Eliza – Chapter 9: Aku Mendapatkan Seekor Kuda

Featured Image

 

Dengan datangnya musim semi, suasana di kediaman Golden Hills menjadi lebih sibuk. Akan ada perayaan ulang tahunku untuk pertama kalinya dalam empat tahun ini.

Di kerajaan Arxia, ulang tahun seseorang biasanya dirayakan hanya selama tiga kali dalam waktu tertentu dalam satu tahun. (TL: Maksudnya ulang tahunnya tidak dirayakan pada bulan dan hari di mana seseorang itu berulang tahun, namun pada dirayakan pada saat tertentu di 3 waktu tertentu dalam setahun). Setelah memulai menanam di ladang di musim semi, selama bulan purnama dalam hari raya keagamaan di musim panas, atau selama panen di musim gugur. Karena aku dilahirkan pada akhir musim dingin, maka ulang tahunku akan dirayakan setelah selesai menanam di ladang di musim semi. Continue reading “Eliza – Chapter 9: Aku Mendapatkan Seekor Kuda”

Eliza – Chapter 8: Suatu Hari di Musim Dingin

Featured Image

Musim dingin di wilayah Kaldia sangatlah dingin. Meskipun suhu rata-rata dari musim semi hingga musim gugur sejuk, namun kita berada di selatan dari pegunungan tertinggi di sini, Pegunungan Amon Nor, temperaturnya berubah drastis selama musim dingin. Terutama di daerah timur laut, sungai di sana menjadi beku.

Karena wilayah Kaldia bentuknya memanjang dari timur ke barat, umumnya wilayah ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu barat daya dan timur laut, dan desa-desa di wilayah ini lebih banyak berada di wilayah barat daya yang di mana perbukitannya lebih landai. Continue reading “Eliza – Chapter 8: Suatu Hari di Musim Dingin”

Eliza – Chapter 7 – Pulang dari Barak

Featured Image

Berkat dukungan finansial dari Earl Terejia, barak militer didirikan di sini dan tempat pemandian yang besar pun dibuat di dalamnya juga.

Tempat pemandian tersebut dibuat dengan sederhana, dua jenis dari penampungan air disejajarkan di dinding, dan air panas maupun air biasa keluar dari kedua pipa tersebut. Sumber air untuk tempat pemandian ini adalah dari kolam, yang sangat menguntungkanku, dan sumber pemanasnya adalah dari kompor di dapur. Uap air terlihat memenuhi bagian pemandian air panas, jadi aku mungkin bisa menyebutnya pemandian uap.

Untuk madi, kita akan menggunakan baskom dan sebuah ember kecil. Tunggu sampai air di ember kecil mencapai suhu yang tepat, kemudian bilas badan menggunakan itu. Agar dapat digunakan oleh para prajurit yang memiliki luka luar yang terbuka, lavender dimasukkan ke dalam air di penampungan, sebagai cara untuk mendisinfeksikan air.

Karena aku sering muntah ketika aku berada dalam latihan militer, aku biasanya datang ke tempat pemandian ini dua kali sehari.

“Ini hari terakhirku untuk mengucapkan selamat tinggal pada pemandian ini, huh….”

Hari ini adalah hari terakhir dari latihan tiga bulan ku di barang. Itu merupakan waktu yang panjang, namun juga semua terjadi dalam sekejap mata. Aku memeras air yang membasahi baju mandiku, air itu membuatnya berart, untuk membantuku menenangkan diriku sendiri. Baju mandi yang ku pakai cukup tebal jadi tidak akan menjadi transparan meskipun itu menjadi basah, namun hal ini juga sangat menganggu. Akan tetapi, aku tidak dapat mandi sambil bersantai di sini. Meskipun aku hampir berumur enam tahun dan tidak ada yang perlu aku khawatirkan, namun diriku yang merupakan seorang reinkarnasi berkata lain. Selain itu, tampaknya para bangsawan harus menjaga penampilannya sepanjang waktu.

