Chapter 54

Featured Image

Cerita ini diterjemahkan oleh remi7noor

.

.

Selain Liang Yu Rong, banyak orang asing yang juga datang.

Liang Yu Rong sudah menunggu di paviliun penerimaan tamu untuk sementara waktu sampai Wei Luo kembali. Dia berpikir jika Wei Luo tersesat di vila, jadi dia sudah siap untuk mencarinya. Dengan kebetulan yang pas, para pemuda itu datang dari ruang tamu untuk mengundang para wanita muda untuk pergi ke paviliun oktagonal halaman belakang untuk mengagumi bulan dan memainkan permainan minum arak. Liang Yu Rong khawatir dia juga tidak tahu caranya, jadi dia mengikuti orang-orang ini ke sini. Tepat ketika dia tiba di halaman belakang, dia melihat dua orang di tepi danau. Dia melihat salah satu orang itu adalah Wei Luo dan berjalan ke sana untuk menyambutnya.

Liang Yu Rong tidak menyangka bahwa dia akan melihat pemandangan seperti itu!

Tanpa penjelasan apapun, Li Xiang mendorong Wei Luo ke tanah, mengutuknya, dan bahkan mengangkat tangannya untuk memukulnya.

Liang Yu Rong tidak tahu apa yang terjadi, tapi hanya dari adegan ini, dia bisa tahu bahwa didikan Li Xiang jelek! Tidak ada yang bisa terjadi antara dua wanita muda yang akan membenarkan tindakannya. Bahkan jika Wei Luo dengan sengaja menyinggung perasaannya, Li Xiang tidak bisa mengutuknya dengan “gadis sial!”. Lagi pula, status Wei Luo tidak kalah dengan miliknya. Bahkan jika Li Xiang sangat marah, dia masih harus memaafkan atau paling tidak secara pribadi menyelesaikan masalah ini karena Wei Luo adalah anggota keluarga Duke Ying daripada datang untuk menyerang Wei Luo di depan umum. Tindakan ini tidak hanya akan merusak kesan orang lain tentang karakter moralnya, tapi juga menunjukkan kurangnya kecerdasannya.

Liang Yu Rong bukan satu-satunya orang yang memikirkan ini. Semua orang di tempat kejadian juga memikirkan ini.

Sayangnya, Li Xiang telah dibuat marah oleh Wei Luo sampai kehilangan alasannya dan tidak bisa berpikir begitu logis saat ini. Melihat Wei Luo di tanah dan pura-pura menyedihkan, dia tidak bisa menahan perasaan marah, “Kakak, jangan hentikan aku! Apa kamu tahu apa yang dia lakukan? Dia memiliki niat jahat. Dia sengaja memikatku di sini. Dia … Dia orang yang tidak tahu malu …”

Sebelum dia selesai berbicara, Li Song telah menampar Li Xiang!

Li Xiang tiba-tiba terdiam. Dia mencengkeram pipinya dan menatap tak percaya kepada Li Song.

Wajah Li Song terlihat jelek. Dia meletakkan tangannya dan mengepalkan tinjunya di dalam lengan bajunya, “Kau sudah keterlaluan! Di mana kau belajar bahasa kotor seperti itu? Kau tidak boleh menggunakan bahasa itu di tempat baru seperti ini dan menjadi dungu.” Setelah mengatakan ini, dia berkata kepada pelayan Li Xiang, Qiong Zi, “Nonamu menjadi dungu. Kenapa kau tidak menghentikannya, dan malah membawanya ke sini? Bawa dia kembali ke kamarnya. Aku akan berurusan denganmu ketika kita pulang!”

Wajah Qiong Zi sangat tertekan. Dia memegang Li Xiang dan dengan gugup berkata, “Nona, ayo kembali …”

Li Xiang dibesarkan di tempat perlindungan orang tuanya dan tidak pernah mengalami cedera. Sekarang, kakaknya telah menamparnya tanpa menahan diri. Telinganya terasa seperti berdengung dan pipinya terasa seperti terbakar. Dia dengan getir menggigit bibirnya. Matanya penuh air mata, “Kakaklah yang linglung. Kau membantu orang luar daripada adikmu sendiri. Aku akan pulang dan memberi tahu ibu agar dia memberimu pelajaran.”

Li Xiang tidak berani mengatakan bahwa Wei Luo telah menipunya. Dia lebih suka menanggung keluhan besar daripada menceritakan soal surat itu di depan orang lain. Lagi pula, bahkan jika Wei Luo adalah orang yang menulis pada akhirnya, dia masih akan menunjukkan bahwa dia mempunyai pemikiran tentang pertemuan pribadi dengan seorang pria dengan muncul di sini. Tidak peduli apa, dia tidak akan bisa membela ketidakbersalahannya.

