Chapter 56

Featured Image

Cerita ini diterjemahkan oleh pengembara_cinta

.

.

Chang Hong?

Bagaimana dia bisa terluka? Dia pasti sudah memahami apa hal yang harus dilakukan dan tidak akan melakukan hal berbahaya.

Hati Wei Luo sangat panik. Dia segera mendorong pelayan itu dan berjalan menuju halaman!

Dari belakang, Liang Yu Rong berseru, “Ah Luo, berjalanlah pelan-pelan. Pergelangan kakimu belum sembuh!”

Tapi bagaimana dia bisa mendengarkannya? Chang Hong telah terluka dan dia tidak tahu seberapa serius cederanya. Dari kata-kata orang itu, sepertinya sangat serius. Di mana dia terluka? Dia panik ketika dia masuk ke ruangan. Dia melihat dua tabib di samping tempat tidur Chang Hong. Mereka mengeringkan pendarahannya dan memberikan obat. Ada panah yang tertancap dalam di sisi kanan dadanya dan darahnya telah mewarnai potongan besar pakaiannya dengan noda merah. Wajahnya pucat pasi, matanya tertutup rapat, alisnya berkerut, dan dia tidak sadarkan diri.

Wei Luo menahan rasa sakit dari pergelangan kakinya, berjalan ke depan, dan bertanya pada Liang Yu, “Kak Liang Yu, mengapa Chang Hong terluka?”

Liang Yu kembali bersama Chang Hong. Jadi dia pasti tahu apa yang terjadi.

Seperti yang diduga, Liang Yu mengepalkan tinjunya. Dia mengingat adegan itu dan perlahan berkata, “Itu Li Song …”

Pada saat itu, dia tidak berada di dekat Chang Hong jadi dia tidak tahu situasi tepatnya. Dia hanya tahu bahwa ketika dia pergi ke sana, panah itu telah menembak jatuh Chang Hong dan Li Song menunggang kudanya dan memegang busur. Liang Yu melangkah maju, meraih kerah Li Song, dan dengan keras memarahinya. Tepat ketika dia hendak memukulnya, dia melihat bahwa kondisi fisik Chang Hong tidak baik. Dia hanya bisa melepaskan Li Song dan buru-buru membawa Chang Hong kembali.

Tubuh Wei Luo gemetar dan dia menggigit bibirnya dengan kuat. Li Song. Lagi-lagi Li Song. Apa yang ingin dia lakukan? Kenapa dia tidak mati saja?

Mungkin karena Liang Yu bisa mendeteksi perilakunya yang tidak biasa, dia menghiburnya, “Adik Ah Luo, jangan khawatir. Para tabib mengatakan bahwa cederanya tidak akan berakibat fatal. Selama panah itu dikeluarkan dan dia beristirahat di tempat tidur selama setengah bulan, dia akan baik-baik saja.”

Tapi, Ah Luo tidak merasa seperti itu. Hanya karena panah itu tidak mengambil nyawa Chang Hong, itu tidak berarti bahwa Chang Hong harus menanggung luka ini. Masalah ini tidak bisa dibiarkan.

Dia menahan amarahnya dan bertanya, “Di mana Li Song?”

Liang Yu dengan jujur menjawab, “Dia kembali dari area berburu bersamaku. Dia mungkin di Halaman Timur sekarang.”

Dia mengangguk. Dia sudah punya rencana di hatinya. Dia memohon pada Liang Yu, “Jika Chang Hong bangun, kak Liang Yu, tolong bantu aku merawatnya. Aku harus pergi sebentar.”

Liang Yu berkata, “Oke.” Dia segera memikirkan sesuatu dan dengan cemas bertanya ke mana Wei Luo akan pergi. Tapi, dia tidak menjawab. Dia berbalik dan menghilang di balik sekat layar cendana merah. Punggungnya yang ramping dan rapuh menunjukkan kekejaman yang tak tergoyahkan.

Ah Luo mengambil jepit rambut giok emas dari rambutnya dan menyembunyikannya di dalam lengan bajunya. Selangkah demi selangkah, dia berjalan menuju halaman Li Song. Perasaan sakit menusuk terus menerus datang dari pergelangan kakinya, tetapi itu tidak berakar dalam seperti kemarahan di dalam hatinya. Dia berharap dia bisa membunuh Li Song sekarang dengan membuatnya merasakan panah menembus jantungnya dan tidak pernah muncul di depan mereka lagi.

***

Di Halaman Timur, Li Song mengenakan pakaian berburu dan berdiri di tengah-tengah halaman. Jejak kecemasan samar-samar muncul di matanya, “Bagaimana cedera Chang Hong?”

