MBK 20. Mengencani Elle

Featured Image

[JOANNA]

Kemudian Matheus keluar dari kantornya secara tiba-tiba. Aku memilih untuk pergi dan berdiam diri di penthouse sejak aku tidak benar-benar ingin pergi kemana pun. Aku memilih berenang sampai aku lelah. Setelah lelah berenang kembali dan keluar aku duduk di tepi kolam renang. Aku merasa bosan.

Aku mengambil napas panjang. Aku rindu Matheus. Yeah. Itu normal, ku pikir, ini adalah kali pertama sepanjang waktu aku tak bersama dengan Matheus.

Aku pergi ke kamarku dan mengganti pakaianku. Aku menatap phonsel untuk waktu yang lama, mencoba untuk memberanikan diri untuk menghubungi Matheus. Pada akhirnya aku menghubungi nomor Henrico.

“Hai, Adik kecil!” Henrico menjawab dengan penuh semangat.

“Hai! Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik. Kenapa kau tak di sini? Matheus tiba lebih cepat dengan suasana hati yang buruk. Tak seorang pun berbicara dengannya sampai sekarang.”

“Oh. Aku hanya harus melakukan sesuatu.”

“Lalu kenapa kau menelepon?”

“Aku hanya mengecek.”

“Bisa kulihat. Dia baik-baik saja. ku pikir dia merindukanmu, itu kenapa dia menjadi tidak masuk akal.”

“Jangan mulai denganku, Henrico.”

“Aku mengatakan kebenaran. Dia menatap kamarmu untuk beberapa menit sebelum dia masuk ke dalam kamarnya. Ketika aku menyapanya, dia menatapku seolah dia akan membunuhku.”

“Apa yang kau pikir salah dengannya?” Aku memberitahu padanya apa saja yang terjadi pagi ini di kantor dan bagaimana kami bertengkar mengenai revisi pada desain.

Well, hanya ada satu alasan, Joanna.”

“Apa?”

“Dia cemburu.”

“Apa? Kenapa?” Aku bertanya tanpa rasa bersalah.

“Ayolah, adik kecil. Tidakkah kau pikir dia terpesona olehmu?”

“Tidak, aku tidak berpikir demikian.”

“Terserah padamu untuk percaya atau tidak.” Dia terdengar sedikit marah denganku, ku pikir. “Baiklah, lalu jangan percaya kalau begitu, tapi begitu ada pria di sekitarmu, dia akan selalu seperti itu.”

Aku mengerang dengan frustasi. “Okay, Kakak, sampaikan salamku pada Camila dan Luiz. Aku merindukanmu.”

“Akan kulakukan, adik kecil.”

“Tunggu.” Dia hampir menutup telepon. “Apa kau punya nomor Elle?”

“Oh. Si lesbian?”

“Dia bukan lesbian,” ujarku membela. Seperti biasanya.

“Aku tidak memilikinya. Kau bisa bertanya pertanyaan itu pada Grace.”

“Baiklah. Terima kasih.”


Aku berbaring di atas tempat tidur untuk waktu yang lama. Menatap langit-langit da memikirkan apa yang Henrico katakan barusan.

Mungkinkah itu terjadi? Akankah dia benar-benar menyukaiku? Apa dia benar-benar menjadi cemburu? Apaaaa?

Ku pikir aku menjadi gila karena ini.

Aku memutar badan dan kemudian, memilih untuk menghubungi Grace untuk meminta nomor Elle. Ketika aku mendapatkan nomornya, aku mengiriminya sebuah pesan.

To : Elle
Hai, Elle. Bisakah kita makan siang bersama besok? Aku merindukanmu –Joanna.

Elle membalas sesaat kemudian.

From Elle:
Hai, Joanna. Say, 11 siang? Aku akan menjemputmu.

To Elle:
Tentu. Sampai jumpa.

Keesokan harinya aku memilih untuk mengenakan celana jeans dengan beberapa sobekan, tank top putih, flat shoes, dan sebuah coat terang. Aku tidak ingin mengenakan dress. Aku tahu Elle akan mengenakan pakaian tomboy seperti kebiasaannya. Tepat saat aku selesai mengenakan make up, ketika Elle menelpon. Aku berjalan turun untuk melihatnya di tempat parker. Aku benar, dia mengenakan pakaiannya yang biasa.

Kami makan di restoran didalam Central Park. Kami mengelilingi Central Park, dimana itu membuatkubenar-benar senang. Setelah bertahun-tahun bekerja di New York, ini adalah pertama kalinya aku berada di Central Park. Ini adalah surge di jantung Manhattan. Kami berjalan dan berbicara layaknya teman lama.