Ketika kedua hal itu dibandingkan, tentu saja reputasinya lebih penting.

Tapi jika dia memilih opsi itu, dia akan menanggung reputasi negatif dari orang yang tidak beradab dan sombong yang menyebabkan masalah tanpa alasan. Ini juga akan memiliki efek yang sangat negatif pada gadis-gadis yang belum menikah.

Li Xiang dengan kejam memelototi Wei Luo. Dia sangat membencinya hingga menggertakkan giginya. Wei Luo benar-benar merancang permainan yang bagus yang membuatnya melompat ke dalam perangkapnya dan meninggalkannya tanpa cara untuk menjelaskannya sendiri!

Li Xiang dengan enggan berbalik dan pergi. Dia sangat marah hingga matanya merah.

***

Di tepi danau, Wei Luo awalnya hanya ingin pura-pura jatuh. Tanpa diduga, dia tidak cukup sadar ketika dia jatuh. Kakinya menginjak kerikil yang mencuat ke tanah dan pergelangan kakinya terkilir. Masih menyakitkan sampai sekarang! Sebelumnya ada terlalu banyak orang, jadi dia tidak bisa memeriksa cederanya. Orang-orang itu sekarang telah pergi dan satu-satunya orang yang tersisa adalah Liang Yu Rong, Liang Yu, Li Song, dan Chang Hong.

Dia tidak tahan untuk tidak menyentuh pergelangan kakinya yang bengkak. Itu sangat menyakitkan bahkan jika dia menyentuhnya sedikit. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak terengah-engah. Tampaknya ketika dia melakukan sesuatu yang buruk, dia harus menerima ganjarannya. Tapi, ganjaran ini agak kejam. Pergelangan kakinya sangat sakit hingga dia ingin menangis.

Chang Hong dan Liang Yu juga datang bersama Liang Yu Rong. Chang Hong dengan protektif berdiri di depan Wei Luo. Wajahnya yang tampan telah ditekuk dan tenggelam menjadi sesuatu yang menakutkan. Itu hanya karena Li Xiang adalah seorang wanita makanya dia tidak menyerangnya walaupun marah.

Dia mendengar napas Wei Luo dan dengan cepat berbalik untuk menghadapnya. Dia bertanya dengan cemas, “Ah Luo, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka saat jatuh?”

Wei Luo menunjuk pergelangan kakinya dan sambil menangis berkata, “Pergelangan kakiku terkilir.”

Mendengar ini, Chang Hong menjadi lebih marah. Li Xiang yang menyebabkan semuanya. Dia seharusnya tidak membiarkannya pergi begitu mudah! Dia berbalik untuk memelototi Li Song dengan sangat jijik, “Jika sesuatu terjadi pada Ah Luo, aku pasti tidak akan membiarkanmu lolos.”

Li Song sepertinya tidak peduli dengan ancamannya. Dia melihat Wei Luo dengan makna yang tidak jelas, bertentangan dan rumit. Setelah sekian lama, dia berkata dengan susah payah, “Adikku telah salah malam ini. Aku minta maaf kepadamu atas namanya …”

Wei Luo tidak menghargai kata-katanya. Dia dengan dingin berkata, “Tidak perlu.”

Wajah Li Song berubah dan dia tiba-tiba memelototi Wei Luo dengan marah.

Wei Luo melanjutkan, “Kau mungkin tahu tentang maksud keluarga kita dengan menjadi terikat oleh pernikahan. Tapi setelah hari ini, aku menemukan bahwa kediaman Duke Ying tidak dapat menerima seorang wanita muda dengan temperamen seperti Li Xiang. Aku akan berbicara dengan ayah ketika aku kembali. Potensi pertunangan Chang Hong dan Li Xiang akan berakhir di sini. Chang Hong berhati lembut dan tidak akan bisa menahan tingkahnya yang tidak masuk akal.” Setelah dia mengatakan ini, dia memalingkan kepalanya darinya. Dia mengulurkan tangannya ke arah Chang Hong dan berkata, “Chang Hong, bawa aku ke halaman timur …”

Mendengar kata-katanya, Chang Hong membungkuk untuk menggendongnya. Siapa yang mengira seseorang akan lebih cepat darinya? Sebelum dia bahkan menyentuh pakaiannya, tangan orang itu menahan punggung Wei Luo dan tangannya yang lain berada di bawah pahanya. Suara orang itu tenang dan lembut, “Pangeran ini akan membawamu kembali.”

Chang Hong berdiri dan melihat alis miring orang itu dan bibirnya yang dingin dan tipis. Dia Pangeran Jing.

