FG 163 – Asisten

Featured Image

Namun, putera kedua masih bertahan. Keluarga putera kedua sekarang hidup lebih nyaman daripada sebelum berpisah dari cabang utama. Ini membuat suasana hatinya tidak seimbang.

Terutama pada awal musim semi saat mereka melaut, jumlah ikan yang ditangkap lebih sedikit dari Yu Hai. Jumlah uang yang dihasilkan jauh lebih sedikit, setidaknya setengah dari apa yang Yu Hai dapatkan sebelumnya. Ibunya menyangsikan kemampuannya. Fakta-fakta seperti ini menyadarkan kesenjangan antara dirinya dan Yu Hai.

Dia pergi memancing pagi-pagi, dan mengumpulkan makanan laut pada sore hari. Terkadang, dia pergi keluar tengah malam untuk menggali cacing. Dia bekerja tanpa lelah untuk membuktikan bahwa dia tidak lebih buruk dari Yu Hai. Continue reading “FG 163 – Asisten”

FG 162 – Iri

Featured Image

Di Desa Dongshan, Tuan Muda Ketiga Zhou mempercayai Yu Hai membantunya membeli barang-barang. Tentu saja Yu Hai dibayar. Restoran Zhenxiu memberinya sepuluh persen keuntungan sebagai imbalan. Desa Dongshan bukan satu-satunya desa nelayan di sekitar situ, jadi Restoran Zhenxiu memilih staf yang bertanggung jawab di desa-desa nelayan lainnya.

Makanan laut seperti tiram dan cacing terlalu umum, dan tidak banyak orang yang memakannya, sangat sedikit orang yang mau membelinya. Bahkan dengan akuisisi sesekali, sulit menjualnya dengan harga tinggi. Namun, harga yang ditawarkan Restoran Zhenxiu untuk barang-barang ini lebih tinggi dari harga pasar: sepuluh koin logam untuk satu catty tiram dan dua puluh koin logam untuk cacing.

Meskipun menawarkan harga lebih tinggi untuk cacing, itu hanya sementara untuk obat. Restoran Zhenxiu, di sisi lain, membeli cacing sepanjang tahun. Continue reading “FG 162 – Iri”

FG 161 – Iri

Featured Image

Dengan mata melebar, Yu Xiaocao menatapnya dengan aneh dan berkata, “Ayah baptis, itu tidak diberikan gratis! Aku menginvestasikan seratus tael untuk resep saus tiram, aku merasa mendapatkan dividen dua puluh persen masih terlalu sedikit! Ini adalah sesuatu yang pantas didapatkan. Jika tidak menerimanya, bukankah hanya menguntungkan Tuan Muda Ketiga Zhou?”

Fang Zizhen akhirnya menyadari dia salah memahami. Dia tertawa untuk menutupi kesalahannya dan berkata, “Jadi ternyata itu adalah sesuatu yang pantas kita terima! Putriku sangat cakap. Kamu sudah berinvestasi di usia yang muda. Sangat bagus! Kamu layak menjadi putriku, Fang Zizhen”

Yu Xiaocao khawatir tentang masalah lokasi pabrik, jadi dia bertanya, “Ayah, apakah benar-benar tidak ada yang bisa kita lakukan untuk pabrik saus tiram?” Continue reading “FG 161 – Iri”

FG 160 – Sengaja Mempersulit

Featured Image

Dikagumi puteri angkatnya, Fang Zizhen berkata dengan agak sombong, “Aku kembali tadi malam. Sudah terlambat, jadi beristirahat di kota. Aku pergi ke dermaga pagi ini dan merasa lapar karena mencium masakanmu. Setelah mendengar laporan, aku bergegas. Selama beberapa hari terakhir saat berada di ibukota, aku merindukan masakan puteriku!”

Yu Xiaocao pura-pura menghela nafas, “Ayah, aku tidak tahu kamu kembali lebih awal, jadi aku tidak menyiapkan bahan-bahan yang cukup. Bagaimana ini?”

Fang Zizhen tidak tahan melihat puteri baptisnya sedih, jadi dia segera berkata, “Puteri yang baik, Ayah suka makan apa pun yang kamu buat! Seperti selada saus tiram, ah, terong rebus, telur tumis dan tomat, ah… Ambil saja sayuran dari ladang, dan kau bisa membuat hidangan lezat.”

Continue reading “FG 160 – Sengaja Mempersulit”

FG 159 – Terintimidasi

Featured Image

Dokter Sun tersenyum dan berkata, “Setelah cacing dibersihkan dan dikeringkan, tidak terlalu berat. Klinik Tongren memiliki cabang di ibu kota, kota prefektur, dan beberapa kota di selatan, jadi permintaan cukup tinggi.

Xiaolian memberikan lima hingga enam catty cacing pasir yang ia gali kepada staf penimbang, lalu membawa ember Xiaocao ke depan. Xiaocao khawatir dia akan menjual semuanya, jadi dia buru-buru menghentikannya, “Xiaolian, simpan beberapa untukku. Aku akan membuat pesta cacing untuk makan siang!”

Zhou Shanhu, yang sudah menerima bayaran, datang dan mengerutkan hidungnya saat melihat cacing berdaging dengan jijik. Dia mengerutkan bibir dan berkata, “Apa? Cacing juga bisa dijadikan makanan? Terlihat sangat menjijikkan. Siapa yang berani memakannya?!”

