BMK 35. Aku Mencintainya

Featured Image

[MATHEUS]

Joanna memasakkan makanan khas Cina saat makan malam. Rasanya sangat lezat, seperti biasa.

Aku sudah tidak sabar karena tidak bisa mendekatinya. Ibu selalu bersamanya. Aku ingin memeluknya, berbicara padanya dan tertawa dengannya.

Ayah, Henrico dan aku sedang membicarakan proyek Filipina di ruang kerja ketika Joanna tiba dengan beberapa cangkir kopi. Dia meletakkan kopi-kopi itu di atas meja dan pergi meninggalkan ruangan. Aku menatapnya hingga dia menghilang dia di balik pintu.

Henrico menyadari apa yang kulakukan, seperti biasa.

“Aku bisa memintanya untuk tidak meninggalkan ruangan,” godanya.

Aku lantas menatapnya lekat-lekat.

Ayah menyadari, dan mengatakan, “Nak, kuperhatikan, akhir-akhir ini kau seringkali bersikap aneh terhadap Joanna? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan pada kami?” Aku tahu Ayah sangat sensitif  terhadap topik mengenai Joanna. Tanganku berkeringat dingin. Aku sekarang mengerti bagaimana perasaan Marco ketika dia meminta izin untuk mengencani Joanna.

Dan Henrico. Well, dia menikmati pertunjukan. Seperti biasa.

“Aku dan Joanna selalu memiliki sebuah hubungan cinta-benci saat bekerja. Apa yang aneh dengan itu?” Aku tidak ingin mengatakan pada mereka tentang kami sekarang.

Ayah menatapku dengan tegas. Aku merasa seperti dia berencana untuk membunuhku. Dan sejujurnya, itu benar-benar membuatku takut.

“Aku tidak membesarkanmu menjadi seorang penipu, Matheus!” Ayah mengatakannya dengan tegas.

“Baiklah, aku mencintainya!” Sejujurnya, itu membuatku bernapas lega.

Ada keheningan yang sangat panjang dan canggung di dalam ruangan. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Dan bahkan jika Henrico mengharapkannya, mungkin dia tidak berharap aku mengatakannya secepat dan sepasti ini.

“Jadi apa rencanamu, Matheus.” Ibu bertanya. Aku tidak menyadari bahwa dia sebenarnya berdiri dibelakangku.

Aku tidak berbicara.

“Ibumu bertanya padamu.” Ayah mengucapkannya dengan tegas.

Aku menghela napas dalam-dalam. “Baiklah, biarkan aku membuat ini menjadi jelas. Aku mencintainya.” Aku tiba-tiba tersenyum. “Dan sejujurnya, mengatakan ini pada kalian membuatku merasa bebas. Tapi tolong, biarkan aku membuatnya perlahan. Biarkan kami melakukan ini dengan cara kami sendiri, tolong.” Oh! Aku tidak ingin mereka mengganggu dan hanya merusak segalanya. “Joanna dan aku telah menyadarinya. Aku ingin yang terbaik untuknya. Aku ingin kami berkencan ke suatu tempat tapi aku tidak bisa menyeretnya ke kehidupan sosialku.”

“Tapi kalian berasal dari budaya yang berbeda?” Henrico mengutarakan pendapatnya.

Aku menatap mata mereka da nada keraguan di dalamnya.

“Tidakkah kalian menginginkan Joanna untukku?” tanyaku. Merasa sangat cemas dengan reaksi mereka.

“Oh, kami tidak bermaksud seperti itu.” Ibu ikut campur. “Aku tahu ini adalah apa yang menjadi perhatian ayahmu juga. Kami khawatir bagaimana jika ini tidak berhasil, kau akan kehilangan hubungan baikmu dengannya.”

Aku mengerti. Aku juga takut.

“Ibu, Ayah, sejujurnya kami belum tahu apa yang harus dilakukan. Kami baru saja menyadarinya. Satu hal yang pasti, ini adalah kebahagiaan yang kurasakan setelah dua tahun yang lalu. Aku yakin dia juga bahagia. Jadi tolong, jangan ikut campur. Biarkan kami melakukannya dengan cara kami sendiri. Ku mohon.”

Lagi, ada keheningan yang panjang.

Ayah berbicara, “Baiklah, aku akan membiarkanmu melakukannya dengan caramu.”

“Terima kasih, Ayah.” Aku merasa lega.

“Tapi tolong Matheus, jangan melukainya sekali pun. Aku tidak akan ragu untuk mencabut hak warismu.” Katanya sebelum keluar. Aku tahu Ayah sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Ibu berbicara, ”Aku berharap kau mengerti Ayahmu. Joanna, sudah seperti putri kami. Jadi tolong jangan menyakitinya.”

Aku menganggukan kepala.

Ibu berjalan keluar.

Hanya tinggal aku dan Henrico.

“Apa?” ejekku.

Henrico berdiri dan berjalan mendekatiku. “Kak, aku senang untukmu. Mengakui pada dirimu sendiri bahwa kau mencintainya, itu adalah peningkatan kepercayaan diri. Tolong jaga dia.”

Dan aku ditinggalkan sendiri di dalam ruangan.

Beberapa menit kemudian, Joanna berjalan masuk ke dalam ruang kerja.

Dia tersenyum padaku ketika dia melihatku sendirian. “Hei, dimana semua orang?”

Meskipun aku khawatir dengan apa yang baru saja terjadi, senyumnya membuang semua rasa khawatirku.

Aku meraihnya dan membuatnya duduk di atas pangkuanku. Aku menciumnya.

“Aku mencintaimu.”
“Matt, keluargamu mungkin saja masuk. Mereka akan memergoki kita.”

Aku tersenyum dan menciumnya lagi. “Jangan khawatir, mereka sudah tahu.”

BMK 34. Ayo Pergi ke Paris
BMK 36. Sayang

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.