BMK 22. Satu Syarat

Featured Image

[JOANNA]

Aku hampir ingin membunuhnya. Aku duduk di kursi kantorku dan mencoba menenangkan diriku. Aku menatap tas kertas dimana Elle meletakkan gaunnya. Aku memeriksanya, itu adalah sebuah gaun berwarna merah. Aku tersenyum memikirkannya.

Aku menatap layar komputerku, mencoba berkonsentrasi pada beberapa hal yang harus ku tahu. Kepalaku sakit memikirakan apa yang baru saja Matheus katakan padaku. Acara itu penting untuk Miguel. Bukan hanya untuknya, tapi juga seluruh keluarganya.

Aku menarik napas dan berjalan lurus ke kantor Matheus. Dia nampak terkejut ketika dia melihatku.

“Bisakah aku mengganggu sebentar?” Aku bertanya baik-baik. Aku menyadari bahwa dia juga nampak tenang.

“Duduklah.”

Aku pun duduk. “Apa yang bisa kulakukan untuk mengubah pikiranmu?”

“Tentang apa?”

“Tentang membuatku dan keluarga Montes dalam satu tempat.”

“Kenapa?”

“Karena Marco dan Elle adalah temanku. Dan temanmu, kan?” Aku mulai merasa terganggu. 

Dia terdiam beberapa saat. Aku mencoba menerka pada apa yang dia pikirkan.

Dia menatap lurus mataku. “Aku akan memindahkan penyerahan proyek pada hari sabtu, dengan satu syarat.”

“Setelah semuanya, biar aku mendengarnya.” Sejujurnya, aku gugup dengan syaratnya.

“Kau akan menghabiskan satu hari penuh denganku.”

Aku menatapnya aneh. “Apa?”

“Kau akan menghabiskan satu hari penuh denganku.” Dia benar-benar aneh sekarang.

Untuk beberapa alasan, aku tersenyum. Apa itu kilig? “Kenapa?”

“Apa aku harus menjelaskan segalanya padamu? Ambil atau tinggalkan.”

“Baiklah,” Aku menghela napas panjang. “Aku juga punya satu syarat.”

“Apa?” tanyanya, sekarang dia terlihat jengkel. 

“Tidak di dalam penthouse, di pantai.” Yeah. Aku suka pantai. Membuatku tersenyum. “Dan bukan perjalanan yang terlalu mahal.”

“Itu tiga syarat, Joanna.” Oh, itu nama depanku.

“Apalah!” Aku bersikukuh. “Kapan itu akan dilakukan?”

“Besok.” Dia memutar kursi putarnya padaku. Aku bersumpah aku melihatnya tersenyum.

“Apa?” 

Dia kembali berbalik. “Kenapa kau tetap bertanya seolah kau tak mendengar apa yang kukatakan?”

Okay.” Aku menarik napas dan membuat senyum yang sangat kecil. Aku bersumpah itu sangat kecil. “Aku akan membuat reservasi. Apa kau punya pilihan?”

“Tidak perlu. Seseorang akan melakukannya untukmu.”

“Tidak perlu meminta Grace. Aku bisa melakukannya.”

“Ini bukan Grace.” Dia menghubungi nomor Grace. “Grace, bawa dia masuk. Dan tolong bawa kontraknya.”

Aku mengerutkan kening dan tak bisa menebak. Pintu terbuka dan seorang pria dengan setelan abunya masuk bersama Grace. Aku belum pernah bertemu dia sekali pun. Dia terlihat memuaskan dan memesona tapi tidak benar-benar setampan itu. Well, jika dibandingkan dengan Matheus.

“Terima kasih Grace,” Matheus menyetujui berkasnya. Grace berjalan keluar. “Ngomong-ngomong Joanna, ini adalah Clark. Clark, ini adalah Joanna.”

Dia mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu, Joanna.”

“Sama-sama.” Aku tersenyum pada Clark dan segera berbalik pada Matheus, memberinya tatapan siapadia?

“Dia adalah asisten pribadi yang baru. Dia yang akan menggantikanmu.”

Aku tahu aku memberinya tatapan WTF, tapi aku sungguh-sungguh ingin tertawa keras. Benar-benar seorang asisten pribadi laki-laki?! “Jadi, kapan aku harus keluar dari penthouse?”

“Kau tidak akan keluar. Dia tidak tinggal di dalam penthouse. Dia hanya akan bertemu kita dikantor.” 

Aku ingin untuk bertanya lebih banyak tapi aku mengabaikannya. “Baiklah, lalu?”

“Kau harus menandatangani ini.” Aku meraih kontraknya dan membacanya. Setelah menandatanganinya, aku mengembalikannya pada Matheus.

“Aku akan mengatakan padamu kemana untuk memindahkan barang-barangmu. Yang maksudnya adalah kau harus memberikan sedikit tempat di dalam kantor untuk Clark. Kau harus memberitahu dia dasar-dasarnya. Kita hanya akan mengaturnya setelah perjalanan kita.” Perintah Matheus.

“Baiklah, Pak. Ada yang lain?”

“Tidak ada. Kau bisa pergi. Clark, tetap tinggal sebentar. Kita akan berbicara tentang sesuatu.”

Aku berjalan keluar dan meninggalkan mereka.

Ketika aku membuka pintu, Henrico juga sedang berjalan.    

“Hei, adik kecil!” Dia memelukku. Bahkan jika aku tidak melihat Matheus, aku tahu dia terganggu dengan kehadiran adiknya.

Aku berbisik pada Henrico. “Hei Kak, kita ada di dalam kantor.”

Dia balik berbisik, “Aku benar-benar tidak peduli.”

Dia masuk dan melihat Clark. Matheus memperkenalkannya. Tawa Henrico meledak.

“Serius?” tanya Henrico mengonfirmasi.

“Ya.” Dia nampak terganggu lagi. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Well, aku kemari untuk memintamu datang ke pameran lukisan Miguel.”

Matheus mengerang.”Baiklah. Aku akan.” 

“Aku tahu Joanna akan menjadi pasangan Miguel. Dengan siapa kau akan datang?” Henrico sedang memprovokasinya. Aku berharap aku bisa membunuhnya sekarang. Apa Henrico tahu kakaknya adalah seorang bertemperamen-pendek?

“Itu bukan urusanmu.”

“Baiklah, sampai jumpa Matheus.”

 

 

BMK 21. Gaun Merah
BMK 23. Tidur disampingnya

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.