

Lengannya tiba-tiba kosong, hanya aromanya dan sedikit kehangatannya yang tersisa. Hati Zhao Jie merasa kecewa, tapi tak tampak di wajahnya. Ia merasa kelakar Wei Luo menarik, “Energi apa? Dari mana kamu belajar kata-kata itu?”

Wei Luo menaruh tangannya di atas bahu Zhao Jie untuk menyangga setengah berat tubuhnya, “Aku membacanya di buku.”

Buku-buku supernatural itu semuanya memiliki situasi yang hampir sama. Succubus akan menyerap energi seorang pria dan pria itu akan mati karena kelelahan dan hanya akan tinggal tersisa mayatnya yang layu. Zhao Jie menepuk kepala Wei Luo dan matanya menggelap. Apa dia benar-benar mengerti apa itu artinya menguras energi? Jika dia benar-benar ingin menguras energi Zhao Jie, tidak akan cukup hanya dengan sebuah pelukan. Masih ada banyak hal yang bisa dilakukan. Di masa depan, dia akan tahu bahwa yang itu tidak akan sesederhana seperti pelukan.

Zhao Jie tidak bisa menahan Wei Luo tetap berdiri terlalu lama. Tanpa berkata-kata, ia membungkuk, menggendongnya, dan mulai berjalan menuju wismanya yang berada di sisi lain.

Wei Luo dengan nyamannya berpegang pada bahu Zhao Jie, melihat bahwa Zhao Jie membawanya ke arah yang salah, ia cepat-cepat mengingatkannya, “Chang Hong. Kakak, aku ingin pergi menemui Chang Hong.”

Zhao Jie berhenti sejenak sebelum merubah arahnya untuk berjalan menuju kamar Chang Hong sebagai gantinya.

Dalam perjalanan kesana, Wei Luo bersandar dalam dekapannya dan melihat Zhao Jie yang melihat lurus ke depan.

Saat Zhao Jie berjalan perlahan, ia bertanya, “Ah Luo, kenapa kamu tidak menyukai Li Song?”

Wei Luo menunduk dan teringat saat ketika tusuk rambutnya menusuk dada Li Song. Suaranya menjadi dingin, “Dia selalu menyakiti Chang Hong. Chang Hong adalah adikku. Tak ada yang boleh menyakitinya.”

Sejak saat Wei Luo masih kecil, sepertinya ia menjadi terus-menerus terlibat dengan Li Song. Dulu, mereka hanya terlibat argumen-argumen kecil, sekarang setelah mereka sudah besar, maka tidak akan baik jika mereka terus tetap terlibat. Zhao Jie tidak berkata apa-apa. Saat ia berdiri di pintu masuk, ia melihat Wei Luo berdiri dan dengan pelan mengusap telinga Li Song. Tindakannya itu terlihat begitu intim. Untuk sesaat, ia ingin membunuh Li Song. Ia tahu bahwa Wei Luo tidak mungkin menyukai Li Song, tapi tetap saja ia tidak bisa mengendalikan keposesifannya.

Wei Luo adalah miliknya. Selain dirinya, tak ada seorang pun yang boleh bahkan hanya berpikir untuk menyentuhnya.

Wei Luo dengan pelan bertanya kepada Zhao Jie apakah dia tahu apa yang terjadi di arena perburuan hari ini. Zhao Jie mengangguk, “Seorang pelayan baru saja memberitahuku tentang hal itu.”

Li Song telah melukai Wei Chang Hong dengan panah. Untunglah, panah itu tidak mengenai bagian tubuh yang vital dan lukanya tidak mengancam nyawa. Zhao Jie merasa bahwa masalah itu tidaklah sesederhana yang terlihat. Meskipun Li Song selalu mengganggu Wei Chang Hong ketika mereka masih kecil, dia tidak memiliki alasan untuk melukainya saat ini dan melakukannya di tempat umum. Di bawah situasi saat ini, akan sulit bagi Li Song untuk membela dirinya sendiri bahkan jika ada ratusan suara yang mendukungnya. Zhao Jie memahami Li Song. Meskipun Li Song arogan dan liar, dia bukan tipe orang yang ceroboh. Ada suatu hal yang mencurigakan tentang cerita ini. Ia perlu menyelidiki masalah ini lebih jauh.

Sembari Zhao Jie berjalan, ia menenangkan gadis dalam pelukannya, “Jika sesuatu seperti ini terjadi lagi, katakan padaku lebih dulu. Pangeran ini akan membantumu menyelesaikannya. Kamu tidak perlu mengatasinya sendiri.”

