BMK 37. Sehari bersama Joanna

Featured Image

[MATHEUS]

Kami terbangun lebih awal keesokan harinya dan kembali pulang ke penthouse. Kami tiba di penthouse dan menyiapkan keperluan masing-masing untuk bekerja. Aku sedang mengingat kembali dalam pikiranku hal-hal yang harus ku lakukan hari ini. Aku sangat lelah sejak aku bekerja sampai tengah malam sabtu kemarin dan dengan penutupan acara, aku tidak dalam suasana hati untuk bekerja.

Aku di dalam kamarku dan Joanna mengetuk pintu. Aku membuka pintu dan melihatnya tersenyum. Ku kira dia menginginkan sesuatu.

“Sayang,” dia berjalan mendekatiku. Dengan tatapan anak anjing itu lagi.

“Ya, Sayang?” tanyaku, membalas senyumnya.

Aku duduk di sisi tempat tidurku dan dia duduk di atas pangkuanku. “Bisakah aku menciummu?” tanyanya. Aku merasa seperti dia menginginkan sesuatu.

“Jangan menggodaku,” ujarku memperingatinya.

Dia mencium hidungku.

“Apa yang kau inginkan, Sayang?” Aku menariknya ke tempat tidur sampai aku berada di atasnya.

Dia terkikik seperti anak kecil. “Hei! Tunggu!” Dia masih tetap tertawa.

Aku melemparkan banyak ciuman padanya dan aku bisa mendengar dia tertawa dan terkikik di setiap tempat.

“Hentikan, Sayang.” Dia masih tersenyum.

“Apa yang kau inginkan, Sayang?” Lalu aku mulai menciumnya dalam. “Apa kau ingin bergabung denganku kamar mandi?” Aku menggodanya sekali lagi.

Dia menyeringai. “Bukan itu, Sayang.”

“Lalu apa ini?” Dia sangat manis di mataku.

“Bisakah kita sarapan dulu sebelum kita pergi ke kantor? Aku tidak suka makanan yang di pesan. Aku akan memasak untukmu sarapan yang enak. Kumohon?”

Aku berpura-pura sedang berpikir. “Tapi kita punya banyak hal yang harus diselesaikan di kantor.”

“Kumohon, Sayang?” ujarnya, dengan tatapan anak anjing.

Aku berseri-seri. Aku menciumnya sekali lagi. “Bagaimana aku bisa menolak sarapan enak?” Wajahnya semakin gembira. Itu sangat berharga.

Aku mengambil phonselku dan menghubungi nomor Clark.

“Clark, aku dan Joanna tidak bekerja hari ini. Batalkan semua janjiku. Terima kasih.”

Aku menutup telepon.

Dia melemparkan dirinya padaku. “Yeay! Aku mencintaimu.”

Hari menjadi sangat menakjubkan. Aku memberi seluruh pekerja uang dan mengirim mereka keluar dari penthouse dan meminta mereka untuk kembali besok. Aku ingin menghabiskan seluruh hari bersama Joanna.Kami memulai hari dengan sarapan yang baik yang di masak olehnya. Lalu kami tinggal di ruang bioskop untuk melihat beberapa film bagus. Kami duduk di sandaran kursi saat Joanna berbaring di bawah ketiakku. Aku memeluk tangannya saat menonton Titanic.

Kadang-kadang, aku mencium keningnya dalam. Aku menatapnya dan memberinya banyak ciuman kecil, ciuman yang manis.

Matahari hampir terbenam ketika kami berencana untuk melakukan aktivitas favorit kami. Berenang.

Kami berlomba dan dia selalu menang. Baiklah, dia benar-benar perenang yang baik. Aku menangkapnya di sudut kolam renang.

Dia terkikik.

Aku menciumnya penuh gairah. Aku menatap matanya. Aku bisa melihat kebahagiaan di dalamnya. Aku bisa melihat kepuasan hati padanya. Joanna adalah seorang wanita yang menakjubkan dengan caranya. Dia aneh, tapi pada akhirnya, ada banyak hal menakjubkan tentangnya.

“Sayang,” bisikku.

“Hmm…”

“Terima kasih.” Aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.

“Kenapa kau mengatakannya?” tanyanya dengan polos.

“Karena kau membuatku kembali bahagia, cintaku. Aku sangat bahagia.”

“Tidak, Matheus. Kau sekarang bahagia karena kau memilih untuk bahagia.”

“Kau selalu bersikap sangat sabar.”

“Karena aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, Sayang.”

Lalu kami berciuman, penuh perasaan, sangat dalam.

Saat matahari terbenam kami b******a di pinggir kolam renang. Dengan penuh cinta, nafsu, gairah, dan keinginan. Aku tidak pernah mencintai dan b******a dengan seorang wanita pun seperti aku melakukannya dengannya.

Ini adalah hari yang berharga bersama dengannya.

Setelah percintaan panjang, kami beristirahat di pinggir kolam renang dan melihat bulan keluar.

Aku mencium keningnya. “Aku mencintaimu.”

Dia tersenyum. “Sayang,” ucapnya.

“Hmm.” Aku masih menatap rembulan.

“Tolong bawa aku ke kamarmu.”

Aku tersenyum dan menyetujuinya. Bahkan jika dia keras suatu waktu, dia manis dan aku masih menerimanya.

Kami mandi bersama. Dan karena kami telah lelah untuk keluar dari kamar, dia memilih mengenakan pakaianku.

Lalu kami tidur dengan saling berpelukan.

Sebuah hari yang harus selalu diingat.


AN: ini chapter terakhir yang bisa Dee up karena harus menunggu author MBB buat ngelanjutin lagi. Terima kasih sudah mampir ???

BMK 36. Sayang

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

6 thoughts on “BMK 37. Sehari bersama Joanna”

  1. Yahh :(( aku nungguin nihh. Salam buat authornya sama penerjemah semoga bisa lanjut ?? cerita bagus banget. Semangat!! ??

Leave a Reply

Your email address will not be published.