Chapter 53

Featured Image

Cerita ini diterjemahkan oleh xian-xia

_____

Setelah Wei Luo menuliskan beberapa kata, dia menaruh catatan itu di dalam amplop dan menyegel amplop dengan pasta tinta merah. Dia memanggil Jin Lu ke sisinya, “Kirim surat ini kepada gadis pelayan dari halaman barat, lalu minta dia untuk memberikannya kepada Li Xiang.”

Setelah Wei Luo mengatakan ini, dia memikirkannya lagi dan berulang kali memperingatkan Jin Lu, “Sebenarnya, jangan secara pribadi mengirim surat itu. Pinjam salah satu gadis pelayan pribadi Yu Rong. Katakan padanya bahwa aku tidak memiliki cukup pelayan di sini dan minta dia untuk mengirim surat itu. Setelah kamu menyerahkan surat itu kepada gadis pelayan pribadi Yu Rong, jangan lakukan apapun lagi. Kembalilah ke sini.”

Dia memiliki hubungan yang baik dengan Liang Yu Rong dan itu hanya gadis pelayan, jadi dia yakin Liang Yu Rong pasti akan meminjamkan satu padanya.

Bahkan jika Liang Yu Rong tahu rencananya, dia yakin dia tidak akan melakukan apa-apa tanpa bertanya terlebih dahulu mengapa. Mereka saling mengerti dan memiliki perasaan kasih sayang selama bertahun-tahun hingga sangat dekat seperti saudara perempuan.

Jin Lu mengangguk untuk menunjukkan persetujuannya, berbalik, dan meninggalkan ruangan.

Setelah Li Xiang menerima surat itu, reaksi pertamanya adalah menanyakan gadis pelayan mana yang telah mengirimkan surat itu. Jika dia tahu bahwa itu adalah gadis pelayan Wei Luo, dia pasti akan berpikir ada sesuatu yang salah dan tidak akan jatuh ke dalam perangkapnya. Namun, itu tidak akan sama jika gadis pelayan Liang Yu Rong yang menyampaikan surat itu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan Liang Yu. Tidak akan mudah bagi Liang Yu untuk mengiriminya surat, jadi masuk akal baginya untuk meminta pelayan pribadi adik perempuannya mengirimkan surat itu untuknya.

Tidak apa jika ini tidak bisa menipu Li Xiang. Dia punya cara lain yang bisa dia coba selama perjamuan.

Tidak lama kemudian, Jin Lu kembali ke kamar Wei Luo dan meyakinkannya bahwa dia telah menyelesaikan tugasnya dengan benar.

***

Di halaman barat, Li Xiang duduk di sofa kayu mawar dan bersandar di bantal merah cerah yang disulam dengan bunga. Dia mengambil amplop yang dibawa oleh gadis pelayannya, membuka amplop itu dengan rasa ingin tahu, dan membaca surat itu.

Penulis surat itu mengundangnya untuk menemuinya di tepi danau halaman belakang setelah jamuan makan. Pewaris dari Marquis Ping Yuan, Liang Yu, menandatangani surat itu. Dia sangat terkejut. Dia tidak bisa tidak memikirkan pria muda yang dilihatnya pada siang hari. Dia tidak mampu menyingkirkan citra sosoknya yang elegan dan yingwu (gagah berani) dari benaknya.

 Dia tidak mampu menyingkirkan citra sosoknya yang elegan dan yingwu (gagah berani) dari benaknya

(T/N: Ini adalah image yang diambil dari Baidu untuk yingwu. Fyi: Baidu adalah versi chinese dari Wikipedia)

Dalam surat itu, Liang Yu menulis bahwa dia mengagumi kecantikannya. Dia tidak merasa curiga sedikit pun tentang bagian ini. Li Xiang yakin akan penampilannya. Dia mewarisi kecantikan Putri Gao Yang. Kulitnya seperti susu, seperti krim dan giginya putih dan rapi. Dia telah menerima banyak pujian sejak dia masih kecil tentang penampilannya. Jadi, dia tidak terkejut bahwa Liang Yu bisa jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.