Mereka telah tiba di wisma milik Chang Hong saat mereka bercakap-cakap. Zhao Jie membawanya ke paviliun penerimaan tamu di bagian belakang wisma. Ia mendudukkannya di kursi cedar Cina berpernis hitam dengan desain Delapan Keabadian.

Wei Luo menyandarkan punggungnya ke kursi, “Tadinya terasa sakit, tapi sekarang sudah tidak sakit…” Ia mendongakkan kepalanya melihat kepada Zhao Jie. Mata hitamnya cerah bersinar dan penuh dengan rasa penasaran. “Kakak akan membantuku apa saja? Kakak akan membantuku tak peduli apapun yang kulakukan?”

Zhao Jie merasa penampilannya terlalu manis dan tak bisa menahan untuk tersenyum. Ia mencubit wajah Wei Luo yang kecil dan halus, dan berkata, “Aku akan membantumu apapun itu.”

Wei Luo melihat Zhao Jie dengan ketakjuban dan kekaguman. Dia terlihat seperti tidak mempercayai kata-kata Zhao Jie.

Tapi Zhao Jie tidak menjelaskannya lebih jauh. Ia berdiri dan menyuruh pelayan untuk mengambilkan semangkok air, lalu ia memegang pergelangan kaki Wei Luo.

Pergelangan kaki Wei Luo sebelumnya sudah bengkak dan karena baru-baru ini ia telalu banyak berjalan, membuat bengkaknya semakin buruk. Setelah Zhao Jie menempatkan sebuah kompres panas di atas pergelangan kakinya sebentar, ia mengusapkan arak obat yang sama yang telah ia gunakan pada Wei Luo semalam. Hanya saat setelah semua itu selesai Wei Luo merasakan nyerinya reda.

Wei Luo sedang bersiap untuk memakai sepatunya, tapi Zhao Jie menahan pergelangan kakinya dan berkata, “Jangan bergerak. Biar aku yang melakukannya.”

Tapi, dia telah melakukan segalanya. Bahkan membantunya memakaikan sepatunya, rasanya ini tidak benar. Dia adalah seorang pangeran. Tidak apa-apakah baginya jika dia melakukan hal seperti ini untuknya? Wei Luo tanpa sadar melihat pada Zhu Geng dan ingin dia membujuk Zhao Jie. Siapa sangka bahwa Zhu Geng sudah membalikkan badannya menjauh dari mereka dan sedang berdiri di pintu masuk? Dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini.

Wei Luo memegang kaos kaki putihnya dan dengan keras kepala berkata, “Aku akan melakukannya sendiri…”

Melihat bagaimana bersikerasnya Wei Luo, Zhao Jie tersenyum, melepaskan pegangannya, dan berkata, “Baiklah.”

Wei Luo membungkuk untuk memasang kaos kaki dan sepatunya dan akhirnya ia mendesah lega. Ketika ia memikirkan tentang harus berjalan ke kamar dalam Chang Hong, ia segera tersadar bagian sulit berikutnya. Ia tidak bisa melanjutkan berjalan. Bagaimana caranya ia kesana?

Zhao Jie berdiri di depannya dan sedang menahan senyumnya. Melihat bibir merah muda Wei Luo mengerucut, ia tidak bisa menahan untuk bertanya, “Apa kau akan pergi kesana sendiri, atau kau ingin pangeran ini menggendongmu?”

Wei Luo mendongak ke atas tanpa berkata apa-apa.

Zhao Jie diam-diam tertawa. Pada akhirnya, ia tetap mendekat untuk mengangkatnya dan mulai berjalan menuju ke kamar dalam Chang Hong sembari menggendong Wei Luo.

Di dalam kamar pribadi Chang Hong, dua orang tabib sudah merawat luka Chang Hong. Lukanya sudah berhenti berdarah, tapi dia masih belum bangun. Para tabib itu mengatakan bahwa dia mungkin akan demam saat malam. Jika itu terjadi, dia hanya perlu meminum semangkok obatnya dan akan membaik ketika dia bangun besok pagi.

Liang Yu telah berada di sisi tempat tidur Chang Hong dan tetap menjaganya sepanjang waktu. Melihat Zhao Jie menggendong Wei Luo ke dalam, ia tertegun untuk sesaat sebelum ia menangkupkan satu kepalan tangannya di dalam tangan yang lain untuk memberikan penghormatan, “Hormat kepada Yang Mulia Pangeran Jing.”

Zhao Jie mendudukkan Wei Luo di sebuah kursi kayu mawar. Setelah ia berpikir sesaat, untuk melindungi reputasi Wei Luo, ia menjelaskan, “Pergelangan kaki Ah Luo terluka dan dia tidak bisa berjalan, jadi pangeran ini menggendongnya kemari.”

