BMK 17. Kencan Buta

Featured Image

[JOANNA]

Aku terbangun menatap ruangan yang tidak familiar. Aku yakin ini bukan kamarku. Aku menatap sekeliling dan menyadari bahwa aku berada di ruang bioskop. Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi kemarin malam. Hal terakhir yang kuingat adalah aku menonton hingga berita tengah malam. Mungkin aku langsung tertidur. Dan Matheus tidak membangunkanku.

Aku berdiri dan melipat selimut. Aku sangat yakin selimut itu juga bukan milikku.

Aku pergi ke kediaman pekerja dan menemukan Nyonya Santos. Dia juga sudah bangun.

“Selamat pagi, Joanna.”

“Selamat pagi, Nyonya Santos. Apa kau tahu selimut siapa ini?”

“Itu milik Matheus.”

“Apa kau yang menyelimutiku dengan ini kemarin malam di ruang bioskop?”

“Aku tidak tahu kau tidur di ruang bioskop. Jadi itu yang menjadi alasan Matheus keluar dari ruangan kemarin malam.” Nyonya Santos menyeringai jahat padaku, sama seperti biasa Henrico biasa menyeringai jahat padaku.

Aku merasa aneh. “Kenapa begitu?”

“Aku tidak tahu,” jawabnya masih dengan senyuman.

“Apa yang dikatakannya?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada?”

“Kau mendengarku.”

Aku hanya mengangguk, tapi aku bisa melihat Nyonya Santos tersenyum saat dia pergi ke dapur.


Aku menatap diriku sendiri di depan cermin saat aku mengenakan gaun yang Henrico berikan padaku. Sebuah gaun berenda tanpa lengan. Berwarna biru malam yang membuatku terlihat cantik. Bergaris leher tertutup, meskipun, bagian belakangnya terbuka tapi ini tidak terlalu terbuka, panjangnya mencapai pertengahan pahaku. Nampak sempurna untuk sebuah kencan buta. Aku meraih tas kertas untuk mengambil sepatu. Sebuah sepatu berjari terbuka dengan tinggi empat inci berwarna biru tua. Aku hanya memoles sedikit make up, mengenakan kacamataku dan meraih tas tanganku.

Aku tersenyum pada bayanganku pada cermin panjang sebelum akhirnya aku keluar dari kamar. Tapi sebelum aku membuka pintu, aku melihat sebuah kertas di tas kertas. Aku melihatnya. Sebuah pesan.

Joanna,

Sangat cocok untuk kencan buta, salah satu dari favoritku. Aku hanya tidak bisa mengerti mengapa Henrico menarik kembali ide ini. Kencan buta itu sudah terlalu kuno untuk sebuah kencan. Mungkin ini akan berhasil, selama aku melakukan pekerjaanku yang mana membuatmu terlihat bagus, aku senang. Semoga berhasil. Berharap kau menyukainya.

Elle.

Aku mengintip ke dalam tas kertas dan melihat sebuah kotak kecil. Ada sebuah catatan kecil.

Adik kecil,

Aku hanya berpikir si lesbian benar-benar memiliki selera fashion yang sangat baik, jadi aku mempercayakan pekerjaan ini padanya. Tolong jangan menggunakan kontak lens, bahkan hanya untuk malam ini. Elle secara rinci mengatakan padaku untuk memberitahumu untuk mengenakan ini.

Semoga beruntung

Kakakmu.

Aku menghela napas. Menggunakan kotak lens selalu menjadi sebuah pekerjaan untukku. Aku tidak menyukainya, memakan banyak waktu itu tidak memberiku kenyamanan sama sekali. Dan untuk membuatnya adil pada bagaimana Elle membayangkan aku terlihat dengan gaun ini, aku memilih untuk mengenakan kontak lens.

Aku memeriksa penampilanku untuk terakhir kali sebelum keluar dari kamar. Ketika lift terbuka dan Matheus ada di dalamnya, menghalangi jalannya.

Kakiku bergetar sangat cepat. Aku tiba-tiba merasa gugup dan sadar bagaimana aku melihatnya. Dia benar-benar memiliki malam yang buruk. Aku penasaran kenapa.

“Hai,” Aku tersenyum padanya. “Aku akan segera pergi.”

“Dimana kacamatamu?” tanyanya, mengerutkan dahi. Benar-benar dalam suasana hati yang buruk.

“Aku mengenakan kontak lens.”

“Kau terlihat lebih baik dengan itu.” Dan dia keluar, berjalan ke dalam.

Apa maksudnya itu?

Aku mengabaikannya dan berjalan masuk ke dalam lift.


Aku keluar dari limousine dan berjalan menuju taman di luar restoran New york. Aku mengira ada beberapa tamu, tapi aku sedikit terkejut ketika melihat tidak ada orang lain di sini.