Tapi, baginya mengiriminya surat tanpa pertimbangan yang matang, bukankah ini terlalu mendadak? Ternyata, apakah dia juga memperhatikannya ketika dia menatapnya dengan penuh minat?

Li Xiang dengan hati-hati memikirkan hal ini. Untuk berjaga-jaga jika ada seseorang yang mencoba menipunya, dia memanggil gadis pelayan yang membawakan surat untuknya, “Siapa yang memberimu surat ini? Di mana orang itu?”

Gadis pelayan di depannya dengan hormat dan hati-hati berkata, “Menanggapi nona, itu disampaikan oleh seorang gadis pelayan yang telah ditugaskan untuk putri Marquis Ping Yuan. Orang itu sudah pergi.”

Mendengar kata-kata ini, apakah surat ini benar-benar dari Liang Yu?

Dia tidak ingin mengungkapkan rahasia ini, jadi dia menggunakan gadis pelayan adik perempuannya untuk membodohi orang lain? Ini bukan tidak mungkin.

Li Xiang mengerutkan bibirnya, dan kemudian dia menunjukkan senyum yang jelas dan kentara. Liang Yu ini bisa dianggap memiliki penglihatan yang baik. Dia hanya melihatnya sekali dan tahu menulis “secantik dewi” untuk menggambarkannya. Sepertinya dia bukan seorang pejuang yang hanya tahu seni bela diri.

Dia melipat surat itu dan memasukkannya ke lengan bajunya. Sedangkan apakah dia akan pergi, dia harus melihat … Bagaimanapun, dia tidak mengenal Liang Yu. Bagaimana jika dia hanya mempermainkannya? Dia harus menunggu dan melihat. Dia akan memutuskan setelah jamuan makan.

***

Matahari terbenam di barat. Cahaya matahari terbenam itu berwarna-warni dan indah.

Perjamuan sudah dimulai di halaman depan. Orang-orang itu duduk di ruang tamu. Para wanita diatur untuk makan malam di paviliun penerima tamu.

Hawanya sedikit dingin di puncak gunung. Wei Luo mengenakan beizi (sejenis jubah luar) yang disulam dengan bunga begonia dan cabang-cabang melilit. Dia berjalan ke paviliun penerimaan tamu dengan Liang Yu Rong.

 Dia berjalan ke paviliun penerimaan tamu dengan Liang Yu Rong

Contoh Beizi

Dalam perjalanan ke sana, Wei Luo berkata kepada Liang Yu Rong, “Aku dengar kak Liang Yu telah berhasil memburu rusa dan dua kelinci hari ini. Ketika aku bertanya pada Chang Hong tadi, dia mengatakan dia tidak bisa menangkap apa pun.”

Liang Yu Rong mengangguk. Dia sangat bangga ketika dia berkata, “Kakakku telah berlatih memanah selama sekitar tujuh atau delapan tahun sejak dia masih kecil. Ini tentu tidak akan sulit baginya.”

Wei Luo tersenyum dan bertanya, “Apa Chang Hong bisa meminta saran dari kak Liang Yu? Dia tidak akan bisa belajar banyak dalam satu malam, tetapi akan mungkin bagi kak Liang Yu untuk menyampaikan beberapa pengalamannya. Jika Chang Hong bahkan tidak bisa berburu kelinci kali ini, dia akan merasa sangat buruk ketika kita pulang besok.”

Liang Yu Rong dengan lugas menyetujui, “Tentu saja, dia bisa! Aku akan mengirim seseorang untuk menanyakan kakakku sekarang. Setelah perjamuan selesai, aku akan menyuruhnya mengajari Chang Hong.”

Mata Ah Luo melengkung saat dia berkata, “Itu akan sangat bagus! Bagaimana kalau mereka langsung pergi ke halaman belakang danau? Area itu besar dan akan menjadi tempat yang bagus untuk menembakkan anak panah tanpa khawatir menyakiti siapa pun.”

