BMK 16. The ‘So’

Featured Image

[HENRICO]

Selasa malam ketika aku berencana turun di penthouse Matheus untuk memberikan gaun dan sepatu yang sekertarisku belikan untuk kencan Joanna beberapa hari lagi. Aku secara langsung pergi ke kediaman pekerja dan melihat Nyonya Santos.

“Selamat malam Tuan Gomes, apa Anda mencari Matheus? Dia berada di ruang bioskop,” katanya sambil tersenyum padaku.

“Tidak, Nyonya Santos. Aku mencari Joanna. Aku ingin memberinya ini.” Aku menunjukkan padanya tas kertas yang ku bawa.

“Ku pikir dia di ruang bioskop juga,” jawabnya, tersenyum.

Aku menarik napas panjang dan tersenyum padanya. Ku pikir kami punya dugaan yang sama dalam pikiran kami. “Terima kasih, Nyonya Santos.”

Aku berjalan menuju ruang bioskop. Mereka duduk bersama di kursi bersandar untuk dua orang, menatap lurus pada seperangkat televise besar. Ada keripik kentang dan wine di meja. Kombinasi sempurna apa dari semua ini?

Volume yang tinggi membuat mereka bahkan tidak menyadari bahwa aku ada di sini. Aku mencoba untuk melihat film yang mereka tonton, hingga aku melihat Zac Efron, That Awkward MomentSerius?

Aku terbatuk, tapi mereka tidak mendengarku. Aku mencoba lagi. Dan lagi. Aku menyerah hingga aku berdiri dihadapan mereka. Mereka terkejut ketika melihatku.

“Apa masalahmu?” Matheus bertanya dengan marah. Dia mengambil remot kontrol dan menekan tombol ‘pause’.

“Hey, kalian berdua, katakan padaku sejujurnya, berapa kali kalian menonton film bersama?”

“Tiga kali,” jawab Matheus.

“Dua kali,” Joanna menimpali.

“Tidak, ingat kita menonton dua kali di mansion, jadi ini ketiga kalinya.” Matheus bersikeras.

“Oh, ku pikir hari ini tidak dihitung,” ujar Joanna, tertawa.

“Sejak kapan kau menjadi orang bodoh?” dengkus Matheus.

“Ini hanya dugaan tak bersalah,” kata Joanna, tersenyum padanya ketika mengambil beberapa kentang goreng dan memakannya.

“Dugaan tak bersalah, serius?” balas Matheus. “Apa kau bercanda padaku?”

“Hey, Hey! Aku di sini. Berhenti bertingkah seperti aku tidak ada di sini,” ujarku, menginterupsi. Mereka berbicara seolah aku tak berada di sini,

“Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Matheus dengan suasana hati yang secara otomatis berganti, dari ceria menjadi berat.

“Kenapa kau berbicara padaku seperti itu?” tanyaku pada Matheus. “Aku saudaramu.”

“Lalu, kenapa kau kemari di jam seperti ini?” tanyanya hampir berteriak. Aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa Joanna tersenyum.

“Baiklah. Aku hanya ingin memberikan ini pada Joanna.” Aku memberikan tas kertas padanya.

Dia menerimanya dan melihat apa yang ada di dalamnya. “Apa ini?”

“Itu adalah apa yang akan kau kenakan pada kencan butamu besok.” Aku memberi mereka seringai andalanku. “Jadi kau tidak punya alasan untuk tidak datang. Jam enam malam, sopirku akan berada di sini untuk menjemputmu.”

“Kemana kau akan membawanya?” tanya Matheus.

“Aku tidak akan memberitahumu, karena aku tidak ingin kau menguntit dan jangan mengganggu, kau akan terlihat memalukan, aku bersumpah,” kataku, masih menyeringai.

“Hanya pastikan dia kembali ke rumah dengan selamat.” Matheus terlihat sangat marah dibanding biasanya.

“Tentu,” Aku mencium Joanna dan memeluk Matheus, yang masih dalam suasana hati buruk yang tidak beralasan. “Aku pergi sekarang. Selamat malam.”


[JOANNA]

Aku hanya tersenyum melihat Herinco keluar dari ruang bioskop. Matheus terlihat benar-benar lucu, bagaimana dia berganti suasan hatinya.

“Apa?” Matheus bertanya, merasa terganggu melihatku.

“Berhenti mengerutkan dahi, kau terlihat lucu.” Aku menuangkan wine pada gelas dan memberikannya padanya. “Ayo minum dan lanjutkan filmnya.” Aku merebut remot kontrol dan kami melanjutkan menonton.

Setelah menonton film, kami memutuskan untuk menonton hingga berita larut malam.

Joanna,” Dia memanggilku, hampir seperti berbisik.

“Hmmm?” Aku menjawab ketika masih memusatkan perhatianku pada layar.

“Apa kau tahu kenapa aku mengganti asisten sekertaris setiap waktu?” Bahkan jika aku tidak melihatnya, aku tahu dia sedang menatapku.

Aku masih terkejut dan tidak berbicara untuk beberapa saat. Aku terkejut bahwa dialah yang sebenarnya mengangkat topik ini. Aku menatapnya. “Karena kau melakukan s**s dengan mereka?” tanyaku dengan naïf. Sudah terlambat bagiku untuk menyadari bahwa itu adalah pertanyaan bodoh.

Yeah, itu benar, itu yang terjadi, tapi bukan hanya karena itu.”

Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku merasa tidak nyaman. “Lalu, kenapa?”