Terkejut, Chang Hong memperhatikannya menggendong Wei Luo dengan ala pengantin. Dengan alis yang berkerut, Chang Hong berkata, “Pria dan wanita harus menjaga jarak satu sama lain. Biarkan saya membawa Ah Luo sebagai gantinya.”

Zhao Jie pura-pura tidak mendengarnya. Saat dia berjalan, dia berkata kepada Zhu Geng, “Kamar Pangeran ini memiliki arak obat. Bawa obat itu ke kamar nona keempat.”

Zhu Geng setuju dan segera menghilang ke dalam cahaya malam yang redup.

Untungnya, pencahayaan disini redup. Sebagian besar orang sedang berada di paviliun oktagonal untuk mengagumi bulan, bermain permainan minum arak, dan menyusun dan membaca puisi. Mereka tidak memperhatikan situasi di sini. Zhao Jie tidak bisa menahan diri untuk menggendong Wei Luo dan dengan tegas berjalan pergi dari tempat yang merepotkan ini.

Wei Luo tidak menyangka bahwa dia akan tiba-tiba muncul. Dia dengan bingung menatapnya dan hanya bisa melihat dagu dan bibir tipisnya. Dia dengan gelisah bergeser dan berkata dengan nada cemas, “Kakak biarkan saya turun. Tidak akan baik jika ada yang melihat … Chang Hong. Biarkan Chang Hong menggendong saya.”

Zhao Jie tidak melepaskannya. Sebaliknya, dia memeluknya lebih erat. “Apa kakimu tidak sakit lagi?”

Wei Luo tidak bisa mengatakan apa yang dia rasakan dari suaranya.

Lengkungan telapak tangannya terasa panas. Hanya satu lapisan pakaian yang memisahkan kulitnya dari kulit Zhao Jie. Itu membuatnya merasa agak tidak nyaman.

Bulu matanya bergetar dan mengangkat kelopak matanya. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan perasaan yang lugu, “Itu masih sakit.”

Wajah Zhao Jie akhirnya menjadi sedikit lebih ringan, tetapi langkahnya tidak berhenti. Dia membawanya sampai ke halaman timur. Dia memasuki kamar dalam dan meletakkannya di tempat tidur.

Bagaimana dia bisa masuk ke kamarnya dengan santai? Meskipun dia sudah dekat dengannya sejak kecil, dia sudah dewasa sekarang. Bukankah seharusnya mereka menghindari melakukan hal-hal yang akan menimbulkan kecurigaan? Bukankah dia sendiri yang mengatakan tidak mengizinkan pria bebas memasuki halamannya?

Saat Wei Luo memikirkan hal ini, Zhao Jie sudah berjongkok di depannya. Dia melepas sepatu merahnya yang disulam dengan bunga peony pohon emas, lalu melepas kaus kaki sutra putihnya, “Biarkan pangeran ini melihat cederamu.”

Kaki putih yang lembut terlihat di depan mata seorang pria. Kuku jarinya berwarna merah muda yang menarik dan tampak halus dan lembut. Saat ini, karena Wei Luo gugup dan tidak nyaman, lima jari kakinya sedikit melengkung ke dalam. Itu sama-sama pemalu dan imut. Mata Zhao Jie berubah menjadi lebih gelap. Tanpa perubahan dalam ekspresinya, dia memegang kakinya dan memeriksa cederanya.

Wei Luo menciut ke belakang. Dia tidak terbiasa dengan sentuhannya, “Biar saya saja yang melakukannya …”

Zhao Jie menatapnya. Pada saat yang sama, jari-jarinya menekan dengan lembut di titik luka, “Bagaimana kau bisa melakukannya sendiri? Apa ini sakit?”

Wei Luo merintih. Air matanya hampir keluar dari matanya. Dia meringkuk dan dahinya tanpa sadar bersandar ke bahu Zhao Jie. Dia berkata dengan sedih, “Kakak, sedikit lebih lembut. Itu sakit…”

Suara semanis susu tepat di samping telinganya. Zhao Jie merasa separuh tubuhnya menjadi mati rasa. Dia berbalik untuk melihat sisi wajahnya yang kecil. Gigi putihnya menggigit bibir merah mudanya. Air mata menggantung di bulu matanya yang tebal dan panjang. Penampilan yang menyedihkan ini benar-benar membuatnya sulit untuk mempertahankan kendali.

Zhao Jie sedikit menundukkan kepalanya. Bibirnya yang tipis mengusap pipinya yang lembut. Dengan suara serak, dia berkata, “Peluk aku jika sakit. Menurutlah, Ah Luo. Jangan memberontak.”

Benar saja, dia benar-benar patuh. Lengannya melingkari lehernya dan dia memeluknya tanpa menahan diri.