Di mana saja akan baik-baik saja. Liang Yu Rong tidak punya masalah dengan tempat itu. Dia segera menyuruh seorang gadis pelayan pergi ke ruang penerima tamu untuk memberi tahu Liang Yu untuk pergi ke halaman belakang danau setelah perjamuan untuk berbagi pengalaman berburu dengan Wei Chang Hong.

Setelah Wei Luo berulang kali mengucapkan terima kasih, mereka mencapai paviliun penerima tamu.

Banyak orang sudah berada di paviliun penerima tamu ketika mereka tiba. Selain Li Xiang, ada juga Gao Dan Yang dan Gao Qing Yang. Para wanita muda dengan riang berbicara satu sama lain dan berkumpul dalam kelompok berpasangan dan bertiga. Adegan itu cukup hidup.

Ketika Li Xiang melihat Wei Luo, dia diam-diam mendengus dan memutar kepalanya tanpa menyapanya.

Bertentangan dengan ekspektasi, Gao Dan Yang berjalan maju dengan senyuman untuk mengaitkan lengannya dengan Wei Luo. Dengan sikap yang hangat dan ramah, dia memimpin Wei Luo ke sofa delapan harta untuk duduk, “Kemarilah untuk duduk, adik Ah Luo. Kalian berdua sudah terlambat. Semua area tempat duduk lain penuh. Duduklah di sini sebentar sebelum jamuan makan dimulai.”

Tingkat kesukaan oleh seorang senior ini membuat Wei Luo merasa kewalahan. Dia berkedip dan bertanya, “Kakak perempuan Gao?”

Gao Dan Yang mengenakan jaket sutra tipis biru langit, rok sutra tipis hijau zaitun, dan jubah putih bulan yang indah. Dia adalah wanita tertua di pertemuan ini. Dua puluh tahun adalah usia ketika seorang wanita adalah wanita yang paling cantik di masanya. Ini adalah usia ketika ketidaktahuan dan ketidakdewasaan wanita telah memudar dan pesona dan kepolosannya menyatu dengan harmonis, dan dia sempurna seperti alam.

Dia sepertinya tidak mempedulikan usianya. Senyum Gao Dan Yang cocok untuk acara itu ketika dia berkata, “Aku pernah bertemu denganmu beberapa kali sebelumnya, tetapi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara denganmu. Aku akhirnya bisa duduk dan bercakap-cakap bersamamu. Ketika aku memikirkannya, kesempatan ini tidak mudah.​”

Wei Luo mengerutkan bibirnya. Ekspresi senyumnya tepat, “Kakak perempuan Gao terlalu sopan. Saya tidak berharap kakak masih mengingat saya.”

Gao Dan Yang secara pribadi menuangkan secangkir teh dan menempatkan cangkir teh di depan Wei Luo. Mendengar kata-kata Wei Luo, dia menghela napas dengan sedih dan berkata, “Bagaimana mungkin aku tidak mengingatmu? Pertama kali aku bertemu denganmu adalah di istana. Sepupu Jing ingin memberi kamu anak-anak kucing yang aku berikan kepadanya. Aku sangat marah pada waktu itu dan hampir bertengkar dengan kakak Jing.”

Wei Luo memegang cangkir teh itu. Dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.

Sesaat kemudian, dia perlahan bertanya, “Bagaimana dengan ketiga anak kucing itu? Apakah mereka masih di sana?”

Gao Dan Yang meliriknya dan dengan sedih berkata, “Mereka sudah lama mati. Mereka semua mati pada tahun berikutnya.”

Wei Luo dengan menyesal dan dengan penuh simpati berkata, “Oh. Sayang sekali.”

Mereka berdua melanjutkan percakapan ala kadarnya. Sebagian besar adalah Gao Dan Yang berbicara dan Wei Luo mendengarkan. Wei Luo tidak akrab dengannya dan mereka tidak memiliki minat yang sama. Jadi, dia hanya dengan sopan menemaninya. Selama beberapa tahun terakhir, Han-shi telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam mengajarinya, jadi wajah Wei Luo tidak mengungkapkan ketidaksabaran sedikit pun. Sebaliknya, sepertinya dia dengan sungguh-sungguh mendengarkan kata-kata Gao Dan Yang.