“Terima kasih, Ella. Aku bosan di penthouse. Dan meskipun jadwalmu sibuk, kau membagi waktu luangmu untukku.”

“Abaikan itu, Joanna. Aku senang menemanimu. Aku satu-satunya anak gadis di keluargaku dan aku tumbuh dengan dua orang saudara laki-laki yang sangat over protektif hingga aku nyaris tak memiliki teman. Aku senang kita bertemu.”

“Oh ya, aku bertemu dengan kakakmu Miguel. Dia adalah laki-laki pada kencan buta yang Henrico atur untukku. Apa kau tahu itu?”

“Benarkah?” tanyanya, terkejut. Itu bagaimana aku mendeskripsikan reaksinya.

“Tidakkah kau senang aku mengencani Miguel? Maaf, aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Itu adalah ide Henrico.” Aku merasa panik sekarang.

Elle mengangkat tangannya, mencoba menenangkanku. “Tidak. Apa yang ku maksud adalah, aku tidak bisa percaya Miguel berkencan. Aku bahkan tidak tahu bahwa Miguel ada di sini.”

Kami duduk di sebuah bangku panjang dan melanjutkan pembicaraan. “Apa seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu?”

“Tidak juga. Miguel sudah pergi selama bertahun-tahun. Tapi aku tahu dimana pun dia berada dari Marco. Tapi sekarang aku tahu bahwa dia di sini, tiba-tiba aku merada bersemangat untuk bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya, Joanna.” Sekarang dia menangis. Mataku ikut berkaca-kaca. “Ku pikir dia tidak siap berbicara dengan Ibu dan Ayah. Kadangkala, aku tidak mengerti mereka. Tapi aku tahu di dalam hatiku bahwa orang tuaku juga merindukannya. Sangat.” Dan sebutir air mata jatuh dari matanya. “Aku melihat Ibu menangis di beranda Mansion kami. Tatapannya jatuh pada kolam renang. Kami sering bermain di sana ketika kami masih kecil.”

Aku hanya terus mendengarkannya.

“Setelah Miguel melarikan diri, keluarga kami tidak pernah lagi sama. Itu kenapa aku menjaga jarak. Aku membenci Miguel karena melarikan diri. Aku membenci Marco karena mengambil tempatnya. Aku membenci Ibu dan Ayah karena tidak mencarinya. Tapi setelah sekian lama, aku mengerti banyak hal. Hanya saja sangat sulit untuk kembali bersama. Untuk menjadi sebuah keluarga sekali lagi.”

Aku mendekatinya dan memeluknya. Aku tidak mengatakan apa-apa. Kadangkala, sebagai seorang teman, semua yang butuh kau lakukan hanyalah mendengarkan.

“Maafkan aku, Joanna.”

“Tidak. Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. percayalah pada keluargamu.”

Rasanya sangat tidak biasa melihat Elle seperti itu. Mungkin itulah alasan kenapa dia tumbuh seperti itu. Ku pikir dia cukup kuat. Tapi seperti orang lain, kita semua memiliki sisi lemah.

Dia menghapus air matanya dan tersenyum padaku. “Jadi bagaimana kencan itu berlangsung?”

“Sebenarnya itu menakjubkan.” Kemudian aku menceritakan padanya apa yang terjadi selama kencan itu berlangsung, kecuali kesalahpahaman yang di buat tidak lain oleh Henrico. “Lalu, dia mengirimiku bunga pagi ini.”

Wow! Benarkah? Secepat itu?” Dia terlihat senang.

Yeah, dan sebuah undangan untuk sebuah pameran pada hari selasa.”

Dia terdiam untuk beberapa saat.

“Ku pikir itu akan menjadi waktu yang tepat untuk bertemu dengan Miguel. Kau harus datang dan mengundang keluargamu.”

Dia menghela napas. “Aku juga berpikir begitu. Lalu apa yang terjadi kemudian? Apa kau bilang ya?”

Yeah, aku mengiriminya sebuah pesan, berterima kasih padanya dan mengkonfirmasi kedatanganku di acara. Kemudian ada Matheus, bertingkah sangat aneh. ” Aku juga mengatakan padanya apa yang Matheus lakukan. “Apa yang kau pikir salah dengannya? Itu sangat aneh.”

Dia menyeringai.

“Apa?” Aku sekali lagi merasa panik.

“Itu tidak aneh. Hanya normal untuk merasa cemburu.”

Aku mengerutkan kening. Maksudku, benar-benar mengerutkan kening.

“Bukan sesuatu yang tidak mungkin,” tambahnya.

 

BMK 19. Pertengkaran
BMK 21. Gaun Merah

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.