Pelayannya melaporkan, “Lapor kepada Tuan Muda, saya mendengar dari orang lain bahwa dia masih belum sadar dan para tabib sedang menghentikan pendarahannya sekarang …”

Alisnya berkerut. Dia tidak menjawab untuk waktu yang lama, dan kemudian dia tiba-tiba mengibaskan tangannya dan menyapu piring dan makanan dari meja batu. Terdengar suara pecahan porselen di lantai. Dia berkata, “Apakah ini serius? Apakah hidupnya dalam bahaya?”

Pelayan itu berkata, “Tidak ada yang keluar dari kamarnya. Bawahan ini juga tidak yakin …”

Li Song hanya bisa menenangkan diri dan bertanya tentang masalah lain, “Apakah Xiang-er sudah diantar turun gunung dengan aman?”

Pelayan itu mengangguk, “Sudah beres. Nona Muda sudah ada di kereta dan dalam perjalanan kembali ke kediaman Pangeran Ru Yang.”

Kulit wajahnya menjadi sedikit lebih baik. Dia memperingatkan lagi, “Jika ada yang bertanya, katakan bahwa semuanya karena perbuatanku. Kau tidak bisa menyebutkan nama Xiang-er untuk mencegah merusak reputasinya.”

Jadi, ternyata luka Wei Chang Hong tidak hanya berhubungan dengan Li Song, itu juga berhubungan dengan adik perempuannya, Li Xiang.

Li Xiang telah mengalami perlakuan tidak adil kemarin dan menangis sepanjang malam. Pagi ini, barang-barangnya telah dikemas dan dia siap untuk pulang sehari lebih awal. Pada saat itu masih ada kompetisi berburu dan dia berjalan menuruni gunung dengan hanya seorang gadis pelayan. Mungkin dia akan menghadapi bahaya.

Ketika Li Song menerima berita itu, dia buru-buru bergegas ke sana dan membujuknya untuk membiarkannya mengawalnya menuruni gunung. Mereka belum berjalan jauh sebelum dia meminta untuk menembak kelinci untuk membawanya pulang. Li Song menamparnya tadi malam, jadi hatinya merasa agak bersalah dan dia setuju untuk membuatnya bahagia.

Li Xiang telah mengikuti Pangeran Ru Yang sejak dia masih kecil, jadi dia akrab dengan busur dan anak panah. Posturnya saat menembak sangat tepat. Dia mengarahkan busurnya pada kelinci abu-abu yang tidak jauh. Tapi, ketika dia melepaskan panah, dia tiba-tiba berbalik ke arah Wei Chang Hong yang mendekati mereka. Panah itu pun dilepaskan.

Wei Chang Hong tidak waspada. Dia hanya punya waktu untuk menggerakkan tubuhnya sedikit ke samping dan dia menghindari panah dari titik vitalnya. Panah itu mengenai sisi kanan dadanya. Dia jatuh dari kudanya dan mendarat di tanah!

Li Song benar-benar tercengang, “Li Xiang!”

Li Xiang dengan penuh kebencian melempar busur ke tanah. Tepi matanya merah ketika dia berkata, “Kakak, aku benci Wei Luo! Orang-orang dari rumah Wei semuanya jahat. Wei Luo menjebakku semalam. Aku ingin membunuh adik laki-lakinya …”

Li Song dengan cepat menutupi mulutnya. Kali ini, meskipun dia memiliki niat untuk segera memberi Li Xiang pelajaran pun sudah tidak ada waktu. Sebentar lagi, orang lain akan datang ke sini. Jika orang lain mengetahui bahwa Li Xiang telah menembak Chang Hong dengan niat membunuh, maka reputasinya akan hancur. Dia dengan cepat menganalisa pro dan kontra dari setiap rencana, lalu dia menyuruh para pelayan membawa Li Xiang menuruni gunung dan dia tetap tinggal di belakang untuk mengambil kesalahan Li Xiang.

Li Song selesai mengingat ingatan itu. Ketika dia melihat ke atas, dia melihat seorang gadis di pintu masuk Halaman Timur.

Tubuh mungilnya menegang dan tertutup keringat meskipun di cuaca dingin awal musim semi. Bibir merah mudanya ditekan rapat. Tatapannya ketika dia memandang Li Song dingin menusuk tulang. Tapi kemudian, tatapannya tiba-tiba menjadi tenang seolah semua permusuhan dan kemarahan itu tersedot masuk ke dalam matanya dan menunggu untuk meledak.

Li Song merasa tidak nyaman dari tatapannya. Dia dengan keras kepala berkata dengan tenang, “Mengapa kamu datang ke sini? Bukankah seharusnya kamu pergi menemui adikmu?”

Wei Luo mencengkeram lengan bajunya, tidak menjawab, dan perlahan berjalan ke arahnya. Dia menatapnya dengan wajah kecilnya dan bertanya padanya kata demi kata, “Apakah kamu yang melukai Chang Hong?”