Sebenarnya, Wei Luo jelas mengerti bahwa Gao Dan Yang tidak menyukainya. Perasaan seperti ini tidak perlu dikonfirmasi. Itu sepenuhnya tergantung pada intuisi seorang wanita.

Sejak saat dia menyebutkan ketiga anak kucing itu, Wei Luo menjadi sadar akan permusuhan yang dirasakan Gao Dan Yang padanya.

Untuk alasan dibalik permusuhan ini … untuk saat ini, dia tidak tahu kenapa.

Segera, perjamuan dimulai. Wei Luo berdiri dan mengucapkan salam perpisahan pada Gao Dan Yang, “Yu Rong sedang menunggu saya. Jika kakak Gao memiliki hal lain untuk dikatakan, mari kita mengobrol lagi ketika kita bertemu satu sama lain pada hari lain. Hari ini, saya harus permisi dulu.”

Gao Dan Yang tersenyum dan dengan murah hati berkata, “Adik Ah Luo bisa pergi. Mari kita bicara di lain hari.”

Wei Luo berbalik dan pergi. Gao Dan Yang duduk di sofa delapan harta dan menatap punggung Wei Luo saat dia pergi. Senyum Gao Dan Yang perlahan-lahan menghilang. Dia tenggelam dalam lamunan dan tidak bergerak untuk waktu yang lama.

Selama jamuan makan, Liang Yu Rong dan Wei Zheng duduk di sisi kiri dan kanan Wei Luo. Li Xiang duduk di sebelah kanan Wei Zheng.

Li Xiang agak gelisah sepanjang waktu ini. Dia sering memberi gadis pelayan pribadinya suatu pandangan yang berarti untuk menyuruh dia pergi keluar untuk memeriksa situasi. Gadis pelayan itu akan terus pergi dan kembali untuk membisikkan beberapa kata ke telinganya. Sepertinya dia belum menemukan apa-apa. Jika tidak, ekspresi wajah Li Xiang tidak akan menjadi lebih dan lebih jelek.

Wei Luo menopang pipinya dengan tangannya. Ada senyum di bibirnya saat dia pura-pura tidak melihat tindakan Li Xiang. Dia mengambil sepotong sirip hiu dengan sumpitnya untuk ditempatkan di piring Liang Yu Rong dan dengan sengaja bertanya, “Jin Lu baru saja memberitahuku bahwa Chang Hong tidak melihat kak Liang Yu. Ke mana dia pergi?”

Liang Yu Rong berhenti dan bertanya tanpa berpikir, “Bukankah kakakku pergi ke halaman belakang danau?”

Chang Hong benar-benar ingin berkonsultasi dan meminta saran Liang Yu. Tapi, dia tidak menyebutkan pergi ke danau di halaman belakang. Wei Luo telah mengarang seluruh cerita ini dan dia melakukan bagian selanjutnya dengan baik. Dengan ekspresi bingung di wajahnya, dia bertanya, “Dia pergi ke halaman belakang?”

Liang Yu Rong mengangguk. Dia berpikir bahwa Wei Luo tidak memercayainya dan bersiap untuk memanggil seorang gadis pelayan untuk mencari kakak laki-lakinya, “Aku akan meminta seseorang mencarinya …”

Wei Luo dengan cepat menghentikannya, “Tidak apa-apa. Ini tidak begitu mendesak. Mari kita bicarakan tentang itu setelah kita selesai makan. Tidak masalah untuk membiarkan Chang Hong menunggu sebentar.”

Liang Yu Rong hanya bisa kembali duduk, tetapi dia merasa bingung. Dia telah dengan jelas meminta gadis pelayannya untuk pergi dan berbicara dengan kakak laki-lakinya. Kenapa dia tidak pergi?

Di samping, Li Xiang mendengar percakapan mereka. Jantungnya berdebar dan dia tidak ingin melanjutkan makan. Dia hanya duduk di sana makan makanan tanpa mencicipinya. Setelah setengah cangkir teh, dia akhirnya berdiri dan mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang terdekat, “Aku sudah kenyang. Aku akan pergi lebih awal. Kalian semua nikmati saja makanannya.”