Continue reading “FG 159 – Terintimidasi”

FG 158 – Curang

Featured Image

Zhou Shanhu, sedikit khawatir saat melihat kucing kecil itu jatuh ke air. Dia bertanya pelan, “Xiaocao, bisakah anak kucingmu berenang, tidak akan tenggelam, kan?”

“Tidak akan! Pangsit Ketan Kecil suka berenang! Jangan khawatir!!” Yu Xiaocao melihat anak kucing emas mengayuh dengan cakarnya yang kecil dan hampir mencapai pantai, jadi dia mencari cacing pasir tanpa khawatir. Badan anak kucing emas itu basah, dan keadaannya sangat memalukan.

Batu kecil suci mendengus saat mendekati Yu Xiaocao, yang saat ini menggali cacing pasir. Kucing itu mengguncang tubuhnya dan mencipratkan air laut ke wajah Xiaocao. Kemudian, dia mengangkat kepalanya dan berjalan cepat. Sementara tidak ada yang memperhatikan, ia diam-diam menggunakan kekuatannya mengeringkan rambutnya. Continue reading “FG 158 – Curang”

FG 157 – Cacing Pasir

Featured Image

Matahari semakin tinggi. Angin sepoi-sepoi bertiup dari laut. Pada saat ini, gelombang surut, pekerja dari desa nelayan membawa alat-alat mencari makanan laut bersama teman dan keluarga.

Di musim semi, air laut terasa sejuk dan menyegarkan saat menyapu kaki para nelayan. Laut tanpa pamrih telah memelihara generasi demi generasi nelayan. Banyak harta yang terkandung di laut menunggu digali oleh para nelayan.

“Xiaocao — Xiaocao—” Suara jernih Zhou Shanhu terdengar dari halaman Keluarga Yu. Sosok ramping gadis itu seketika muncul di pintu masuk halaman. Xiaocao dan Xiaolian, yang sibuk bekerja di kebun sayur, menatapnya pada saat bersamaan.

Continue reading “FG 157 – Cacing Pasir”

FG 156 – Mengantar Mereka

Featured Image

Zhao Han memandang Yu Xiaocao sebentar. Begitu pergi ke ibukota, dia tidak yakin kapan melihatnya lagi. Dia akan selalu ingat sosok kurus dan lemah, namun secara bersamaan kuat. Bahkan di lubang penderitaan, gadis kecil itu selalu tersenyum manis, dan dia selalu berhasil membawa harapan kepada orang lain dan menciptakan banyak kejutan … dia tidak tahu apakah dapat melihatnya lagi di masa depan!

Setelah selesai makan, jenderal tua, Zhao Zimo, kembali lebih awal. Zhao Bufan dan Yu Hai menatap bulan bersama saat minum sedikit alkohol. Mata mereka berkabut karena mabuk dan mereka mengobrol sendiri. Bibi Zhao menarik Nyonya Liu ke salah satu kamar untuk mendiskusikan beberapa masalah pribadi.

Setelah Zhao Han dan Yu Hang menyelesaikan pembicaraan, dia melihat Xiaocao sibuk menyingkirkan mangkuk dan sumpit. Akhirnya, dia tidak bisa menahan diri dan berkata, “Xiaocao, apakah punya waktu untuk berbicara sebentar?”

Continue reading “FG 156 – Mengantar Mereka”

FG 155 – Enggan Kembali

Featured Image

Sore hari, Xiaocao pergi ke Nyonya Mao membeli dua bebek. Dia membiarkan darah bebek mengalir ke baskom kecil dan merebus jeroan bebek dan usus babi.

Makanan direbus baru saja selesai dimasak dan aromanya tercium. Ketika kaisar emeritus memasuki rumah, dia menghirup aroma itu. Dia bergumam, “Harumnya pas!” Satu-satunya daging kepala babi direbus yang rasanya asli adalah yang dibuat gadis kecil ini!”

Ketika dia melihat bihun mengering di halaman, dia tertawa, “Aku tahu gadis kecil itu mampu membuatnya! Benar kan?! Gadis, gadis kecil! Tambahkan ‘daging babi direbus dengan bihun’ ke meja!!”

Continue reading “FG 155 – Enggan Kembali”

FG 154 – Bihun

Featured Image

“Kamu terlalu polos! Jika tidak pernah menetapkan batasan, bersiaplah dimanfaatkan! Jika kamu terus seperti ini, aku khawatir istri dan anak-anakmu lebih menderita!” Kaisar emeritus menggelengkan kepalanya karena kecewa. Baginya, Yu Hai seperti sepotong besi yang menolak menjadi baja.

Fang Zizhen memahami hubungan kompleks Keluarga Yu. Dia sedikit mengernyit, “Jika puteri baptisku dianiaya, jangan salahkan aku karena tidak memperingatkanmu! Ketika saat itu tiba, aku akan membawa puteriku ke ibukota untuk hidup nyaman dan memastikan kamu tidak akan pernah bisa melihatnya lagi!!”

Saat Yu Hai mendengar ini, raut wajahnya segera berubah. Dia mulai merasa tidak bahagia. Selama sekitar sebulan terakhir, dia seperti ayah tiri dalam hubungan ini dan Fang Zizhen adalah ayah yang sebenarnya. Setiap kali Fang Zizhen ada, dia merasa harus mengalah. Continue reading “FG 154 – Bihun”