Chapter 52

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh remi7noor
_____

Jin Lu membawa kotak makan kayu cendana merah yang diukir dengan bunga begonia. Kotak makan itu berisi ceri yang Vila Jing He kirimkan ke setiap halaman. Ceri segar dan bulat ini ditanam di vila dan baru saja dipetik dari pohonnya. Masih ada embun di atas ceri dari tadi malam.

Ketika Jin Lu berjalan menuju halaman timur, dia berpikir tentang makanan lezat apa yang akan dibuat untuk nona-nya. Ceri dan susu dengan atau tanpa gula akan bagus. Karena nona suka makan hal-hal yang manis, mungkin akan lebih baik untuk menambahkan lebih banyak gula …

(T / N: Ini adalah gambar dari pencuci mulut ceri. Cara modern untuk membuat makanan penutup kuno ini adalah dengan memasak susu dan anggur beras bersama-sama, menambahkan ceri ke campuran tadi dan kemudian membiarkannya dingin di kulkas selama beberapa jam sebelum dimakan. Gula adalah bahan pilihan yakni boleh ditambahkan sesuai selera masing-masing.)

Ketika dia melewati pintu masuk halaman dan hendak pergi ke dapur, dia hampir menabrak punggung seseorang! Untungnya, refleksnya cepat dan dia segera menghentikan langkahnya

Ketika dia melewati pintu masuk halaman dan hendak pergi ke dapur, dia hampir menabrak punggung seseorang! Untungnya, refleksnya cepat dan dia segera menghentikan langkahnya. Dia menepuk dadanya dan kemudian mendongak untuk melihat siapa orang itu.

Orang itu mengenakan jubah brokat indigo dengan pola aliran sungai yang mengalir secara horizontal, sepatu berwarna merah dengan bordir emas, dan sabuk giok. Dia memiliki keanggunan tak tertandingi yang tidak bisa dibandingkan.

Jin Lu menelan ludah. Dia berpikir bahwa beruntung dia berhasil tidak menabrak orang ini, “Yang Mulia Pangeran Jing …”

Namun, orang di depannya tidak merespon dengan ucapan atau gerakan. Alisnya suram saat dia melihat dua orang di bawah pohon tong. Jin Lu mengikuti garis pandangnya dan hanya melihat bahwa Wei Luo dan Song Hui tidak mengetahui bahwa ada orang lain telah datang ke halaman. Mereka mungkin berbicara tentang anekdot lucu tentang masa kecil mereka. Wei Luo tersenyum lembut dan dua lesung pipinya terlihat. Song Hui berdiri di sampingnya dengan tangan di belakang punggungnya. Matanya menunjukkan keinginannya untuk memanjakan Wei Luo. Berdiri berdampingan, pasangan emas ini terlihat cocok seperti dibuat oleh surga.

(T / N: Anekdot adalah sebuah cerita singkat dan lucu atau menarik, yang mungkin mengggambarkan kejadian atau orang sebenarnya.)

Jin Lu merasa pemandangan ini sangat harmonis dan tidak berpikir ada yang aneh. Mengapa Yang Mulia Pangeran Jing memancarkan aura gelap dan suram?

Ketika Jin Lu mengkhawatirkan hal ini, Wei Luo berbalik dan akhirnya menyadari keberadaan Zhao Jie. Dia memanggil dengan senyuman, “Kakak Pangeran Jing!”

Zhao Jie akhirnya tersadar. Dia menyingkirkan aura ganasnya dan tersenyum saat dia berjalan menuju Wei Luo dan Song Hui.

Wei Luo memandang Jin Lu yang berjalan pergi sambil membawa kotak makanan, lalu dia menatap Zhao Jie. Dia memiringkan kepalanya dan bertanya, “Kapan kakak Pangeran Jing tiba? Kenapa kakak tidak mengatakan apa-apa? Apa kakak sudah lama berdiri di sana?”