Dia tanpa sadar mundur selangkah dan berkata tanpa ragu, “Itu aku.”

Itu benar dia. Itu adalah dia seperti yang sudah diduga. Di dalam lengan bajunya, tangan kecil Wei Luo terkepal. Dia membencinya sampai tahap ekstrem, tetapi masih mampu mengendalikan emosinya dan tidak tampak terlalu cemas. Dia dengan ringan bergerak maju dan Li Song terus mundur, jadi dia berjalan ke depan untuk lebih dekat. Bibirnya yang seperti kelopak bunga hanya bertanya, “Kenapa?”

Akhirnya, Li Song tidak bisa terus mundur. Punggungnya menabrak pohon parasol. Ketika dia melihat ke bawah, dia akan melihat mata hitamnya yang cerah. Sayangnya, tidak ada emosi di mata itu sekarang. Bahkan tidak ada kepura-puraan senyuman di matanya, hanya ada kedinginan yang tersisa. Setelah dia berpikir sejenak, dia berkata tidak setuju, “Alasan apa yang ada memangnya? Hal semacam ini sering terjadi di perburuan. Awalnya, aku ingin menembak kelinci, tetapi karena dia tiba-tiba keluar dari belakang, aku menembaknya tanpa sengaja. Mungkinkah dia tidak tahu bagaimana untuk menghindar ketika dia melihat panah melesat ke arahnya?”

Kata-kata ini benar-benar membuat seseorang marah. Wei Luo tersenyum marah. Senyum itu tidak mencapai matanya; hanya bibirnya yang sedikit melengkung, “Apakah kamu menyalahkan dia karena tidak menghindar?”

Li Song tidak mengekspresikan pendapat.

Wei Luo sudah cukup tersenyum. Dia mengangkat tangannya dan jepit rambut yang dia sembunyikan di lengan bajunya ada di depan dada Li Song. Dia perlahan-lahan tersenyum dan membawa jepit rambut lebih dekat kepada Li Song sampai ujung tajam jepit rambut itu menekannya dan akan menyentuh kulitnya jika tidak ada lapisan pakaian disana. Li Song merasakan suhu dingin dari jepit rambut tersebut.

“Li Song, apa kau pikir kau bisa berhasil menghindar hanya karena kau mau?”

Terlalu banyak makna yang tersembunyi dalam kata-kata ini. Mata Li Song bergidik takut. Dia menatapnya dengan ganas, “Kau berani melukaiku?”

Kenapa dia tidak berani? Jika mereka diizinkan untuk melukai Chang Hong, mengapa dia tidak bisa menyakitinya?

Kebencian di matanya terlalu jelas. Li Song punya firasat buruk. Dia perlahan berkata, “Kau …”

Sebelum kata-katanya selesai, jepit rambut itu menembus pakaian di dadanya dan dengan kejam masuk ke dalam dadanya! Li Song hanya merasakan tusukan rasa sakit yang akut. Bau manis kuat menggenangi tenggorokannya. Dia menatap Wei Luo tak percaya. Dia tidak menduga bahwa dia akan bisa bertindak begitu kejam. Dia dengan serak berkata, “Wei Luo …”

Keduanya berada di bawah pohon parasol. Orang luar tidak akan melihat ada yang janggal sedikitpun. Tidak ada yang akan tahu bahwa jepit rambut di lengan Wei Luo telah menusuk dada Li Song dengan dalam.

Wei Luo memegang jepit rambut dan mendorong jepit rambut lebih dalam. Kebencian di matanya telah meledak. Dia berharap dia bisa segera mati. Dia melihat ekspresinya yang kesakitan dan tiba-tiba merasa sangat gembira. Sekarang, apakah Li Song merasakan rasa sakit yang sama? Mungkinkah dia bisa menjadi pengganti rasa sakit Chang Hong? Dia menarik tangannya dan dengan lembut menyentuh alis Li Song. Dalam waktu singkat, senyum manis dan menyentuh muncul di wajahnya. “Li Song, mengapa kau tidak memanggil seseorang? Jika kau tidak segera memanggil seseorang, aku tidak akan bisa menolak untuk membunuhmu.”

Jari lembut gadis itu dengan lembut mengusap wajahnya dan senyum manisnya tepat di depannya. Semakin dia melihat, semakin dia menjadi bingung. Dia merasa seolah-olah momen ini tidak nyata.

“Kamu berani…”

Wei Luo tidak berhenti. Sebaliknya, dia berjinjit dan dengan lembut berbisik di telinganya, “Mengapa aku tidak berani? Bukankah aku sudah melakukannya?” Saat dia mengatakan ini, dia dengan lembut dan perlahan menggosok telinganya untuk sesaat seperti anak kucing yang manja. Itu menarik hati sanubarinya.

