BMK 18. Bos yang Cemburu

Featured Image


[JOANNA]

Ketika aku tiba di penthouse, aku menyadari bahwa lampu di ruang tamu masih menyala. Aku melihat Matheus membaca sebuah buku di sofa. Aku pergi ke dapur untuk membuatkannya kopi.

“Hai di sana.” Aku menyerahkan kopi padanya.

“Jadi kau sudah di rumah,” katanya, tidak gembira.Yeah,”

“Bagaimana kencanmu?” tanyanya sarkastik. Aku menyadari bahwa dia tidak dalam suasana hati yang baik.

“Kencannya baik.”

“Apa aku mengenalnya?” tanyanya ketika menyesap kopi.

“Ku pikir begitu,” jawabku, tersenyum.

“Boleh aku tahu siapa?”

“Saudara kembar Marco.”

“Siapa?” reaksinya terlihat horor.

“Miguel Montes.”

“Joanna, dengarkan aku.” Dia berdiri dan berjalan mendekatiku. “Kau tidak boleh bertemu dengannya lagi,” katanya penuh dengan nada perintah. “Aku bisa membunuh Henrico untuk ini.”

Aku tiba-tiba merasa ngeri. “Apa? Kenapa?”

“Karena aku bilang begitu.” Dia mengatakannya hampir berteriak.

“Itu bukan sesuatu yang bisa kau putuskan, Matheus.”

“Kau tidak boleh bertemu dengan lelaki itu dan itu final.” Dia berbalik membelakangiku dan membanting pintu kamar di belakangnya.

Si brengsek itu!

Aku pergi ke kamarku untuk bebersih. Ketika aku berganti dengan pakaian tidurku dan bersiap di atas tempat tidur, phonselku berbunyi. Itu Henrico.

“Halo,” jawabku.

“Hai adik kecil. Jadi, bagaimana kencanmu?”

“Kencannya menyenangkan. Miguel seorang laki-laki yang memesona dan sangat lucu.”

“Senang mengetahuinya. Aku menghubunginya sebelumnya, dia mengucapkan terima kasih sebanyak lima puluh kali dalam tiga menit. Ku pikir dia benar-benar menyukainya.”

Aku tiba-tiba merasa bersemangat. “Benarkah?”

Yup, dan aku bisa membayangkannya tersenyum sebagaimana aku membayangkanmu sekarang.”

“Apalah.”

“Aku senang kau menyukainya. Ku pikir aku benar-benar baik saat berperan sebagai cupid kali ini.”

“Tapi Henrico, kenapa karena hal itu Matheus menjadi sangat marah ketika aku berkencan dengan Miguel?”

Aku mendengarnya menarik napas panjang. “Ceritanya panjang.”

“Aku memiliki sepanjang malam.”

“Ngomong-ngomong, bagaimana Matheus tahu kau berkencan dengan Miguel?”

“Karena aku mengatakannya padanya. Dia ada di ruang tamu ketika aku tiba.”

Aku mendengarnya tertawa. “Well, Miguel dikenal dalam dunia bisnis sebagai sebagai seorang pewaris semiskin layaknya tikus karena dia telah mencabut hak warisnya. Matheus mungkin tidak ingin kau bersamanya.”

“Aku tahu. Seolah ini  menjadi malam yang panjang. Terima kasih, Kak, aku bersenang-senang.”


Keesokan harinya, kami memulai kegiatan rutin harian kami. Kami berenang sebentar di kolam renang. Aku menyiapkan sarapannya dan kami sarapan bersama. Hanya saja kami tidak berbicara. Dia terlihat terganggu denganku.

Aku memilih untuk mengabaikannya.

Kami pergi ke kantor dan masih tidak berbicara satu sama lain. Ketika kami mencapai kantor, Grace sudah berada di sana. “Selamat pagi Tuan Gomes, selamat pagi Joanna.”

“Selamat pagi!” Kami menyapanya bersamaan.

Dari tempat kami berdiri, kami bisa melihat melalui dinding kaca bahwa ada bunga di dalam kantorku. Aku tersenyum, tapi aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa Matheus menjadi semakin marah. Dia berjalan cepat dan masuk ke dalam kantornya.

“Aku mencium bau cemburu di sini,” ujar Grace, menggodaku. “Aku hanya berharap tidak ada seorang pun pengacau bertemu dengannya, jika mereka tidak ingin di pecat.”

Aku mengerutkan dahi. “Dari mana bunga ini datang?”

“Aku tidak tahu, tapi ada sebuah catatan. Lihatlah sendiri olehmu,” jawab Grace, tersenyum.

Aku menyadari kertas berhias di tangan Grace. “Apa itu?”

“Sebuah undangan yang pastinya dari Miguel Anton Montes untuk pameran lukisan pada selasa minggu depan. Apa dia berhubungan dengan Montes konstruksi?”

“Dia adalah saudara kembar Marco.”

Aku melihat bagaimana rahang Grace jatuh. “Aku tidak tahu dia memiliki saudara kembar.”

“Aku juga tidak tahu, sampai kemarin malam,” jawabku, tersenyum.

“Jangan bilang padaku kalau dia kencan butamu?”