Tatapan Zhao Jie mendarat di Song Hui ketika dia dengan ringan berkata, “Tidak lama, aku baru saja tiba.” Saat dia terus berbicara, tanpa alasan apa pun, dia melihat tangan Song Hui yang membantu mengambil kelopak bunga dari Wei Luo. Dia melengkungkan bibirnya dan mengucapkan kata-kata yang memiliki implikasi yang luas, “Aku datang ke sini untuk melihat apa kau merasa nyaman tinggal di sini. Siapa yang akan menduga bahwa Tuan Song Hui akan lebih perhatian daripada pangeran ini dengan datang kemari lebih awal?”

Song Hui mundur selangkah dan membungkuk memberi salam hormat, “Salam Yang Mulia Pangeran Jing.” Setelah mengatakan ini, dia berdiri dan kembali bertatapan dengan Zhao Jie. Dia jelas bisa merasakan permusuhan Zhao Jie terhadapnya.

Meskipun Song Hui menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah untuk belajar, ia masih sadar akan hal-hal yang terjadi di luar rumahnya. Pada saat ini, dia tidak bisa tidak memikirkan rumor tertentu. Desas-desus mengatakan bahwa Pangeran Jing mengistimewakan dan memanjakan nona keempat keluarga Ying tanpa batas dan sering memberikannya hadiah. Semua orang luar berpikir bahwa ini karena Putri Tianji. Wei Luo memiliki hubungan yang sangat baik dengan Putri Tianji dan usia mereka sama, jadi mungkin saja Zhao Jie menganggapnya sebagai adik perempuan dan itulah sebabnya dia memanjakannya. Song Hui juga berpikir seperti itu pada awalnya, tapi dari apa yang dia lihat hari ini, sepertinya tidak sepenuhnya benar.

Pria mengerti cara berpikir pria lain dengan baik. Mungkin, perasaan Zhao Jie terhadap Ah Luo tidak sesederhana apa yang dipikirkan orang luar.

Song Hui tersenyum. Kata-katanya tidak merendahkan diri atau sombong, “Ah Luo orang yang lembut dan ini juga pertama kalinya dia menginap di gunung. Saya khawatir dia tidak akan terbiasa tinggal di sini. Sudah sewajarnya saya datang ke sini untuk memeriksanya.” Dia berhenti dan kemudian melanjutkan, “Lagi pula, Ah Luo sudah dekat dengan saya sejak kecil. Karena dia tidak berada di sisi paman dalam dua hari ini, sebagai sepupunya yang lebih tua, saya seharusnya lebih memperhatikannya.”

Zhao Jie menatapnya tanpa mengucapkan kata-kata. Jelas ada senyuman di bibirnya, tapi matanya dingin dan tampak menahan angin kencang.

Dalam waktu singkat, dia mengangguk seolah-olah dia terpikir sesuatu. Dia mengubah topik dengan bertanya, “Pangeran ini mendengar bahwa Tuan Song juga akan berpartisipasi dalam perburuan. Tidak disangka bahwa Sarjana Song juga tahu cara menunggang kuda dan memanah. Bagaimana kemampuan memanahmu? Apa kau bersedia bersaing dengan pangeran ini besok?”

Berburu selalu menjadi cara bagi pria untuk bersaing satu sama lain. Tidak ada alasan bagi Song Hui untuk menolak. Tanpa rasa takut sedikitpun, dengan percaya diri Song Hui menerima tantangan Zhao Jie. “Saya merasa terhormat bahwa pangeran menganggap saya lawan. Saya pasti akan menemani pangeran sampai akhir, tapi kemampuan memanah saya tidak terlalu bagus. Saya harap pangeran akan bermurah hati besok.”

Zhao Jie menggerakkan tangannya di belakang punggungnya dan dengan senyum memprovokasi berkata, “Tuan Song pasti bercanda. Tidaklah logis untuk menyerahkan mangsa yang kau sukai kepada orang lain di area berburu.”

