Chapter 51

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh MoritaAulianti

.

.

Pada hari keenam setiap bulan, salju dan es telah mencair dan menghilang di Gunung Zhang Xun. Musim semi telah tiba dan semuanya kembali hidup. Ini saat yang tepat untuk pergi berburu.

Vila Jing He dibangun di puncak Gunung Zhang Xun. Di kaki gunung, ada jalan yang mengarah langsung ke depan vila. Pada saat ini, ada banyak kereta kuda diparkir di jalan ini. Sejak pagi hari, para tamu telah tiba satu demi satu ke vila. Pelayan vila berada di pintu masuk untuk secara pribadi menyambut para tamu dan mengatur akomodasi untuk mereka.

Area yang dicakup oleh Vila Jing He  sangat luas. Bagian utama vila dipisahkan menjadi dua halaman. Halaman Rong untuk pria dan Halaman Min untuk wanita.

Halaman Min dibagi menjadi beberapa halaman yang lebih kecil. Setiap halaman memiliki tiga area terbuka. Pelayan itu telah menganalisis semuanya secara menyeluruh dan mengatur agar lima wanita tinggal di setiap halaman yang lebih kecil. Para wanita ini masing-masing menugaskan dua pelayan wanita untuk berada di sisi mereka melayani mereka. Ketika Wei Luo dan Wei Zheng tiba, pelayan menempatkan mereka di bagian dalam Halaman Xi Yan. Pada saat ini, halaman itu sudah memiliki tiga wanita muda yang tinggal di sana. Mereka adalah Liang Yu Rong, saudara perempuan Song Hui, Song Ru Wei, dan Li Xiang.

(T / N: Di bawah ini adalah tata letak perkiraan halaman yang lebih kecil. Berbeda dengan gambar di bawah, halaman yang mereka tinggali memiliki sub-halaman dengan tamannya sendiri dan bukan hanya kamar yang berbagi halaman tengah seperti gambar dibawah.)

(T / N: Jika kalian melihat angka biru dalam karakter china pada gambar di bawah ini, itu menandai tiga area ruang terbuka utama

(T / N: Jika kalian melihat angka biru dalam karakter china pada gambar di bawah ini, itu menandai tiga area ruang terbuka utama.)

Wei Luo pindah ke halaman timur dan tidak bisa tidak berpikir bahwa pengaturan ini benar-benar sesuai dengan pepatah bahwa musuh dan kekasih ditakdirkan untuk bertemu

Wei Luo pindah ke halaman timur dan tidak bisa tidak berpikir bahwa pengaturan ini benar-benar sesuai dengan pepatah bahwa musuh dan kekasih ditakdirkan untuk bertemu.

Kamar-kamar di dalam halaman itu terang dan bersih. Perabotan sudah dibersihkan dari debu. Tidak perlu bagi para gadis pelayan untuk melakukan pembersihan lebih lanjut. Wei Luo duduk di bangku kaiguang yang dihias dengan bunga biru dan menyuruh Jin Lu menyelidiki kamar mana yang ditinggali Li Xiang.

(T / N: Di bawah ini adalah gambar meja dan bangku kaiguang.)  

Segera, Jin Lu kembali ke kamar dan menjawab, "Nona, putri Pangeran Ru Yang tinggal di kamar barat

Segera, Jin Lu kembali ke kamar dan menjawab, “Nona, putri Pangeran Ru Yang tinggal di kamar barat.”

Wei Luo mengangguk. Setelah dia memikirkannya, dia berkata, “Perhatikan situasi di sana. Agar tidak ketahuan, jangan terlalu jelas. Jika dia melakukan sesuatu yang mencurigakan, segera beri tahu aku.”

Jin Lu mengangguk setuju. Meskipun dia tidak tahu apa yang Nona-nya rencanakan, karena Nona-nya telah memberi perintah, dia akan melakukan yang terbaik.

Kompetisi perburuan akan resmi dimulai lebih awal besok pagi. Para pemuda hanya datang ke sini terlebih dahulu untuk membiasakan diri dengan lingkungan, mencari tahu medan di gunung, dan membuat beberapa tanda untuk jalur agar terhindar dari tersesat. Mereka tidak ingin tersesat besok ketika kompetisi secara resmi dimulai dan menjadi bahan tertawaan.