“Jika kau mau melakukan sesuatu sebagai seorang Viscountess, bikin pemandian besar di desa, Charlie.”

Sambil membasuh rambutku, aku menjawab permintaan Kamil “aku akan pertimbangkan” dengan sepenuh hati. Aku berpikir, berapa biaya yang harus dikeluarkan, namun karena aku tidak mengetahui situasi finansial atau anggaran di wilayahku saat ini, aku tidak punya gambaran untuk menghitung semuanya itu.

“Ku pikir tidak akan sulit jika kau mencotoh pemandian seperti yang ada di Pactoshiki.”

“Bagaimana aku menggunakan hal itu sebagai contoh. Pertama-tama, hanya kau yang tahu tentang tempat itu, sebenarnya seberapa banyak hal yang kau ingat mengenai tempat itu?”

Tempat yang baru saja disebutkan oleh kamil adalah sebuah negeri yang berada jauh di selatan. Aku berpikir, berapa banyak sih orang Arxia yang pernah mendengar nama Pacthoshiki. Karena Nyonya Marshan tahu banyak hal, makanya aku pernah mendengar nama tempat tersebut darinya, namun kenapa Kamil tahu tentang tempat yang jauh dan terpojok seperti itu.

“Ummm… kau benar juga sih. Karena ayahku berasal dari sana, dia mengajarkan semua hal tentang tempat itu dengan detil.”

Sambil tertawa dengan keras, Kamil tiba-tiba menyiramkan seember kecil air hangat kepadaku. Wajahku kecipratan banyak sekali air, dan ketika aku melototinya secara refleks, dia memandang balik padaku dengan wajah yang nampak feminim dan ekspresi tidak bersalah seakan-akan dia tidak melakukan apa-apa. Orang sialan ini, dia berpura-pura tidak tahu, meskipun dia baru saja mencipratkan air ke muka ku, kau benar-benar mencari masalah! Dengan kekanak-kanakan, aku mengembalikan hadiah darinya dengan meyiramkan semua air di dalam baskom ku ke arahnya.

“Dasar sialan, menyiramkan air sebaskom itu gak adil!”

“Ini kan karena Charlie yang mulai!”

“Yang mulai menyiram duluan itu kau!”

Teriakan dan jeritan di pemandian hanya berlangsung sesaat. Tinjuan tanpa rasa ampun turun dari atas kepalaku sampai-sampai aku melihat bintang dari mataku.

“Kalian ini sangat menjengkelkan, dasar kalian bocah bodoh!”

Tinjuan tadi berasal dari Gunther yang baru saja datang untuk mandi tanpa sepengetahuanku. Ada urat nadi yang terlihat di jidatnya, dan suara marahnya bergema di dalam pemandian. Sebagai pemimpin militer yang terkenal karena tidak pernah menahan diri meskipun pada pasukan yang paling muda, dan dengan auranya yang terlihat seram yang sesuai dengan jabatannya…… dia, dia benar-benar amat sangat menakutkan.

“Ma- maaf.”

“Bocah kumu ini pikir dia akan kembali menjadi ke kehidupan bangsawannya besok, dasar tolol. Sebaiknya kau tidak melunak padaku. Aku akan tetap bertanggung jawab atas latihanmu besok dan seterusnya.”

Aku tidak sengaja melihat ke arah Gunter dengan ekspresi terkejut dan bodoh. Besok dan seterusnya, ku pikir, apakah itu artinya dia akan resmi menjadi instruktur bela diriku. Tapi yang kudengar dari Earl Terejia bahwa aku akan mulai belajar ilmu berpedang seremonial untuk para bangsawan. Kamil yang berada tepat di sebelahku, meskipun beberapa saat yang lalu dia masih saja ribut, tiba-tiba dia terlihat rileks dan bertanya kepadaku dengan suara nyaring.

“Oi, ada apa dengan mukamu.”

“Gunther-san, apa kau bisa menggunakan ilmu pedang untuk para bangsawan?”

“Hah? Emang itu ada gunanya apa? …………..Ah, sepertinya seseorang telah dipanggil dari Ibu Kota untuk mengajarimu ilmu berpedang yang gemulai.”