“Selamat Malam, Nyonya.” Seorang pelayan menyapaku. Aku tersenyum padanya. “Selamat datang di Mikaela’s Garden. Silahkan lewat sini.”

Dia membimbingku ke tengah restoran. Ada sebuah meja yang sangat cantik untuk dua orang dengan penerangan lilin. Cahayanya sempurna, membuat suasana taman itu menjadi lebih romantis. Lalu ada seorang pria dengan setelan abunya. Tiba-tiba aku merasa gugup dengan kaki gemetar menunggu untuknya berbalik.

Sebagaimana dia berbalik perlahan, aku hanya menatapnya. Kemudian mengenalinya. Aku kesulitan berkata-kata, aku hampir tidak bisa memercayai apa yang aku lihat. Benarkah itu dia?

Pikiranku kembali pada kenyataan saat aku melihatnya melemparkan tatapan canggung di wajahnya.

“Siapa kau?” tanyanya.

“Apa?”

“Apa kau berkencan? Dimana Joanna?”

“Aku Joanna. Marco, apa yang salah denganmu.”

Kami berdua sama-sama bingung. Apa yang salah dengan Marco? Ya, orang yang berdiri di depanku adalah teman baik Marco Montes. Apa aku berubah begitu banyak hingga dia terlihat tidak mengenaliku.

“Apa kau benar-benar Joanna?” tanyanya meyakinkanku.

“Ya, aku. Aku adalah Joanna Castillo. Apa yang terjadi Marco. Apa kau sakit? Sesuatu yang salah?”

“Aku tidak bisa memercayai ini. Pertama dari semuanya, aku bukan Marco?” ujarnya, sekarang tersenyum padaku.

Oh, sial! Dia terlihat sangat tampan dengan senyum itu. Senyum itu bukan seperti Marco, lalu siapa dia?

“Maaf atas sikapku. Aku Miguel Anton Montes. Saudara kembar Marco Anton Montes.” Dia berjalan mendekat dan mencium tangan kananku. “Senang bertemu denganmu Joanna Castillo.”

“Senang bertemu denganmu juga.”

Dia menggenggam tanganku dan membimbingku menuju meja. Dia menarik sebuah kursi dan membantuku duduk. Aku duduk sebagaimana dia juga duduk di sisi lain meja.

Aku benar-benar tidak percaya bahwa aku berkencan dengan saudara kembar Marco. Benar, Marco dan Miguel tampak serupa seperti bayangan dalam cermin. Aku mencoba membayangkan bagaimana aku akan mengenali Marco atau Miguel.

“Baiklah, saat pertama kali kau melihat kami berdua, itu benar-benar sulit untuk mengenali siapa Miguel atau Marco, tapi jika kau sudah mengenal kami cukup lama, kau akan menyadari bahwa kami tidaklah benar-benar terlihat sama. Well, ibu sudah memberitahuku bahwa satu-satunya perbedaan di antara aku dan Marco adalah bahwa aku memiliki sepasang lesung pipi yang indah.”

Aku terkagum menyadarinya. “Ya, senyum kalian benar-benar berbeda.”

“Aku berharap kau akan membiarkanku menjelaskan sikap tidak sopanku barusan.”

“Tentu.”

“Karena aku menyangka ini.” Dia mengulurkan sebuah foto dari samping meja. Ya, itu adalah fotoku dua tahun yang lalu.

“Ya, itu adalah aku,” jawabku dengan senyum.

“Apa kau melakukan operasi plastik?” tanyanya, dia masih terlihat kagum.

“Apa aku benar-benar terlihat buruk di foto itu?”

Dia terdiam beberapa saat ketika wine sedang disajikan.

“Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya ingin tahu, mungkin kau punya saudara kembar juga.”

Well, itu adalah aku dua tahun yang lalu, sebelum aku kehilangan hampir tiga puluh pounds, sebelum aku belajar bagaimana menggunakan make-up, sebelum aku belajar bagaimana berjalan dengan stiletto, sebelum aku mulai mengenakan beberapa jenis pakaian dan sebelum aku menggunakan kontak lens untuk pertama kalinya dalam hidupku.”

“Kau menarik,” ujarnya, tersenyum. Jika aku mengenalnya lebih baik, aku akan berpikir dia mencoba untuk terlihat imut. Dimana itu juga imut. Senyumnya sangat indah.

“Tapi, kenapa kau setuju untuk bertemu denganku, meskipun aku terlihat seperti itu foto itu?”

Well, aku tidak berkata kau jelek di foto itu. Ini sebuah cerita panjang.”

Aku mengambil gelas wine dan menyesapnya. “Kita punya sepanjang malam,” ujarku, bersikeras. Apa aku baru saja menggodanya?