Song Hui dibungkam. Dia tidak menyangka bahwa Zhao Jie akan begitu jujur. Dia tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan sebagai tanggapan untuk waktu yang lama.

Ia pergi tanpa mengatakan siapa yang ia maksud sebagai mangsa. Kedua orang ini sangat sadar dan tak satu pun dari mereka bersedia mundur. Lagi pula, mereka telah menyaksikannya tumbuh dari seorang gadis muda menjadi seorang wanita muda yang ramping, elegan, dan menawan. Tidak ada yang mau menyerahkannya kepada orang lain.

Namun, mangsa yang sangat diinginkan ini tidak melihat gejolak emosional yang tersembunyi di antara kedua pria ini. Wei Luo pikir mereka hanya berbicara tentang perburuan besok. Saat dia makan ceri yang dilapisi susu manis, dia berkata, “Kakak Song Hui sudah lama tidak menggunakan busur dalam waktu yang lama. Apa kau yakin akan baik-baik saja?”

Mendengar Wei Luo khawatir padanya, kesedihan di hati Song Hui benar-benar hilang. Dia mengusap kepalanya dan berkata, “Ah Luo, jangan khawatir. Kakak Song Hui tidak akan membuatmu kehilangan muka.”

Wei Luo tidak khawatir akan dipermalukan. Dia hanya khawatir apa Song Hui mampu mengatasi perburuan besok. Tingkat keterampilan berkuda dan memanah Chang Hong dengannya hampir sama. Jika Song Hui tidak bisa mengatasinya, maka Chang Hong juga tidak akan bisa. Pada akhirnya, dia hanya bertanya karena dia mengkhawatirkan Chang Hong.

Wei Luo dengan tulus berkata, “Kau harus berhati-hati. Jangan sampai terluka.”

Song Hui senang dengan kata-katanya dan tersenyum saat dia berkata, “Oke.”

Wei Luo juga ingin meminta Song Hui untuk menjaga Chang Hong, tapi sebelum dia bisa mengucapkan kata-kata itu, dia melihat bahwa Zhao Jie sedang menatap langsung padanya. Senyum di bibirnya menjadi pucat dan matanya gelap dan suram karena alasan yang tidak diketahui. Wei Luo terkejut sesaat. Mungkinkah dia mengatakan sesuatu yang salah? Kenapa ekspresinya begitu jelek? Setelah dia memikirkannya dengan hati-hati, dia menambahkan kata-kata terlambat ini, “Kakak Pangeran Jing, jangan terluka.”

Ekspresi Zhao Jie tidak membaik. Dia hanya memperhatikannya setelah dia khawatir tentang Song Hui. Apa posisinya benar-benar kalah dengan Song Hui?

Wei Luo tidak tahu sedikit pun tentang pemikiran Zhao Jie saat ini. Melihat bahwa dia tidak menjawab atau menghargai kata-katanya, dia mengerucutkan bibirnya dan menundukkan kepalanya sambil diam-diam memakan ceri.

Song Hui bertanya apakah dia merasa nyaman tinggal di sini. Wei Luo mengangguk dan berkata iya. Selain itu, Song Hui menanyakan beberapa pertanyaan tentang makanan dan akomodasinya. Wei Luo menjawab bahwa semuanya baik-baik saja. Setelah dia menanyakan semua yang harus ditanyakan, Song Hui tidak punya alasan untuk tinggal lebih lama lagi, jadi dia mengucapkan salam perpisahan, “Karena tidak ada yang lain, aku akan kembali ke rumah. Jika kau butuh sesuatu, beri tahu aku dan aku akan mengirim seseorang untuk melakukannya.”

Wei Luo mengangguk dan mengucapkan terima kasih, “Kak Song Hui, kamu bisa mengurus urusanmu sendiri. Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Song Hui berbalik untuk pergi. Ketika dia melewati Zhao Jie, dia bertanya, “Ini sudah tidak pagi lagi. Apakah pangeran tidak pergi?”

