BMK 19. Pertengkaran

Featured Image


[JOANNA]

Aku pergi dengan Matheus, orang yang terlihat seolah ingin membunuh seseorang. Dia marah layaknya serigala yang melolong murka.

“Apa maksud dari semua ini?” Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, meski aku berpikir aku ingin melemparkan sesuatu padanya.

“Tidakkah kau menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu padaku, Joanna?” Aku bisa melihat dia mengepalkan tangannya.

“Apa yang membuatmu marah?” Aku bertanya hampir berteriak.

“Apa aku harus menyebutkannya satu persatu, Nona Castillo? Bukankah sudah jelas?”

“Kita masih berada dalam rencana kita. Kita bahkan masih bisa melakukan revisi sampai selasa. Itu kenapa aku tidak melihat satu pun alasan bagimu untuk marah.”

“Aku hanya tidak bisa menoleransi ketidakmampuan mereka.”

“Mereka bukan tidak mampu, Tuan Gomes!”

“Lalu kenapa mereka belum menyelesaikannya?” Dia bertanya dengan berteriak padaku. Benar-benar berteriak.

Aku menjadi marah juga. “Apa Anda tahu bahwa tim mereka bahkan belum pulang ke rumah. Sudahkah Anda melihat Jake? Itu adalah pakaian yang dia kenakan kemarin. Dia sudah menjelaskan segalanya pada Anda.”

“Kita memiliki batas waktu, Nona Castillo. Waktu adalah uang dalam bisnis ini.”

“Kalau begitu maafkan Saya karena Saya berpikir kualitas adalah uang dalam bisnis ini. Saya tidak mengerti mengapa Anda menghukum Jake lebih tanpa mencoba melihat setengah dari hasil pekerjaannya.”

“Aku adalah bosmu! Kau tidak memiliki hak untuk mempertanyakan pilihanku.” Dia berteriak sambil mengacungkan jari telunjuknya padaku.

Aku berbalik. Aku memilih diam untuk beberapa waktu. Dia benar. Dia adalah bosku. Dan aku adalah asisten pribadinya.

Aku mengambil napas dalam. “Maafkan Saya, Tuan Gomes.”

Aku membungkuk padanya dan berjalan keluar dari ruangan.

Aku pergi dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak tahu apa masalahnya. Aku terluka, frustasi dan marah pada saat yang sama. Aku memanggil Grace.

“Hei! Apa yang terjadi? Kenapa dia sangat marah!” Itu adalah pertanyaan Grace di seberang sana.

“Aku tidak tahu. Aku jugasangat marah.”

“Ngomong-ngomong, apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Buat draf kontrak untuk posisi manajer proyekku. Tolong masukkan bahwa untuk melakukannya, aku butuh keluar dari pekerjaan sebagai asisten pribadinya. Itu terserah pada pilihannya.”

“Tentu, Joanna.”

“Terima kasih.”

Aku menutup telepon. Aku mengambil napas dan mulai mereview dokumen untuk proyek Filipina. Phonselku berbunyi. Itu Camila.

“Hai, Joanna. Masih sibuk?”

“Tidak. Kenapa?”

“Mengenai siang ini.”

“Oh, ya. Belum sempat bertanya pada Tuan Gomes. Bisa tolong kau menghubunginya langsung? Dan aku khawatir apa aku akan datang ke Mansion setelahnya. Aku memiliki beberapa pesanan untuk adikku. Dan aku harus bertemu seorang teman.”

“Apa kalian punya masalah, sayang?”

“Tidak,”

Camila terdiam di seberang sana. “Okay, Joanna. Terima kasih, Sayang. Aku akan menghubungi Matheus.”

“Sampai jumpa, Camila.”

Setelah aku menutupnya, akumelanjutkan pekerjaan. Setelah hampir sejam, Matheus memanggilku ke kantornya.

Dia duduk di kursi putarnya. Dia sedang menatap sebuah dokumen. Aku duduk. Ku pikir dia sedang membaca kontrakku.

Dan kupikir, dia sudah tenang tapi ternyata masih marah.

“Ada apa ini, Tuan Gomes?”

“Ada beberapa poin dalam kontrak ini yang aku ingin mengklarifikasinya denganmu. Apa kau ingin keluar dari posisimu sekarang? Ini hanya sebuah tugas khusus.” Aku bisa merasakan dia menahan sedang amarahnya.

“Karena Saya tidak bisa melakukan dua pekerjaan dalam waktu bersamaan, Pak.”