“Baiklah, mari mulai dengan aku menjadi anak laki-laki dari klan Montes yang sangat kaya yang boros. Aku adalah satu-satunya yang di pandang orang tuaku untuk memegang perusahaan selain saudara kembarku, tapi aku seorang pemain wanita. Marielle, jika kau mengenalnya, tidak tertarik dalam bidang konstruksi. Fashion adalah keahliannya.”

“Ya, aku tahu dia. Sebenarnya dia yang memilihkan dress ini untukku.”

“Benarkah? Aku terkesan dengan seninya sekarang. Sebenarnya ini pekerjaan pertamanya yang pernah aku lihat.”

“Dia benar-benar baik. Lanjutkan.”

“Ya. Well, aku tidak suka bisnis ngomong-ngomong. Setelah diberi peringatan pencabutan hak waris jika aku tidak mengikuti apa yang mereka inginkan, aku masih tidak mengikuti keinginan orang tuaku. Aku keluar dari rumah, pergi ke Milan dan belajar seni murni.”

[Seni murni atau fine arts adalah seni yang di buat untuk mengapresiasikan nilai budaya dan keindahan.]

“Jadi, kau melukis?”

“Aku seorang pelukis.”

“Aku bisa melihatnya. Orang tuamu tidak terlihat keras.”

“Kau sudah bertemu mereka?”

“Ya, sekali, dalam sebuah pesta.”

“Sekarang aku menyesal aku tidak bersama dengan mereka lebih cepat. Aku terkejut aku adalah satu-satunya orang dalam keluarga yang belum bertemu denganmu.”

“Lalu?”

Well, ku pikir, setelah melarikan diri dari rumah, aku memberi Marco kesempatan yang sangat besar. Dia menginginkannya dengan sangat. Jadi sejak aku jauh untuk empat tahun pendidikan yang panjang, orang tuaku tidak memiliki pilihan kecuali memberikannya pada Marco. Dugaanku benar, dia benar-benar melakukannya dengan baik. Aku tidak memiliki cukup uang ketika keluar dari rumah, tapi Marco mencariku dan memberiku uang. Sebenarnya dia adalah orang yang membayar biaya pendidikanku. Aku hidup dengan sederhana, aku bekerja, dan aku belajar banyak.”

“Itu mengagumkan. Jadi bagaimana Henrico bisa memberikan foto itu?”

“Dia adalah teman yang sangat baik. Ketika aku pergi ke Brazil di minggu yang lain, aku tahu dia ada di sana jadi, aku mengundangnya datang. Dia meminta bantuan padaku, untuk berkencan denganmu. Dia memberiku fotomu. Awalnya aku tidak setuju, tapi dia mengingatkanku seberapa banyak aku berhutang padanya. Bisa dikatakan, jika bukan karenanya aku tidak akan berhasil menjadi artis sebagaimana aku sekarang.”

“Aku mengerti sekarang, jika bukan untuk Henrico, kau tidak akan berkencan denganku.”

“Tidak, aku tidak benar-benar tidak menyukaimu; aku sebenarnya tertarik padamu.”

Aku menyeringai. “Aku tidak memercayaimu.”

“Aku ingin melukismu. Dan aku tidak ingin ini kencan buta, bisa menjadi jembatan yang akan mengubungkanku denganmu.”

“Tapi kita di sini, bisa menikmati malam.”

“Aku menikmati malam ini.”

Kami membicarakan banyak hal. Aku mengatakan padanya tentang keluargaku, tentang pekerjaan, tentang bagaimana aku bisa berubah. Dia berkata padaku tentang hubungannya, tentang pendidikannya di Milan, tentang keinginan terbesarnya dan tentang kehidupan mandirinya jauh dari pusat perhatian menjadi bagian Montes.

Setelah makan malam kami berjalan ke pintu masuk restoran.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Mobilnya terparkir di depan kami. Seorang valet memberinya kunci. Dia membuka pintu mobil dan membantuku duduk.

“Terima kasih.”

Dia berputar pada kursi pengemudi. “Jadi, dimana kau tinggal?”

Laire Residences, di penthouse.”

“Kau tinggal bersama Matheus?”

“Aku tinggal di kediaman pegawai.”

Dia terlihat ingin berbicara sesuatu, tapi tidak melanjutkannya.

“Apa?” Aku merasa ada yang aneh.

“Maksudku, dengan reputasinya. Kau tahu apa yang ku maksud. Tidak bermaksud menghakimi.”

Well, benar-benar salah. Matheus adalah orang yang baik; dia tidak sekejam yang dikabarkan.”

Well, ya, aku tahu dia sebelum apa yang terjadi di antara dia dan Sheina, tapi berbagai hal berbeda sejak saat itu.”

Aku tersenyum. “Aku setuju, faktanya berbagai hal juga berbeda sekarang.” Aku tidak tahu kenapa aku merasa marah secara tiba-tiba.

“Ayo berangkat.” Lalu dia menyalakan mesin.

BMK 16. The 'So'
BMK 18. Bos yang Cemburu

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.