BMK 34. Ayo Pergi ke Paris

Featured Image

 [MATHEUS]

Aku terbangun sambil memandangi Joanna, dan memperhatikan wajahnya di pagi hari. Anak rambutnya jatuh di wajahnya. Aku hanya menatapnya saat mendengar dengkuran kecilnya. Dia bergerak sedikit dan terbangun beberapa saat kemudian. Aku hanya menatapnya saat dia perlahan membuka matanya.

Dia tersenyum. Sungguh pemandangan yang indah. “Selamat pagi,” sapanya padaku.

“Selamat pagi, Joanna.” Aku menciumnya. Kami melakukannya tiga kali semalam. Aku tidak bisa merasa cukup akannya. Aku tahu dia lelah hari ini.

“Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin kita tetap berbaring di tempat tidur sepanjang hari? Aku bisa membuatkanmu sarapan yang benar-benar enak.”

Dia tersenyum. “Kita berdua tahu kau tidak bisa membuat sarapan yang enak.” Dia mencoba untuk bangun, tapi aku menariknya kembali ke tempat tidur. “Matt, aku akan membuat sarapan kita.”

Aku memeluknya dengan erat. “Tolonglah,” Aku memberinya tatapan anak anjing, itu berhasil setiap waktu. “Ayo hanya berbaring di tempat tidur sebentar. Kumohon?”

“Tapi kita butuh makan. Aku kehilangan semua tenagaku,” dia terkikik.

“Lima belas menit.” Aku bernegosiasi.

“Kau benar-benar seperti anak manja. Kemari!” Dia membuka lengannya dan memelukku.

Aku memeluknya dan hanya menatapnya. dia benar-benar cantik dan matanya berkilauan. Kebahagiaannya mencapai hatiku dan itu benar-benar perasaan yang menakjubkan.

Kami saling berpelukan ketika phonselku berbunyi. Aku meraihnya dan melihat itu adalah Ibu.

 “Bu?”

“Matheus, hari ini adalah hari minggu, bukankah seharusnya kau kemari?” Ibu bertanya dari seberang sambungan.

“Oh ya, aku ingat ini hari minggu.” Aku menjawab sambil menatap Joanna.

“Dimana Joanna, aku telah menghubunginya tapi dia tidak menjawab.” Dia bertanya dengan tidak sabar. Aku menatap pada Joanna, mencoba bertanya padanya apa yang harus kukatakan. “Joanna?” Joanna langsung memberi tanda padaku untuk mengatakan pada Ibu bahwa dia masih tidur. “Mungkin dia masih tidur.”

“Baiklah. Lalu apa sekarang, Matheus? Ayahmu dan Henrico telah menunggumu.”

Sejujurnya aku tidak ingin meninggalkan rumah. Aku suka menemani Joanna. Aku ingin tetap tinggal di tempat tidur dengannya.

“Bu, kami akan kesana dalam beberapa jam. Okay? Sampai jumpa.”

Aku menutup telepon.

“Lihat?” Joanna menyeringai. “Ayo bangun.”

Aku menarik punggungnya. Dan menciumnya.


Sebelum waktu makan siang, kami telah sampai di mansion. Kami menyapa Ibu, Ayah dan adikku Henrico.

“Kalian berdua terlihat bahagia hari ini. Apa kami melewatkan sesuatu?” Henrico, dengan sikapnya yang menjengkelkan seperti biasa.

Well, semalam kita berhasil. Penandatanganan kontrak itu sukses. Apa kita perlu merayakannya?” jawabku.

“Itu akan menyenangkan. Bagaimana kalau liburan sebelum kita resmi memulai proyek. Hanya beberapa hari.” Ibu menyarankan.

“Itu akan menyenangkan,” komentar Ayah. “Lagi pula, aku selalu ingin kita memiliki liburan keluarga. Aku bahkan tidak ingat kapan terkahir kali liburan bersama.”

“Paris adalah tempat yang menakjubkan untuk liburan.” Henrico menyarankan. Seperti biasa, dia mencoba untuk menggangguku lagi.

“Oh ya, aku suka Paris. Itu adalah tempat yang menakjubkan untuk berbelanja, iya kan?” seru Ibu.

Ketiga lelaki di dalam ruangan hanya tersenyum. Baiklah, Ibu selalu menginginkan waktu belanjanya. Well, kecuali untuk fakta bahwa tidak ada dari ketiga lelaki itu yang pergi dengannya.

“Itu kenapa kadang kala aku berharap memiliki seorang anak perempuan.” Ibu mengatakannya dengan kecewa. “Tapi ngomong-ngomong, Joanna, akan menemaniku berbelanja kali ini.”

Kami semua menatapnya. “Oh, apa aku seharusnya bergabung?” Joanna bertanya dengan polos.

“Tentu saja,” kami semua menjawab bersamaan.

“Aku tidak akan pergi ke Paris tanpamu.” Aku mengucapkannya dengan tegas dan yakin.

Mereka semua menatapku.

Oh sialan! Apa aku bersikap berlebihan?

“Tentu kau akan ikut bersama kami, Joanna.” Ibu mengatakannya dengan baik. Terima kasih, Bu.

Tapi Henrico memberiku tatapan, ada-sesuatu-yang-harus-kau-katakan-padaku.

Seperti biasa.

 

BMK 33. Cintai Aku
BMK 35. Aku Mencintainya

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.