Jadi apa maksud dari semuanya… selain harus menderita dari latihan berat Gunther, aku juga akan dapat instruktur untuk ilmu berpedang ceremonial. Tanpa sadar aku menjadi sedikit sedih, dan bahkan Gunter mengancam dengan mengatakan, “Jika kau berani mempermalukan dirimu sendiri dan muntah di depan bangsawan lemah yang datang dari Ibu Kota, Aku akan membuatmu mengerti apa artinya kematian itu.”

Raut wajahnya itu, seperti, ummm…. Nio Guardian1? Dari ingatan kehidupanku sebelumnya yang semakin memudar dari hari ke hari, aku tiba-tiba teringat patung Budha. Terlebih lagi, aku mengingatnya dengan jelas.

Ketika aku kembali ke kediaman Golden Hills esok paginya, Nyonya Galton dan Nyonya Marshan bergegas lari untuk menemuiku. Apa benar bahwa aku dijadikan bahan lawakan sebagai prajurit dalam latihanku! Pada dasarnya, suasana yang mengancam tiba-tiba mendekatiku. Di satu sisi, aku merasa bahwa ini lebih menakutkan dari wajah Gunther sebelumnya.

“Saya berpikir bahwa mungkin Anda akhirnya dapat beristirahat, namun membayangkan bahwa nona muda masih harus melalui hal yang mengerikan!”

Keduanya tidak melakukan apapun selain meratapi kehidupanku di barak, membesar-besarkan segala sesuatunya dan menangisi semuanya, dan yang lebih disesali, Earl Terejia yang sebelumnya pergi meninggalkan kediaman untuk melakukan inspeksi di sebuah desa kembali pada saat ini. Tidak peduli apapun yang dia katakan untuk mencoba menenangkan mereka, bereka tetap terus menangis, terlebih lagi kata-katanya seperti menyiramkan minyak ke api. Sungguh menyedihkan, sungguh menyedihkan, mereka terus mengulangi kata-kata ini lagi dan lagi, namun karena aku sendiri merasa puas dengan hasil yang kudapat selama tinggal di barak, ada perbedaan besar dalam benakku dan kedua wanita ini mengenai hal ini.

“Untuk mewarisi posisi sebagai Viscountess, aku percaya bahwa penting untukku untuk belajar kemampuan untuk memimpin prajurit wilayahku. Apakah itu salah?”

“Itu….”

“Ahhh nona muda, Eliza-sama, omong kosong apa yang Anda katakan. Anda adalah seorang gadis. Tidak terbayangkan oleh saya bahwa Anda harus memimpin sebuah pasukan. Setelah Anda lulus dari sekolah, Anda harus segera menikah, dan tidak masalah untuk menyerahkan semua pekerjaan penguasa wilaya kepada mempelai lelaki Anda.”

Aku merasa terlalu lelah untuk menenangkan mereka, jadi aku hanya berbicara apa adanya tentang apa yang aku rasakan.

Meskipun Nyonya Marshan masih tetap diam, Nyonya Galton terus menangis dan malah bertambah buruk dan mulai menjawab balik semua perkataanku. Menilai dari ekspresi wajahnya terlihat pilu, seakan-akan baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan, dia sungguh menolak pemikiran bagi seorang wanita untuk mengangkat senjata. Aku tau bahwa berdasarkan sejarah di wilayah Kaldia ini, wanita hanya dianggap sebagai aksesoris untuk menunjukkan kehebatan seorang lelaki, namun aku tidak menyangka bahwa Nyonya Galton, yang berasal dari wilayah lain, memiliki pemikiran yang sama.

“…..Ya, itu benar juga. Meskipun urusan untuk mengangkat senjata adalah tugas dari seorang lelaki, dan wanita biasanya hanya membantu suami mereka dan menyerahkan hal yang berkaitan tentang menjalankan kekuasaan suatu daerah kepada mereka, namun hal ini bukanlah suatu hal yang selalu menjadi pilihan yang terbaik, Nyonya Galton. Sebuah Tanggung jawab harus dijalankan tidak peduli apakah dia itu pria atau wanita.”

