BMK 21. Gaun Merah

Featured Image

[JOANNA]

Ketika aku tiba di penthouse, aku berjalan lurus menuju kamarku. Aku sedang meletakkan tasku di nakas ketika mendengar suara ketukan di pintu.

Aku membuka pintu dan Matheus di sana dengan tatapan ganasnya.

“Ya, Tuan Gomes?”

“Kapan kau sampai? Aku pergi kemari untuk makan siang bersamamu! Jadi sekarang, katakan padaku, kemana saja kau barusan?”

Sekarang, bukan waktu yang tepat untuk menjadi marah juga. “Tidak perlu sampai berteriak, Tuan Gomes. Aku hanya pergi keluar bersama Elle.”

Dia terdiam dan berjalan pergi.


[MATHEUS]

Aku tidak bisa menjelaskan perasaan yang kurasakan setelah mengetahui dia bersama Elle. Aku pikir dia bersama Miguel. Aku menghubungi nomor Grace.

“Ya, Tuan Gomes,” jawab Grace.

“Panggil HR besok dan katakan pada mereka untuk menyewa seorang asisten pribadi secepat mungkin.”

“Di catat, Tuan Gomes.”

“Asisten pribadi yang baru tidak akan tinggal di penthouse.”

Aku tahu Grace mencoba untuk menguraikan apa yang kukatakan, tapi pada akhirnya setuju. “Baiklah, Tuan Gomes.”

“Satu hal lagi, aku menginginkan asisten pribadi laki-laki.”

“Apa Anda berkata ‘laki-laki’, Tuan Gomes?”

“Ya. Seorang asisten pribadi laki-laki yang tidak terlalu menarik.”

Dia bingung sekarang.”Baiklah, Tuan Gomes.”

Ketika mengakhiri panggilan, aku menjatuhkan tubuhku pada tempat tidur. Aku berpikir lebih dalam mengenai alasan aku bahkan menginginkan seorang asisten pribadi laki-laki yang tidak terlalu menarik.

Apa aku khawatir Joanna akan menyukainya? Sialan! Kenapa juga aku harus peduli?

Tepatnya, mengapa aku menjadi sangat peduli? Sialan! Apa yang sebenarnya kurasakan? Mengapa aku berbicara dengan diriku sendiri seperti orang gila?

Hari-hari berlalu sebagaimana kami melakukannya. Kami berenang bersama, sarapan dan semuanya. Sebagaimana kegiatan rutin yang sama, kecuali bahwa, kami tidak memiliki sedikit pun percakapan.

Hari selasa pagi ketika kami tiba di kantor. Aku meminta Joanna membuatkan kopi sebelum aku masuk ke dalam ruanganku.

Beberapa waktu kemudian, Grace masuk dan memberitahu, “Tuan Gomes, Marielle Montes ingin bertemu dengan Anda.”

Aku tersenyum dan menjawab, “Biarkan dia masuk.”

Elle berjalan masuk, dia tampak santai seperti biasanya. “Hai! Senang bertemu denganmu.”

Dia berjalan mendekat dan memelukku. “Senang bertemu denganmu juga.”

Aku membimbingnya pada ruang tamu. “Duduklah.” Dia duduk pada sofa dan aku duduk disampingnya. “Aku belum berterima kasih padamu sampai sekarang atas pekerjaanmu yang berhasil dengan baik pada Joanna. Terima kasih, Elle.”

Dia nampak berseri-seri. “Sudahlah, sungguh. Aku menyukainya. Aku bersamanya minggu kemarin dan benar-benar menyenangkan mengenalnya.”

Jadi, itu benar. Kenapa aku bahkan berpikir bahwa Joanna berbohong? “Jadi, apa yang sudah kulakukan hingga mendapat kunjungan ini?”

“Sebenarnya aku datang untuk memberikan gaun ini pada Joanna.” Dia menunjuk pada tas kertas dengan nama tokonya.

“Aku melihatnya. Untuk apa itu?”

“Sebuah gaun merah untuk pameran lukisan Miguel.”

Aku tahu. Wajahku menjadi suram hanya dalam sedetik. Sebelum aku bisa berbicara, Joanna masuk ruangan dan kami memutar kepala kepadanya.

“Ini dia!” Ekspresi Elle sangat bersemangat. “Hai! Aku membawakanmu ini.” Dia memberikan tas itu pada Joanna.

Joanna meletakkan kopi pada meja sebelum dia menerima tas kertas itu. “Untuk apa ini?”

“Itu akan menjadi gaun yang harus kau kenakan pada pameran Miguel. Ngomong-ngomong, aku berbicara pada Miguel dan Ibu dan Ayah, dan kami akan pergi kesana sebagai keluarga dalam pameran. Aku mengerjakan pekerjaan PR. Itu akan benar-benar menakjubkan.”

“Wow! Senang mendengarnya,” balas Joanna.

“Ngomong-ngomong, Mat,” dia berbalik menatapku. “Aku mengharapkanmu ada di sana. Joanna adalah pasangan Miguel pada malam itu, jadi lebih baik kau membawa orang lain.”

Sialan.

Elle melanjutkan,”Oh, aku harus pergi. Aku hanya kemari mengantarkannya. Senang bertemu dengan kalian berdua.”

Ketika Elle berjalan keluar, aku menggerakkan kursi putarku jengkel. Joanna meletakkan kopi pada mejaku.

“Kopi Anda, Tuan Gomes.”

Dia sedang berjalan keluar ketika aku angkat bicara. “Mengapa kau setuju menjadi teman kencannya? Kau bahkan tidak bertanya padaku?” Sialan! Suaraku terdengar seperti omelan seorang suami demi kebaikan seluruh umat manusia.

“Aku minta maaf, Tuan Gomes, tapi aku berencana untuk mengatakannya padamu tentang ini. Tapi Elle mengatakannya lebih dulu. Aku pikir akan baik-baik saja dengan Anda. Apa ada yang salah dengan itu?” Ekspresinya setenang saat ia mengucapkannya padaku. Aku tahu ia juga sedang menahan amarahnya.

Tak ada yang salah dengan itu. Ini masalahku. Aku bersikap seperti ada sesuatu yang salah dengan itu. Hell No!

“Aku minta maaf, tapi kita akan menjadwalkan penyerahan proyek pada kamis malam. Terserah untuk Monteses akan pergi kemana dan terserah padamu untuk tidak pergi pada penyerahan proyekmu. Aku tidak ingin memaksamu, hanya buat pengaturan dan persiapkan yang diperlukan. Jika Monteses tidak berada di sana, maka kita akan menyerahkan proyek pada perusahaan konstruksi yang lain. Kau bisa pergi sekarang.”

Aku tahu dia sangat-sangat marah sekarang. Sialan! Jika dia tidak pergi dari hadapanku sekarang, aku mungkin akan jatuh berlutut dan mengatakan maaf. Aku tidak bisa melihatnya seperti itu.

“Anda benar-benar tidak bisa dipercaya, Tuan Gomes. Di catat, Tuan. Seperti keinginan Anda.”

Dia berjalan keluar. Seperti tidak ada yang terjadi. Dan itu membunuhku.

 

MBK 20. Mengencani Elle
BMK 22. Satu Syarat

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.