“Aku menyebut saat itu ‘So moment’.”

Oh, sial. Itu adalah kalimat terkenal dalam film, That Awkward Moment.

“Maksudmu, setelah mereka melakukan s**s denganmu, lalu mereka bertanya padamu, ‘Jadi?’ kau hanya membalas, ‘Kau di pecat‘. Apa begitu?”

“Tepat sekali,” balasnya.

Aku merasa seperti untuk sesaat aku tidak bisa bernapas. “Kenapa kau mengatakan semua ini padaku?”

“Karena aku tidak ingin kehilanganmu.” Aku bisa merasakan kesungguhan dalam kata-katanya.

Aku menatapnya dan aku melihat kesungguhannya. Dia takut untuk di tolak, di tinggalkan. Sebuah emosi mendalam, ketakutan, kepanikan, sebuah perasaan yang tidak ingin dia rasakan.

“Gadis-gadis itu tidak meninggalkanmu. Kau yang melempar mereka pergi.”

“Karena aku tidak ingin melukai mereka.”

“Aku bingung, Matheus.”

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Hanya itu.”

“Aku tidak akan,” balasku bersungguh-sungguh, tersenyum padanya. Itu adalah sebuah kepastian.


[MATHEUS]

Entah mengapa, jawabannya membuatku tenang. Pertanyaan itu datang begitu saja dan aku takut pada bagaimana dia berpikir tentangku dan kehidupan lamaku. Kehidupan lama? Apa itu berarti aku orang yang berubah sekarang?

Aku mengembalikan perhatianku pada layar TV, tapi tidak mengerti dengan apa yang ku tonton. Kepalaku memikirkan hal lain.

Minggu lalu ketika Joanna bersamaku, itu mengubahku. Aku menolak untuk percaya bahwa aku kembali pada diriku yang dulu. Ini hanya keseluruhan diriku yang baru. Lebih sabar, berani, bahagia. Aku tersenyum pada kata terakhir. Beberapa minggu lalu, aku bisa melihatnya setiap hari, sebagaimana dalam tiap harinya.

Aku kembali melihatnya sekali lagi, tapi dia tidur dengan damai. Aku mengingat bagaimana dia menatapku saat pertama kali aku melihatnya. Sekarang, dia lebih cantik tapi kepercayaan dirinya membuatnya bahkan lebih menarik. Aku tidak bisa mengatakan jika akulah yang bertanggungjawab atasnya, bisa ku katakan, perubahannya. Ku pikir aku hanya membantunya dalam aspek fisik, tapi dia telah memiliki kecantikan dalam dirinya. Senyumnya yang luar biasa mengawali hari semua orang, sikapnya yang baik dan kebaikan hatinya, itu semua telah dimilikinya.

Aku menekan tombol untuk mengubah kursi dan menampakkan seolah itu adalah tempat tidur. Aku keluar dari ruanganku untuk mengambil bantal dan selimut. Aku tidak mengganggunya untuk membuatnya bangun. Aku memindahkan kepalanya pada bantal. Aku membuka selimut dan menyelimutinya. Aku bersandar ke arahnya, menatap wajahnya secara langsung. Aku sangat tergoda untuk menciumnya. Aku bisa mendengar dengkuran halusnya dan aku bisa mencium aroma wanitanya dalam napasnya.

Sialan!

Aku berdiri sebelum aku bisa merubah pikiranku dan melakukan sesuatu yang bodoh.

Aku berjalan keluar. Ketika aku telah keluar dari ruang bioskop aku mengambil napas panjang. Mungkin tidur di sampingnya akan menjadi ide yang bagus.

Aku kembali dan berbaring di sampingnya. Aku kembali menatapnya. Mengapa aromanya begitu mempengaruhiku? Dan aku bisa melihat lehernya yang sangat sexy dengan rambut pendeknya. Oh, mungkin Elle memperhatikan lehernya, itu kenapa dia memilih memotong pendek rambutnya.

Aku mengambil napas panjang. Aku berdiri secepat yang kubisa untuk keluar dari ruangan. Sialan! Aku merasa sangat bodoh. Jika aku tetap bertahan di ruangan itu, dengan aromanya, napas dan lehernya, aku tidak bisa berjanji aku tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh. Dan sekarang, aku benar-benar merasa bodoh. Jika seseorang melihatku sekarang, dia pasti akan menertawakanku.

Aku merasa seperti seseorang benar-benar menatapku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Nyonya Santos.

“Sialan!” Aku benar-benar sangat terkejut. Dan hal buruknya adalah dia benar-benar menertawakanku. “Apa yang kau lakukan di sini?” Sudah berapa lama dia di sana?

“Terakhir kali aku ingat, aku masih bekerja padamu.” Yeah, dia adalah pengasuhku sejak aku kecil, dia mengenalku lebih dari pada ibuku. Dan ya, dia sebenarnya berbicara sarkastik padaku, kecuali tentu saja jika ada orang lain. “Aku melihatmu keluar ketika aku berjalan menuju dapur, lalu, kau masuk lagi. Ketika aku kembali dari dapur, kau tiba-tiba keluar dari ruangan. Terlihat seperti kau melarikan diri dari sesuatu.”

“Aku tidak melarikan diri,” kataku.

“Aku melihatnya, selamat malam Tuan Gomes,” katanya, berbalik dan memberikan senyuman menggoda padaku.

Apa maksudnya itu?

BMK 15. Penthouse
BMK 17. Kencan Buta

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

Leave a Reply

Your email address will not be published.