Di Arxia, anak-anak bangsawan diberikan edukasi yang sama tanpa memandang jenis kelamin, dan karena adalah suatu kewajiban bagi para bangsawan untuk lebih pintar daripada rakyat biasa, mereka pada akhirnya akan diharuskan untuk masuk ke sekolah untuk wajib belajar. Namun, keluarga kerajaan juga menghapuskan posisi ratu, dan memang benar, masyarakat dipimpin oleh laki-laki. Namun, meskipun begitu, wanita diperbolehkan untuk mewarisi gelar kebangsawanan sesuai dengan wilayahnya, dan ada juga pegawai negeri wanita yang juga mengabdi di istana.

Mengajar juga bukanlah suatu profesi yang hanya terbuka bagi laki-laki. Bagi Nyonya Marshan, yang telah bekerja sebagai guru bagi bangsawan dan juga di lembaga pemerintah sebelumnya dan sekarang bekerja sebagai guru pribadiku, mungkin dia menganggap sudut pandang Nyonya Galton tidak dapat diterima.

“DI Greenfield, jika seorang wanita bekerja, maka itu adalah bukti bahwa lelakinya itu tidak berguna!”

“Akan tetapi hal itu tidak berlaku di Ibu Kota Kerajaan. Karena, para wanita bukanlah aksesoris bagi para pria semata.”

“……. Karena hal yang sedang diperdebatkan ini berhubungan denganku, ku mohon jangan bertengkar. Bagaimanapun juga, memperdebatkan hal ini juga dapat dianggap melecehkan kaum wanita?”

Meskipun pada akhirnya Nyonya Marshan berhasil menenangkan Nyonya Galton, aku merasa terabaikan karena sebenarnya semua ini awalnya kan tentang diriku. Karena Earl Terejia dan bahkan sekretarisnya, Bellway, telah pergi bekerja lagi untuk memperkuat pasukan, jika hal ini kembali memanas, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Karena kedua wanita itu saling melotot ke arah lawan mereka ketika Nyonya Marshan sedang memberikan pelajaran, pada akhirnya masalah ini dari permukaan terlihat sudah selesai.

“Saya tidak akan berdebat berkenaan dengan masalah ini lagi, namun aku akan mengajukan komplain kepada Earl-sama mengenai nona muda.”

Meskipun Nyonya Galton nampaknya masih memendam rasa marah dan selesai berbicara, orang yang bertanggung jawab melemparkanku ke barang sebenarnya adalah Sang Earl yang sedang mereka bicarakan. Aku dapat melihat bahwa akan sia-sia saja berbicara kepada sang Earl, namun aku tidak bisa mengatakan ini kepadanya. Jika Sang Earl menolaknya Nyonya Galton secara langsung, mungkin saya, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

 

catatan:

  1. Niō (仁王) or Kongōrikishi (金剛力士) adalah dua penjaga Buddha  yang terlihat marah dan berotot yang sekarang banyak didirikan di banyak pintu masuk dari banyak kuil Buddha terutama pada aliran Buddha Asia Timur dalam bentuk patung yang terlihat seperti pergulat yang menakutkan.

Eliza – Chapter 6 – Persoalan Mengenai Negeri Tetangga

Featured Image

Gandum-gandum berwarna emas yang luar biasa, dan juga gandum hitam telah dipanen, musim dingin yang sunyi akan segera menggantikan akhir musim gugur di wilayah Kaldia. Latihanku selama tiga bulan dalam menu latihan hampir berakhir, aku juga tidak sering muntah lagi seperti sebelumnya. Tiap hari, aku berjalan dengan sebuah pacul untuk membajak yang tingginya melebihi diriku, namun untuk saat ini, pacul itu juga terlalu besar untuk dapat aku ayunkan. Ini adalah sebuah latihan yang aneh yang dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan fisikku.