Wei Luo tidak duduk lama sebelum Liang Yu Rong mengunjunginya.

Liang Yu Rong datang ke sini bersama kakaknya, Liang Yu. Liang Yu berusia delapan belas tahun ini dan memiliki keterampilan seni bela diri yang sangat baik. Fisiknya kuat dan berotot karena mempelajari seni bela diri selama bertahun-tahun. Dia telah mempersiapkan kompetisi berburu tahun ini untuk waktu yang lama. Untuk menjadi luar biasa dan menonjol dalam kompetisi tahun ini, dia telah mematahkan target yang tak terhitung jumlahnya dengan berlatih di rumah.

Liang Yu Rong menuang secangkir teh untuk dirinya sendiri. Sambil memegang tutup dan cangkir berwarna-warni di tangannya, dia berkata, “Ibu dan aku sering mengatakan bahwa karena dia begitu terobsesi dengan seni bela diri, akan lebih baik baginya mengambil ujian kekaisaran dan menjadi juara militer.”

(T / N: Juara militer adalah orang yang mendapat nilai terbaik dalam ujian militer kekaisaran.)

Wei Luo berhenti dan menatap Liang Yu Rong. Liang Yu Rong tidak memperhatikan dan terus berkata, “Kakak laki-lakiku juga memiliki niat ini. Dia mengatakan bahwa jika dia tidak bisa memenangkan tempat pertama dalam kompetisi berburu kali ini, dia akan dengan patuh mengambil ujian militer kekaisaran.”

Wei Luo mempererat genggamannya pada cangkir tehnya. Dengan kemampuan Liang Yu, selama dia telah mempersiapkannya, dia seharusnya tidak memiliki masalah untuk menjadi juara dalam ujian militer…

Dalam kehidupan sebelumnya, Li Xiang sangat mengagumi sang juara militer. Pada saat itu, Wei Luo tidak mengetahui wajah si juara militer bahkan tidak berpikir untuk mengetahui namanya. Mungkinkah itu Liang Yu? Wei Luo mencoba mengingat apakah dia pernah mendengar tentang juara militer saat itu. Tapi, dia benar-benar tidak ingat. Pada akhirnya, dia tidak bisa benar-benar yakin bahwa Liang Yu adalah orang yang disukai Li Xiang.

Tapi, Liang Yu sangat cocok dengan tipe Li Xiang. Dia adalah seorang prajurit yang tinggi dan tampan dengan bahu yang lebar.

Mungkinkah Li Xiang sudah menyukainya pada saat upacara berburu ini?

Wei Luo menopang dagunya dengan tangannya. Dia perlahan memutar tutup kecil cangkir teh yang ada di meja dan tidak memperhatikan kata-kata Liang Yu Rong yang lain.

Setelah Liang Yu Rong tinggal di halaman timur selama satu jam, dia melihat bahwa itu sudah tidak pagi lagi, dan berdiri untuk pergi.

Wei Luo menemaninya ke pintu masuk halaman timur untuk mengantarnya pergi. Mereka kebetulan bertemu Li Song dan Li Xiang di halaman tengah. Li Song datang untuk berbicara dengan Li Xiang dan berjalan-jalan di halaman tengah. Mereka tidak tahu bahwa Wei Luo tinggal di halaman timur dan saat mereka berjalan-jalan, entah bagaimana mereka berjalan ke pintu masuk halaman timur dan berhadapan muka dengan Wei Luo dan Liang Yu Rong.

Li Song tiba-tiba berhenti. Melihat Wei Luo, ekspresi wajahnya sedikit aneh pada awalnya. Sangat cepat, wajahnya menjadi dingin. “Kenapa kamu tinggal di sini?”

Siapa yang mengira bahwa Wei Luo tidak akan mempedulikannya? Setelah dia mengantar Liang Yu Rong, dia bahkan tidak menatap mereka sekali pun sebelum berbalik dan mengangkat rok delapan harta karunnya saat kembali ke dalam kamarnya.