Zhao Jie menatapnya dengan senyum palsu, “Liuli meminta pangeran ini untuk menyampaikan pesan kepada Ah Luo. Aku akan pergi setelah berbicara dengannya.”

Song Hui tidak punya kata-kata untuk diucapkan sebagai jawaban. Dia mengatakan selamat tinggal dan pergi.

Ah Luo sudah makan setengah piring kecil ceri, jadi bibirnya memiliki manisnya gula. Mendengar kata-kata Zhao Jie, dia bertanya dengan penasaran, “Apa yang ingin dikatakan Liuli pada saya?”

Mereka akhirnya hanya berdua di taman. Zhao Jie mendekat kearahnya, mengambil saputangan dari lengan bajunya untuk menyeka sudut mulutnya, dan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lain, “Apa ceri ini rasanya enak?”

Wei Luo tidak yakin dia mengerti, jadi dia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum mengangguk dan mengatakan bahwa ceri ini rasanya enak.

Zhao Jie menatap bibir merah mudanya yang indah dan berkata dengan tenang, “Pangeran ini juga ingin mencicipi.”

Dia berpikir bahwa dia ingin makan ceri, jadi dia mendorong piring kecil itu ke arahnya, “Kalau begitu makan saja.”

Gadis muda itu memang sudah dewasa. Ketika dia masih kecil, dia akan dengan polos memberinya permen. Sekarang, dia hanya mengatakan, “Kalau begitu makan saja.” Pada akhirnya, Zhao Jie tidak makan. Dia berdiri dan berkata, “Ah Luo, kamu sudah dewasa sekarang. Kau tidak bisa membiarkan pria bebas masuk ke halamanmu.”

Wei Luo membeku sesaat, “Liuli meminta Anda untuk memberi tahu saya hal ini?”

Zhao Jie tersenyum tak berdaya padanya, “Bagaimana menurutmu?”

Wei Luo itu sangat pintar. Mustahil baginya untuk tidak mengerti kata-katanya.

Memang, Wei Luo mengerti kata-katanya. Dia menggunakan Liuli sebagai alasan. Yang penting adalah kata-kata yang baru saja dia katakan. Bulu matanya bergetar. Untuk pertama kalinya, dia tidak setuju. Dia membantah, “Kak Song Hui bukan pria lain. Kami sudah bertunangan sejak saya masih kecil.”

Tangan yang Zhao Jie letakkan di atas meja batu terkepal. Dia menatap mata Wei Luo.

Jika dia tidak ada di sini dan dia tidak khawatir tentang reaksinya, mungkin, dia akan membalik meja batu ini di saat berikutnya.

***

Keesokan paginya, Kompetisi Berburu resmi dimulai.

Sebelum fajar tiba, bunyi tanduk terompet terdengar di gunung. Ada momentum besar dan suara keras  yang memekakkan telinga saat beberapa lusin kuda bergegas masuk lebih dalam ke gunung.

Wei Luo tidak bisa tidur kembali setelah dia terbangun oleh suara ini, jadi dia hanya duduk dan bangun dari tempat tidur untuk mandi. Setelah selesai sarapan, dia pergi mencari Liang Yu Rong. Ling Yu Rong juga bangun lebih awal dan bersiap untuk pergi ke bangunan Zhan Yue di halaman belakang untuk menyaksikan perburuan. Bangunan Zhan Yue berada di belakang Vila Jing He dan memiliki total lima lantai.

 Bangunan Zhan Yue berada di belakang Vila Jing He dan memiliki total lima lantai

Kira-kira seperti ini bentuk bangunannya.

Berdiri di tingkat kelima, seseorang bisa melihat seluruh pemandangan Gunung Zhang Xun. Pemandangannya sangat bagus di sana, jadi tidak akan menjadi masalah untuk menyaksikan perburuan dari sana. Oleh karena itu, banyak wanita muda pergi ke sana untuk menyaksikan para pemuda yang luar biasa.

