FM 46 – POV Wang Kai

Featured Image

Di zaman dahulu, jika berbicara tentang cinta dan masuk ke kamar tidur orang akan mengatakan niatmu tidak murni dan sekarang, jika kamu masuk ke kamar tidur dan berbicara tentang cinta, orang masih akan mengatakan niatmu tidak murni ………

Wang Kai selalu merasa niatnya sangat murni. Dia seperti seekor singa jantan di dunia hewan. Ketika dia membutuhkan, dia akan mencari wanita dan akan mengganti pasangannya jika dia bosan dengan wanita itu.  Tentu saja, ada perbedaan antara manusia dan hewan. Perbedaannya adalah bahwa manusia itu emosional dan akan melakukan ekspresi romantis sebelum berhubungan s**s. Continue reading “FM 46 – POV Wang Kai”

FM 45(3) – Berbicara dengan pemabuk

Featured Image

Setelah Wang Kai memasukkanku ke dalam taksi, dia juga masuk.  Lalu dia menarikku ke dalam pelukannya. Aku berjuang untuk menjauh tetapi dia menahanku dan berkata. “Jangan bergerak atau kamu akan memukul kepalamu sendiri.”

Dia benar dan aku merasa tidak masuk akal. Jadi, aku dengan patuh bersandar ke lengannya dengan mata tertutup dan berpura-pura tidur.

Wang Kai menyapu rambut dari dahiku dan tiba-tiba berbisik. “Xiao Yan Yan, siapa yang paling kamu cintai?”

Jawabku samar-samar. “Ibu.” Continue reading “FM 45(3) – Berbicara dengan pemabuk”

FM 45(2) – Berbicara dengan pemabuk

Featured Image

Wang Kai terkejut. “Apakah aku salah dengar? Dia homoseksual!”

Aku: “Lalu?”

Wang Kai: “Dia tidak bisa memberimu kebahagiaan.”

Aku: “Aku tidak membutuhkannya.”

Wang Kai: “Mengapa kamu menikah dengannya?”

Aku: “Aku tidak ingin menikah… tapi aku harus … jadi aku menikah.”

Wang Kai menatapku dengan mata membelalak lebar. “Ini tidak masalah denganmu? Lalu mengapa kamu tidak mencariku?  Mungkin aku mengenalmu lebih awal darinya.” Continue reading “FM 45(2) – Berbicara dengan pemabuk”

FM 45(1) – Berbicara dengan pemabuk

Featured Image

Hari berikutnya aku bangun dan melihat jam alarm di atas tempat tidurku menunjukkan jam 9:30 pagi.  Dengan bodohnya aku mengambilnya dan mengguncangnya. Apakah jam itu rusak?

Pada saat ini, Jiang Li datang dan melihatku memegang jam alarm dan mengguncangnya. Dia dengan santai berkata. “Selamat pagi. Oh ya, jam wekermu berbunyi dan aku membantumu untuk mematikannya.”

Aku menjadi marah. “Kamu…..”

Jiang Li melanjutkan dengan santai. “Dan … ponselmu di ruang tamu. Baru saja berdering dan aku juga membantumu untuk mematikannya.” Continue reading “FM 45(1) – Berbicara dengan pemabuk”

FM 44(2) – JL Menyukai Orang Lain

Featured Image

Ketika aku menaruh dua mangkuk mie di atas meja, Jiang Li menepuk kepalaku sebagai hadiah dan berkata.  “Kamu benar-benar perhatian. Mengetahui bahwa aku belum makan malam, kamu sudah memasak begitu banyak.”

“Itu …… Jiang Li …… mangkuk satunya milikku ……”

Jiang Li dengan santai memakan masing-masing sesendok dari dua mangkuk mie dan melirik ke arahku.  “Ada kue di lemari es, rasa cokelat ……. kesukaanmu.” Continue reading “FM 44(2) – JL Menyukai Orang Lain”

FM 44(1) – JL menyukai orang lain

Featured Image

Aku terkejut dan hampir menggigit lidahku.  “Hahh….. apa yang kamu katakan… putus?”

Dia mengangguk dan berkata dengan lemah. “Dia tidak menyukaiku.”