Pintu kayu di halaman timur ditutup tepat di depan wajah Li Song. Wajahnya berubah jelek, dari hijau menjadi putih.

Dia baru saja berbicara dengannya. Tidak mungkin dia tidak mendengarnya, kan? Dia dan Li Xiang berdiri di sini. Dia pergi begitu jauh dan bahkan tidak mengucapkan salam. Dia terlalu angkuh! Dia menganggap semua orang ada di bawahnya!

Dia berdiri di depan pintu untuk waktu yang lama. Dia merasa marah dan sedikit tidak berdaya di dalam hatinya. Setelah dia kembali ke rumah dari Festival Lentera Musim Semi, dia telah memikirkannya selama beberapa hari ini. Dia tidak bisa tidak memikirkan penampilannya. Dia jelas-jelas membencinya. Dia membencinya sampai dia ingin menindasnya setiap hari dan melihat penampilannya yang lemah saat dia menangis. Dia dengan tidak sabar ingin bertemu lagi dengannya meskipun mereka mungkin akan saling mengejek satu sama lain jika mereka bertemu. Siapa yang bisa menduga bahwa ketika mereka bertemu hari ini, dia bahkan tidak mengakuinya? Ini merusak harga dirinya dan dia tidak kembali ke akal sehatnya untuk waktu yang lama.

Li Xiang menarik lengannya dan dengan marah berkata, “Kakak, mari kita abaikan dia. Dia pikir dia siapa? Dia sangat arogan. Apakah dia pikir dia itu luar biasa karena dia memiliki seorang putri sebagai seorang teman? Humph.”

Setelah mengatakan ini, dia pun perlahan pergi bersama Li Song.

Di dalam halaman timur, Wei Luo menyuruh Jin Lu dan Bai Lan membawa sofa pendek ke bawah pohon tong yang ada di taman. Dia berbaring di sofa dan memejamkan mata untuk beristirahat sebentar.

Dia sengaja mengabaikan Li Song. Pertunangan Chang Hong tidak terselesaikan dan dia tidak ingin melihat keduanya. Selain itu, Li Song bersikap kasar padanya saat bertemu terakhir kali, jadi dia tidak menunjukkan ekspresi yang menyenangkan di depannya. Dia sudah cukup sopan dengan tidak memutar matanya ke arahnya.

Wei Luo tidur hampir satu jam. Ketika dia bangun, kelopak bunga dari pohon tong jatuh di hidungnya. Rasanya gatal. Saat dia mengangkat tangannya untuk menyingkirkan kelopak bunga, tangan yang lain lebih cepat dari tangannya mengangkatnya sebagai gantinya. Tangan lain itu pucat dan langsing dan diikuti oleh senyuman dan suara lembut yang berkata, “Apakah adik perempuan Ah Luo sudah bangun?”

 Tangan lain itu pucat dan langsing dan diikuti oleh senyuman dan suara lembut yang berkata, "Apakah adik perempuan Ah Luo sudah bangun?"  

Bunga pohon tong

Untuk sesaat, Wei Luo berkedip dan tidak tahu malam apa itu. Setelah beberapa saat, dia ingat dia di Vila Jing He. Dia melihat sekeliling dan hanya melihat Song Hui berdiri di dekatnya. Dia mengenakan jubah hijau muda dengan pola bunga teratai. Beberapa kelopak bunga tong telah jatuh di atas pundaknya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berdiri di sana.

Wei Luo duduk dan dengan suara mengantuk, dia bertanya dengan heran, “Kenapa kakak Song Hui juga datang ke sini? Bukankah kakak sedang belajar di rumah?”

Dia tidur di bawah pohon untuk sejenak. Banyak kelopak bunga jatuh di atas kepala dan tubuhnya. Ketika dia duduk, semuanya jatuh di sofa. Pipi gadis muda itu sedikit merah dan matanya yang besar terbuka lebar. Dia tampak seperti orang yang benar-benar berbeda dari dirinya yang tertidur lelap.

Dia sudah lama di sini. Jin Lu berkata Wei Luo sedang beristirahat, jadi dia berpikir untuk duduk di sampingnya sambil menunggu. Tanpa diduga, segera setelah dia mendekat, dia bangun dan membuka matanya.