Tubuh yang memikat ini berada di pelukannya. Pipinya ada di samping lehernya. Kehangatan tiba-tiba merebak di kulitnya. Seolah-olah serangga yang tak terhitung jumlahnya merangkak padanya, naik ke jantungnya, dan perlahan-lahan menggigit semua rasionalitasnya. Zhao Jie menutup matanya. Telapak tangannya diletakkan di dekat pinggang Wei Luo. Dia menahan diri dan tidak pergi lebih rendah.

Jin Lu dan Bai Lan saling memandang dengan cemas dan melihat orang tersebut gelisah.

Segera, Zhu Geng tiba dengan arak obat. Zhao Jie telah mengenakan handuk pada Wei Luo untuk membuat kompres dingin di pergelangan kakinya. Kemudian, dia secara pribadi mengoleskan arak obat pada Wei Luo. Tindakannya sangat hati-hati dan lembut seolah Wei Luo adalah harta yang tak ternilai. Setelah obat itu diterapkan, Zhao Jie memakaikan kaus kaki dan sepatunya untuknya.

Setelah dia mencuci tangannya, dia kembali ke sisinya dan berkata, “Jangan berjalan sama sekali besok. Setelah kompetisi berburu selesai, pangeran ini akan datang menemuimu dan memakaikan obat sekali lagi. Kau akan baik-baik saja sampai lusa.”

Wei Luo tidak terluka parah dan efek obatnya bagus. Selama dia beristirahat dengan benar, cederanya tidak akan menjadi masalah.

Wei Luo duduk di tepi tempat tidur. Tangannya memegang rangka tempat tidur saat dia menatapnya. Wajah mungilnya yang lembut dipenuhi dengan rasa terima kasih, “Terima kasih kakak …”

Zhao Jie berdiri di depannya. Meskipun ekspresi wajahnya lebih hangat daripada ketika mereka berada di tepi danau, masih belum ada senyuman disana.

Wei Luo ingat bahwa mereka berpisah dengan buruk kemarin. Dia menduga bahwa Zhao Jie masih marah tentang kata-katanya. Sebenarnya, dia tidak punya maksud lain. Dia hanya ingin memberitahunya kebenaran itu. Siapa yang menduga wajahnya akan menjadi begitu jelek? Dia memiringkan kepalanya dan berkata ke matanya yang gelap, “Apa kakak masih marah? Sebenarnya, kakak juga bukan pria lain. Perlakuan baikmu terhadap Ah Luo, Ah Luo akan mengingat semuanya di dalam hati.”

Hanya ada perubahan riak kecil di mata keras kepala Zhao Jie. Dia tidak menanggapi.

Melihat bahwa dia tidak berbicara, Wei Luo mencengkeram lengan bajunya tanpa berpikir dan terus menatapnya. Ketika Wei Luo berpikir bahwa dia tidak akan berbicara, Zhao Jie mengangkat tangannya, mengelus kepalanya, dan bertanya, “Apa kamu ingin menikahi Song Hui?”

Wei Luo berkedip. Dia tidak tahu mengapa Zhao Jie menanyakan pertanyaan ini. Sepertinya tidak ada alasan untuk mengangkat topik itu.

Dia benar-benar tidak ingin menikahi Song Hui. Dia hanya memikirkan Song Hui sebagai seorang kakak dan tidak memiliki perasaan romantis padanya. Dan, setiap kali dia melihat Song Hui, dia akan memikirkan pertunangannya dengan Wei Zheng di kehidupan sebelumnya. Dia sangat membenci Wei Zheng, jadi dia tidak bisa menerima Song Hui yang pernah bertunangan dengan Wei Zheng, bahkan jika itu adalah sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupan sebelumnya.

Tapi, dia tidak akan memberi tahu Zhao Jie hal-hal ini. Dia menunduk dan berkata, “Ini pertunangan yang diatur orang tuaku. Pendapatku tidak penting.”

Ibu jari Zhao Jie turun untuk menutupi tanda lahir merah kecil di antara alisnya dan dia bertanya dengan tenang, “Jika kamu tidak terikat pertunangan ini, apa kamu ingin menikah dengannya?”

Dia mendongak dengan ekspresi kaget.

Bibirnya yang tipis melengkung menjadi senyum samar. Dia dengan sabar dan sistematis membimbing, “Ah Luo, pria seperti apa yang ingin kamu nikahi?”

Wei Luo mengerutkan bibirnya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berkata, “Seseorang yang memperlakukanku dengan sangat baik.”

Zhao Jie menatap matanya dan perlahan bertanya, “Seperti cara pangeran ini yang memperlakukanmu dengan sangat baik?”

Chapter 53
Chapter 55

Leave a Reply

Your email address will not be published.