Setelah dia mengatakan ini, dia berbalik dan pergi.

Di belakangnya, Wei Luo perlahan mengungkapkan senyumnya. Kelicikannya tersembunyi di dalam senyumnya.

Tidak lama kemudian, Liang Yu Rong tidak bisa menahan diri untuk menyuruh seorang gadis pelayan pergi dan bertanya-tanya tentang lokasi Liang Yu. Gadis pelayan itu segera kembali dan berkata bahwa Liang Yu saat ini makan malam di ruang tamu dan tidak pergi ke danau di halaman belakang.

Liang Yu Rong sedikit marah dan berkata pada Wei Luo, “Kakakku menarik kata-katanya …”

Wei Luo tidak keberatan sama sekali. Dia tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa. Mungkin, dia dihentikan di perjamuan. Kakak Liang Yu tidak seharusnya disalahkan. Tapi, aku khawatir Chang Hong mungkin masih menunggu di halaman belakang danau. Aku akan pergi ke sana untuk melihat.”

Liang Yu Rong mengangguk dan bertanya karena khawatir, “Ini sudah gelap. Mau aku ikut denganmu?”

Wei Luo berkata, “Tidak perlu. Tidak apa-apa kalau aku pergi ke sana dengan Jin Lu. Jika aku belum kembali dalam satu jam, kau bisa membawa orang untuk mencariku.”

Vila Jin He menutupi area yang sangat luas. Jarak yang sangat jauh memisahkan halaman belakang dari halaman depan. Butuh waktu tiga puluh menit untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saat itu sudah malam sekarang dan sepi di mana-mana. Akan sangat menakutkan untuk berjalan di jalanan sendirian.

Semakin Wei Luo berjalan, dia semakin jauh. Dia segera tiba di danau di halaman belakang. Dia berhenti di belakang pohon beringin. Bulan ditutupi dengan awan dan hanya samar-samar menerangi danau. Ada seseorang yang berdiri di sana. Itu Li Xiang.

Tentu saja, Liang Yu tidak akan datang ke sini saat ini. Ketika dia tiba di ruang tamu, dia akan bertemu Chang Hong dan bertanya kepadanya tentang permintaannya untuk pergi ke halaman belakang setelah jamuan makan. Dan, Chang Hong akan mengatakan kepadanya bahwa dia tidak membuat permintaan ini. Dia dan Chang Hong tidak akan curiga. Mereka hanya akan berpikir bahwa mereka melakukan sesuatu yang tidak perlu dan mengabaikan masalah ini. Tujuan utama Wei Luo hanya untuk menggiring Li Xiang ke sini.

Tidak jauh dari Wei Luo, Li Xiang telah menunggu di tepi danau tanpa melihat sosok Liang Yu. Dia berjalan bolak-balik dua kali. Alisnya menunjukkan jejak ketidaksabaran saat dia melihat ke depan. Bukankah mereka mengatakan bahwa Liang Yu akan berada di halaman belakang? Mengapa tidak ada seorang pun di sini ketika dia datang? Mungkinkah dia sudah pergi setelah menunggu sebentar?

Gadis pelayan di sampingnya dengan marah berkata, “Nona, apakah pewaris Marquis Ping Yuan menipu Anda? Kita sudah menunggu di sini begitu lama dan dia masih belum datang.”

Khawatir bahwa ada sesuatu yang salah, Li Xiang dengan tegas berkata kepada gadis pelayannya, “Aku tidak akan terus menunggu. Ayo kembali. Jika ada yang bertanya, katakan saja aku kebetulan lewat sini saat aku berjalan-jalan.”

Gadis pelayan itu dengan cepat mengangguk.

Mereka berdua baru saja akan pergi ketika mereka mendengar suara lembut dan halus dari belakang mereka berkata, “Datang ke sini hanya untuk berjalan-jalan, adik Li Xiang benar-benar dalam suasana hati yang santai. Mataku telah terbuka ke pandangan dunia yang lebih luas.”