Continue reading “Eliza – Chapter 6 – Persoalan Mengenai Negeri Tetangga”

Eliza – Chapter 5 – Ini adalah latihan dasar

Featured Image

“Jangan biarkan sisimu terbuka!”

Bersamaan dengan suara marah yang tak kenal ampun, pedang kayuku terlempar dari tanganku. Partner latihanku, Gunther, dia tidak menahan dirinya sama sekali. Sambil memegang pergelangan tanganku yang masih mati rasa karena syok, aku mengucapkan terima kasih padanya dengan sopan. Continue reading “Eliza – Chapter 5 – Ini adalah latihan dasar”

Eliza – Chapter 4 – Bayi Draconis

Featured Image

Hari-hari dimana aku masih tidak boleh pergi keluar dari kediaman atau taman terus berlalu seperti biasanya dengan kegiatan yang sama tiap harinya.

Di pagi hari, Nyonya Galton akan membangunkanku dan membantuku mengganti pakaian lalu dilanjutkan dengan doa pagi hari, lalu aku pergi sarapan bersama di ruang makan. Nyonya Marshan lalu akan mengajariku berbagai mata pelajaran sampai siang hari, lalu istirahat dan makan snack, lalu berolahraga di taman jika cerah, atau membaca jika cuacanya buruk, lalu membasuh badanku dengan air hangat sebelum makan malam, dan akhirnya melakukan doa malam sebelum tidur. Continue reading “Eliza – Chapter 4 – Bayi Draconis”

Eliza – Chapter 3 – Menguping di Pagi Hari

Featured Image

Beberapa hari telah berlalu sejak ulang tahunku yang kelima.

Saat ini adalah pagi hari yang tersisa dari awal musim semi. Ini bukanlah waktunya untuk Nyonya Galton untuk datang membangunkanku, namun, aku telah terbangun mungkin karena aku merasakan sesuatu. Sebuah keramaian terjadi di dalam kediamanku, aku dapat mendengar para orang dewasa mendiskusikan sesuatu dengan suara rendah. Aku bergegas mengganti pakaian tidurku dengan pakaian sehari-hari dan meninggalkan ruangan dengan berhati-hati. Keadaan di lorong masih sedikit gelap dan dingin.

Continue reading “Eliza – Chapter 3 – Menguping di Pagi Hari”

Eliza – Chapter 2 – Lautan Emas

Featured Image

Dua tahun telah berlalu. Dalam kurun waktu dua tahun, wilayahku telah berubah banyak. Di luar jendelaku, yang aku dapat lihat di luar pagar, adalah tanaman gandum yang berayun seperti gelombang. DIa telah melakukan pekerjaan dengan cukup baik hanya dalam jangka waktu dua tahun, ini adalah hal aku pikirkan, Earl Terjia bisa bangga dengan apa yang telah dia raih.

Karena kezaliman yang dilakukan oleh Keluarga Kaldia, sumber daya masyarakat terus digerus hingga mencapai batasnya. Karena ketakutan terbesar dari ayahku yang cetek adalah pemberontakan, dia telah menindas rakyatnya dengan berlebihan. Jika mereka tidak bekerja di ladang, maka mereka akan mendapatkan pemasukan yang lebih sedikit. Bahkan orang bodoh pun dapat melihat bahwa hal seperti ini akan membawa petaka bagi diri sendiri.

Continue reading “Eliza – Chapter 2 – Lautan Emas”

Eliza – Chapter 1 – Sop Beracun

Featured Image

Rasanya bukanlah seperti kehilangan kesadaran, namun lebih seperti kegelapan memenuhi isi kepalaku.

Tanpa keraguan, aku memasukan Hemlock ke dalam panci sop. Aku tidak mengetahui ekspresi wajahku ataupun kemana mataku memandang ketika aku melakukan hal itu. Sambil memakai sarung tangan kulit yang ukurannya lebih besar dari tanganku, aku merasa ingin tertawa dengan penampilanku saat itu.

Continue reading “Eliza – Chapter 1 – Sop Beracun”