BMK 24. Menikmati Lake Castle Resort

Featured Image


[JOANNA]

Aku tiba-tiba terbangun dengan sebuah ciuman di keningku. Aku membuka mataku secara perlahan untuk melihat siapa yang memberi ciuman itu. Matheus.

“Sarapan di tempat tidur.” Dia tersenyum. Dia masih mengenakan piyama dan sando* yang memeluk tubuh putihnya. Dia terlihat seperti sudah mandi. Dia meletakkan sarapan-di atas-meja tempat tidur saat aku duduk.

[*Sando – di Filipina merupakan sebutan untuk bawahan dari pakaian olah raga]

“Hai Matheus, selamat pagi. Maaf karena terlambat bangun. Seharusnya aku yang mempersiapkan sarapan. Bukannya kau.”

“Tidak apa-apa, Joanna. Kau selalu melakukannya, biarkan aku memiliki kehormatan dengan melakukannya untukmu.”

Aku tersenyum dengan gerakannya. Dia terlihat sangat tampan saat meletakkan semua barang itu. Sebenarnya dia nampak imut. Dia luar biasa berbeda dengan Matheus yang ku kenal. Imut. Manis. Perhatian. Memesona. Memikat. Mudah dicintai? Romantis?

Tunggu. Kenapa dia bahkan melakukan ini?

“Joanna?” tanyanya, berhenti tiba-tiba.

“Ya. Maaf, aku hanya teringat akan sesuatu.”

Sarapan itu terasa sangat lezat, meskipun itu adalah sarapan yang biasa kami makan. “Berenang setelah ini?”

Aku tersenyum. “Tentu!”

“Maaf, aku tidak membawamu ke pantai. Aku tahu seberapa banyak kau menyukainya.”

“Ini cukup bagus. Aku suka ketenangan ini. Sangat tenang. Terima kasih untuk ini.”

“Tidak. Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu.” Dia menatap lurus pada mataku.

Aku bisa melihat bahwa dia sangat tulus dengan perkataannya. “Ini semua adalah liburan gratis. Tapi sungguh, terima kasih telah memberikannya padaku.”

“Tapi aku lebih dulu bertanya pada Gina, kita hanya akan berjalan sedikit dan kita bisa sampai ke pantai. Ini masih masuk dalam kawasan penginapan.”

“Benarkah?” tanyanya bersemangat.

“Yup. Kita bisa berenang nanti.”


[MATHEUS]

Saat itu sore hari ketika kami memutuskan untuk berenang di pantai terdekat yang termasuk dalam kawasan resort. Dia mengenakan pakaian renang tanpa tali berwarna peach. Dia terlihat sangat cantik mengenakannya.

Tapi lebih dari daya tarik yang dimilikinya, senyumnya lah yang selalu menarik perhatianku.

“Hei!” Dia berteriak ketika mendekatiku. Dia datang setelah berenang dengan baik di pantai. Dia sangat menyukai pantai. Dia suka berenang.

“Bagaimana?”

“Ini menyenangkan. Aku merasa lapar sekarang,” ujarnya, menatap layaknya anak anjing ketika berkata dia lapar.

Ku pikir itu imut. Maksudku, manis. Ahm… Apa yang kupikirkan.

“Baiklah, ayo pergi ke vila sekarang dan memesan beberapa makanan.”

Wajahnya terlihat gembira, dia bertingkah seperti anak kecil. “Yehey! Ayo pergi?”

Kami berjalan bergandengan tangan menuju vila dengan bersemangat. Ketika kami tiba, kami memesan makan malam kami dan membersihkan diri kami.

Kami berada di tempat yang sama di beranda, berbicara tentang kehidupan kami, saat makanan tiba. Kami memutuskan menikmati makan malam kami di lantai. Dia sibuk berbicara ketika meletakkan makanan di mejaku. Aku sedang makan ketika dia melanjutkan ucapannya.

“Aku selalu menyukai pantai,” serunya bersemangat, seakan ini adalah pertamakalinya dia mengatakan seberapa dia menyukai pantai.

“Aku bisa melihatnya,” ujarku, tersenyum dan melanjutkan makan.