Aku tidak percaya itu.  Berdasarkan pengamatanku, Jiang Li jelas peduli padanya.  Jadi aku bertanya. “Apakah dia secara pribadi memberitahumu bahwa dia tidak menyukaimu?”

Dia menjawab. “Tidak perlu dia katakan.  Aku bisa melihat dengan mataku.” Continue reading “FM 44(1) – JL menyukai orang lain”

FM 43(3)

Featured Image

Jiang Li tidak mengatakan apa-apa. Aku menambahkan, “Satu-satunya yang kurasakan adalah bahwa pria ini membuatku merasa seperti seorang ibu.”

Jiang Li mencibir, “Kamu ingin menjadi seorang ibu sekarang? Aku tidak keberatan membantumu dengan itu. ”

Aku, “Mati saja kamu!!!”

Jiang Li tertawa dan berkata, “Di mana kamu, aku akan menjemputmu nanti.”

Keramahan Jiang Li yang tiba-tiba tidak membuatku merasa benar, jadi aku berkata, “Tidak perlu, dia tinggal di kota, cukup mudah untuk mencari taksi.” Continue reading “FM 43(3)”

FM 43(2)

Featured Image

Sejenak aku takut padanya, para pemabuk itu pastinya yang paling susah dihadapi.  Jadi aku membujuknya seolah-olah dia adalah putraaku dan menepuk punggungnya, aku berbicara dengan suara lembut keibuan, “Anak baik, Jiang Li berkata jika kamu pulang dan berperilaku bik maka dia tidak akan meninggalkanmu.”

Xue Yun Feng menatapku dengan mata besarnya, “Benarkah?” Sepasang mata mabuk itu menatap penuh harap dengan air mata masih menggantung.  Melihat wajahnya dengan air mata berbunga-bunga mengalir, aku benar-benar kasihan padanya, lebih dari yang pernah kurasakan sebelumnya.

Jadi aku menahan keinginan untuk menggigit wajahnya dan berkata dengan penuh harapan, “Ya, benar… Sekarang pulanglah.”  Melihat ke belakang pada saat sebelum aku bersama Jiang Li, aku pikir aku tidak belajar apa-apa selain meningkatkan keterampilan aktingku dengan luar biasa.

Xue Yun Feng menganggukkan kepalanya dengan patuh, “Baiklah, ayo pulang.” Continue reading “FM 43(2)”

FM 43(1)

Featured Image

Di dunia yang rumit ini, ada berbagai tipe orang yang sulit dihadapi.  Beberapa sulit sampai pada titik mengiritasi, seperti Yu Zi Fei; beberapa sulit sampai menimbulkan hasrat membunuh seperti Wang Kai; dan beberapa orang sulit sampai-sampai membuat putus asa, seperti Xue Yun Feng.

Semuanya dimulai dengan Natal yang ‘tidak begitu damai’.

Berbicara tentang 25 Desember, semua orang merayakan Natal sementara Jiang Li merayakan hari ulang tahunnya, yang sebenarnya cukup unik.  Aku bertanya-tanya apakah Jiang Li akan makan malam romantis dengan si cantiknya, Xue Yun Feng.   Demi matanya, aku mengatakan kepadanya bahwa aku memiliki beberapa tugas untuk dijalankan dan akan pulang terlambat, ia merespons dengan sikap skeptis dan tidak pedulinya padaku.  Setelah pulang kerja, aku mengikuti Wang Kai dan ‘menggasak’ makanan darinya, setelah itu aku masuk ke mobilnya dan pergi ke pub mencari kesenangan. Continue reading “FM 43(1)”

FM 42(3)

Featured Image

Jiang Li dengan lembut mengguncang tembikar saat dia tertawa puas. “Apakah kamu tidak mencintaiku? Tidak perlu malu-malu.”  Aku dimatikan oleh sikap narsisnya dan mempertanyakan perilakunya yang aneh. “Bukankah itu hanya vas? Kenapa kamu seperti ini? ”

Jiang Li memijat tembikar dan dari waktu ke waktu dengan lembut mengetuk karakter yang diukir.  Dia mengangkat alisnya dan menyeringai padaku. “Apakah kamu secara pribadi mengukir karakter ini?”

Aku: “Ya, kamu masih belum tahu apa arti kata-kata ini?  Mari, biarkan aku mengajarimu…” Continue reading “FM 42(3)”