“Oh baiklah, kita akan menyewa asisten pribadi sementara untuk melakukannya.”

“Baiklah, Tuan Gomes. Saya akan keluar dari penthouse secepat asisten pribadi yang baru datang.” Aku menjawabnya dengan tenang.

Tiba-tiba dia mengerutkan dahi. Suaranya meninggi ketika berbicara, “Kau tidak meninggalkan penthouse, Nona Castillo.”

“Tapi Tuan, Saya-”

“Kita tidak akan membicarakan tentang hal itu lagi. Itu keputusan akhir. Asisten pribadi tidak akan tinggal di rumah.”

“Saya hanya berpikir itu tidak diperlukan bagi Saya tinggal di penthouse. Saya tidak memiliki alasan untuk tinggal.”

“Karena aku ingin kau tinggal. Tidak ada orang yang akan mengambil tempatmu di penthouse itu. Apa itu cukup menjadi alasan, Joanna?”

Aku kehilangan kata-kata. Aku mendengar namaku dan bukan nama keluargaku. Mungkin dia sudah baik sekarang. Aku hanya terganggu, tapi merasa kilig* sebagai gantinya.

[*kilig adalah perasaan gugup saat bertemu dengan orang yang disukai – bahasa tagalog]

“Terserah, Matheus.”

Aku melihatnya hampir tersenyum. Seolah pikirannya tetiba berubah.

“Ngomong-ngomong Joanna, Ibu menghubungi dan berbicara padaku kau tidak akan pergi ke Mansion bersamaku? Kemana kau pergi? Kau bilang kau memiliki beberapa keperluan, apa kau ingin aku pergi denganmu? Kau akan bertemu seorang teman? Siapa itu? Apa itu Miguel? Katakan padaku.”

“Kau bertingkah aneh sejak kemarin? Apa kau sedang dalam periode?” Sungguh, dia bertingkah seperti seorang gadis yang mendapatkan periodenya.

“Jangan bertanya padaku seperti itu! Apa kau akan pergi dan bertemu Miguel? Katakan padaku!” Apa dia cemburu?

“Tidak. Aku belum memikirkannya. Tapi sejak aku merasa cukup terganggu dengan bosku. Aku mungkin akan pergi dan bertemu dengannya.”

“Kau tidak akan bertemu dengan pria itu lagi. Atau-” Dia menjadi marah lagi.

“Atau apa?” tanyaku menyela. “Kau akan memecatku?”

“Hanya jangan lakukan itu.Kau bisa pergi sekarang.”

“Matheus,” Aku mencoba untuk membuatnya tenang. “Tolong biarkan diri kita tenang. Aku tidak mengerti kenapa kita memperdebatkan sesuatu. Dan aku tidak melihat sesuatu yang buruk jika aku akan bertemu dengan Miguel. Dia hanya seorang teman.”

Ada keheningan panjang.

“Tolong pergi sekarang, Joanna. Terima kasih.”

Aku keluar dengan perasaanbingung pada apa yang dia pikirkan. Aku tidak bisa mengetahui mengapa dia ikut campur dalam urusan pribadiku. Di samping itu, apa masalahnya dengan Miguel.


[MATHEUS]

Setelah Joanna keluar, aku menghubungi nomor Grace.

“Grace, masuklah.”

Beberapa saat kemudian, Grace tiba.

“Ada apa, Tuan Gomes?”

“Siapa yang mengirim bunga.” Aku sadar bahwa aku menahan diri sekuat tenaga agar tidak terdengar seperti cemburu.

Dia mengerutkan dahi. “Maaf, Tuan?”

“Siapa yang mengirim bunga untuk Joanna?”

“Oh,” Aku melihatnyamenahan senyum seringainya. “Saya tidak tahu, Tuan Gomes. Apa Anda ingin saya bertanya pada Joanna?”

“Tidak!” Aku tiba-tiba meraung. Dia terlihat terguncang.

“Okay, Tuan Gomes. Tapi ada sebuah undangan pameran lukisan untuk Joanna datang dari Miguel Anton Montes secara khusus.”

“Sialan!” Aku bisa melihat Grace terkejut. “Kapan undangannya berlangsung?”

“Kamis minggu depan, Tuan Gomes.”

“Keluar sekarang.”

Aku tidak mengerti kenapa memikirkan Joanna pergi bersama Miguel membuatku sakit. Aku bisa membunuh Henrico karena ini. Sialan!

 

BMK 18. Bos yang Cemburu
MBK 20. Mengencani Elle

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.