Liang Yu Rong menariknya, “Ayo kita lihat. Kau mungkin bisa melihat Kak Song Hui!”

Wei Luo dengan malu tersenyum padanya dan tidak mengatakan apapun.

Kemarin, Zhao Jie pergi setelah dia mengucapkan kata-kata itu. Ketika dia pergi, tidak ada sedikitpun senyum di wajahnya. Zhao Jie tidak dalam suasana hati yang baik. Wei Luo tidak tahu mengapa dia mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Ketika dia kembali sadar, itu sudah terlambat.

Ketika mereka berjalan, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Dia berkata kepada Liang Yu Rong, “Oh, benar, bisakah kau membiarkanku melihat tulisan tangan kakakmu?”

Liang Yu Rong cukup bingung, “Gaya penulisan kakakku adalah naskah kursif. Kenapa kau ingin melihatnya? Bukankah kau belajar naskah biasa?”

(T / N: Naskah kursif dan naskah biasa adalah dua jenis gaya penulisan untuk kaligrafi Cina

(T / N: Naskah kursif dan naskah biasa adalah dua jenis gaya penulisan untuk kaligrafi Cina. Di atas, di sisi kiri adalah naskah kursif dan di sisi kanan adalah naskah biasa.)

Wei Luo sudah memikirkan alasannya, “Baru-baru ini, Guru Xue mengajariku cara menulis naskah kursif. Aku belum bisa menulis dengan baik dan aku tidak berani bertanya kepada guru untuk instruksi lebih lanjut. Aku dengar bahwa Liang Yu sangat terampil dengan naskah kursif, jadi aku ingin meminjam sesuatu yang dia tulis untuk digunakan sebagai latihan.”

Kebanyakan orang terpelajar tahu bagaimana menulis dalam beberapa naskah yang berbeda dan akan mengajari siswa mereka naskah yang berbeda ini, jadi permintaan Wei Luo cukup masuk akal. Liang Yu Rong memasang ekspresi di wajahnya yang menunjukkan bahwa permintaan ini sulit untuknya, “Aku tidak membawa apa-apa ketika datang ke sini kali ini. Aku hanya bisa memberimu tulisannya ketika aku pulang….”

Tepat ketika dia selesai mengatakan ini, dia tiba-tiba teringat, “Kakakku membawa buku ‘Enam Ajaran Strategis Rahasia’ ke sini dan dia kebetulan meninggalkannya di tempatku. Ini ditandai dengan tulisan tangannya di pinggiran. Kau bisa membawanya pulang untuk melihat-lihat!” Saat dia mengatakan ini, dia menyuruh seorang gadis pelayan kembali ke kamarnya untuk mengambil buku.

(T / N: Buku ini adalah salah satu dari tujuh buku militer klasik selama periode Cina kuno. Judul aslinya Enam Ajaran Rahasia Ta’i Kung.)

Segera, gadis pelayan itu kembali dengan buku itu. Liang Yu Rong menyerahkan buku itu kepada Wei Luo, “Kau bisa bawa buku ini untuk melihatnya. Karena kakakku tidak terburu-buru untuk membaca buku itu, kau dapat mengembalikannya kapan pun setelah kau selesai.”

Wei Luo mengucapkan terima kasih, menyerahkan buku itu ke Bai Lan, dan meminta Bai Lan membawa buku itu kembali ke kamarnya.

Tidak ada yang peduli tentang kejadian kecil ini.

Berdampingan, kedua wanita muda itu berjalan ke bangunan Zhan Yue. Sudah ada banyak wanita muda di lantai atas. Ketika mereka melihat sekeliling, ada banyak wajah yang dikenalnya. Di tengah lantai lima, ada kudapan di atas meja kecil berpernis yang dilapisi emas dan dihiasi dengan spiral.

Permadani halus menutupi lantai sehingga memungkinkan untuk duduk di bawah. Mereka juga bisa berdiri di belakang pagar untuk melihat bagaimana perburuan berlangsung.