“Seperti itu, dan aku bertaruh bunga itu darinya.”

“Sekarang aku bisa memercayai bahwa dari bujangan paling di cari di New York akan mengejar kecantikanmu. Siapa yang akan memenangkan hatimu yang berharga?”

“Hentikan, Grace.” Pikiran itu membuatku sakit. “Ngomong-ngomong, apa Departemen Arsitektur sudah memasukkan revisi akhir untuk ketiga hotel? Matheus mengiranya hari ini.”

“Aku takut tidak.”

“Oh Tuhan! Tolong panggil mereka.” Tiba-tiba aku merasa gugup. Tidak hari ini, tidak dengan moodnya yang seperti ini.

“Yeah.” Tapi sebelum Grace bisa mengangkat telepon, itu sudah berbunyi. Dia mengangkatnya. “Ya, Tuan.” Dia menutupnya. “Itu dari CEO, dia menginginkanku di dalam.”

“Aku akan memanggil Departemen Arsitektur.”

“Okay.”

Dia berjalan masuk saat aku melakukannya. Aku melihat catatan dan membacanya.

Joanna,

Kemarin malam sangat menakjubkan. Tolong menjadi kencanku di pameran.

Miguel.


Aku tersenyum saat memikirkannya. Aku segera memanggil departemen arsitektur tapi tidak ada yang menjawab. Setelah beberapa kali menghubungi, aku berhenti dan memilih untuk berjalan keluar menuju kantor mereka. Aku melihat Grace keluar dari kantor CEO. Aku berlari keluar dari kantor untuk berbicara padanya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku khawatir.

“Sang Naga telah kembali. Dia meminta revisiannya.”

“Tidak ada jawaban dari mereka.”

“Aku akan berjalan ke kantor mereka. Tetap di sini, dia mungkin akan memanggilmu. Dia benar-benar dalam suasan hati yang sangat-sangat buruk.”

Aku berjalan masuk dan mencoba untuk menenangkan diriku. Ini menjadi pertama kali sejak aku mellihat Matheus marah. Tapi saat ini, aku merasa sangat aneh.

Saat aku berjalan menuju kantorku, aku mendengar phonselku berbunyi. Itu Camila.

“Halo, Camila.”

“Hai, Joanna, sabtu ini, apa kau punya waktu berkunjung kemari?”

“Aku akan bertanya pada Matheus, dia tidak dalam suasana hati yang baik.”

“Tapi kenapa?” tanyanya, semangatnya berubah menjadi muram.

“Aku tidak tahu apa yang salah dengannya, aku akan menghubungimu.”

Secepat aku sampai di dalam, telepon kantor berbunyi.

“Joanna, cepat masuk.” Itu Matheus.

“Baik, Tuan.”

Aku mengambil napas panjang, sebelum aku membuka pintu kantornya. Dia berdiri menatap dinding kacanya. Aku tidak mengerti mengapa aku harus gemetar?

“Nona Castillo,” itu adalah nama akhirku, dia dalam keadaan marah. “Apa aku benar mengira bahwa kau meninggalkan kantor untuk KENCAN BUTA tanpa memastikan bahwa kerja tim desain telah selesai? Aku mengira itu hari ini. Demi Tuhan, kau manajer proyeknya.” Dia benar-benar berteriak padaku.

“Saya sudah pergi ke kantor mereka sebelum Saya keluar. Mereka bilang hampir selesai, apa yang bisa Saya lakukan, bahkan jika Saya tetap tinggal Saya tidak bisa menolong mereka.Saya bukan arsitek, Tuan CEO.”

“Tapi kau manajer proyekku, kau harus tetap tinggal,” katanya, masih berteriak.

“Saya bertanya pada Anda apakah Saya bisa pergi, dan Anda bilang ya. Dan Saya tidak menandatangani kontrak apa pun untuk menjadi manajer proyek.”

Kami mendengar suara ketukan pelan pada pintu. Itu Grace, dengan Jake, kepala departemen arsitektur. Jake berjalan masuk dan Grace meninggalkan ruangan.

“Bagaimana mungkin revisi akhirnya belum ada di mejaku hari ini?”

Aku bisa melihat ketakutan di mata Jake. “Tuan Gomes, saat kami melakukan perubahan akhir yang Anda tentukan, beberapa struktur menjadi terpengaruh, ini memerlukan perubahan besar di ketiga desain. Kami tidak bisa menyelesaikan revisi sampai senin nanti,” Jake menjelaskan.

“Kenapa kau baru mengatakannya padaku sekarang?”

“Ada beberapa efek pada desain yang kami tidak sadari sampai kami menggambar desain kami sendiri.”

“Alasan lemah. Masukkan revisi akhir pada senin ini, aku menginginkannya di mejaku sebagai hal pertama yang kutemukan pagi itu, atau aku akan memecat timmu. Dan kau, kau akan diskors untuk dua minggu tanpa bayaran pada hari selasa. Keluar!”

“Tapi, Tuan CEO,” Jake hampir memohon.

“Aku bilang keluar.”

BMK 17. Kencan Buta
BMK 19. Pertengkaran

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.