“Li Song, apa kamu tidak memanggil orang karena kamu suka padaku?” Ketika dia mengucapkan kata-kata ini, matanya melengkung dan suaranya manis dan lembut.

Li Song menggertakkan giginya dengan kuat. Tubuhnya yang lembut dan manis berada tepat di depannya dan membuatnya berpikir tentang malam Festival Lentera Musim Semi. Dia memeluk tubuh lembut dan kecilnya di kerumunan orang. Dia tampak cukup rapuh sehingga satu sentuhan akan menghancurkannya. Tetapi dia tahu bahwa ini adalah kesalahan persepsinya sendiri. Dia bukan boneka porselen yang rapuh. Dia memperlakukan orang lain dengan sangat baik, tetapi memperlakukannya dengan ketidakpedulian yang dingin.

Dia telah diam-diam memikirkan. Apakah ini karena dia telah menindasnya ketika mereka masih anak-anak?

Tapi bukankah dia juga dengan ganas menindasnya kembali setiap kali bertemu?

Dia menganggap dirinya sangat kontradiktif. Dia jelas-jelas membenci Wei Luo sampai menggertakkan giginya, tetapi dia tidak bisa menahan keinginan untuk melihatnya. Itu normal bagi mereka untuk saling membenci. Tapi, mengapa dia mengatakan bahwa dia menyukainya? Bagaimana itu mungkin?

Li Song tiba-tiba kembali ke akal sehatnya dan dengan kuat mendorongnya pergi. Dengan wajah penuh keringat, dia berkata, “Pergi!”

Wei Luo melonggarkan tangannya. Dia telah bersiap untuk mundur terlebih dahulu dan berdiri tegak sesudahnya.

Sebenarnya, kata-kata yang baru saja dikatakannya hanyalah tebakan. Tatapan mata Li Song ketika dia memandangnya terlalu akrab. Dalam kehidupan sebelumnya, ini adalah tatapan yang sama dengan laki-laki muda di desa Long Shou miliki ketika mereka melihatnya. Dia tahu bahwa tampilan ini mewakili cinta dan hasrat.

Bagaimana Li Song bisa mencintainya? Awalnya dia tidak percaya. Namun, pada saat jepit rambutnya menusuknya, dia harus percaya. Jika tidak ada cinta, bagaimana bisa ada rasa sakit?

Li Song memegangi dadanya saat dia perlahan-lahan merosot ke tanah. Tubuhnya meringkuk saat dia berkata dengan suara lemah dan tak berdaya, “Aku ingin kau pergi …”

Pelayan di halaman akhirnya menemukan bahwa ada sesuatu yang aneh di sana. Sebelumnya, para pelayan baru saja berpikir bahwa mereka sedang berbicara. Suara mereka rendah, jadi dia tidak bisa mendengar isi detilnya. Selain itu, Li Song tidak memanggilnya untuk mendekat, jadi dia melakukan tugasnya sendiri. Tapi, sekarang, ketika dia menoleh, dia melihat bahwa dada Li Song penuh darah segar. Wajahnya penuh keterkejutan. “Tuan muda!”

Li Song batuk darah dan dengan lemah berkata, “Bantu aku kembali ke kamar.”

Seorang pelayan melihat jepit rambut yang menembus dadanya, bergetar saat dia membantu Li Song, dan melihat Wei Luo, “Apakah itu dia? Dia …”

Li Song menutup matanya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengeluarkan tiga kata, “Biarkan dia pergi.”

Pelayan itu hanya bisa berpaling dari Wei Luo dan membantu Li Song masuk ke dalam.

Wei Luo ditinggalkan di taman. Dalam waktu singkat, dia mengendalikan emosi di matanya dan meninggalkan Halaman Timur. Langkahnya lambat. Setiap langkah membawa rasa sakit.

Dia hanya berjalan beberapa langkah, melewati ambang pintu, dan pandangannya tiba-tiba terbuka lebar.

Zhao Jie hanya beberapa langkah darinya. Dia mengenakan jubah hijau muda dengan pola kesemek dan pembawaannya seperti pohon pinus.

Wei Luo tidak tahu berapa lama dia menunggu di pintu masuk atau berapa banyak yang dia lihat.

Melihat Wei Luo meninggalkan halaman, dia melangkah maju, tetapi tidak tidak bertanya apa-apa pada awalnya. Dia mengangkat tangannya dan mengelus kepala Wei Luo. Dalam nada yang menunjukkan bahwa hatinya merasa sakit dan tidak berdaya, dia bertanya, “Bukankah aku berkata kamu tidak seharusnya berjalan? Ah Luo, mengapa kamu tidak mendengarkanku?”

Chapter 55
Chapter 57

Leave a Reply

Your email address will not be published.