Liang Yu tiba-tiba mengerti dan tidak memikirkan lebih jauh. Ia minggir ke samping untuk memberikan tempatnya kepada Wei Luo.

Wei Luo melihat Chang Hong, yang sedang berbaring di tempat tidur, dan merasakan kesedihan. Ia tak bisa menahan mengulurkan tangannya dan memegang tangan Chang Hong. Dia masih baik-baik saja kemarin malam ketika dia berdiri di depannya dan mengeluh tentang Zhao Jie. Siapa yang menyangka bahwa hanya dalam satu hari dia berubah menjadi seperti ini? Wei Luo mengangkat kepalanya dan dengan kekanakan mengusap air matanya menggunakan lengan bajunya. Ia seolah menjadi orang yang benar-benar berbeda dari seorang gadis yang telah memegang tusuk rambutnya untuk menyakiti seseorang.

Saat malam hari, seperti yang sudah diperkirakan, Chang Hong menjadi demam dan seluruh tubuhnya berkeringat dan bibirnya mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal. Wei Luo benar-benar merasa sangat khawatir dan segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan obatnya. Ia tidak merasa tenang sebelum ia menyaksikan sendiri Chang Hong meminum obatnya.

Untungnya, Chang Hong menjadi lebih baik setelah dia meminum obatnya. Ia berlanjut tidur hingga keesokan paginya.

Malam ini telah menjadi malam yang penuh dengan siksaan tak tertahankan bagi Wei Luo. Ia sama sekali tak memejamkan matanya sepanjang malam dan tetap menjaga Chang Hong dengan ketat di samping tempat tidurnya. Ia merasa takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada Chang Hong. Zhao Jie selalu berada di sampingnya dan menemaninya. Ia telah beberapa kali meminta Wei Luo kembali ke kamarnya untuk beristirahat, tapi Wei Luo dengan keras kepala menggelengkan kepalanya dan tak akan pergi tak peduli apapun yang Zhao Jie katakan. Ia bertahan hingga kilau pertama fajar menyelimuti gunung sebelum akhirnya ia jatuh tertidur di tempat tidur.

Zhao Jie berjalan mendekat, mengangkat Wei Luo, dan melihat pada Chang Hong yang telah bangun, dan berkata dengan tenang, “Pulihkan lukamu dengan baik. Pangeran ini akan membawa Ah Luo keluar terlebih dahulu.” Sebelum pergi, ia juga berkata, “Tabib berkata bahwa kau tidak boleh bergerak terlebih dahulu karena lukamu. Tunggu hingga besok pagi. Pangeran ini akan mengatur orang untuk membawa kalian berdua kembali ke kediaman kalian.”

Chang Hong berbaring di tempat tidurnya. Wajahnya yang tampan sangat pucat saat ia melihat punggung Zhao Jie yang membawa Ah Luo keluar. Ia tidak melihat terlalu lama.

***

Pemenang kompetisi perburuan tahun ini adalah Liang Yu. Li Song berada di peringkat kedua. Peringkat ketiga ditempati oleh anak dari pejabat kerajaan yang lain. Berita ini sudah dilaporkan kepada Kaisar kemarin.

Setelah kompetisi perburuannya berakhir, satu demi satu dari orang-orang itu pergi meninggalkan vila Jing He dan kembali ke rumah mereka. Wei Chang Hong dan Wei Luo adalah satu-satunya yang masih tetap tinggal lebih lama.

Li Song tidak tinggal lebih lama. Ia kembali ke kediaman Pangeran Ru Yang sementara ia sendiri masih terluka.

***

Di aula masuk kediaman Pangeran Ru Yang, Pangeran Ru Yang dan Putri Gao Yang mengetahui bahwa Li Song telah terluka. Mereka merasa takut dan cemas.

Putri Gao Yang benar-benar sangat khawatir ketika dia bertanya, “Kau tidak pernah terluka di tahun-tahun sebelumnya. Apa yang terjadi tahun ini? Siapa yang melukaimu?”

Li Song duduk di sebuah kursi sementara tangannya meremas erat pada sandaran kursi dan menolak untuk menjawab.

Putri Gao Yang hanya bisa berbalik untuk bertanya pada pengawal Li Song. Pengawal Li Song mulai bicara, tapi lalu berhenti. Ketika ia baru saja akan membuka mulutnya, Li Song menatapnya dengan tajam, jadi ia segera berhenti.

Li Song menunduk dan berkata pelan, “Tak ada yang melukaiku… Luka ini disebabkan karena kecerobohanku sendiri.”

Chapter 56
Chapter 58

Leave a Reply

Your email address will not be published.