BMK 32. Perlombaan

Featured Image

[JOANNA]

Dia berdiri dengan tubuh tegapnya yang seksi. Tubuh kokohnya berdiri tepat dihadapanku.

Untuk sesaat, aku tidak bisa bernapas.

Apa dia disana sepanjang waktu?

Dia berjalan mendekatiku dan menyerahkan jubah padaku.

Aku menerimanya. “Terima kasih,” lalu aku berjalan ke arah pintu menuju tangga.

“Ayo berlomba!” Dia mengucapkannya dengan suara sedikit keras.

Aku membalik tubuhku dan menatapnya tanya.

“Apa?” tanyaku. Aku tahu dia akan berubah menjengkelkan.

“Ku bilang, ayo melakukan perlombaan.”

“Aku minta maaf, tapi aku benar-benar sudah lelah.” Sejujurnya, aku tidak dalam suasana hati yang baik. Tidak ingin melakukan apa pun. Bahkan untuk mendekatimu. Kataku pada diriku sendiri.

“Joanna, tolonglah.” Dia mengucapkannya dengan lembut.

Oh, aku tida bisa menolak itu.

“Baiklah,” aku menjatuhkan jubah dan kami menempatkan diri di sisi lain kolam renang.

“Empat putaran?” tanyanya.

Aku menganggukkan kepala.

Aku mendengarnya menghitung dan tubuh kami masuk ke dalam air. Aku hanya berenang dengan baik dan tidak memikirkan kehadirannya. Aku tahu aku berenang terlalu cepat dibandingkan biasanya. Aku meraih sisi lain kolam renang untuk putaran terakhirku. Ketika aku keluar dari air, aku melihat Matheus tersenyum dan menatapku lekat.“Aku menang.” Dia tersenyum sinis menatapku. “Pertama kalinya,” dia berjalan menjauh dan meraih jubahku. Dia memberikannya padaku.

Aku hanya terdiam. Aku benar-benar tidak memiliki suasana hati yang baik.

“Terima kasih,” aku menerima jubahnya dan memakainya di tubuhku. “Putaran yang bagus.” Aku hanya tersenyum dan berjalan keluar dari area kolam renang.

“Berapa nilai yang kudapatkan?”

Aku berhenti, mencoba memahami apa yang Matheus coba katakan padaku. Aku berbalik menatapnya, mencoba yang terbaik dariku untuk memberi atasanku sebuah senyum. “Kita akan mendiskusikannya besok.” Aku berbalik dan melanjutkan langkahku menuju pintu.

Aku berjalan cepat, tapi dia menahan tanganku. “Joanna, apa kita punya masalah?”

Aku menatapnya lekat. Mataku menjadi panas, aku tahu air mataku bisa jatuh kapan saja. “Matheus, tolong. Aku hanya ingin pergi tidur dan beristirahat. Tolong.”

“Joanna, tolong katakan padaku. Aku tidak bisa membaca pikiranmu.” Suaranya kembali mulai meningkat.

“Apakah sulit dimengerti? Aku lelah!”

“Apa yang kau maksud dengan lelah?” Aku tahu dia bingung.

Air mataku jatuh. Campuran dari emosi. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa ku tahan, jadi aku mengatakannya. “Aku secara fisik, lelah secara emosi. Aku lelah padamu dan suasana hatimu yang tidak masuk akal yang harus kuhadapi. Aku lelah melakukan segalanya untukmu. Aku lelah menghadapi keanehanmu. Aku lelah untuk mengerti dirimu. Satu waktu kau baik, lalu tiba-tiba kau menjadi marah. Apa sebenarnya masalahmu, Matheus?” Aku tahu air mataku terus menerus, seperti air terjun. “Karena seperti katamu, aku juga tidak membaca pikiranmu!”

“Karena aku selalu ingin kau disekelilingku.”

“Kapa aku pernah meninggalkanmu?”

“Lalu, kenapa kau berencana pergi ke Paris bersama Miguel?”

“Apa?” tanyaku, bingung. Kenapa nama Miguel tiba-tiba disebut? “Dia mengundangku. Dia mengajakku untuk berlibur dengannya? Apa masalahnya dengan itu?”


[MATHEUS]

Aku mengepalkan telapak tanganku. Aku tahu aku ingin meninju sesuatu. “Karena aku cemburu!” Aku mengatakannya di sana. Aku bisa melihat kebingungan dari mata Joanna. “Karena aku tidak ingin kau menjadi semakin dekat dengan Miguel. Tidak bahkan seujung rambutmu. Dan itu membunuhku, setiap waktu aku melihatnya memegang punggungmu, mencium pipimu, atau membuatmu tersenyum! Sialan! Aku benci kau keluar dengan Miguel atau laki-laki lain di planet ini!”

Joanna mengusap air matanya sambil berusaha memahami setiap kata yang kuucapkan. Dia akan membuka mulutnya ketika aku berbicara.

“Aku ingin kau selalu bersamaku sepanjang waktu. Sialan! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku minggu itu ketika kau tidak pulang bersamaku ke mansion. Aku semakin menggila memikirkan kau mungkin saja keluar bersama Miguel.” Aku menariknya dan memeluknya. Erat.

“Kau tahu aku tidak melakukannya,” ucapnya, merasa menyesal.

Aku melepaskannya. “Aku tahu.” Aku tersenyum dan menyeka air matanya. “Joanna, tolong jangan meninggalkanku. Jangan pergi kemana pun tanpaku.”

Dia tersenyum. “Aku tidak akan.” Dia mencubit pipiku. “Seperti anak yang konyol dan keras kepala.”

Aku tersenyum. Merasa senang bisa begitu dekat dengannya.

 

BMK 31. Berenang di Malam Hari
BMK 33. Cintai Aku

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.