BMK 28. Aku akan pergi ke Paris

Featured Image

[JOANNA]

Aku tidak bisa percaya bagaimana Matheus bertindak di dalam acara. Kami tidak saling berbicara ketika kami berada dalam mobil. Aku tidak ingin bertanya padanya. Mungkin aku hanya merasa lelah, terkuras secara emosional dan hanya ingin pergi tidur.

Ketika kami tiba, aku membiarkannya membuka pintu untukku. Dia menggenggam tanganku sampai kami tiba di lif. Ketika kami berada di dalam, dia menggenggam tanganku sepanjang waktu. Begitu erat. Seolah dia tidak akan membiarkanku lepas.Ketika kami sampai di lantai kami, aku menarik tanganku agar terlepas. Aku benar-benar tidak dalam suasana hati untuk beradu argumen.

“Terima kasih, Matheus,” ucapku. Tapi dia tidak melepaskan tanganku. Meski aku menyadari dia telah tenang sekarang. “Aku akan tidur sekarang. Terima kasih.”

“Joanna, bagaimana bisa kau membiarkan dia meletakkan gambarmu pada mahakarya itu?”

“Tolong, Matheus. Biarkan kita beristirahat dulu. Kita telah memiliki hari yang sangat panjang hari ini dan kita memiliki banyak hal untuk dipersiapkan untuk acara upacara penyerahan besok. Jadi tolong, aku tidak memiliki energy untuk sebuah pertengkaran.” Tapi dia masih menahan tanganku.

“Kenapa kau tidak menjawabku?” tanyanya, hampir berteriak.

“Karena aku tidak tahu!” Sekarang aku juga berteriak.

“Bagaimana bisa kau tidak tahu?” tanyanya, suaranya terdengar terganggu.

“Karena aku hanya melihat potongan itu di sana.” Aku menjelaskan dengan sedikit kesabaran yang tersisa dariku.

“Apa?” Sekarang adalah versi menjengkelkan dari Matheus.

“Karena dia bermaksud membuatku terkejut.”

“Dan kau benar-benar menyukainya?” tanyanya, penuh sarkasme.

“Apa kau buta? Bukankah itu indah?”

Dia terdiam, tapi masih menahan tanganku.

“Bisakah aku tidur sekarang?” Aku mengucapkannya dengan suara rendah.

“Joanna, kukatakan lagi, aku hanya memberi izin untuk kebaikan Marco dan Elle, tapi kau tidak diizinkan untuk bertemu laki-laki itu lagi.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak menginginkannya?!” Sekarang dia berteriak lagi. Aku bisa melihatnya sekali lagi mengepalkan tinjunya.

Tapi, aku adalah orang yang keras kepala. “Aku akan bertemu siapa pun yang ingin kutemui. Kau tidak bisa memutuskan pada siapa aku berteman. Aku tidak tahu kenapa kau membencinya. Aku bahkan tidak mengerti kenapa kau merengut sepanjang waktu. Tapi, apa pun itu aku akan pergi dengan Miguel ke paris, terserah kau menyetujui izin cuti atau tidak.”

“Paris?”

Oh, sial! Kenapa aku mengatakan itu. Jelas sekarang adalah waktu yang sangat buruk. “Miguel mengajakku ke Paris.”

“Dan, apa jawabanmu?”

“Ku bilang aku akan meminta persetujuanmu.”

“Lalu katakana padanya ini tidak disetujui. Jika kau ingin pergi ke Paris, aku akan membawamu ke Paris.” Apa yang baru saja dia ucapkan? Apa dia berkata dia akan membawaku ke Paris?

“Bukan seperti itu. Kau tidak mengerti, Matheus.”

“Ini final, kau tidak akan pergi ke Paris bersama Miguel.”

Pada akhirnya kami hanya berputar-putar. “Aku akan pergi ke Paris, terserah kau suka atau tidak.”

“Jangan menentangku, Joanna, tidak saat ini, atau-”

Aku tidak membiarkannya menyelesaikan ucapannya. “Atau apa? Kau akan memecatku? Kau akan mengirimku kembali ke rumah? Aku tidak lagi takut, Matheus. Aku sudah sangat lelah, aku hanya ingin memiliki tidur malam yang baik. Jika kau ingin memecatku, biarkan aku sampai besok, jadi aku bisa membereskan barang-barangku dan kembali pada orang-orang yang benar-benar peduli padaku!”

Aku menarik keras tangaku, pergi ke kamarku dan membanting pintu dibelakangku.

Aku segera berganti pakaian sambil menangis dan menangis hingga tertidur.

BMK 27. Aku akan Membawamu Pulang
BMK 29. Teman Minum

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.