Li Xiang tiba-tiba berhenti dan berbalik untuk melihat, “Siapa di sana?”

Jalan setapak batu kapur itu diterangi dengan lentera yang ada di pilar batu. Lentera hanya menerangi satu sisi. Wei Luo keluar dari bayang-bayang. Di belakangnya, ada secercah cahaya lembut. Matanya tersenyum saat dia perlahan berkata, “Tentu saja, ini aku. Siapa lagi yang adik Li Xiang pikirkan?”

Wajah Li Xiang menjadi jelek karena marah. Dia dengan dingin bertanya, “Kenapa kau ada di sini? Apakah kau mengikutiku?”

Wei Luo tidak menjawab. Dia berjalan ke arahnya, “Apakah itu penting bahwa aku mengikutimu? Sekarang, bukankah masalah yang lebih penting adalah siapa yang sedang kau tunggu?”

Dia sengaja menghindari semua orang dalam perjalanan ke sini. Seharusnya tidak ada yang bisa menemukannya di sini. Bagaimana Wei Luo bisa tahu? Atau mungkinkah dia sudah tahu sejak awal?

Seperti yang sudah diduga, Wei Luo berhenti dan perlahan tersenyum seolah dia baru menyadari sesuatu. Wei Luo menatapnya dan bertanya, “Biar aku tebak, apakah kau menunggu kakak Liang Yu?”

Li Xiang menggertakkan giginya.

Bibir merah muda Wei Luo sedikit melengkung saat dia perlahan bertanya, “Apakah yang kutebak benar?”

Li Xiang dengan galak menatapnya dan berharap dia bisa menusuk dua lubang ke tubuh Wei Luo, “Apakah kau yang menulis surat itu?”

Wei Luo meletakkan lengannya di belakang punggungnya. Nada suaranya rileks saat dia dengan santai mengakui, “Apakah masalah jika aku adalah orang yang menulis surat itu? Apa kau punya bukti?”

Wei Luo tidak takut Li Xiang akan memberitahu siapa pun tentang isi surat itu, apalagi menunjukkan surat itu kepada orang lain. Karena, pada waktu itu, bahkan jika terbukti bahwa dia menulis surat itu, hanya reputasi Li Xiang yang akan rusak dan bukan miliknya. Li Xiang telah menelan keluhan yang tidak bisa diutarakan ini saat dia datang ke halaman belakang.

Seperti yang diharapkan, Li Xiang mengertakkan giginya dan tidak mengatakan apa-apa.

Wei Luo menahan tawanya. Dari penglihatannya, dia melihat sekilas cahaya redup yang tidak jauh. Dia berjalan beberapa langkah ke depan ke sisi Li Xiang. Dia membungkuk dekat ke telinganya dan berbisik, “Kamu mungkin memiliki surat itu di tanganmu, kan? Apa yang akan terjadi jika seseorang menemukan surat itu? Aku bertanya-tanya sesensasional apa jika berita keluar bahwa putri Pangeran Ru Yang secara pribadi bertemu dengan seorang laki-laki di malam hari.”

Li Xiang akhirnya di akhir kesabarannya. Dia mengangkat tangannya dan dengan keras mendorongnya, “Gadis sialan.”

Meskipun Li Xiang telah mendorong sangat keras, Wei Luo telah mempersiapkan diri sebelumnya dan bisa tetap berdiri jika dia mau. Sebaliknya, Wei Luo dengan sengaja terhuyung dua langkah ke belakang dan jatuh ke tanah!

Li Xiang mengangkat tangannya dan dengan kejam menampar, “Dasar hina!”

Orang-orang yang tidak jauh akhirnya tiba dan melihat adegan ini secara kebetulan. Liang Yu Rong bukan satu-satunya orang yang datang. Sesosok berjubah biru dengan cepat bergegas ke depan, menghentikan tangan Li Xiang yang menampar Wei Luo, dan menegur, “Hentikan!”

Wei Luo mendongak. Itu adalah Li Song yang diterangi oleh cahaya lentera.

Chapter 52
Chapter 54

Leave a Reply

Your email address will not be published.