Song Hui tersenyum dan menjelaskan, “Terlalu membosankan untuk selalu tinggal di rumah dan belajar. Jadi, aku mengambil kesempatan ini datang ke gunung untuk bersantai. Meskipun aku tidak bisa memenangkan salah satu dari tiga tempat teratas, aku masih bisa berburu kelinci untukmu.”

Meskipun dia seorang sarjana, dia telah mengambil pelajaran tentang berkuda dan memanah dan keterampilannya cukup bagus. Hanya saja selama beberapa tahun terakhir, dia tidak banyak berlatih, jadi keahliannya memburuk. Besok, dia tidak tahu apakah tangannya akan mampu melakukan apa yang diinginkan pikirannya.

Wei Luo mengerecutkan bibirnya. Dia sedikit tersenyum, “Kakak Song Hui lupa. Aku alergi pada hewan berbulu halus. Tidak apa-apa kalau kau ingin memberiku daging kelinci untuk dimakan, tapi aku tidak akan bisa merawatnya.”

Song Hui ingat hal ini setelah dia mengingatkannya. Ketika Wei Luo berusia dua atau tiga tahun, ia sangat menyukai anak kucing dan anak anjing. Sayangnya, setiap kali dia menyentuh jenis binatang ini, tubuhnya akan memiliki ruam yang tidak akan hilang selama beberapa hari. Setelah tabib menemukan alasannya, Wei Kun melarangnya melakukan kontak dengan binatang berbulu. Ada satu waktu ketika Wei Chang Xian membawa kembali anjing kotor dari luar. Wei Luo sangat menyukainya. Dia menyembunyikan anjing itu dari Wei Kun, mencuci anjingnya dengan bersih, dan tidur selama semalam sambil memegang anjing ba er. Keesokan paginya, seluruh tubuhnya dipenuhi dengan ruam. Dia hampir tidak bisa bernapas dan hampir mati. Wei Kun ketakutan saat memikirkannya. Tuan keempat juga menghukum berat Wei Chang Xian.

(T / N: Di bawah ini adalah gambar anjing ba er untuk menunjukkan seberapa halus bulu mereka.)

(T / N: Jika kalian penasaran mengapa Ah Luo tidak memiliki reaksi alergi yang parah terhadap anak anjing hua tiao yang ia berikan kepada Zhao Jie di bab 37, ini karena bahwa anjing jenis ini tidak berbulu seperti kucing atau kelinci

(T / N: Jika kalian penasaran mengapa Ah Luo tidak memiliki reaksi alergi yang parah terhadap anak anjing hua tiao yang ia berikan kepada Zhao Jie di bab 37, ini karena bahwa anjing jenis ini tidak berbulu seperti kucing atau kelinci. Atau, mungkin penulis hanya lupa tentang bab itu.)

Sejak itu, Wei Luo lebih patuh. Dia tidak pernah menyentuh binatang berbulu halus lagi.

Wajah Song Hui merasa malu. Dia dengan sabar berkata, “Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan dengan kelinci itu.”

Wei Luo berkata, “Oke, kalau begitu aku akan menunggu kakak Song Hui untuk berburu kelinci dan memberikannya padaku.”

Di sisi ini, ada suasana yang harmonis dan nyaman di sekitar dua orang ini. Namun, mereka tidak menyadari bahwa seseorang telah datang melalui pintu masuk halaman.

Karena awalnya keluarga kekaisaran yang telah membangun Vila Jing He, Zhao Jie bebas bergerak di dalam vila dan tentu saja, tidak ada yang berani menghentikannya.

Dia berdiri di pintu masuk halaman timur dan mengawasi dua orang yang ada di bawah pohon tong.

Wajah gadis muda itu merah muda karena tersenyum dan dua lesung pipinya bisa dilihat. Dia menatap pria di depannya. Kelopak bunga putih melayang turun dari pohon dan kebetulan jatuh ke bulu matanya. Song Hui membantunya mengambil kelopak bunga dengan ekspresi lembut di matanya.

Chapter 50
Chapter 52

Leave a Reply

Your email address will not be published.