“Dan adik-adikku, kami selalu berlomba di pantai. Aku selalu menang, aku heran kenapa?”

Karena mereka selalu membiarkanmu menang. Pikirku dalam hati. Tertawa keras. “Karena kau seorang perenang yang baik,” kataku menimpali.

“Baiklah, sejujurnya, aku benar-benar perenang yang baik.”

Aku masih mendengarkan ceritanya dan merebut sepotong besar kue basah coklat. Ya, ini benar-benar kue basah dalam sebuah makan malam. Dia memintanya, dengan tatapan anak anjingnya yang biasa. Dan aku tidak bisa menolaknya.

Ngomong-ngomong, aku mengambil sebuah gigitan.

“Hei!” serunya, tiba-tiba menghentikan cerita tentang hidupnya dan mengambil sebuah tisu. “Kau tidak seharusnya merebut sebuah gigitan seperti itu,” katanya mengerutkan kening saat menyeka coklat beku di wajahku. Aku tersenyum. Sebuah gerakan yang manis.

“Apa ada sebuah cara yang tepat untuk memakan kue basah?” tanyaku, mencoba mengganggunya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya, masih mengerutkan kening. Manis. “Tapi ini terlalu banyak. Hmmp!”

Aku tidak bisa menahan diriku, meraihnya dan menciumnya. Dia nampak terkejut. Seperti biasa. Itu hanya sebuah ciuman kecil ringan yang manis.

Dia memukul lenganku. “Kenapa kau melakukan itu?”

Aku tertawa dan mencubit hidungnya. “Karena kau sangat manis.”

Dia menahan senyumannya. Aku tersenyum dan menciumnya lagi. “Ayolah, biarkan kita menonton sebuah film.”

“Tidak, aku akan meletakkan benda-benda ini di dapur.”

“Tinggalkan saja di sini. Pegawai hotel akan mengurusnya besok.”

“Tidak, aku tidak bisa tidur saat tahu bahwa benda-benda ini tidak berada di tempat yang tepat.”

“Baiklah.” Aku membantunya membawa dan membersihkan sisa makan.

Dia bahkan bersikeras untuk menyiapkan barang-brang kami, jadi kami tidak perlu melakukannya besok. Dia menyiapkan pakaian yang akan kami kenakan keesokan harinya. Aku membayangkan dia melakukannya layaknya tugas seorang istri. Aku tersenyum memikirkannya.

Tiba-tiba aku berhenti membayangkannya ketika sebuah bantal terlempar di wajahku.

“Hei! Untuk apa itu Nona Castillo?”

“Apa yang kau tertawakan? Kau terlihat bodoh,” ujarnya, berseri-seri dan berjalan mendekatiku.

“Karena aku membayangkan kau melakukannya layaknya seorang istri yang melakukan tugasnya.”

Well, aku melakukannya untuk adik-adikku. Pria kekurangan kemampuannya dalam mengatur.” Dia tertawa dengan heboh.

“Hei, itu tidak lucu.”

“Aku bercanda.” Dia berbaring di tempat tidur, menatap televisi. “Ayo menonton sekarang.”

Aku tersenyum, mencoba merangkak menuju dirinya dan duduk di atasnya. Aku ada di atasnya dan membuat wajahku semakin dekat. Aku tahu dia menjadi sangat gugup dengan posisi kami. Dia terlihat sangat naïf. Lucu, aku hampir ingin tertawa dengan keras. Dia terlihat sangat-sangat mengerikan. Aku menciumnya ringan, mencoba menggodanya.”Bisakah kita melakukan tugas suami istri sebagai gantinya. Ini lebih menarik dari pada film.” Aku berbisik bergairah padanya.

“Apa maksudmu,” tanyanya polos.

Aku tidak bisa menahan diriku dan menertawakannya. Aku mencubit pipinya dan menjauh dari atasnya. Syukurlah, aku masih bisa mengendalikan diri. Berkat kelucuannya.

“Apa yang lucu?” tanyanya, reaksinya masih sama polosnya.

“Kau sangat manis. Ayo kita menonton film lagi.”

 

BMK 23. Tidur disampingnya
BMK 25. Mengundang Elle

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.