Ada pertempuran sengit selama di perburuan. Suara kuda-kuda itu mengejutkan hewan-hewan di hutan. Hewan-hewan itu dengan liar melarikan diri ke mana-mana. Dengan tindakan halus, seorang pemuda mengangkat busur di tangannya, meletakkan panah ke busur, mengarahkan panah pada mangsa yang dipilih, dan tiba-tiba melepaskan panah.

Panah itu meninggalkan busur. Ada suara desingan sebelum panah itu berhasil mengenai mangsa yang jauh!

Liang Yu Rong berkata dengan terkejut, “Kakakku luar biasa!”

Ada seorang pria muda tidak jauh dari rusa sika. Itu memang kakak Liang Yu Rong, Liang Yu. Pakaian yang dikenakan Liang Yu membuatnya tampak lebih tinggi dan lebih kuat. Dia telah berlatih seni bela diri selama bertahun-tahun, jadi kulitnya menjadi gelap menjadi warna gandum. Senyumnya cerah dan ceria. Liang Yu menyuruh kudanya berjalan ke depan, mengambil mangsanya, dan menyerahkannya kepada seorang pelayan yang ada di belakangnya. Dia menahan kudanya, memegang tali kekang, dan dengan cepat menghilang ke hutan. Sosok figur heroiknya meninggalkan pikiran dan lamunan yang tak terbatas.

Wei Luo menarik kembali garis pandangnya dan diam-diam menatap Li Xiang yang mengenakan gaun musim gugur.

Li Xiang tidak mengalihkan pandangannya dari arah yang ditinggalkan Liang Yu. Dia bahkan tidak bereaksi ketika wanita muda di sebelahnya mengatakan sesuatu. Ketika wanita muda itu memanggil namanya tiga kali, Li Xiang akhirnya kembali ke akal sehatnya dan bertanya, “Apa yang kau katakan?”

Wanita muda itu dengan marah memarahinya, “Lihat. Lihat. Lihat. Kau sedari tadi hanya melihatnya saja….”

Li Xiang dengan cepat memasukkan sebuah kue kacang ke mulut wanita muda itu sehingga dia tidak bisa terus berbicara. Wanita muda itu juga seseorang yang tahu perilaku yang pantas untuk ditunjukkan. Dia mengunyah kue, menelannya, tidak melanjutkan omelannya, dan kembali ke topik sebelumnya.

Wei Luo menarik kembali garis pandangnya. Senyum melintas matanya.

Tidak masalah jika juara militer atau bukan Liang Yu di kehidupan sebelumnya. Li Xiang sudah tertarik dengan Liang Yu sekarang.

***

Hari pertama berburu tidak akan berakhir hingga pukul 3-5 sore.

Satu demi satu, orang-orang itu kembali dari hutan. Setiap orang memiliki keberhasilan yang berbeda dengan rusa dan kelinci. Karena mereka masih harus melanjutkan kompetisi besok, orang dapur menyiapkan perjamuan malam ini, sehingga semua orang bisa makan dan minum, dan dapat melakukan upaya habis-habisan besok.

Perjamuan akan dimulai pada jam 5-7 sore dan akan diadakan di ruang tamu vila.

Wei Luo pergi menemui Chang Hong. Dia lega ketika melihat bahwa dia tidak terluka. Dia kembali ke halamannya sendiri, mengeluarkan buku ‘Enam Ajaran Strategis Rahasia’ yang diberikan Liang Yu Rong padanya, dan membalik halaman yang memiliki tulisan Liang Yu. Dia duduk di bangku, dengan hati-hati melihat tulisan tangan untuk waktu yang singkat, meminta Jin Lu membawakan kuas, dan mengikuti tulisan tangan Liang Yu sebagai model saat dia meniru tulisan tangan Liang Yu untuk menulis …

Chapter 51
Chapter 53

Leave a Reply

Your email address will not be published.